Skip navigation

Advertisements

Terowongan Lampegan (KITLV)

Antara tahun 1881 sampai 1884, perusahaan Staatspoorwegen Westerlijnen menyelesaikan pembangunan jalur lintasan kereta api mulai dari Bogor melalui Sukabumi sampai Bandung dan Cicalengka sepanjang 184 kilometer. Jalur kereta ini mencapai Bandung pada tanggal 17 Mei 1884 dan peresmian stasiunnya dilaksanakan pada tanggal 16 Juni 1884.

Pada lintasan Sukabumi-Cianjur sepanjang 39 kilometer terdapat sebuah terowongan yang dibuat dengan membobol badan Bukit Kancana (ada juga yang menyebutkan Gunung Keneng) di Desa Cibokor. Panjang terowongan ini 415 meter. Terowongan ini adalah yang pertama dibuat di wilayah Priangan. Baru pada tahun 1902 dibuat terowongan lain di Sasaksaat pada lintasan Batavia-Bandung via Cikampek, dan buah 3 terowongan di Ciamis selatan dibangun tahun 1918.

Mengenai pembuatan terowongan ini beredar spekulasi, ada yang mengatakan dibuat secara manual dengan mengerahkan tenaga penduduk sekitar, ada pula yang mengatakan dengan cara peledakan. Namun yang diharapkan cukup jelas adalah rentang tahun pembuatannya, yaitu antara 1879 sampai 1882, sesuai dengan angka yang terpahat pada tembok depan terowongan. Jalur ini lalu mencapai Cianjur pada tanggal 10 Mei 1883.

Konon saat peresmian terowongan ini, diundanglah ronggeng terkenal waktu itu, Nyi Sadea. Usai pertunjukan, seseorang mengajak Nyi Sadea pergi namun tak pernah kembali lagi. Masyarakat kemudian hanya memercayai dongengan bahwa Nyi Sadea telah “diperistri” oleh “penghuni” terowongan tersebut.

Ada juga spekulasi mengenai asal nama Lampegan. Ada yang mengatakan berasal dari ucapan Van Beckman, “lamp pegang, lamp pegang…” (pegang lampunya..), saat memantau para pekerjanya yang sedang membobol bagian dalam terowongan yang tentunya gelap gulita. Ada juga yang mengatakan kata itu berasal dari masinis kereta api di masa lampau yang selalu meneriakkan “Lampen aan! Lampen aan!” saat kereta melewati terowongan itu. Maksudnya, masinis memerintahkan agar para pegawainya menyalakan lampu.

Memang beredar berbagai variasi cerita tentang asal-muasal kata “lampegan” dengan dongengan yang melibatkan perkataan-perkataan Van Beckman yang lalu berubah menjadi nama “lampegan”. Dari cerita-cerita yang beredar itu ternyata tak ada yang mencoba memeriksa kamus bahasa Sunda, padahal dalam kamus bahasa Sunda terdapat kata “lampegan” yang diterangkan sebagai ” nama sejenis tumbuh-tumbuhan kecil”.

Tapi bila masih lebih suka cerita “lamp pegang” atau “lampen aan”, ya silakan saja ketang…

Sumber :

Sejarah Perkeretaapian Indonesia, Penerbit Angkasa Bandung, 1997

Terowongan Lampegan, 02.2011

Cerita unik tentang kawasan di sekitar Bandung memang seperti tak akan pernah habis. Ada kompleks-kompleks pemakamaman kuno dengan ciri-ciri kebudayaan Hindu di sekitar perbukitan Bandung utara dan timur. Peninggalan kebudayaan megalitik yang masih dapat disaksikan in situ juga tersebar di banyak tempat di seputaran Bandung seperti di Gunung Padang, Soreang, di Pasir Panyandakan, Ujungberung, Cililin, dll.

Selain objek wisata alam atau sejarah, berbagai keunikan objek lainnya di Bandung masih dapat terus ditemui dan digali, seperti kebiasaan-kebiasaan dan pola hidup masyarakat yang mungkin bagi sebagian orang terasa tidak biasa. Misalnya saja kelompok masyarakat penambang urat emas di Cibaliung, Pangalengan, daerah perbatasan antara Kabupaten Bandung dan Cianjur. Kelompok masyarakat yang sebagian besar memiliki pertalian keluarga ini tinggal di dasar lembah vertikal yang sempit. Puluhan keluarga membangun rumah kayu dan bilik mereka di tepi aliran sungai Ci Baliung secara vertikal mengikuti kontur bukit yang curam. Dari sisi jalan perkebunan Cukul, perlu waktu berjalan kaki menuruni lembah sekitar satu jam untuk dapat mencapai perkampungan ini dan tentunya lebih lama lagi untuk naik dan kembali ke jalan utama perkebunan. Dari Situ Cileunca, Pangalengan, dengan memakai kendaraan off-road perlu waktu satu jam menempuh jalan perkebunan yang berbatu menuju bibir lembah Kampung Cibaliung.

