Skip navigation

Tag Archives: Bandung

Situs Kendan

by Ridwan Hutagalung on Monday, October 3, 2011 at 9:38am

Situs kepurbakalaan Kendan

Kendan adalah nama sebuah bukit, yang berlokasi kira-kira 500 meter di sebelah timur-laut stasiun kereta api Nagreg, sebelah tenggara Cicalengka, Kabupaten Bandung. Pada kaki bukit ini terdapat sebuah kampung bernama Kendan, masuk Desa Citaman, Kecamatan Cicalengka.

Kira-kira 200 meter di sebelah utara Stasiun Nagreg, terdapat sebuah situs kepurbakalaan, yang oleh penduduk setempat disebut pamujaan (pemujaan). Mungkin, tempat itu bekas kabuyutan. Karena, menurut Pleyte (1909), di situ pernah ditemukan sebuah patung Durga yang sangat mungil, yang kini tersimpan di Museum Nasional di Jakarta.

Adanya patung Durga di tempat itu merupakan indikasi bahwa di situ pernah berkembang agama Siwa. Mungkin dari aliran Syakta. Sebab Dewi Durga, dipandang sakti, sebagai sumber kekuatan Siwa.

Nama Kendan, sudah lebih dikenal dalam dunia arkeologi. Sebab, tempat itu diketahui, sebagai pusat industri perkakas neolitik. Istilah “batu Kendan”, sudah merupakan semacam tanda paten, di dalam dunia kepurbakalaan di tanah air kita.

Beberapa abad sebelum tarikh Masehi, di daerah Kendan, sudah terindikasi adanya permukiman manusia. Merupakan permukiman yang ramai pada zamannya, dan menjadi pusat pembuatan perkakas, yang diperuntukkan bagi penduduk di daerah sekitarnya.

Hasil penyelusuran Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung (sekitar tahun 1980-an) membuktikan bahwa legenda Kendan masih dikenal. Dalam segala kekaburan kisahnya, legenda itu masih menyebut tokoh Manikmaya, sebagai salah seorang penguasa di tempat itu. Peninggalannya, sampai saat ini, masih dianggap “keramat” oleh penduduk di sekitarnya.

Nama Resiguru Manikmaya masih mengendap dalam cerita rakyat. Tentu, sebab posisi kesejarahannya yang sangat penting. Terbukti, penulis naskah Carita Parahiyangan pun, memulai kisah kerajaan Galuh, dari tokoh Resiguru Kendan ini.

Resiguru Manikmaya, Raja Pertama Kendan

Kisah lengkap tokoh Resiguru Manikmaya dapat kita ikuti dalam naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 4, yang selesai ditulis tahun 1602 Saka (1680 Masehi) di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Sang Resiguru Manikmaya datang dari Jawa Timur. Ia berasal dari keluarga Calankayana, India Selatan. Sebelumnya, ia telah mengembara, mengunjungi beberapa negara, seperti: Gaudi (Benggala), Mahasin (Singapura), Sumatra, Nusa Sapi (Ghohnusa) atau Pulau Bali, Syangka, Yawana, Cina, dan lain-lain.

Resiguru Manikmaya menikah dengan Tirtakancana, putri Maharaja Suryawarman, penguasa ke-7 Tarumanagara (535-561 M). Oleh karena itu, ia dihadiahi daerah Kendan (suatu wilayah perbukitan Nagreg di Kabupaten Bandung), lengkap dengan rakyat dan tentaranya.

Resiguru Manikmaya, dinobatkan menjadi seorang Rajaresi di daerah Kendan. Sang Maharaja Suryawarman, menganugerahkan perlengkapan kerajaan berupa mahkota Raja dan mahkota Permaisuri.

Semua raja daerah Tarumanagara, oleh Sang Maharaja Suryawarman, diberi tahu dengan surat. Isinya, keberadaan Rajaresi Manikmaya di Kendan, harus diterima dengan baik. Sebab, ia menantu Sang Maharaja, dan mesti dijadikan sahabat. Terlebih, Sang Resiguru Kendan itu, seorang Brahmana ulung, yang telah banyak berjasa terhadap agama. Siapa pun yang berani menolak Rajaresiguru Kendan, akan dijatuhi hukuman mati dan kerajaannya akan dihapuskan.

Penerus Tahta Kerajaan Kendan

Dari perkawinannya dengan Tirtakancana, Sang Resiguru Manikmaya Raja Kendan, memperoleh keturunan beberapa orang putra dan putri. Salah seorang di antaranya bernama Rajaputera Suraliman.

Dalam usia 20 tahun, Sang Suraliman semakin tampak ketampanannya dan sudah mahir ilmu perang. Oleh karena itu, ia diangkat menjadi Senapati Kendan, kemudian diangkat pula menjadi Panglima Balatentara (Baladika) Tarumanagara.

Resiguru Manikmaya memerintah di Kerajaan Kendan selama 32 tahun (536-568 Masehi). Setelah wafat, Sang Baladika Suraliman dirajakan di Kendan, sebagai penguasa baru. Penobatan Rajaputra Suraliman, berlangsung pada tanggal 12 bagian gelap bulan Asuji tahun 490 Saka (tanggal 5 Oktober 568 M.). Pada masa pemerintahannya, Sang Suraliman terkenal selalu unggul dalam perang.

Dalam perkawinannya dengan putri Bakulapura (Kutai, Kalimantan), yaitu keturunan Kudungga yang bernama Dewi Mutyasari, Sang Suraliman mempunyai seorang putra dan seorang putri. Anak sulungnya yang laki-laki diberi nama Sang Kandiawan. Adiknya diberi nama Sang Kandiawati.

Sang Kandiawan, disebut juga Rajaresi Dewaraja atau Sang Layuwatang. Sedangkan Sang Kandiawati, bersuamikan seorang saudagar dari Pulau Sumatra, tinggal bersama suaminya.

Sang Suraliman, menjadi raja Kendan selama 29 tahun (tahun 568-597 M). Kemudian ia digantikan oleh Sang Kandiawan yang ketika itu telah menjadi raja daerah di Medang Jati atau Medang Gana. Oleh karena itu, Sang Kandiawan diberi gelar Rahiyangta ri Medang Jati.

Setelah Sang Kandiawan menggantikan ayahnya menjadi penguasa Kendan, ia tidak berkedudukan di Kendan, melainkan di Medang Jati (Kemungkinan di Cangkuang, Garut). Penyebabnya adalah karena Sang Kandiawan pemeluk agama Hindu Wisnu. Sedangkan wilayah Kendan, pemeluk agama Hindu Siwa. Boleh jadi, temuan fondasi candi di Bojong Menje oleh Balai Arkeologi Bandung, terkait dengan keagamaan masa silam Kendan.

Sebagai penguasa Kendan ketiga, Sang Kandiawan bergelar Rajaresi Dewaraja. Ia punya lima putra, masing-masing bernama Mangukuhan, Karungkalah, Katungmaralah, Sandanggreba, dan Wretikandayun. Kelima putranya, masing-masing menjadi raja daerah di Kulikuli, Surawulan, Peles Awi, Rawung Langit, dan Menir. Kemungkinan, lokasi kerajaan bawahan Kendan tersebut berada di sekitar Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.

Pendahulu Kerajaan Galuh

Sang Kandiawan menjadi raja hanya 15 tahun (597-612 M). Tahun 612 Masehi, ia mengundurkan diri dari tahta kerajaan, lalu menjadi pertapa di Layuwatang Kuningan. Sebagai penggantinya, ia menunjuk putra bungsunya, Sang Wretikandayun, yang waktu itu sudah menjadi rajaresi di daerah Menir.

Sang Wretikandayun dinobatkan sebagai penguasa Kerajaan Kendan pada tanggal 23 Maret 612 Masehi, dalam usia 21 tahun. Malam itu, bulan sedang purnama. Esok harinya, matahari terbit, tepat di titik timur garis ekuator.

Sang Wretikandayun tidak berkedudukan di Kendan ataupun di Medang Jati, tidak juga di Menir. Ia mendirikan pusat pemerintahan baru, kemudian diberi nama Galuh (permata). Lahan pusat pemerintahan yang dipilihnya diapit oleh dua batang sungai yang bertemu, yaitu Citanduy dan Cimuntur. Lokasinya yang sekarang, di desa Karang Kamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis.

