Skip navigation

Category Archives: Uncategorized

Geotrek Krakatau, 2-3 Juli 2011

by Ridwan Hutagalung on Monday, June 27, 2011 at 7:58pm

Gambar dari sampul dalam buku Krakatoa (Rupert Furneaux, Prentice Hall, N.J., 1964). Dalam gambar tampak bagian tengah yang membentuk bidang segitiga adalah kawasan yang tertutupi oleh awan debu tebal akibat letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883. Sedangkan bidang bulatan yang lebih luas mencapai separuh Australia dan India adalah kawasan di mana ledakan Krakatau dapat terdengar.

Dalam Geotrek Cibuni beberapa waktu lalu, secara sepintas narasumber Awang H. Satyana bercerita tentang bagaimana pada tahun 1815 Sir Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Hindia Timur waktu itu, segera mempersiapkan pasukan meriamnya saat mendengarkan suara ledakan yang cukup keras dari arah timur. Ternyata Raffles terkecoh, karena suara ledakan yang dikuatirkannya berasal dari meriam itu adalah suara ledakan dari Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, lebih dari 1000 km di sebelah timur Batavia.

Berpuluh peristiwa yang mirip dengan cerita di atas ternyata terjadi lagi 68 tahun kemudian di seperdelapan bagian dunia. Kali ini, 1883, yang meletus adalah pulau gunungapi Krakatau di Selat Sunda. Berbagai cerita salah dengar suara meriam juga terjadi di banyak tempat dalam radius 4000 km. Karena itulah letusan Krakatau sering disebut sebagai suara terdahsyat yang pernah didengar umat manusia di muka bumi.

Suara letusan bukanlah satu-satunya hal spektakuler dari letusan Krakatau pada tahun 1883. Krakatoa Royal Society yang didirikan di London pada awal tahun 1884 mendapatkan tugas dari dewan penasihat Royal Society untuk mengumpulkan berbagai informasi dan fenomena yang berhubungan dengan letusan Krakatau. Semua informasi yang masuk diperiksa ulang dengan tingkat presisi yang setinggi mungkin. Diperlukan waktu sekitar lima tahun untuk meneliti semua informasi itu hingga laporan akhir diterbitkan pada tahun 1888.

Dari seabreg informasi yang berhasil dikumpulkan oleh Krakatoa Royal Society itulah kini kita dapat mengetahui berbagai kejadian unik dan spektakuler di pelosok dunia sehubungan dengan efek dari letusan Krakatau. Di antaranya cerita tentang sebaran abu vulkanik Krakatau yang mencapai New York pada bulan November 1883 dan telah menyebabkan para petugas pemadam kebakaran di Poughkeepsie dengan semangatnya berlari mendatangi lokasi terlihatnya sebuah cahaya kebakaran.

Sambil terus membunyikan lonceng-lonceng tanda kebakaran, mereka tiba di sisi sungai. Namun pasukan pemadam kebakaran yang terkenal sigap ini harus kecewa karena lokasi datangnya cahaya kebakaran ternyata masih berada jauh di seberang sungai. Kemudian hari diketahui tak ada kebakaran di sekitar Poughkeepsie. Yang terjadi saat itu adalah fenomena afterglow yang luar biasa.

Afterglow adalah rona cemerlang yang tampak membara yang muncul di langit setelah matahari tenggelam beberapa saat. Sebaran abu vulkanik dari letusan Krakatau telah melanglang dunia dan menghalangi sinar matahari sehingga ketika bersinggungan dengan awan debu menimbulkan efek warna merah membara, atau seperti yang dikatakan oleh Kapten Faircloth dari Caribbean Signal Service, “kilauan yang mengerikan.”

Itu di New York dan Karibia. Di Inggris, seorang pelukis bernama William Ashcroft begitu terpesona melihat cahaya senja yang sangat mengesankan di langit Chelsea. Dengan kecepatan fantastis – sejak pertama kali melihatnya di awal bulan September 1883 itu – ia melukiskan seluruh proses tenggelamnya matahari setiap hari selama beberapa bulan. Hasilnya adalah 533 buah lukisan cat air ditambah catatan-catatan cermat dan analisis panjang mengenai apa yang dilihatnya. Belakangan, semua hasil lukisannya ini dipamerkan di sebuah museum di South Kensington.