Warga Cibaliung membangun turbin-turbin untuk pembangkit listrik secara sederhana sebagai sarana penerangan rumah masing-masing. Selain itu di setiap jeram dibangun pula turbin yang membantu mereka dalam proses pengolahan biji emas yang berhasil didapatkan dari perut bukit yang mereka gali hingga berpuluh-puluh meter panjangnya. Kelompok masyarakat ini tinggal di keterpencilan lembah Cibaliung selama bertahun-tahun dan hanya sesekali saja keluar kawasan untuk berbelanja memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Cibuni, Rancabali
Sebuah kampung unik lain yang tak kalah menarik untuk dikunjungi terdapat di kawasan Perkebunan Rancabali, afdeeling Rancabali II. Daerah ini juga disebut Cibuni karena berada di dalam kawasan Perkebunan Teh Cibuni, Ciwidey. Jaraknya dari Bandung sekitar 50 kilometer dan terletak tidak jauh dari kompleks Cagar Alam Talaga Patengan. Perkampungan pegawai perkebunan dengan rumah-rumah berwarna biru cerah memberikan pemandangan yang segar di tengah hamparan perkebunan teh yang hijau. Ada beberapa kelompok perkampungan seperti ini di tengah luasnya kompleks perkebunan Cibuni.

Yang cukup menarik, di kawasan perkebunan ini terdapat beberapa kawah aktif yang dapat dikunjungi. Kawah-kawah ini terletak cukup terpencil sehingga sering luput dari perhatian para pengguna jalur jalan Ciwidey-Cianjur, walaupun ada beberapa papan petunjuk menuju kawah yang terpasang di sisi jalan. Yang paling unik dari semua kawah ini adalah kawah Cibuni yang berada sekitar satu kilometer dari jalan raya atau Jembatan Ciorok. Untuk menuju kawah, pengunjung harus mendaki jalan setapak yang sudah pernah diperlebar hingga tiga meter sepanjang kurang lebih satu kilometer.

Kondisi kawah di perkebunan ini secara umum mirip dengan Kawah Domas di Tangkuban Parahu atau Kawah Sikidang dan Kawah Sileri di daerah Dieng. Kita dapat melihat kepulan asap tebal yang keluar dari sela-sela bebatuan yang tersebar di area ini. Selain puluhan sumber asap tebal, puluhan mata air panas berbelerang juga mudah ditemukan tersebar di sekitar kawasan ini. Uniknya di atas area kawah ini dibangun beberapa rumah tinggal yang juga berfungsi sebagai warung dan sebuah musholla yang terbuat dari kayu dan bilik. Rumah-rumah ini juga biasa diinapi oleh para pengunjung yang bermalam di sini. Untuk menginap tidak dikenakan biaya tertentu, para pemilik rumah ikhlas menerima seadanya saja dari para pemakai jasa rumahnya.

Kebanyakan pengunjung yang datang menginap bertujuan untuk melalukan pengobatan dengan memanfaatkan aliran sungai berair panas. Di sebuah kolam kecil tampak sejumlah orang sedang berendam dan mandi di pancuran bambu air panas. Seorang bapak berusia sekitar 70 tahun mengakui sudah dua kali mengunjungi tempat itu. Kedatangannya adalah untuk mengobati penyakit rematik yang sudah cukup lama dideritanya. Bapak ini berencana tinggal beberapa hari di Kampung Kawah Cibuni. Dalam kunjungan pertamanya sekitar 10 tahun lalu, bapak yang berasal dari Naringgul ini mengakui berhasil sembuh dari penyakit rematiknya, namun kambuh lagi dalam dua minggu terakhir ini. Serombongan pengunjung yang terdiri dari dua keluarga juga memilih berbagai tempat untuk bersantai berendam menikmati air panas yang mengalir.

Hingga sekitar setahun lalu, kawah di Cibuni ini lebih dikenal dengan nama Kawah Cibuni saja, namun belakangan sehubungan dengan rencana pengelolaan area menjadi Kawasan Wisata Agro dari Kebun Rancabali, PTP Nusantara VIII, nama kawah diubah menjadi Kawah Rengganis. Sebuah plang penunjuk didirikan di jalan masuknya, di sisi jalan raya Ciwidey-Cianjur. Namun sayang, entah sebab apa, rupanya rencana ini batal diwujudkan.

Sekarang kawasan wisata agro yang direncanakan terlihat agak terbengkalai tanpa pengelolaan yang cukup baik. Menurut warga setempat kunjungan wisatawan ke lokasi tersebut juga tidak terlalu banyak walaupun setiap harinya ada saja yang datang. Turis asing pun cukup sering mengunjungi tempat ini walaupun dalam kelompok-kelompok kecil atau perseorangan saja. Pada hari Minggu dan hari-hari libur saja biasanya jumlah pengunjung agak meningkat. Selain sekadar berjalan-jalan saja, kebanyakan pengunjung bermaksud melakukan pengobatan berbagai penyakit dengan memanfaatkan aliran air panas di sana. Atau yang juga cukup sering ditemui adalah kelompok pengunjung dengan tujuan berziarah ke sebuah makam tua di dekat kawah.

