Skip navigation

Tag Archives: Banten

Geotrek Krakatau, 2-3 Juli 2011

by Ridwan Hutagalung on Monday, June 27, 2011 at 7:58pm

Gambar dari sampul dalam buku Krakatoa (Rupert Furneaux, Prentice Hall, N.J., 1964). Dalam gambar tampak bagian tengah yang membentuk bidang segitiga adalah kawasan yang tertutupi oleh awan debu tebal akibat letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883. Sedangkan bidang bulatan yang lebih luas mencapai separuh Australia dan India adalah kawasan di mana ledakan Krakatau dapat terdengar.

Dalam Geotrek Cibuni beberapa waktu lalu, secara sepintas narasumber Awang H. Satyana bercerita tentang bagaimana pada tahun 1815 Sir Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Hindia Timur waktu itu, segera mempersiapkan pasukan meriamnya saat mendengarkan suara ledakan yang cukup keras dari arah timur. Ternyata Raffles terkecoh, karena suara ledakan yang dikuatirkannya berasal dari meriam itu adalah suara ledakan dari Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, lebih dari 1000 km di sebelah timur Batavia.

Berpuluh peristiwa yang mirip dengan cerita di atas ternyata terjadi lagi 68 tahun kemudian di seperdelapan bagian dunia. Kali ini, 1883, yang meletus adalah pulau gunungapi Krakatau di Selat Sunda. Berbagai cerita salah dengar suara meriam juga terjadi di banyak tempat dalam radius 4000 km. Karena itulah letusan Krakatau sering disebut sebagai suara terdahsyat yang pernah didengar umat manusia di muka bumi.

Suara letusan bukanlah satu-satunya hal spektakuler dari letusan Krakatau pada tahun 1883. Krakatoa Royal Society yang didirikan di London pada awal tahun 1884 mendapatkan tugas dari dewan penasihat Royal Society untuk mengumpulkan berbagai informasi dan fenomena yang berhubungan dengan letusan Krakatau. Semua informasi yang masuk diperiksa ulang dengan tingkat presisi yang setinggi mungkin. Diperlukan waktu sekitar lima tahun untuk meneliti semua informasi itu hingga laporan akhir diterbitkan pada tahun 1888.

Dari seabreg informasi yang berhasil dikumpulkan oleh Krakatoa Royal Society itulah kini kita dapat mengetahui berbagai kejadian unik dan spektakuler di pelosok dunia sehubungan dengan efek dari letusan Krakatau. Di antaranya cerita tentang sebaran abu vulkanik Krakatau yang mencapai New York pada bulan November 1883 dan telah menyebabkan para petugas pemadam kebakaran di Poughkeepsie dengan semangatnya berlari mendatangi lokasi terlihatnya sebuah cahaya kebakaran.

Sambil terus membunyikan lonceng-lonceng tanda kebakaran, mereka tiba di sisi sungai. Namun pasukan pemadam kebakaran yang terkenal sigap ini harus kecewa karena lokasi datangnya cahaya kebakaran ternyata masih berada jauh di seberang sungai. Kemudian hari diketahui tak ada kebakaran di sekitar Poughkeepsie. Yang terjadi saat itu adalah fenomena afterglow yang luar biasa.

Afterglow adalah rona cemerlang yang tampak membara yang muncul di langit setelah matahari tenggelam beberapa saat. Sebaran abu vulkanik dari letusan Krakatau telah melanglang dunia dan menghalangi sinar matahari sehingga ketika bersinggungan dengan awan debu menimbulkan efek warna merah membara, atau seperti yang dikatakan oleh Kapten Faircloth dari Caribbean Signal Service, “kilauan yang mengerikan.”

Itu di New York dan Karibia. Di Inggris, seorang pelukis bernama William Ashcroft begitu terpesona melihat cahaya senja yang sangat mengesankan di langit Chelsea. Dengan kecepatan fantastis – sejak pertama kali melihatnya di awal bulan September 1883 itu – ia melukiskan seluruh proses tenggelamnya matahari setiap hari selama beberapa bulan. Hasilnya adalah 533 buah lukisan cat air ditambah catatan-catatan cermat dan analisis panjang mengenai apa yang dilihatnya. Belakangan, semua hasil lukisannya ini dipamerkan di sebuah museum di South Kensington.