Sebagai Rajaresi, Sang Wretikandayun memilih istri, seorang putri pendeta bernama Manawati, putri Resi Makandria. Manawati dinobatkan sebagai permaisuri dengan nama Candraresmi. Dari perkawinan ini, Sang Wretikandayun memperoleh tiga orang putra, yaitu Sempakwaja (lahir tahun 620 M), Jantaka, (lahir tahun 622 M), dan Amara (lahir tahun 624 M).

Ketika Sang Wretikandayun dinobatkan sebagai Raja Kendan di Galuh, penguasa di Tarumanagara saat itu, adalah Sri Maharaja Kretawarman (561-628 M). Sebagai Raja di Galuh, status Sang Wretikendayun adalah sebagai raja bawahan Tarumanagara.

Berturut-turut, Sang Wretikandayun menjadi raja daerah, di bawah kekuasaan Sudawarman (628-639 M), Dewamurti (639-640 M), Nagajayawarman (640-666 M), dan Linggawarman (666-669 M).

Ketika Linggawarman digantikan oleh Sang Tarusbawa, umur Sang Wretikandayun sudah mencapai 78 tahun. Ia mengetahui persis tentang Tarumanagara yang sudah pudar pamornya. Apalagi Sang Tarusbawa yang lahir di Sunda Sembawa dan mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Ini merupakan peluang bagi Sang Wretikandayun untuk membebaskan diri (mahardika) dari kekuasaan Sang Tarusbawa.

Sang Wretikendayun segera mengirimkan duta ke Pakuan (Bogor), sebagai ibu kota Kerajaan Sunda (lanjutan Tarumanagara) yang baru, menyampaikan surat kepada Sang Maharaja Tarusbawa. Isi surat tersebut menyatakan bahwa Galuh memisahkan diri dari Kerajaan Sunda, menjadi kerajaan yang mahardika.

Sang Maharaja Tarusbawa adalah raja yang cinta damai dan adil bijaksana. Ia berpikir, lebih baik membina separuh wilayah bekas Tarumanagara daripada menguasai keseluruhan, tetapi dalam keadaan lemah. Tahun 670 Masehi, merupakan tanda berakhirnya Tarumanagara. Kemudian muncul dua kerajaan penerusnya, Kerajaan Sunda di belahan barat dan Kerajaan Galuh di belahan timur, dengan batas wilayah kerajaan Sungai Citarum. Pada tahun 1482, kedua kerajaan ini dipersatukan oleh Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), menjadi Kerajaan Sunda Pajajaran.

Oleh karena itu, betapa pentingnya posisi dan nilai Situs Kendan dan sekitarnya dalam perspektif sejarah dan kepurbakalaan Jawa Barat. Tidak menutup kemungkinan, jika diadakan penggalian dan penelitian arkeologis, pada tebaran radius 5-10 km dari situs Kendan, akan ditemukan bekas candi, arca-arca, artefak, tembikar, keramik, terakota, dan benda-benda peninggalan sejarah lainnya.

Penulis, Alumnus Faculty of Arts and Sciences University of Pittsburgh, Pennsylvania, USA.

 

Cuplikan ini berasal dari artikel berjudul “Situs Kendan di Nagreg Jadi TPS atau Pekuburan” karya Yoseph Iskandar yang dimuat di koran Pikiran Rakyat, Sabtu, 6 Mei 2006. Tulisan ini dibuat sebagai tanggapan atas dua wacana yang berkaitan dengan wilayah Kendan waktu itu,

1)     Menjadikan Kendan sebagai TPS (Tempat Pembuangan Sampah) serta rencana pendirian pabrik pengolahan sampah modern di sana.

2)     Rencana pemindahan kompleks perkuburan Tionghoa dari Cikadut ke Kendan, sehubungan dengan rencana menjadikan Cikadut sebagai pusat industri dan perdagangan.

Geotrek Kamojang, 8 Oktober 2011

Ruas Jl. Braga di Bandung tentulah sudah dikenal baik oleh masyarakat, baik sebagai objek wisata berwawasan sejarah atau arsitektur. Sejumlah bangunan tua di Jl. Braga belakangan ini menjadi lebih populer sebagai tempat berfoto-ria yang dilakukan baik oleh kalangan wisatawan atau pun para pelajar dan remaja Kota Bandung. Belakangan Jl. Braga agak mengundang kegaduhan dalam masyarakat sehubungan dengan program revitalisasi yang menggantikan bahan jalan dari aspal dengan batu andesit. Jalan berbatu andesit ini ternyata tak pernah mampu bertahan cukup lama dalam kondisi baik.

Tapi dari pada membicarakan masalah revitalisasi yang tidak vital itu, saya langsung saja ke perhatian utama saat ini, yaitu Kampung Apandi. Ruas Jl. Braga sebetulnya diapit oleh dua kawasan di kiri-kanannya, masing-masing Kampung Apandi di sebelah barat dan sebuah Europeschewijk di sisi timurnya. Europeschewijk yang dulu dikepalai oleh Coorde sekarang menjadi kawasan Kejaksaan Atas dan nama Gang Coorde menjadi Jl. Kejaksaan. Istilah Kejaksaan Atas dan Kejaksaan Bawah adalah istilah tidak resmi dari warga untuk membedakan potongan Jl. Kejaksaan antara Tamblong-Braga dengan Tamblong-Saad.

Di sebelah barat ruas Jl. Braga terletak perkampungan berbentuk memanjang utara-selatan dan secara administratif termasuk ke dalam Kelurahan Braga. Kampung yang padat ini hampir selalu luput dari perhatian saat masyarakat membicarakan masalah Jl. Braga. Hanya kadang-kadang saja perhatian masyarakat ditolehkan ke wilayah ini, yaitu saat banjir besar melanda secara rutin setiap tahunnya. Seperti yang terjadi pada 28 April 2007, tak kurang dari walikota Dada Rosada mendatangi kawasan kampung ini untuk melihat keadaan kampung yang porak-poranda akibat terjangan banjir pada malam sebelumnya.

Di masa Hindia-Belanda, wilayah utama Kampung Apandi terletak di lokasi yang sekarang ditempati oleh Hotel Kedaton. Kampung ini memanjang ke arah selatan sampai sekitar di seberang restoran Braga Permai. Secara perlahan wilayah perkampungan ini digerus oleh zaman. Penyusutan wilayah pertama kali terjadi sekitar tahun 1938 saat pembangunan viaduct. Jembatan kereta api yang melintasi sungai Ci Kapundung di sebelah barat kampung ini sekaligus juga membukakan akses jalan baru dari arah Jl. Braga ke Jl. Banceuy. Jalan baru ini menjadi bagian dari Jl. Suniaraja.

Sebelum pembukaan jalan baru, akses jalan dari Braga menuju Jl. Banceuy hanyalah jalan gang di tengah perkampungan saja. Jalan baru dibuat menyambung dengan potongan Jl. Suniaraja yang bersambungan dengan ujung Jl. Banceuy dan berawal dari persimpangan Jl. Kebonjati. Warga tempo dulu menyebutnya Parapatan Kompa. Di wilayah inilah dulu lahir seseorang yang pada masa remajanya sempat menghebohkan warga Bandung karena berjibaku dengan meledakkan gudang mesiu Jepang di Dayeuhkolot, Mohammad Toha. Sayang sekali detail cerita seputar peledakan ini masih kabur hingga sekarang.

Pembukaan jalan baru yang membelah Kampung Apandi itu sebetulnya merupakan bagian dari sebuah rencana lain yaitu pengembangan ruas jalan di sepanjang jalur sungai Ci Kapundung dimulai dari sekitar viaduct hingga kompleks pertokoan elektronik Banceuy (Cikapundung) sekarang. Entah kenapa rencana ini tidak pernah terwujud.