Abah Jaka Lalana
Pada umumnya warga tidak dapat bercerita banyak tentang masa lalu Kampung Kawah Cibuni. Kebanyakan mereka sendiri adalah keluarga pendatang dari wilayah di sekitarnya. Namun konon perkampungan di kawah ini sudah ada sejak zaman Hindia Belanda dan biasa dikunjungi oleh para pegawai perkebunan di sekitarnya. Pak Maman, salah satu warga sekitar yang berasal dari Rancasuni hanya dapat mengatakan bahwa dahulu kawasan ini dibuka oleh seorang yang sekarang dikenal dengan nama Abah Jaka Lalana. Makam tokoh perintis inilah yang kemudian hari banyak diziarahi orang. Keluarga penerus Abah Jaka Lalana juga tidak banyak menyimpan cerita masa lalu sehingga tidak banyak informasi sejarah yang dapat digali lebih jauh dari warga Kampung Cibuni.

Di kompleks kawah ini terdapat 7 keluarga yang tinggal dan mendirikan rumah-rumah mereka di area kawah dan di bibir tebing di sisi kawah. Hampir semua keluarga ini menghidupi diri dengan bertani palawija. Mereka membuka dan mengelola lahan tidur di sekitar kampung dan di sisi hutan menjadi ladang-ladang. Usaha warung hanya dijalankan oleh dua keluarga saja. Untuk sarana penerangan, setiap keluarga membangung turbin-turbin penggerak dinamo di aliran sungai Ci Buni. Ada empat buah turbin berkekuatan masing-masing sekitar 70 watt yang memenuhi kebutuhan listrik 7 keluarga kampung.

Objek lainnya
Dari Kawah Cibuni atau sekarang Kawah Rengganis, wisatawan dapat juga bertualang mendaki bukit dan menempuh hutan menuju puncak Gunung Patuha. Diperlukan waktu sekitar tiga jam untuk mencapai puncaknya. Bila berminat bertualang seperti ini sebaiknya menyertakan seorang warga sekitar sebagai pemandu agar tidak tersesat karena hutan di sekitar ini masih cukup lebat dan tidak memiliki jalan setapak. Di ketinggian bukit, juga terdapat kawah lain yang dinamakan Kawah Saat. Di dekat Kawah Saat juga terdapat sebuah makam tua lainnya yang biasa didatangi para peziarah. Bila dapat mencapai Kawah Saat maka tidak diperlukan waktu terlalu lama untuk dapat mengunjungi sebuah kawah lain yang lebih populer, yaitu Kawah Putih. Kawah lain dengan nama Kawah Saat juga terdapat di kawasan lain di Cibuni, yaitu di Kampung Pangisikan. Di kampung ini mengalir sungai Ci Pangisikan yang berair jernih.

Bertualang dengan berjalan kaki atau bersepeda dapat juga dilakukan di kawasan Cagar Alam Talaga Patengan dengan menyusuri jalur perkebunan teh yang terhampar dengan indahnya, atau menerobos hutan hingga mencapai Situ Patengan melalui jalan aspal yang cukup baik. Bila memiliki cukup banyak waktu dan energi, menyusuri jalan raya penghubung Ciwidey-Cianjur adalah alternatif yang sangat menarik karena sepanjang perjalanan akan menemui kompleks-kompleks perkebunan yang memanjakan mata serta kampung-kampung kecil yang asri yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Sekadar minum kopi atau teh di pinggir jalan raya yang tidak ramai ini pasti akan memberikan suasana segar yang tidak akan Anda dapatkan di perkotaan.

Ridwan Hutagalung
26.05.10

Hari ini 16 orang Aleutians ditambah dengan tuan rumah (atau tuan saung?) berbagi cerita tentang masa kecilnya, terutama yang berhubungan dengan lingkungan tinggalnya. Masing-masing satu cerita dengan latar belakang Purworejo, Yogyakarta, Batu Raja-Palembang, dan pabrik kertas Padalarang, dua cerita dengan latar budaya Tionghoa, dua cerita dengan latar wilayah Sukamiskin, dan dua cerita dengan latar kawasan Derwati, tempat Aleut! berkumpul hari itu. Keluarga tuan rumah, Bpk. Rifki Rosyad, sudah turun temurun meninggali kawasan Derwati. Lainnya adalah cerita dari berbagai lokasi di Bandung.

Ada banyak cerita menarik yang disampaikan oleh Bpk. Rifki, mulai dari masa kecil dengan lingkungan persawahan, rawa-rawa, dan sungai, hingga sensasi-sensasi dalam mengikuti perubahan zaman, seperti masuknya listrik, televisi hitam-putih, televisi berwarna, hingga sensasi kehadiran jalan aspal di Derwati. Oya, cerita ini masih ditambah juga dengan cerita perubahan-perubahan dalam sikap keagamaan.

Tradisi permainan saat bulan purnama dan beragam permainan masa anak-anak yang memanfaatkan bahan-bahan dari tetumbuhan juga menjadi daya tarik dari cerita Bpk. Rifki. Hampir semua pengalaman dan permainan itu dilakukan secara berkelompok, melibatkan banyak teman lain dalam rentang usia yang lebih-kurang sama. Ya, pengalaman lingkungan seperti ini tampaknya sudah semakin kecil kemungkinannya untuk dapat dialami juga oleh generasi masa kini. Pengalaman anak-anak masa kini jarang yang dilakukan secara berkelompok, permainan lebih banyak yang bersifat perorangan atau kelompok kecil dan lebih banyak berhubungan dengan perangkat elektronik. Lingkungan alam sudah sangat banyak berubah.