Masih ada ratusan cerita menarik lainnya tentang Krakatau.

Ikuti saja Geotrek Indonesia – KRAKATAU

2 – 3 Juli 2011 dengan narasumber Bpk. Awang H. Satyana dan Bpk. Igan S. Sutawidjaja.

1. Krakatau; Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883, Simon Winchester (Serambi, Jakarta, 2006) terjemahan dari Krakatoa, The Day the World Exploded : August 27, 1883 (HarperCollins Publishers, New York, 2003)

2. Krakatoa, Rupert Furneaux (Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs, N.J., 1964)

“KRAKATAU 1883”

 

 

Hari Senin, 27 Agustus 1883, saat itu pukul 10.02 pagi di Hindia Belanda, telah terjadi “sebuah ledakan yang mengerikan”. Ungkapan itu terdapat dalam buku log Kapten Sampson dari kapal Norham Castle. Ia menyebutkan suasana yang gelap total dan hujan debu serta batu apung turun tanpa henti. Kapten Sampson yakin kiamat sudah tiba..

Laporan Kapten Sampson bukanlah satu-satunya yang mencatat peristiwa alam luar biasa saat itu. Kapal Marie yang tengah berada di Teluk Lampung melaporkan adanya “tiga gelombang besar datang berturut-turut; ledakan mengerikan terdengar satu kali; langit membara; lembap.”

Itulah peristiwa letusan Krakatau yang fenomenal dan sering disebut sebagai ledakan paling dahsyat yang pernah dicatat dan dialami oleh manusia modern. Memang sejumlah letusan gunung lain diperkirakan jauh lebih besar dibanding dibanding Krakatau, seperti Gunung Toba, Taupo (Selandia Baru) atau Katmai (Alaska). Yang membedakan adalah letusan Krakatau terjadi dekat dengan zaman kita; zaman dengan teknologi informasi yang lebih canggih, dan tentunya dengan akibat yang lebih besar bagi kemanusiaan.

Banyak manusia modern yang secara langsung ataupun tidak menyaksikan dan mengalami akibat peristiwa letusan Krakatau tahun 1883 itu. Banyak laporan dituliskan, dan kemudian, penelitian dilakukan. Di antara mereka itu, adalah Rogier Verbeek, orang pertama yang mengunjungi Krakatau enam minggu setelah letusan. Verbeek kemudian membukukan hasil penelitiannya dalam Krakatau (Government Printing Office, Batavia, 1886), lalu Tom Simkin & Richard S. Fiske yang menulis Krakatau 1883; The Vulcanic Eruption and It’s Effects (Smithsonian Institution Press, Washington D.C., 1983) atau analisa berbagai catatan dan amatan yang menarik dari Rupert Furneaux, Krakatoa (Seeker & Warburg, London, 1965) yang kemudian disempurnakan oleh Simon Winchester dalam Krakatoa, The Day the World Exploded : August 27, 1883 (HarperCollins Publishers, New York, 2003). Buku terakhir ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Krakatau; Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883 (Serambi, Jakarta, 2006).

Seberapa dahsyatkah akibat letusan Krakatau 1883 itu? Tercatat tsunami yang timbul setelah letusan 27 Agustus 1883 itu telah memusnahkan 295 kampung atau 163 desa dan menewaskan 36.417 nyawa manusia. Material vulkanik yang diletuskan sebanyak 18 km kubik dan saat kembali jatuh ke Selat Sunda telah membuat perairan itu menjadi dangkal, bahkan membentuk dua pulau baru dalam semalam, Calmeyer dan Steers. Tinggi gelombang laut yang ditimbulkan mencapai 36 meter di Merak, sedangkan lontaran abu vulkanik mencapai ketinggian antara 50-90 km. Abu vulkanik dalam atmosfir telah mengakibatkan efek warna-warni pada pantulan cahaya matahari sehingga memengaruhi iklim di beberapa bagian bumi. Atmosfir bumi baru akan normal kembali pada 1886 atau tiga tahun setelah letusan.