Penyusutan Kampung Apandi berikutnya terjadi saat didirikannya Hotel Kedaton persis di bekas rumah tokoh setempat yang namanya kemudian diabadikan menjadi nama kampung, H.M. Affandi. Masih belum selesai, berikutnya sebagian wilayah Kampung Apandi menghilang lagi dengan pembangunan kompleks hotel dan mall Braga City Walk yang juga mengambil area bekas pabrik perakitan mobil Mercedez Fuchs & Rens (kemudian Permorin). Dari seluruh bagian bengkel Fuchs & Rens yang masih tersisa adalah ruang pamer mobil yang terletak persis di sisi Jl. Braga. Ruang pamer ini sekarang ditempati oleh restoran Wendy’s. Beberapa bagian bangunan, terutama bagian depan, masih menyisakan bagian asli ruang pamer Fuchs & Rens. Plakat pembangunan ruang pamer yang terbuat dari marmer pun masih dapat dilihat terpasang di tembok depan.

Sekarang bekas wilayah Kampung Apandi tinggal sedikit saja tersisa di sekitar seberang restoran Braga Permai. Persis berhadapan dengan restoran bekas Maison Bogerijen yang terkenal itu terdapat sebuah jalan gang mengarah ke timur. Jalan masuk gang ini cukup unik karena berbentuk lorong jalan di bawah bangunan gedung, yaitu Toko Buku Jawa. Di mulut gang terdapat plang nama jalan bertuliskan Gg. Apandi. Dari mulut gang ini tak sampai 20 meteran, suasana perkampungan sudah langsung terasa.Jalan masuk lain menuju kampung ini dapat melalui Gg. Apandi III dan Jl. Afandi Dalam dari arah Jl. Suniaraja (seberang Hotel Kedaton) yang ditandai dengan keberadaan bengkel-bengkel dan pusat penjualan ban mobil.

Penulisan nama Apandi sebagai nama daerah ini memang memiliki sejumlah variasi. Ada yang menuliskan Apandi, Affandi, atau Affandie. Pengucapan nama Affandi dalam logat Sunda menjadi Apandi tentu merupakan hal yang biasa sekali. Pengucapan ini mempengaruhi pula cara menuliskannya sehingga banyak nama yang ditulis secara resmi menjadi Apandi, seperti pada plang nama gang yang terletak di seberang Braga Permai.

Apandi atau Affandi, seperti yang tertulis pada nisan makamnya di Astana Anyar, adalah tokoh setempat yang dikenali sementara orang sebagai seorang yang sangat ramah pada tetangganya. Pada tahun 1903 Affandi mendirikan sebuah percetakan dengan nama Toko Tjitak Affandi. Percetakan ini termasuk percetakan pribumi angkatan pertama yang banyak mencetak buku-buku berbahasa Sunda. Salah satu terbitannya yang terkenal adalah Wawacan Angling Darma (Martanegara) pada tahun 1906. Buku cerita hiburan ini sempat mengalami cetak ulang oleh penerbit lain namun sayangnya dalam edisi yang agak terbatas. Affandi sendiri sempat menulis beberapa buku, di antaranya sebuah novel berjudul ”Pieunteungeun” yang diterbitkan pada tahun 1937.

Menurut salah satu kerabat H. Affandi, lokasi pendirian Toko Tjitak Affandi ini terletak di Gedung Landmark sekarang. Tanah di wilayah ini sampai ke dekat Jl. Suniaraja memang dimiliki oleh keluarga Affandi. Pada tahun 1922 di lokasi yang sama didirikan sebuah toko buku terkenal, van Dorp, dengan arsitektur bangunan hasil rancangan arsitek terkenal Wolff Schoemaker. Sangat mungkin van Dorp membeli dan melanjutkan percetakan yang memang telah ada sebelumnya.

Mengenai tokoh Affandi ini sebetulnya banyak informasi yang masih samar namun sangat menarik untuk ditelusuri lebih lanjut. Di antara kisah-kisah itu adalah cerita lisan bahwa kerabat-kerabat Affandi memiliki rumah-rumah besar di sepanjang Merdikaweg. Salah satu rumah itu terletak di lokasi berdirinya Bandung Indah Plaza (BIP) sekarang. Rumah lainnya berseberangan dengan gedung Balaikota dan memiliki ruang bawah tanah yang luas.

Menurut catatan dalam buku Braga: Revitalisation in an Urban Development (Wieland, 1997), di awal pembangunan Braga, sudah terdapat sebuah kampung di daerah itu yang bernama Babakan Soeniaradja. Konon pada tahun 1826, terdapat beberapa rumah di antara Sungai Ci Kapundung dan Braga (waktu itu Karrenweg). Kemudian baru pada tahun 1925 tercatat lagi mengenai kampung ini, ketika sejumlah penjaga kuda di jalur Jalan Raya Pos menempati tiga perkampungan, Kampung Banceuy (= bahasa Sunda yang berarti ‘istal’, kandang kuda), Kampung H. Affandi dan Kampung Cibantar. Perkampungan ini terdiri dari rumah-rumah panggung tradisional Sunda.

Ada empat orang yang tercatat sebagai pemilik atau tuan tanah di wilayah itu. Mereka adalah Haji Affandi dengan pemilikan tanah di sebelah barat Jl. Braga, dari tengah hingga ke sekitar viaduct; Asep Berlian dengan pemilikan tanah mulai di belakang eks-Fuchs & Rens ke selatan; Juragan Alketeri yang memiliki sebagian besar tanah di selatan Jl. Banceuy, dan Juragan Yiep Ging yang memiliki bidang tanah mulai dari sekitar Gg. Cikapundung hingga ke selatan Jl. Braga. Selain itu ada juga bagian tanah yang dimiliki oleh pemerintah dan tuan tanah bangsa Belanda, yakni di sebelah barat Jl. Braga bagian selatan hingga sekitar penjara Banceuy.

Sejak terjadi peristiwa kebekaran yang melanda Kampung Apandi tahun 1994, keluarga dan kerabat H. Affandi terpencar dan tinggal ke beberapa daerah lain di Kota Bandung. Pemilikan tanah oleh keluarga keturunan dan kerabat H. Affandi masih berlangsung sampai sekarang, namun sedikit demi sedikit terjual kepada para pengembang.

* * *

Affandie, R.M.A.

1969     Bandung Baheula (Djilid  1 & 2). Guna Utama. Bandung.

Anonim.

1933     “Bandoeng’s Geboorte en Groei: van Desa tot Trotsche Bergstad”. Artikel dalam majalah Mooi Bandoeng, Agustus, 1933.

Amin, Sjarif.

1983     Keur Kuring di Bandung. Pelita Masa. Bandung

Kunto, Haryoto.

1984        Wajah Bandung Tempo Doeloe. Granesia. Bandung.

Moriyama, Mikihiro.

2005        Semangat Baru. KPG. Jakarta.

Schomper, Pans.

1996 Selamat Tinggal Hindia: Janjinya Pedagang Telur. Dorned.

Wieland, H.F.

1997 Braga: Revitalisation in an Urban Development. Department of Architecture, Parahyangan Catolic University. Bandung.

Wawancara :

–          Goerjama, H.R.E.  Kelahiran Bandung, 1925. Wawancara di Bandung, tanggal 19 Februari 2007.

–          Roesman, Tien. Kelahiran Bandung, 1919. Wawancara di Bogor, tanggal 3 Maret 2007.

–          Informasi lisan Malia Nur Alifa.

SEKILAS SENI BELUK

Seni beluk adalah seni vokal tanpa iringan instrumen khas masyarakat Sunda yang sekarang ini sudah langka sekali ditemui. Sebarannya adalah wilayah agraris dan terutama di dataran-dataran tinggi, mulai dari Banten hingga Sumedang dan Tasikmalaya. Namun sayangnya sebaran yang luas ini tidak berarti bahwa seni beluk (mungkin juga seni tradisional lainnya) memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman. Salah satu yang masih bertahan adalah beluk dari Batu Karut, Desa Lebakwangi, Banjaran.