Dalam “Aleut! Berbagi Cerita” hari ini juga ada beberapa informasi menarik, di antaranya spekulasi makna nama beberapa tempat. Dikatakan bahwa kata derwati dapat dipakai sebagai istilah untuk mengatakan kondisi seperti dalam peribahasa ‘hangat-hangat tai ayam’, namun disarankan juga untuk melacak kemungkinan lainnya dalam dunia perwayangan.

Muncul juga pembicaraan tentang nama wilayah Kordon. Paling tidak ada dua nama tempat Kordon yang cukup populer di Bandung, satu di atas kawasan Dago dan satu lagi di sebelah timur Buahbatu. Dalam kamus Inggris, cordon berarti garis atau lingkaran penjaga. Mungkin kata ini bentukan dari cord yang berarti kawat, kabel atau pita. Kata cordon juga dapat dipakai untuk kata kerja seperti dalam cordoned off yang artinya menutup dengan penjagaan ketat. Sedangkan kamus Belanda menerangkan kordon sebagai garis pelindung atau garis pertahanan.

Masih ingin berspekulasi lebih lanjut, berbatasan dengan wilayah Kordon di Buahbatu terdapat nama daerah Tegal Luar yang dulu berbatasan dengan Ciparay. Kedua tempat dengan nama Kordon ini memiliki dam dengan pintu air dan terletak agak jauh dari pusat kota. Dekat dengan Kordon di Buahbatu terdapat rumah peninggalan Hindia-Belanda yang masih berdiri sampai sekarang. Pada tahun 1970-an rumah itu didatangi orang Belanda yang mengaku kakeknya dulu pernah tinggal di situ. Di lokasi lainnya, ada sebuah mesjid yang melibatkan sebuah perusahaan Hindia-Belanda dalam perancangannya. Nah, lalu apa artinya kordon sebagai nama tempat? Kita simpan saja dulu pertanyaan dan berbagai petunjuknya ini sampai menemukan data-data pendukung lainnya hehe.

Rumah peninggalan masa Hindia-Belanda di Derwati

Kembali ke “Berbagi Cerita” yang dihiasi makan siang yang mantap dan rujak aceh, kami dapatkan bahwa umumnya pengalaman langsung dengan lingkungan alami semakin hari sudah semakin berkurang. Banyak nama pohon atau tanaman atau jenis-jenis ikan dan binatang yang sudah semakin terlupakan karena lingkungan yang ada sekarang sudah tidak menyediakan lagi ruang hidup bagi semua itu.

Bagian lebih rinci dari kegiatan Komunitas Aleut! ini akan saya tuliskan terpisah saja…

Ridwan Hutagalung

7 Februari 2011

Terima kasih untuk Icha, dan Bpk. Rifki Rosyad beserta seluruh keluarga yang sudah memberikan ruang buat kegiatan Komunitas Aleut! dan maaf sudah banyak merepotkan. Untuk Nara pemberi kunci menuju Kordon, Pia Zakiyah yang ngecek kamus online, dan pastinya semua teman lain yang tak bosannya mengikuti kegiatan Aleut! Semoga bermanfaat.

Dipublish juga di http://www.facebook.com/note.php?note_id=492831051486

Foto-foto kegiatan dapat dilihat di sini : http://www.facebook.com/album.php?id=519229089&aid=289560

Dalam liputan koran Pikiran Rakyat 2 Februari 2011, berjudul “Melebihi Kapasitas, TPSA Ciniru Bisa Meledak”, disebutkan mengenai kekuatiran Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Kuningan bahwa lokasi pembuangan sampah (Tempat Pembuangan Sampah Akhir/TPSA) itu bisa menimbulkan ledakan yang sangat kuat. Kapasitas penampungan tempat itu sudah tidak memadai lagi. Tumpukan sampah di sana sudah mencapai volume 550 meter kubik dengan bobot ribuan ton. Dimulai sejak tahun 2000-an, kini tumpukan itu sudah mencapai ketebalan 7 hingga 10 meter dalam area seluas sekitar 2 hektare.

Liputan koran itu juga menyebutkan bahwa solusi yang diusulkan dalam menghadapi masalah itu adalah dengan mencarikan lokasi lain atau dengan memperluas wilayah buangan di area itu. Untuk itu BPLHD sudah mengajukan anggaran pembelian tanah untuk lokasi baru, itu pun hanya akan efektif untuk dua tahun saja.

Saya teringat salah satu kegiatan Komunitas Aleut! yang saya asuh. Komunitas ini sering mensurvei lokasi-lokasi bersejarah di Kota Bandung untuk kemudian dijadikan bagian dari tour sejarah yang dilakukan setiap hari Minggu. Salah satu lokasi bersejarah yang mungkin berhubungan dengan cerita penampungan sampah di atas adalah Jalan Inhoftank di sekitar Tegalega, Bandung.