Suara ledakan Krakatau terdengar di seperdelapan bagian bumi dan dapat didengar hingga Pulau Rodriguez (Mauritius) sejauh 4800 km di sebelah barat. Laporan suara ledakan yang sering kali disangka sebagai suara tembakan kanon ini juga datang dari Saigon, Bangkok, Manila, Aceh, Papua Nugini, sampai Perth, Darwin, atau Andaman di tengah Samudra Hindia. Sebuah kapal militer Belanda yang tengah parkir di Selat Sunda, terhempas oleh gelombang tsunami sejauh 3 km dan terdampar di daratan dengan ketinggian sekitar 20 mdpl.

Kapal Berouw milik angkatan laut Belanda itu memang sudah lenyap, habis dimakan waktu, namun sebagian lain dari jejak kedahsyatan tsunami 1883 masih tercecer di banyak tempat dan dapat disaksikan hingga sekarang.

GEOTREK INDONESIA menyelenggarakan kegiatan kunjungan ke Krakatau pada tanggal 2-3 Juli 2011 ini. Program utamanya adalah melihat dari dekat situasi Krakatau yang fenomenal serta menengok berbagai jejak yang masih dapat disaksikan akibat kedahsyatan tsunami yang ditimbulkannya dulu. Karena tidak mudahnya akses menuju Krakatau maka kami membatasi jumlah peserta yang akan ikut.

Untuk pendaftaran dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi :

Ridwan Hutagalung : 0899 718 3758

Ummy Latifah : 0818 0905 0258

Sumber :

1. Krakatau; Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883, Simon Winchester (Serambi, Jakarta, 2006) terjemahan dari Krakatoa, The Day the World Exploded : August 27, 1883 (HarperCollins Publishers, New York, 2003)

2. Krakatoa, Rupert Furneaux (Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs, N.J., 1964)

3. 123 Tahun Krakatau, Igan S. Sutawidjaja (2011)

4. Krakatau 1883, Lethal Tsunami, Awang H. Satyana (2005)

JADWAL GEOTREK INDONESIA “KRAKATAU”, 2-3 JULI 2011

 

Sabtu, 2 Juli 2011

04.00                     Kumpul di halaman depan kampus ITB, Jl. Ganesha, Bandung. Absensi dan perkenalan.

04.30                     Berangkat menuju Banten.

11.00                     Tiba di Banten Lama : Benteng Speelwijk (1685), Vihara Avalokitesvara (+1682), Istana Kaibon (+1800), Keraton Surosowan (1526), Mesjid Agung Banten (1560-1570), Museum Arkeologi Banten à objek dan lama kunjungan disesuaikan dengan waktu yang tersedia.

Ishoma.

13.30                     Berangkat menuju Carita.

15.00                     Carita : menengok jejak-jejak tsunami Krakatau 1883.

18.80                     Villa Carita.

19.00                     Makan malam di aula villa.

20.00                     Diskusi dan obrolan santai seputar Krakatau bersama Bpk. Igan S. Sutawidjaja & Bpk. Awang H. Satyana.

* Waktu dapat berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Minggu, 3 Juli 2011

05.30                     Sarapan dan persiapan. *

06.30                     Pembagian boat dan keberangkatan menuju Krakatau.

08.00                     Tiba di Krakatau. Pengamatan dan materi lebih lanjut dari Bpk. Igan S. Sutawidjaja & Bpk. Awang H. Satyana.

12.30                     Kembali ke Carita.

14.00                     Perjalanan pulang ke Bandung.

Makan siang di bis, makan malam di jalan.

* Waktu dapat berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

* Keberangkatan terbaik menuju Krakatau adalah jam 6 pagi, bila dapat lebih awal dalam melakukan persiapan akan lebih baik untuk perjalanan dan petualangan di Krakatau.

Seluruh calon peserta agar memerhatikan berbagai hal berikut ini :

–          Bawa barang pribadi seringkas mungkin.