Di Lebakwangi seni beluk masih cukup sering ditampilkan dalam upacara-upacara seperti yang berhubungan dengan kelahiran bayi. Penyajiannya biasa dilakukan di ruang tengah rumah dengan alas tikar. Penyaji beluk yang biasanya terdiri dari empat orang duduk bersila diapit keluarga tuan rumah dan membentuk pola lingkaran. Penyajian seperti ini terasa agak aneh buat saya mengingat “nyanyian” beluk yang banyak berbentuk lengkingan vokal. Lengkingan seperti ini memang akan terasa ingar-bingar bila dikumandangkan dalam ruangan tertutup seperti di rumah. Namun tampaknya sekarang hal ini sudah menjadi kelaziman pula.

Seni lengking vokal ini diperkirakan berasal dari tradisi bersawah-ladang sebagai media komunikasi antarpetani. Masyarakat Baduy dulu sering berteriak dengan nada mengesankan bila sedang berada dalam hutan atau ladang sorang diri. Teriakan yang bisa dilakukan sebagai pengusir sepi atau juga memberitahukan keberadaannya di dalam hutan. Konon bentuk nyanyian dengan nada-nada tinggi, mengalun dan meliuk-liuk adalah bagian dari ekspresi masyarakat ladang saat berkomunikasi dengan sesama komunitasnya yang mempunyai pola tinggal menetap namun saling berjauhan.

Seni beluk mirip dengan karinding dalam hal tidak termasuk kategori seni pertunjukan dan lebih bersifat hiburan personal, sarana menghibur diri, dan pengusir rasa sepi. Belakangan, kesenian ini lebih banyak dipakai untuk keperluan ritual seperti dalam syukuran 40 hari kelahiran bayi. Ada empat orang penyaji utama dengan peranan yang berbeda. Disebut penyaji utama karena sebetulnya hadirin juga diperbolehkan untuk turut serta menyajikannya. Empat peranan tersebut adalah 1) tukang ngilo atau juru ilo, 2) tukang ngajual, 3) tukang meuli, dan 4) tukang naekeun.

Tukang ngilo adalah pembaca syair secara naratif. Pembacaan dilakukan dalam tempo sedang dengan artikulasi yang jelas dan dibacakan per padalisan (baris). Syair-syair beluk berasal dari naskah-naskah cerita babad atau wawacan dan disajikan dalam bentuk pupuh yang berjumlah 17, yaitu asmarandana, balakbak, dandanggula, durma, gambuh, gurisa, juru demung, kinanti, ladrang, lambang, magatru, maskumambang, mijil, pangkur, pucung, sinom, dan wirangrong.

Tukang ngajual menyanyikan syair yang dibacakan tukang ngilo sesuai dengan pupuhnya, namun cara menyanyikannya tanpa ornamen. Tukang meuli melanjutkan sajian tukang ngajual dengan tambahan ornamen pelengkap. Sedangkan tukang naekeun melanjutkan sajian tukang meuli dengan nada-nada tinggi dan meliuk-liuk. Di bagian ini ornamentasi vokal sangat dominan sehingga artikulasi tidak diutamakan dan bisa menjadi sangat kabur. Setiap tukang naekeun menyelesaikan satu bait, seluruh hadirin dan para penyaji lainnya memungkas lagu secara secara bersama (koor).

Dalam penyajian beluk dikenal beberapa teknik, seperti nyurup yaitu kesesuaian dengan laras yang dibawakan; jentre artikulasi yang jelas; eureur kesesuaian vibrasi dengan kalimat lagu; senggol ketepatan ornamentasi; leotan ketepatan nada yang digunakan; embat walaupun musik vokal ini bertempo bebas, namun tetap ada acuan metris-melodis kendati sangat samar; pedotan ketepatan waktu untuk mengambil nafas; renggep atau saregep keseriusan dalam penyajian; cacap kata demi kata harus disajikan sampai tuntas; bawarasa ekspresi dalam penyajian; dan bawaraga penegasan suasana dengan gestur yang dianggap menarik.

Sebagai bentuk kesenian yang lahir dari keseharian masyarakat agraris yang sederhana, dalam penyajiannya seni beluk tidak menerapkan aturan berpakaian tertentu. Yang paling umum ditemui menggunakan baju takwa, sarung, kopiah, dan celana panjang saja. Pembagian peranan dalam penyajian beluk juga memberi ciri masyarakat agraris yang senang bergotong-royong, bekerja-sama dan berkomunikasi secara harmonis.

Demikianlah rangkaian catatan yang berhubungan dengan beberapa objek dalam kegiatan Komunitas Aleut! pekan lalu.

Sumber informasi untuk keempat bagian tulisan tentang Ngaleut Dayeuhkolot-Banjaran :

– “Bandung in the Early Revolution 1945-1946”, John R.W. Smail, Cornell Modern Indonesia   Project, New York, 1964

– “Dewi Sartika”, Rochiati Wiriaatmadja, Dep. PDK, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1983/1984

– “Kisah Perjuangan Unsur Ganesa 10 Kurun Waktu 1942-1950”

– “Musical Instruments – A Comprehensive Dictonary”, Sibyl Marcuse, The Norton Library, New York, 1975

– “Saya Pilih Mengungsi”, Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Ristadi Widodo Kinartojo, Ummy Latifah Widodo, Bunaya, Bandung, 2002

–  Keterangan juru kunci Makam Leluhur Bandung, 18 & 20 Maret 2011

–  Keterangan juru kunci Situs Rumah Adat Kabuyutan, Batu Karut, Bapak Enggin, 20 Maret 2011

–  Kliping Bandung Lautan Api di HU Pikiran Rakyat 16-28 Maret 2007

–  Beluk Kehilangan Regenerasi, Pikiran Rakyat, 31 Januari 2011

–  Sampul album CD “Beluk Dzikir – Nyanyian Banten Jawa Barat”, produksi Program Studi Etnomusikologi Jurusan Karawitan, STSI Surakarta, 2003

–  Dokumen KKN Program Seni Budaya, http://www.scribd.com/doc/22769078/KKN-PROGRAMSENI-BUDAYA

–  Mata Kita, Kesenian Beluk, Salah Satu Identitas Masyarakat Agraris Pasundan, http://matakita.net/post/kesenianbeluk-salah-satu-identitas-masyarakat-agrarispasundan.html

BUMI ALIT KABUYUTAN, BATU KARUT

 

Perjalanan ke lokasi ini kami tempuh dengan dua buah angkot borongan. Lama perjalanan sekitar 15-20 menit. Tiba di lokasi, kami masih harus mencari juru kunci dulu karena kompleks situs ternyata terkunci. Dari luar tampak plang  bertuliskan “Situs Rumah Adat Sunda (Bumi Alit Kabuyutan) – Lebakwangi Batu Karut – Kec. Arjasari Kab. Bandung”.

Juru kunci, Bapak Enggin, segera membukakan gerbang dan mengajak semua peserta untuk berkumpul di bale. Pertanyaan utama dari beliau adalah “apa tujuan kunjungan ini?.” Usia sepuh membuatnya berbicara sangat perlahan dengan artikulasi yang kurang tegas, karena itu semua Aleutians merapat sangat dekat agar dapat menyimak dengan baik. Bagi beberapa teman, usaha ini cukup sia-sia, karena Pak Enggin menggunakan bahasa Sunda dengan banyak kata yang tidak terlalu biasa terdengar dalam percakapan sehari-hari di kota.

Inti cerita, Pak Enggin menyampaikan berbagai simbol yang terdapat dalam Bumi Alit Kabuyutan. Semua simbol ini berkaitan dengan filosofi kehidupan dan keagamaan yang menjadi pedoman hidup masyarakat penganutnya. Menurutnya, Batu Karut adalah pusat penyebaran agama Islam dengan menggunakan siloka. Misalnya saja ukuran rumah yang 5×6 meter dikaitkan dengan rukun Islam dan rukun Iman. Perkalian dari ukuran itu adalah jumlah juz dalam Quran. Angka-angka yang sama terulang lagi dalam menceritakan isi Bumi Alit. Di dalamnya terdapat 5 buah pusaka, yaitu lantingan, pedang, keris, badi, dan tumbak. Kelima pusaka ini ditempatkan dalam sumbul yang sekaligus menjadi pusaka keenam. Semua pusaka dibungkus oleh 5 lapis boeh.