Nama jalan ini sering menjadi pertanyaan banyak orang, kira-kira dari mana asal nama Inhoftank? Akhirnya saya dapat menemukan sebuah sumber cukup menarik, yaitu buku “Kisah Perjuangan Unsur Ganesa 10 Kurun Waktu 1942-1950”, diterbitkan oleh Penerbit ITB, Bandung, 1995.

Halaman 39 dalam buku yang berkisah tentang perjuangan mahasiswa ITB ini menyinggung tentang sebuah instalasi yang disebut Imhofftank yang terletak di selatan Kota Bandung. Persisnya di daerah Tegalega. Penduduk wilayah sekitar menyebutnya pabrik mes, yang rupanya mengambil dari bahasa Belanda, mest yang berarti pupuk.

Ternyata pada masa Hindia-Belanda, Imhofftank adalah sebuah pabrik pengelolaan limbah rumah tangga di Bandung. Hasil produksinya? Biogas. Pabrik ini memiliki saluran-saluran seperti selokan yang terhubung dengan beberapa kawasan di Kota Bandung. Sebagian kotoran rumah-tangga di Bandung yang ditumpahkan ke parit-parit dan selokan akan masuk ke saluran ini dan kemudian ditampung di kolam atau tangki-tangki penampungan dan pengendapan Imhofftank. Di tangki ini limbah dibiarkan tergenang dan membusuk sehingga menimbulkan gas metan. Gas metan yang dihasilkan dipompa dengan kompresor dan dimasukkan ke dalam tabung silinder besi berdaya tampung 40 liter dengan tekanan lebih dari 1 atmosfer. Gas metan dalam tabung ini lalu dipergunakan untuk menjalankan bis-bis sekolah.

Selain tangki penampungan yang memroduksi gas metan, juga terdapat tangki pengeringan. Pada tangki pengeringan dibangun juga laboratorium dan gudang. Setelah melalui sejumlah proses, limbah rumah tangga kering tersebut dijadikan pupuk organik yang dikirim ke kawasan pertanian dan kebun bunga di daerah Lembang, Cisarua, Pangalengan, dan Ciwidey. Pengawasan semua proses ini dilakukan oleh Tuan Imhoff. Dari namanyalah kemudian nama kawasan ini dikenal dengan sebutan Imhofftank yang sekarang berubah menjadi Inhoftank. Perubahan dalam bahasa ini wajar dan umum saja terjadi.

Selama pendudukan Jepang, pabrik pupuk Imhofftank tidak dijalankan karena Jepang lebih memerlukan sumber energi gas metan untuk menjalankan truk-truk militernya. Setelah merdeka, pabrik pengolahan limbah Imhofftank terbengkalai, tak terpakai hingga waktu lama. Belakangan, dengan bertambahnya kepadatan penduduk Kota Bandung, wilayah bekas Imhofftank dijadikan permukiman. Namun, sisa-sisa tembok tangki pengolahan ini masih dapat dilihat sampai sekarang, sebagai malah menjadi bagian tembok rumah-rumah di sana.

Kembali ke masalah TPSA Ciniru, dan masih banyak lagi permasalahan serupa yang terjadi di sekitar kita, terasa agak mengherankan, kenapa dalam masa yang lebih modern ini kita tidak bisa mengolah limbah seperti yang sudah dilakukan pada hampir 70 tahun yang lalu? Apakah ini kemajuan atau kemunduran? Bila solusi pembuangan sampah adalah dengan terus menambah wilayah pembuangan, lalu sampai berapa banyakkah wilayah yang akan diperlukan untuk pembuangan sampah yang begitu banyaknya?

Bila di suatu lokasi tertentu yang cukup luas dibangun lagi pabrik serupa Imhofftank yang dapat menampung sampah dari berbagai wilayah, tentunya akan cukup banyak energi gas yang dapat dihasilkan. Rasanya akan cukup banyak pengeluaran dana dalam pengelolaan masalah sampah yang dapat ditekan dalam jangka panjang. Belum lagi banyaknya pupuk yang dapat bermanfaat menghijaukan kembali Kota Bandung..

Ya, bagaimanapun saya sadar pengetahuan saya sangat dangkal dalam hal ini, mungkin pembuatan pabrik dan pengelolaan sampah itu tidak sesederhana yang saya bayangkan. Saya hanya tak habis pikir kenapa ada warga Bandung yang sudah mampu melakukannya pada 70 tahun yang lalu, dan sekarang tidak?

Ridwan Hutagalung

4 Februari 2011

Sumber :

“Melebihi Kapasitas, TPSA Ciniru Bisa Meledak”, HU Pikiran Rakyat, 2 Februari 2011.

Dari TH ke ITB; Kenang-Kenangan Lustrum IV 2 Maret 1979, Adjat Sakri (ed), Penerbit ITB, Bandung, 1979.

Kamus Umum Belanda Indonesia, Prof. drs. S. Wojowasito, PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001.

Kisah Perjuangan Unsur Ganesa 10 Kurun Waktu 1942-1950, Satuan Tugas Penulisan Kisah Kehidupan Kampus Ganesa 10, 1942-1950, Penerbit ITB Bandung, 1995.

Berikut ini ada beberapa tradisi dalam merayakan Imlek yang saya tulis ulang dari artikel yang dimuat dalam HU Pikiran Rakyat, 2 Februari 2011. Pikiran Rakyat mengambil sumbernya dari Reuters.