–          Jangan membawa barang berharga yang tidak diperlukan dalam perjalanan, kecuali kamera, perekam video, dan handphone.

–          Membawa barang dan perlengkapan pribadi yang tidak disediakan oleh panitia atau mungkin sulit didapatkan di perjalanan.

–          Peserta dengan keluhan atau mengidap penyakit tertentu harap melaporkan dan berkonsultasi terlebih dahulu kepada panitia.

–          Membawa obat-obatan pribadi.

–          Persiapkan payung, jaket, dan kaca mata gelap.

–          Pakai dan bawa sepatu atau sandal yang nyaman.

–          Membawa drybag atau plastik pelindung barang dari air laut.

–          Membawa perbekalan makanan dan minuman cadangan untuk keperluan pribadi. Perjalanan di laut memakan waktu cukup lama, jangan sampai luput memerhatikan berbagai kebutuhan sesuai kondisi pribadi masing-masing.

–          Membawa pakaian ganti yang ringkas dan mudah dibawa.

–          Perjalanan baik di darat maupun di laut akan cukup panjang, sebaiknya setiap peserta dapat memanfaatkan waktu luang sebaik-baiknya untuk tidur/beristirahat.

SEKILAS SENI BELUK

Seni beluk adalah seni vokal tanpa iringan instrumen khas masyarakat Sunda yang sekarang ini sudah langka sekali ditemui. Sebarannya adalah wilayah agraris dan terutama di dataran-dataran tinggi, mulai dari Banten hingga Sumedang dan Tasikmalaya. Namun sayangnya sebaran yang luas ini tidak berarti bahwa seni beluk (mungkin juga seni tradisional lainnya) memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman. Salah satu yang masih bertahan adalah beluk dari Batu Karut, Desa Lebakwangi, Banjaran.

Di Lebakwangi seni beluk masih cukup sering ditampilkan dalam upacara-upacara seperti yang berhubungan dengan kelahiran bayi. Penyajiannya biasa dilakukan di ruang tengah rumah dengan alas tikar. Penyaji beluk yang biasanya terdiri dari empat orang duduk bersila diapit keluarga tuan rumah dan membentuk pola lingkaran. Penyajian seperti ini terasa agak aneh buat saya mengingat “nyanyian” beluk yang banyak berbentuk lengkingan vokal. Lengkingan seperti ini memang akan terasa ingar-bingar bila dikumandangkan dalam ruangan tertutup seperti di rumah. Namun tampaknya sekarang hal ini sudah menjadi kelaziman pula.

Seni lengking vokal ini diperkirakan berasal dari tradisi bersawah-ladang sebagai media komunikasi antarpetani. Masyarakat Baduy dulu sering berteriak dengan nada mengesankan bila sedang berada dalam hutan atau ladang sorang diri. Teriakan yang bisa dilakukan sebagai pengusir sepi atau juga memberitahukan keberadaannya di dalam hutan. Konon bentuk nyanyian dengan nada-nada tinggi, mengalun dan meliuk-liuk adalah bagian dari ekspresi masyarakat ladang saat berkomunikasi dengan sesama komunitasnya yang mempunyai pola tinggal menetap namun saling berjauhan.

Seni beluk mirip dengan karinding dalam hal tidak termasuk kategori seni pertunjukan dan lebih bersifat hiburan personal, sarana menghibur diri, dan pengusir rasa sepi. Belakangan, kesenian ini lebih banyak dipakai untuk keperluan ritual seperti dalam syukuran 40 hari kelahiran bayi. Ada empat orang penyaji utama dengan peranan yang berbeda. Disebut penyaji utama karena sebetulnya hadirin juga diperbolehkan untuk turut serta menyajikannya. Empat peranan tersebut adalah 1) tukang ngilo atau juru ilo, 2) tukang ngajual, 3) tukang meuli, dan 4) tukang naekeun.