Penceritaan filosofi ini berlangsung cukup lama dan intensif. Namun yang seringkali terjadi dalam kunjungan ke situs-situs keramat seperti ini adalah tidak ada keterangan sejarah yang memadai. Kebanyakan pertanyaan akan dijawab dengan agak kabur atau tidak tahu. Misalnya saja pertanyaan asal mula rumah adat ini, siapa pembangunnya,siapa yang menghuni, bagaimana kisahnya hingga menjadi tempat penyimpanan benda pusaka, dst. Bapak Enggin hanya selintas saja bercerita tentang situs Gunung Alit yang berada dekat dengan Bumi Alit. Di Gunung Alit terdapat beberapa makam tokoh dengan fungsi pemerintahan dan sosial di Batu Karut dahulu.

Masing-masing makam tersebut adalah Mbah Lurah yang memegang urusan pemerintahan, Mbah Wirakusumah sebagai panglima, Mbah Patrakusumah urusan seni-budaya, Mbah Ajilayang Suwitadikusumah bagian keagamaan, dan Mbah Manggung Jayadikusumah. Nama terakhir ini tak saya temukan fungsinya dalam catatan yang saya buat, tampaknya terlewatkan.

Selain itu Bapak Enggin juga bercerita tentang upacara adat dan tata cara berziarah. Pada bagian ini saya kesulitan mencatat detail sesajian yang semuanya juga dihubungkan dengan filosofi kehidupan. Secara sepintas saya juga bertanya tentang sertifikat yang sebelumnya saya lihat terpajang di rumah Bapak Enggin. Sertifikat itu dikeluarkan oleh Depdikbud Dirjen Kebudayaan Direktorat Kesenian, Jakarta, tahun 1993 bagi peserta Festival Musik Tradisional Tingkat Nasional 1993 di Jakarta. Obrolan pun berlanjut ke kesenian yang dianggap asli Batu Karut, yaitu goong renteng atau sering juga disebut goong renteng Mbah Bandong dengan istilah bandong yang dikaitkan dengan asal-usul nama kota Bandung. Maksudnya adalah bahwa dalam kesenian gamelan ini terdapat dua buah goong yang ngabandong atau berpasangan, berhadapan.

Laras dalam gamelan goong renteng berbeda dengan yang umumnya dikenal, mereka menyebutnya laras bandong. Instrumen lain yang dipergunakan dalam gamelan ini adalah sejenis bonang yang disebut kongkoang, gangsa (sejenis saron), paneteg (sejenis kendang), dan beri yang mirip gong namun tidak berpenclon. Penggunaan gangsa dapat menunjukkan ketuaan kesenian ini karena biasanya tidak digunakan lagi dalam gamelan umumnya. Demikian juga dengan gong beri yang biasanya digunakan dalam peperangan dengan fungsi sebagai penanda. Gong beri tidak lazim digunakan dalam gamelan namun masih dapat ditemui digunakan dalam iringan seni bela diri tradisional.

Selain goong renteng, di daerah ini juga dapat ditemukan seni terebangan (sejenis rebana), reog, barongan, dan beluk. Beberapa tahun lalu, seorang teman peneliti musik dari Perancis pernah mengajak untuk menyaksikan dia merekam kesenian beluk di beberapa tempat, di antaranya di Banjaran. Saya masih selalu menyesal karena saat itu berhalangan untuk memenuhi undangan-undangannya. Namun akhirnya saya sempat juga beberapa kali menyaksikan kesenian ini diperagakan di Sumedang.

MAKAM LELUHUR BANDUNG

Dari Monumen Moh. Toha, rombongan Aleut! melanjutkan kunjungan ke kompleks makam bupati di Kampung Kaum. Kompleks makam ini terletak agak tersembunyi di tengah kampung. Di ujung gang sudah tampak sebuah gapura putih dengan pintu besi yang masih terkunci. Kompleks makam seluas satu hektare ini dibentengi oleh tembok yang juga berwarna putih. Tanah ini adalah tanah wakaf dari keluarga Dewi Sartika. Pada tembok depan terpasang sebuah prasasti marmer bertuliskan nama-nama tokoh yang dimakamkan di situ :

–          Ratu Wiranatakusumah (Raja Timbanganten ke-7)

–          R. Tmg. Wira Angun-Angun (Bupati Bandung ke-1)

–          R. Tmg. Anggadiredja II (Bupati Bandung ke-4)

–          R. Adipati Wiranatakusumah I (Bupati Bandung ke-5)

–          R. Dmg. Sastranegara (Patih Bandung)

–          R. Rg. Somanegara (Patih Bandung)

–          R. Dmg. Suriadipradja (Hoofd Jaksa Bandung)

Selain nama-nama yang tercantum di atas, masih banyak nama tokoh lain yang dimakamkan di sini yang mungkin menarik untuk ditelusuri karena sedikit-banyak mungkin menyimpan cerita tentang sejarah Bandung.

Di tengah kompleks terdapat empat buah makam bercungkup yang seluruhnya adalah makam pindahan. Masing-masing adalah makam R. Tmg. Wira Angun-Angun, bupati Bandung pertama (1641-1681), yang dipindahkan dari Pasirmalang, Bale Endah, pada tahun 1984; Ratu Wiranatakusumah yang dipindahkan dari tempat asalnya di Cangkuang, Leles, pada tahun 1989; Makam R. Rg. Somanegara yang dipindahkan dari tempat pembuangannya di Ternate; dan R. Dmg. Suriadipradja yang dipindahkan dari tempat pembuangannya di Pontianak. R. Dmg. Suriadipradja adalah ayahanda Dewi Sartika. Dua tokoh terakhir ini dipindahkan pada tahun 1993. Seluruh pemindahan dilakukan oleh Yayasan Komisi Sejarah Timbanganten-Bandung.

Peristiwa apakah yang melatari pembuangan Somanegara dan Suriadipradja? Ternyata pada tanggal 14 dan 17 Juli 1893 telah terjadi suatu keriuhan yang dikenal dengan sebutan “Peritiwa Dinamit Bandung”. Saat itu di Pendopo Bandung tengah berlangsung perayaan pengangkatan R. Aria Martanegara sebagai Bupati Bandung. Beliau yang keturunan Sumedang, sebelumnya menjabat sebagai Patih Onderafdeling Mangunreja (Sukapurakolot) dan diminta oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk menggantikan Bupati Bandung R. Adipati Kusumadilaga yang wafat pada 11 April 1893. Saat itu putera Kusumadilaga, R. Muharam baru berusia empat tahun, sehingga tidak bisa menggantikan ayahnya. Pejabat sementara dipegang oleh Patih Bandung, R. Rg. Somanegara.

Pengangkatan Martanegara sebagai bupati ternyata diterima dengan kekecewaan mendalam oleh Somanegara. Menurut tradisi yang berlaku, pengganti pejabat pribumi yang wafat adalah putra sulungnya. Hak ini tidak dapat diganggu-gugat, namun dengan syarat tambahan yang pelanjut harus cakap untuk jabatan tersebut. Dalam kasus tertentu, dapat juga menantu melanjutkan jabatan mertuanya seperti yang terjadi pada Bupati Bandung pertama, Wira Angun-Angun, yang menyerahkan jabatan kepada menantunya. Kasus lain terjadi juga pada Bupati Tanggerang di tahun 1739. Walaupun bupati tersebut memiliki tiga orang putera, namun pemerintah memilih untuk mengangkat menantunya sebagai pengganti jabatan Bupati Tanggerang.

R. Rg. Somanegara adalah menantu Dalem Bintang atau Adipati Wiranatakusumah IV, Bupati Bandung sebelum R. Kusumadilaga. Kesempatannya untuk menjadi Bupati Bandung telah dua kali diabaikan oleh pemerintah Hindia-Belanda. Pertama, saat mertuanya, R. Adipati Wiranatakusumah IV, wafat pada 1874, ia harus menerima keputusan pemerintah yang memilih untuk mengangkat saudara Wiranatakusumah IV yaitu R. Kusumadilaga. Yang kedua, saat pemerintah memilih mengangkat seorang keturunan Sumedang, R. Aria Martanegara, sebagai pengganti Bupati Bandung, R. Kusumadilaga.