Sebelum tahun baru Imlek biasanya keluarga membersihkan menghias rumahnya. Memotong rambut dan membeli pakaian baru. Tradisi ini dilakukan sebagai bagian untuk menyambut datangnya tahun baru dengan nasib yang lebih baik. Tradisi yang sama juga terdapat dalam berbagai budaya lain dalam menyambut tahun barunya masing-masing.

Pada malam tahun baru dilakukan tradisi shousui, yaitu kumpul tahunan bersama keluarga besar. Kegiatannya adalah makan malam bersama. Semua anak ikut berkumpul dan mendoakan orangtua mereka agar diberkahi usia yang panjang.

Hari pertama tahun baru (Imlek) diisi dengan saling mengunjungi antarkeluarga. Biasanya keluarga yang lebih muda mengunjungi keluarga yang tua. Pada hari ini terdapat tabu menyapu lantai. Pekerjaan menyapu pada saat Imlek dipercaya akan menghilangkan keberuntungan.

Pada hari ketiga adalah tradisi chi kou. Orang-orang menghindari kunjungan tetamu karena dipercaya pada hari ini roh-roh jahat sedang mendatangi bumi.

Hari kelima adalah hari lahirnya Dewa Kekayaan. Banyak usaha kembali dibuka pada hari ini.

Renri pada hari ketujuh adalah hari lahirnya manusia. Pada hari ini setiap manusia beranjak setahun lebih tua. Kegiatan hari ini adalah menghidangkan sup dengan tujuh bahan sayuran atau makan salad ikan mentah yang disebut yusheng.

Hari kelimabelas adalah saatnya untuk pesta lampion yang biasa disebut yuan xiao. Sebagai penganan istimewa untuk hari ini adalah sejenis kue moci manis dalam sirup. Penganan ini adalah simbol kesatuan dan kebersamaan.

Perayaan Imlek atau biasa juga disebut sin cia dapat saja berbeda-beda di setiap daerah. Simbol-simbol yang dipakai pun mungkin saja memiliki perbedaan tergantung daerahnya, pemaknaan yang terkandung di dalamnya pun bisa berbeda, namun persamaan umumnya adalah menyambut kedatangan tahun baru, hari baru, yang diharapkan akan lebih baik. Misalnya saja Eko, salah seorang narasumber dalam liputan PR tersebut, menganggap tradisi Imlek dapat juga menjadi ajang silaturahmi antarkeluarga dan sanak-saudara serta berbagi rezeki dengan sesama.

Dalam merayakan atau bersembahyang Imlek biasanya disajikan 12 macam jenis masakan dan 12 macam kue sebagai perlambang shio yang jumlahnya 12. Ada berbagai kebiasaan khas yang sangat menarik selain sejumlah larangan yang berkaitan dengan perayaan Imlek.

Misalnya saja kue keranjang atau nian gao (juga disebut tii kwee). Kue yang biasa kita sebut dengan dodol cina ini hanya diproduksi pada sekitar Imlek saja, setelah cap go meh (hari kelimabelas tahun baru) berlalu, maka akan sulit sekali mendapatkan kue ini di mana-mana kecuali bila mau memesannya secara khusus. Kue keranjang adalah simbol untuk kemajuan dan perbaikan sesuai dengan artinya yaitu ‘semakin tinggi setiap tahun’. Karena itulah kue keranjang biasa disusun tinggi, makin ke atas makin kecil dan pada bagian puncaknya ditaruh kue mangkok berwarna merah, maknanya adalah kehidupan yang semakin menanjak, bertambah manis dan mekar seperti kue mangkok. Nama kue keranjang didapatkan dari cetakannya yang menggunakan keranjang.

Cap go meh adalah bagian akhir dari perayaan Imlek yang dilangsungkan pada hari kelimabelas. Banyak daerah yang merayakannya dengan festival lampion seperti di Semarang. Pada hari ini ada hidangan istimewa yaitu lontong capgomeh yang terdiri dari lontong, opor ayam, lodeh, pindang telor, sate kambing dan samabal docang. Ada juga yang isinya berupa lontong, sayur, pindang telor, dan bubuk kedelai.

Dalam merayakan Imlek kita sering juga menyaksikan atraksi barongsai yang sekarang dipertunjukkan di berbagai tempat, termasuk di mal-mal. Barongsai dimainkan oleh beberapa orang dengan iringan musik tambur, gong, dan simbal. Tarian singa yang atraktif ini dianggap memberikan keuntungan bagi pemilik rumah atau penyelenggara pertunjukannya.

Angpao atau amplop merah berisi uang biasa dibagikan oleh keluarga yang sudah menikah kepada anak-anak atau mereka yang belum menikah, dan juga kepada mereka yang tidak atau belum memiliki pekerjaan dan para pelayan. Ini tentu saja sebagai tanda berbagi rezeki pada sesama.

Sedangkan sejumlah larangan pada perayaan Imlek, selain menyapu, adalah menyajikan beberapa macam makanan seperti bubur yang dianggap melambangkan kemiskinan. Makanan dengan rasa pahit seperti pare juga dihindari karena melambangkan pahitnya kehidupan. Ada juga yang menghindari buah-buahan berduri seperti salak dan durian, kecuali nanas. Nanas yang diucapkan wang li bunyinya mirip atau mengandung kata “berjaya”, selain itu juga perlambang untuk mahkota raja.