Tukang ngilo adalah pembaca syair secara naratif. Pembacaan dilakukan dalam tempo sedang dengan artikulasi yang jelas dan dibacakan per padalisan (baris). Syair-syair beluk berasal dari naskah-naskah cerita babad atau wawacan dan disajikan dalam bentuk pupuh yang berjumlah 17, yaitu asmarandana, balakbak, dandanggula, durma, gambuh, gurisa, juru demung, kinanti, ladrang, lambang, magatru, maskumambang, mijil, pangkur, pucung, sinom, dan wirangrong.

Tukang ngajual menyanyikan syair yang dibacakan tukang ngilo sesuai dengan pupuhnya, namun cara menyanyikannya tanpa ornamen. Tukang meuli melanjutkan sajian tukang ngajual dengan tambahan ornamen pelengkap. Sedangkan tukang naekeun melanjutkan sajian tukang meuli dengan nada-nada tinggi dan meliuk-liuk. Di bagian ini ornamentasi vokal sangat dominan sehingga artikulasi tidak diutamakan dan bisa menjadi sangat kabur. Setiap tukang naekeun menyelesaikan satu bait, seluruh hadirin dan para penyaji lainnya memungkas lagu secara secara bersama (koor).

Dalam penyajian beluk dikenal beberapa teknik, seperti nyurup yaitu kesesuaian dengan laras yang dibawakan; jentre artikulasi yang jelas; eureur kesesuaian vibrasi dengan kalimat lagu; senggol ketepatan ornamentasi; leotan ketepatan nada yang digunakan; embat walaupun musik vokal ini bertempo bebas, namun tetap ada acuan metris-melodis kendati sangat samar; pedotan ketepatan waktu untuk mengambil nafas; renggep atau saregep keseriusan dalam penyajian; cacap kata demi kata harus disajikan sampai tuntas; bawarasa ekspresi dalam penyajian; dan bawaraga penegasan suasana dengan gestur yang dianggap menarik.

Sebagai bentuk kesenian yang lahir dari keseharian masyarakat agraris yang sederhana, dalam penyajiannya seni beluk tidak menerapkan aturan berpakaian tertentu. Yang paling umum ditemui menggunakan baju takwa, sarung, kopiah, dan celana panjang saja. Pembagian peranan dalam penyajian beluk juga memberi ciri masyarakat agraris yang senang bergotong-royong, bekerja-sama dan berkomunikasi secara harmonis.

Demikianlah rangkaian catatan yang berhubungan dengan beberapa objek dalam kegiatan Komunitas Aleut! pekan lalu.

Sumber informasi untuk keempat bagian tulisan tentang Ngaleut Dayeuhkolot-Banjaran :

– “Bandung in the Early Revolution 1945-1946”, John R.W. Smail, Cornell Modern Indonesia   Project, New York, 1964

– “Dewi Sartika”, Rochiati Wiriaatmadja, Dep. PDK, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1983/1984

– “Kisah Perjuangan Unsur Ganesa 10 Kurun Waktu 1942-1950”

– “Musical Instruments – A Comprehensive Dictonary”, Sibyl Marcuse, The Norton Library, New York, 1975

– “Saya Pilih Mengungsi”, Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Ristadi Widodo Kinartojo, Ummy Latifah Widodo, Bunaya, Bandung, 2002

–  Keterangan juru kunci Makam Leluhur Bandung, 18 & 20 Maret 2011

–  Keterangan juru kunci Situs Rumah Adat Kabuyutan, Batu Karut, Bapak Enggin, 20 Maret 2011

–  Kliping Bandung Lautan Api di HU Pikiran Rakyat 16-28 Maret 2007

–  Beluk Kehilangan Regenerasi, Pikiran Rakyat, 31 Januari 2011

–  Sampul album CD “Beluk Dzikir – Nyanyian Banten Jawa Barat”, produksi Program Studi Etnomusikologi Jurusan Karawitan, STSI Surakarta, 2003

–  Dokumen KKN Program Seni Budaya, http://www.scribd.com/doc/22769078/KKN-PROGRAMSENI-BUDAYA

–  Mata Kita, Kesenian Beluk, Salah Satu Identitas Masyarakat Agraris Pasundan, http://matakita.net/post/kesenianbeluk-salah-satu-identitas-masyarakat-agrarispasundan.html