Karena itulah mungkin Somanegara merasa kecewa sehingga merencakan pembunuhan terhadap Residen, Asisten Residen, Bupati Bandung dan Sekretarisnya. Caranya adalah dengan melakukan pendinamitan di beberapa lokasi. Di antaranya di sebuah jembatan di atas CI Kapundung dekat Pendopo dan di panggung direksi pacuan kuda di Tegallega. Hasil pengusutan polisi mendapatkan 8 orang tertuduh yang berada dalam pimpinan R. Rg. Somanegara dan ayahanda Dewi Sartika, R. Dmg. Suriadipradja. Pemerintah memutuskan untuk membuang kedua tokoh ini masing-masing ke Ternate dan Pontianak.

Kembali ke kompleks makam. Dulu, wilayah kompleks makam ini adalah bekas pusat pemerintahan Kabupaten Bandung saat masih berada di Krapyak. Di sinilah terletak pendopo kabupaten. Mengelilingi pendopo ini terdapat bangunan-bangunan seperti tajug (sekarang sudah menjadi mesjid) dan kantor kabupaten yang lahannya sekarang sudah habis menjadi permukiman. Bale pertemuan terletak di wilayah Bale Endah sekarang. Dekat dengan pusat pemerintahan ini terletak titik pertemuan sungai Ci Kapundung dengan Ci Tarum, yaitu di Cieunteung yang sekarang bernama Mekarsari.

Semestinya setelah dari kompleks Makam Leluhur Bandung, perjalanan akan dilanjutkan ke Cieunteung, namun karena juru kunci selintas menyebutkan sebuah kabuyutan di Batu Karut, maka saya secara spontan mengajukan usul untuk sekalian menyambangi tempat itu. Sebelumnya saya sudah pernah dua kali mengunjungi tempat itu, namun kali ini suasana yang saya temui agak berbeda.

Kali ini suasana di Bumi Alit Kabuyutan terlihat lebih resik dan terang benderang, tidak seperti pada kunjungan sebelumnya yang terkesan agak gelap sehingga terasa menyeramkan. Sebuah bale besar yang cukup mewah sudah hadir pula di bagian depan. Rasa mewah tentu saja bila dibandingkan dengan bale panggung yang ada sebelumnya. Bumi Alit tampak sangat bersih dan terawat. Belum lagi kehadiran toilet yang baru di bagian lain. Di lokasi ini dulu kosong melompong langsung berbatasan dengan sungai. Sekarang sudah ada pagar dengan jalur jalan batu di bagian luarnya. Tak ada lagi kesan angker dan mistis seperti yang sudah sempat saya iklankan saat mengajukan usulan untuk berkunjung ke kabuyutan ini.

Kunjungan pada hari ini juga berbeda karena bersama saya ada 24 Aleutians yang turut serta, sungguh ramai..

Sebagai laporan dari ngaleut ke Dayeuhkolot-Banjaran tanggal 20 Maret 2011 kemarin, saya bikin catatan yang ternyata berpanjang-panjang, karena itu saya pecah saja menjadi beberapa bagian. Semoga tidak membosankan membacanya. Ini bagian pertama…

MONUMEN MOHAMMAD TOHA

 

Pada hari Minggu lalu, 20 Maret 2011, Komunitas Aleut! mengadakan kunjungan ke daerah Dayeuhkolot dengan tema utamanya mengenang peristiwa Bandung Lautan Api (BLA – 1946). Sebagian kita mungkin sudah mengetahui kaitan Dayeuhkolot dengan BLA. Di sinilah seorang tokoh kontroversial , Mohammad Toha, meledakkan gudang mesiu Belanda. Bukan hanya ketokohan Moh. Toha yang kontroversial, namun kronologi peristiwanya pun lumyan simpang-siur, maklum tak ada seorang pun yang secara langsung menyaksikan atau mengetahui secara persis peristiwa itu. Koran Pikiran Rakyat pernah mengadakan investigasi intensif pada tahun 2007 dengan mewawancarai sejumlah tokoh yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mungkin berkaitan. Di antara mereka ada yang juga mengenali Moh. Toha secara pribadi.

Hasil investigasi Pikiran Rakyat kemudian dimuat secara berturut selama seminggu penuh. Termasuk di antaranya adalah tulisan dari kalangan akademisi serta laporan masyarakat pembaca. Tidak semua hal menjadi terang-benderang setelah peliputan itu, bahkan sempat pula ada keraguan tentang wajah Moh. Toha yang beberapa fotonya ditampilkan dalam liputan koran itu.

Kunjungan Komunitas Aleut! hari itu tidak hendak ikut nimbrung dalam kontroversi ini melainkan sekadar mengenalkan saja secara selintas peristiwa bersejarah yang hampir terlupakan itu. Di Dayeuhkolot kami dapat kunjungi lokasi peledakan gudang mesiu yang sekarang sudah menjadi kolam. Sebuah laporan berdasarkan ingatan, dari Misbah Sudarman, menyebutkan tentang sebuah lubang yang menganga dan dalam, sementara di sekitarnya tanah menggunung dalam radius 25 meter. Rumah-rumah Belanda dan warga di sekitar lokasi itu hancur berantakan. Saat diwawancarai pada tahun 2007, Misbah Sudarman berusian 72 tahun.

Sekarang lokasi bekas ledakan itu sudah menjadi kolam dengan air berwarna coklat. Di salah satu sisinya terdapat sebuah karamba besar. Beberapa orang tua tampak memancing di pinggiran kolam. Di depan kolam didirikan dua buah monumen, satu monumen berupa patung dada Moh. Toha dan di belakangnya sebuah monumen yang menjulang tinggi berbentuk lidah-lidah api dengan tentara yang terperangkap dalam kobarannya. Di sebelah kiri monumen ini terdapat tembok prasasti berisi 15 kotak marmer. Pada 13 kotak di antaranya terpahatkan daftar nama pejuang yang gugur dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Dua kotak di sudut kanan bawah masih tampak kosong. Di bagian atas tembok prasasti ini terdapat ornamen kobaran api.

Di seberang kolam, agak kurang menonjol, tampak tembok memanjang dengan relief cerita seputar BLA. Agak sulit untuk menangkap isi relief ini karena selain letaknya yang jauh di seberang kolam, tidak terdapat warna-warna yang dapat membantu penglihatan selain sedikit warna emas yang tampaknya sudah luntur dan kusam. Warna yang mendominasi hanyalah warna batu andesit yang menjadi bahan tembok ini. Dengan zoom kamera saya dapat lihat gambaran umum relief yang berisi hal-hal seputar BLA. Ada gambaran umum pertempuran, Soekarno-Hatta, truk-truk militer, tulisan-tulisan “Merdeka”, “Bengkel Sepeda Motor Cikudapateuh”, dan “Dengki Amunition”. Paling kanan adalah relief ledakan gudang mesiu.

Di depan Patung dada Moh. Toha terletak kompleks Batalyon Zeni Tempur 3/YW. Dalam dua kali kunjungan ke monumen ini ternyata selalu ada tentara yang menghampiri menanyakan tujuan kedatangan dan izin kunjungan. Mungkin kedatangan rombongan Aleut! ke tempat ini terlihat tak lazim, apalagi dengan begitu banyak kegiatan pengamatan dan foto-foto. Sementara itu di belakang monumen terletak gedung Komando Daerah Militer 0609 – Komando Rayon Militer 0908 Dayeuhkolot. Kompleks monumen ini memang terletak di tengah-tengah kawasan militer Dayeuhkolot, jadi bila ingin berkunjung sebaiknya persiapkanlah berbagai hal yang diperlukan terutama yang berkaitan dengan perizinan.

Dengan menggunakan angkutan kota baik dari arah Buahbatu/Bale Endah atau dari arah Kebon Kalapa dan Tegalega, jarak tempuh ke lokasi ini tidak akan lebih dari 30 menit saja, kecuali di hari-hari biasa yang umumnya selalu macet. Markas militer dan monumen ini dengan mudah terlihat di sisi jalan. Selain itu jalur angkutan kota dari kedua arah itu juga mewakili peristiwa BLA karena merupakan jalur-jalur utama pengungsian masyarakat Kota Bandung ke daerah selatan setelah Bandung dijadikan lautan api.