Ya segitu saja yang bisa saya catatkan untuk ikut bagian dalam perayaan Imlek yang jatuh pada tanggal 3 Februari 2011 lalu. Tentu saja ini sangat terbatas dibanding tradisi dan pernak-perniknya yang luar biasa. Anggap saja catatan ini sekadar ringan untuk 26 orang dari Komunitas Aleut! juga turut berkunjung ke Klenteng Satya Budhi pada malam tanggal 2 Februari hingga menjelang pergantian hari menuju Imlek.

Ridwan Hutagalung

4 Februari 2011

Foto-foto pada malam menjelang Perayaan Imlek di Vihara Satya Budhi Bandung dapat dilihat di sini http://www.facebook.com/album.php?id=519229089&aid=288308

Sumber :
Halaman khusus Bandung Raya dengan tema “Tahun Baru Imlek”, HU Pikiran Rakyat, Rabu, 2 Februari 2011
Tradisi Imlek http://chineseculturezone.blogspot.com/2010/12/tradisi-imlek-makanan-sajian-imlek.html
Imlek Indonesia http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Budaya_Bangsa/Pecinan/Imlek.htm

Mama hari ini ulang tahun yang ke-65.Ini Mama yang gampang sedih, gampang marah, gampang ketawa, tapi juga galak, pengeluh tapi juga sabar. Rajin dan kesukaannya pada kebersihan masih belum saya temukan tandingannya di dunia. Hujan badai pun akan tetap membersihkan rumah dan menyapu halaman. Melakukan banyak hal di luar pemahaman keluarganya, tapi Mama tidak perlu peduli, terus menyapu dan membersihkan apa pun. Ya paling tidak itu kesan kebanyakan orang tentang Mama. Ini Mama yang tidak pernah merasakan sakit gigi sepanjang hidupnya, utuh dan kuat sampai hari ini. Sekarang keturunan Mama kepencar-pencar di beberapa tempat, tidak mudah hadir dan menemui setiap saat termasuk saat ulang tahunnya hari ini.. Saya pun tidak merayakannya dengan pantas, tanpa lilin, tanpa kue-kue, hanya dengan berjalan kaki saja..

Selamat ulang tahun Mama. Tuhan memberkati…

Sejarah populer objek-objek yang disinggahi dalam Trudee Jajal Geotrek II, 28 November 2009

Gn. Wayang-Windu koleksi tropenmuseum

1) Stasiun Radio Malabar/Gunung Puntang
Kawasan wisata Gunung Puntang yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Malabar, terletak di Desa dan Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung. Kawasan ini sempat pusat perhatian dunia pada tahun 1923 karena saat itu pemerintah Hindia Belanda berhasil mendirikan stasiun radio pemancar yang pertama dan terbesar di Asia. Untuk memancarkan gelombang radio digunakan bentangan antena sepanjang 2 km antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun. Ketinggian antena dari dasar lembah rata-rata 350 meter. Kontur lembah di kawasan yang terpencil ini ternyata sangat mendukung efektivitas rambat gelombang yang mengarah langsung ke Nederland. Sebagai pendukung tenaga listriknya, dibangun pula sejumlah pembangkit listrik, di antaranya PLTA Dago dan PLTA Plengan dan Lamadjan (di Pangalengan) serta sebuah PLTU di Dayeuh Kolot.

Pada tahun 1923 dibangun pula sebuah kompleks hunian bagi para karyawan stasiun pemancar ini. Kompleks yang disebut sebagai Radiodorf (Kampung Radio) ini memiliki sejumlah fasilitas seperti rumah karyawan, gedung pemancar, lapangan tenis, kolam renang, dan konon juga sebuah bioskop. Sayang semuanya kini hanya tinggal puing berserakan saja. Di seantero kawasan ini bisa dengan mudah kita temui sisa-sisa bangunan, bekas-bekas fondasi yang sering tertutup semak, serta sisa-sisa antena yang masih tersebar di area pegunungan. Saat ini di reruntuhan bangunan yang tersisa dipasang plakat-plakat nama para pejabat yang pernah tinggal di situ.

Perintisan dan pembangungan Stasiun Radio Malabar dilakukan oleh seorang ahli teknik elektro Dr. Ir. C.J. de Groot sejak 1916. Pembangunan antena di Gunung Puntang sudah dilakukannya sejak 1917. Setelah mengalami kegagalan, de Groot akhirnya bisa menyelesaikan pekerjaannya pada tahun 1923 (antena Telefunken yang diterima di Batavia pada 1919, baru selesai terpasang pada 1922). Stasiun Radio Malabar kemudian diresmikan oleh Gubernur Jenderal de Fock pada tanggal 5 Mei 1923.
Dr. de Groot yang meninggal pada tahun 1927 kemudian hari dikenang melalui sebuah nama jalan di Bandung Utara, Dr. de Grootweg (sekarang menjadi Jalan Siliwangi), sedangkan peristiwa telekomunikasi pertama diperingati melalui pendirian sebuah monumen berbentuk dua orang anak telanjang yang sedang berkomunikasi mengapit sebuah bola dunia di Tjitaroemplein. Sayangnya monumen tersebut sudah tidak ada lagi sekarang. Di bekas lokasinya sekarang didirikan Mesjid Istiqomah.