Cerita unik tentang kawasan di sekitar Bandung memang seperti tak akan pernah habis. Ada kompleks-kompleks pemakamaman kuno dengan ciri-ciri kebudayaan Hindu di sekitar perbukitan Bandung utara dan timur. Peninggalan kebudayaan megalitik yang masih dapat disaksikan in situ juga tersebar di banyak tempat di seputaran Bandung seperti di Gunung Padang, Soreang, di Pasir Panyandakan, Ujungberung, Cililin, dll.

Selain objek wisata alam atau sejarah, berbagai keunikan objek lainnya di Bandung masih dapat terus ditemui dan digali, seperti kebiasaan-kebiasaan dan pola hidup masyarakat yang mungkin bagi sebagian orang terasa tidak biasa. Misalnya saja kelompok masyarakat penambang urat emas di Cibaliung, Pangalengan, daerah perbatasan antara Kabupaten Bandung dan Cianjur. Kelompok masyarakat yang sebagian besar memiliki pertalian keluarga ini tinggal di dasar lembah vertikal yang sempit. Puluhan keluarga membangun rumah kayu dan bilik mereka di tepi aliran sungai Ci Baliung secara vertikal mengikuti kontur bukit yang curam. Dari sisi jalan perkebunan Cukul, perlu waktu berjalan kaki menuruni lembah sekitar satu jam untuk dapat mencapai perkampungan ini dan tentunya lebih lama lagi untuk naik dan kembali ke jalan utama perkebunan. Dari Situ Cileunca, Pangalengan, dengan memakai kendaraan off-road perlu waktu satu jam menempuh jalan perkebunan yang berbatu menuju bibir lembah Kampung Cibaliung.

Warga Cibaliung membangun turbin-turbin untuk pembangkit listrik secara sederhana sebagai sarana penerangan rumah masing-masing. Selain itu di setiap jeram dibangun pula turbin yang membantu mereka dalam proses pengolahan biji emas yang berhasil didapatkan dari perut bukit yang mereka gali hingga berpuluh-puluh meter panjangnya. Kelompok masyarakat ini tinggal di keterpencilan lembah Cibaliung selama bertahun-tahun dan hanya sesekali saja keluar kawasan untuk berbelanja memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Cibuni, Rancabali
Sebuah kampung unik lain yang tak kalah menarik untuk dikunjungi terdapat di kawasan Perkebunan Rancabali, afdeeling Rancabali II. Daerah ini juga disebut Cibuni karena berada di dalam kawasan Perkebunan Teh Cibuni, Ciwidey. Jaraknya dari Bandung sekitar 50 kilometer dan terletak tidak jauh dari kompleks Cagar Alam Talaga Patengan. Perkampungan pegawai perkebunan dengan rumah-rumah berwarna biru cerah memberikan pemandangan yang segar di tengah hamparan perkebunan teh yang hijau. Ada beberapa kelompok perkampungan seperti ini di tengah luasnya kompleks perkebunan Cibuni.

Yang cukup menarik, di kawasan perkebunan ini terdapat beberapa kawah aktif yang dapat dikunjungi. Kawah-kawah ini terletak cukup terpencil sehingga sering luput dari perhatian para pengguna jalur jalan Ciwidey-Cianjur, walaupun ada beberapa papan petunjuk menuju kawah yang terpasang di sisi jalan. Yang paling unik dari semua kawah ini adalah kawah Cibuni yang berada sekitar satu kilometer dari jalan raya atau Jembatan Ciorok. Untuk menuju kawah, pengunjung harus mendaki jalan setapak yang sudah pernah diperlebar hingga tiga meter sepanjang kurang lebih satu kilometer.

Kondisi kawah di perkebunan ini secara umum mirip dengan Kawah Domas di Tangkuban Parahu atau Kawah Sikidang dan Kawah Sileri di daerah Dieng. Kita dapat melihat kepulan asap tebal yang keluar dari sela-sela bebatuan yang tersebar di area ini. Selain puluhan sumber asap tebal, puluhan mata air panas berbelerang juga mudah ditemukan tersebar di sekitar kawasan ini. Uniknya di atas area kawah ini dibangun beberapa rumah tinggal yang juga berfungsi sebagai warung dan sebuah musholla yang terbuat dari kayu dan bilik. Rumah-rumah ini juga biasa diinapi oleh para pengunjung yang bermalam di sini. Untuk menginap tidak dikenakan biaya tertentu, para pemilik rumah ikhlas menerima seadanya saja dari para pemakai jasa rumahnya.

Kebanyakan pengunjung yang datang menginap bertujuan untuk melalukan pengobatan dengan memanfaatkan aliran sungai berair panas. Di sebuah kolam kecil tampak sejumlah orang sedang berendam dan mandi di pancuran bambu air panas. Seorang bapak berusia sekitar 70 tahun mengakui sudah dua kali mengunjungi tempat itu. Kedatangannya adalah untuk mengobati penyakit rematik yang sudah cukup lama dideritanya. Bapak ini berencana tinggal beberapa hari di Kampung Kawah Cibuni. Dalam kunjungan pertamanya sekitar 10 tahun lalu, bapak yang berasal dari Naringgul ini mengakui berhasil sembuh dari penyakit rematiknya, namun kambuh lagi dalam dua minggu terakhir ini. Serombongan pengunjung yang terdiri dari dua keluarga juga memilih berbagai tempat untuk bersantai berendam menikmati air panas yang mengalir.

Hingga sekitar setahun lalu, kawah di Cibuni ini lebih dikenal dengan nama Kawah Cibuni saja, namun belakangan sehubungan dengan rencana pengelolaan area menjadi Kawasan Wisata Agro dari Kebun Rancabali, PTP Nusantara VIII, nama kawah diubah menjadi Kawah Rengganis. Sebuah plang penunjuk didirikan di jalan masuknya, di sisi jalan raya Ciwidey-Cianjur. Namun sayang, entah sebab apa, rupanya rencana ini batal diwujudkan.

Sekarang kawasan wisata agro yang direncanakan terlihat agak terbengkalai tanpa pengelolaan yang cukup baik. Menurut warga setempat kunjungan wisatawan ke lokasi tersebut juga tidak terlalu banyak walaupun setiap harinya ada saja yang datang. Turis asing pun cukup sering mengunjungi tempat ini walaupun dalam kelompok-kelompok kecil atau perseorangan saja. Pada hari Minggu dan hari-hari libur saja biasanya jumlah pengunjung agak meningkat. Selain sekadar berjalan-jalan saja, kebanyakan pengunjung bermaksud melakukan pengobatan berbagai penyakit dengan memanfaatkan aliran air panas di sana. Atau yang juga cukup sering ditemui adalah kelompok pengunjung dengan tujuan berziarah ke sebuah makam tua di dekat kawah.

Abah Jaka Lalana
Pada umumnya warga tidak dapat bercerita banyak tentang masa lalu Kampung Kawah Cibuni. Kebanyakan mereka sendiri adalah keluarga pendatang dari wilayah di sekitarnya. Namun konon perkampungan di kawah ini sudah ada sejak zaman Hindia Belanda dan biasa dikunjungi oleh para pegawai perkebunan di sekitarnya. Pak Maman, salah satu warga sekitar yang berasal dari Rancasuni hanya dapat mengatakan bahwa dahulu kawasan ini dibuka oleh seorang yang sekarang dikenal dengan nama Abah Jaka Lalana. Makam tokoh perintis inilah yang kemudian hari banyak diziarahi orang. Keluarga penerus Abah Jaka Lalana juga tidak banyak menyimpan cerita masa lalu sehingga tidak banyak informasi sejarah yang dapat digali lebih jauh dari warga Kampung Cibuni.