Stasiun Radio Malabar mengakhiri masa jayanya pada tahun 1946 dengan terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api. Saat itu empat pemuda dari Angkatan Muda PTT yang bertugas menjaga Stasiun Radio Malabar menerima perintah dari Komandan Resimen yang sedang berada di Citere, Pangalengan. Isi perintahnya adalah penghancuran Stasiun Radio Malabar.

Radiodorf & Stasiun Pemancar Malabar
Mesin-mesin di dalam Stasiun Pemancar Malabar
Sisa-sisa Radiodorf
Sisa Kolam Cinta

2) Karl Albert Rudolf Bosscha
Perkebunan Teh Malabar sudah dibuka sejak tahun 1890 oleh Preangerplanter bernama Kerkhoven yang sebelumnya sudah membuka perkebunan teh di daerah Gambung, Ciwidey. Namun popularitas kawasan Kebun Teh Malabar berkembang dan memuncak setelah Kerkhoven mengangkat sepupunya, Bosscha, untuk menjadi administratur perkebunan ini pada tahun 1896.

Selain perkebunan, sejumlah jejak Bosscha lainnya masih tersebar di kawasan ini. Di antaranya sebuah rumah tinggal yang saat ini sedang direnovasi akibat kerusakan yang cukup parah oleh gempa bumi pada bulan September lalu. Sebelum kerusakan ini, berbagai barang pribadi peninggalan Bosscha masih tersimpan dan tertata rapi di rumah ini. Saat ini barang-barang tersebut diungsikan ke sebuah gudang sampai renovasi selesai dilakukan. Salah satu spot favorit Bosscha di perkebunan ini adalah sebuah hutan kecil yang sekarang menjadi lokasi makam dan tugu Bosscha. Beberapa pohon besar (termasuk yang langka) memberikan keteduhan pada kompleks makam ini.

Tak jauh dari makam, terdapat suatu area dengan pohon-pohon teh yang sudah berumur lebih dari 100 tahun. Pohon-pohon teh yang mencapai tinggi hingga 6 meter ini berasal dari biji-biji teh Assam (India) yang ditanam pada tahun 1896. Biji teh dari Assam inilah yang kemudian menjadi bibit bagi perkebunan teh di sekitar Pangalengan. Di belakang pasar Malabar hingga saat ini masih dapat juga ditemui sebuah rumah panggung tempat tinggal para buruh perkebunan di masa Bosscha. Konon rumah panggung yang sekarang dikenal dengan nama Bumi Hideung ini didirikan pada tahun 1896, saat yang sama dengan berdirinya Perkebunan Teh Malabar.

Nama Bosscha sebenarnya tak dapat dipisahkan dari Kota Bandung. Sifatnya yang dermawan telah melibatkannya dalam berbagai perkembangan dan kemajuan Kota Bandung di masa lalu. Beberapa di antaranya : pembangunan Technische Hooge School (THS atau ITB sekarang) beserta fasilitas laboratoriumnya, Sterrenwacht (peneropongan bintang) Bosscha di Lembang, PLTA Cilaki di Gunung Sorong, serta berbagai sumbangan untuk Doofstommen Instituut (Lembaga Bisu Tuli) dan Blinden Instituut (Lembaga Buta) di Jln. Cicendo dan Jln. Pajajaran, Leger des Heils (Bala Keselamatan), dan beberapa rumah sakit di Bandung.

Perkebunan teh tua di Malabar
Perkebunan Teh Malabar

Sumber tulisan :
– Wisata Bumi Cekungan Bandung (Brahmantyo & Bachtiar, Truedee Pustaka Sejati, Bandung, 2009)
– Jendela Bandung (Her Suganda, Penerbit Buku Kompas, Bandung, 2007)
– Radio Malabar – Herinneringen aan een Boiende Tijd 1914-1945 (Klaas Djikstra, pdf version)
– Buklet Radio Station Malabar en Overige Stations op de Bandoengsche Hoogvlakte (Gouvernements Post-Telegraaf en Telefoondienst in Nederlandsch-Indie, 1928)
– catatanide.multiply.com, ketjesuretje.multiply.com
– Artikel-artikel koran PR dan Kompas.
– Sumber foto tropen museum

Kunjungan Aleut! pada malam menjelang Imlek di Vihara Satya Budhi di Jl. Klenteng, Bandung.
Bangunan vihara ini awalnya adalah rumah tinggal Kapiten Cina yang juga wijkmeester der Chineesen (Ketua Pengurus Masyarakat Cina), Tan Joen Liong. Arsitek Chui Tzu Tse dan pembangun (aanemer) Kung Chen Tse didatangkan dari Cina Selatan. Setelah berdiri selama 20 tahun (sejak 1865), pada tanggal 15 Juni 1885 tempat ini diresmikan sebagai rumah peribadatan dengan nama Hiap Thian Kiong atau Istana Para Dewa.