Di kompleks kawah ini terdapat 7 keluarga yang tinggal dan mendirikan rumah-rumah mereka di area kawah dan di bibir tebing di sisi kawah. Hampir semua keluarga ini menghidupi diri dengan bertani palawija. Mereka membuka dan mengelola lahan tidur di sekitar kampung dan di sisi hutan menjadi ladang-ladang. Usaha warung hanya dijalankan oleh dua keluarga saja. Untuk sarana penerangan, setiap keluarga membangung turbin-turbin penggerak dinamo di aliran sungai Ci Buni. Ada empat buah turbin berkekuatan masing-masing sekitar 70 watt yang memenuhi kebutuhan listrik 7 keluarga kampung.

Objek lainnya
Dari Kawah Cibuni atau sekarang Kawah Rengganis, wisatawan dapat juga bertualang mendaki bukit dan menempuh hutan menuju puncak Gunung Patuha. Diperlukan waktu sekitar tiga jam untuk mencapai puncaknya. Bila berminat bertualang seperti ini sebaiknya menyertakan seorang warga sekitar sebagai pemandu agar tidak tersesat karena hutan di sekitar ini masih cukup lebat dan tidak memiliki jalan setapak. Di ketinggian bukit, juga terdapat kawah lain yang dinamakan Kawah Saat. Di dekat Kawah Saat juga terdapat sebuah makam tua lainnya yang biasa didatangi para peziarah. Bila dapat mencapai Kawah Saat maka tidak diperlukan waktu terlalu lama untuk dapat mengunjungi sebuah kawah lain yang lebih populer, yaitu Kawah Putih. Kawah lain dengan nama Kawah Saat juga terdapat di kawasan lain di Cibuni, yaitu di Kampung Pangisikan. Di kampung ini mengalir sungai Ci Pangisikan yang berair jernih.

Bertualang dengan berjalan kaki atau bersepeda dapat juga dilakukan di kawasan Cagar Alam Talaga Patengan dengan menyusuri jalur perkebunan teh yang terhampar dengan indahnya, atau menerobos hutan hingga mencapai Situ Patengan melalui jalan aspal yang cukup baik. Bila memiliki cukup banyak waktu dan energi, menyusuri jalan raya penghubung Ciwidey-Cianjur adalah alternatif yang sangat menarik karena sepanjang perjalanan akan menemui kompleks-kompleks perkebunan yang memanjakan mata serta kampung-kampung kecil yang asri yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Sekadar minum kopi atau teh di pinggir jalan raya yang tidak ramai ini pasti akan memberikan suasana segar yang tidak akan Anda dapatkan di perkotaan.

Ridwan Hutagalung
26.05.10

Kunjungan Aleut! pada malam menjelang Imlek di Vihara Satya Budhi di Jl. Klenteng, Bandung.
Bangunan vihara ini awalnya adalah rumah tinggal Kapiten Cina yang juga wijkmeester der Chineesen (Ketua Pengurus Masyarakat Cina), Tan Joen Liong. Arsitek Chui Tzu Tse dan pembangun (aanemer) Kung Chen Tse didatangkan dari Cina Selatan. Setelah berdiri selama 20 tahun (sejak 1865), pada tanggal 15 Juni 1885 tempat ini diresmikan sebagai rumah peribadatan dengan nama Hiap Thian Kiong atau Istana Para Dewa.

by Ridwan Hutagalung on Wednesday, March 3, 2010 at 12:58am

Pada tanggal 27 Februari lalu, Truedee menyelenggarakan sebuah program tour dengan nama Jajal Geotrek III (Tangkuban Parahu-Kebun Teh Hegarmanah/Ciater). Sebelumnya sudah dua program Jajal Geotrek diselenggarakan, masing-masing Jajal Geotrek I (tak ikut dan tak punya datanya euy, tapi jalurnya di sekitar utara Kota Bandung, antara Gunung Batu sampai Batuloceng) dan Jajal Geotrek II : Gn. Puntang-Malabar (28 November 2009). Bisa dipastikan semua program susur alam tersebut berlangsung dengan meriah dan menyenangkan bagi semua pesertanya, apalagi dua interpreter andal selalu menyertai perjalanan ini, Budi Brahmantyo dan T. Bachtiar.

Penamaan program Jajal Geotrek tentu saja berhubungan dengan buku Wisata Bumi Cekungan Bandung yang ditulis oleh Budi Brahmantyo & T. Bachtiar dan diterbitkan oleh Truedee Pustaka Sejati (Bandung, 2009). Buku ini memuat 9 jalur perjalanan dengan muatan geowisata di Kota Bandung dan sekitarnya. Setiap jalur dirangkai dengan menarik agar selalu memiliki benang merah dan mampu menyampaikan serpihan informasi dari berbagai disiplin ilmu terutama geologi, geografi, ilmu sejarah, dan pengetahuan lingkungan hidup. Jalur-jalur geotrek dalam buku inilah yang kemudian dibuatkan paket-paket “praktek”nya oleh Truedee dengan nama Jajal Geotrek.

Lalu apa yang menarik dari program Jajal Geotrek? Yang paling utama tentunya kehadiran kedua interpreter yang memang paham betul tentang objek-objek yang dikunjungi. Sejak rombongan menjejakkan kaki di sisi Kawah Ratu, mengalirlah semua penjelasan tentang fenomena alam yang dikunjungi oleh rombongan. Mulai dari sejarah kelahiran Gunung Tangkuban Parahu, gunung-gunung purba yang mendahuluinya dan kaitannya dengan danau purba di cekungan Bandung. Berbagai tipe gunung api dan letusannya serta fenomena alam di sekitarnya juga disampaikan dengan bahasa ringan disertai contoh-contoh dan gurauan yang memudahkan penyerapan informasi oleh para peserta (semoga bener..).

Dengan interpreter yang sangat egaliter, perjalanan yang ditempuh oleh seluruh rombongan menjadi tidak terasa membebani. Hubungan yang terbentuk tidak lagi seperti antara “ahli” dengan “awam” melainkan lebih sebagai sesama teman. Semua pertanyaan akan mendapatkan jawaban sepanjang penguasaan pengetahuan interpreter (dan akan diakui dengan rendah hati bila ternyata mereka tidak menguasai topik-topik tertentu). Bagi saya pribadi, kerendah-hatian seperti ini telah berhasil memperpendek jarak-jarak pengetahuan, pengalaman, dan senioritas antara interpreter dengan para peserta tour. Saya sendiri selalu percaya egalitarianisme adalah jalan masuk paling efektif untuk masuk ke generasi yang lebih muda. Sayangnya fenomena ini bukanlah fenomena yang cukup umum dalam sebagian besar masyarakat kita.

Demikianlah perjalanan-perjalanan Jajal Geotrek yang diselenggarakan oleh Truedee telah berhasil memberikan banyak bekal bagi para pesertanya, tidak melulu tentang keindahan objek alam yang memang sudah tersedia dengan sendirinya namun juga berbagai fenomena dan cerita lain yang melatarinya.

Jajal Geotrek III mengambil Jalur Geotrek I dari buku Wisata Bumi Cekungan Bandung dengan rute Kawah Ratu-Kawah Upas-Kawah Domas-Hutan Tropis-Kebun Teh Hegarmanah/Ciater. Semua jalur perjalanan ini ditempuh dengan berjalan kaki kecuali perjalanan berangkat dan pulang ke titik awal dan dari titik akhir yang ditempuh dengan menggunakan dua buah bis. Biaya Rp. 120.000/orang ternyata tidak menyurutkan jumlah peserta yang antusias untuk turut dalam perjalanan ini, tercatat ada 56 orang peserta (nyontek catatan Ruri) yang hadir. Biaya tersebut dipergunakan untuk keperluan transportasi, makan siang, tiket masuk kompleks Tangkuban Parahu, dan mencetak leaflet yang sangat bagus dan informatif.

Dengan makna perjalanan yang seperti ini tampaknya saya sudah mencatatkan diri untuk selalu serta dalam program-program Jajal Geotrek berikutnya, bukan demi kesenangan mengikuti tour itu sendiri (yang secara mingguan saya lakukan juga bersama Komunitas Aleut!) melainkan lebih demi kecintaan saya terhadap kota yang menjadi tempat hidup saya sekarang, Bandung.

Terimakasih untuk Truedee (Ummy & Ruri), Budi Brahmantyo, dan T. Bachtiar.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.