Masih ada ratusan cerita menarik lainnya tentang Krakatau.

Ikuti saja Geotrek Indonesia – KRAKATAU

2 – 3 Juli 2011 dengan narasumber Bpk. Awang H. Satyana dan Bpk. Igan S. Sutawidjaja.

1. Krakatau; Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883, Simon Winchester (Serambi, Jakarta, 2006) terjemahan dari Krakatoa, The Day the World Exploded : August 27, 1883 (HarperCollins Publishers, New York, 2003)

2. Krakatoa, Rupert Furneaux (Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs, N.J., 1964)

“KRAKATAU 1883”

 

 

Hari Senin, 27 Agustus 1883, saat itu pukul 10.02 pagi di Hindia Belanda, telah terjadi “sebuah ledakan yang mengerikan”. Ungkapan itu terdapat dalam buku log Kapten Sampson dari kapal Norham Castle. Ia menyebutkan suasana yang gelap total dan hujan debu serta batu apung turun tanpa henti. Kapten Sampson yakin kiamat sudah tiba..

Laporan Kapten Sampson bukanlah satu-satunya yang mencatat peristiwa alam luar biasa saat itu. Kapal Marie yang tengah berada di Teluk Lampung melaporkan adanya “tiga gelombang besar datang berturut-turut; ledakan mengerikan terdengar satu kali; langit membara; lembap.”

Itulah peristiwa letusan Krakatau yang fenomenal dan sering disebut sebagai ledakan paling dahsyat yang pernah dicatat dan dialami oleh manusia modern. Memang sejumlah letusan gunung lain diperkirakan jauh lebih besar dibanding dibanding Krakatau, seperti Gunung Toba, Taupo (Selandia Baru) atau Katmai (Alaska). Yang membedakan adalah letusan Krakatau terjadi dekat dengan zaman kita; zaman dengan teknologi informasi yang lebih canggih, dan tentunya dengan akibat yang lebih besar bagi kemanusiaan.

Banyak manusia modern yang secara langsung ataupun tidak menyaksikan dan mengalami akibat peristiwa letusan Krakatau tahun 1883 itu. Banyak laporan dituliskan, dan kemudian, penelitian dilakukan. Di antara mereka itu, adalah Rogier Verbeek, orang pertama yang mengunjungi Krakatau enam minggu setelah letusan. Verbeek kemudian membukukan hasil penelitiannya dalam Krakatau (Government Printing Office, Batavia, 1886), lalu Tom Simkin & Richard S. Fiske yang menulis Krakatau 1883; The Vulcanic Eruption and It’s Effects (Smithsonian Institution Press, Washington D.C., 1983) atau analisa berbagai catatan dan amatan yang menarik dari Rupert Furneaux, Krakatoa (Seeker & Warburg, London, 1965) yang kemudian disempurnakan oleh Simon Winchester dalam Krakatoa, The Day the World Exploded : August 27, 1883 (HarperCollins Publishers, New York, 2003). Buku terakhir ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Krakatau; Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883 (Serambi, Jakarta, 2006).

Seberapa dahsyatkah akibat letusan Krakatau 1883 itu? Tercatat tsunami yang timbul setelah letusan 27 Agustus 1883 itu telah memusnahkan 295 kampung atau 163 desa dan menewaskan 36.417 nyawa manusia. Material vulkanik yang diletuskan sebanyak 18 km kubik dan saat kembali jatuh ke Selat Sunda telah membuat perairan itu menjadi dangkal, bahkan membentuk dua pulau baru dalam semalam, Calmeyer dan Steers. Tinggi gelombang laut yang ditimbulkan mencapai 36 meter di Merak, sedangkan lontaran abu vulkanik mencapai ketinggian antara 50-90 km. Abu vulkanik dalam atmosfir telah mengakibatkan efek warna-warni pada pantulan cahaya matahari sehingga memengaruhi iklim di beberapa bagian bumi. Atmosfir bumi baru akan normal kembali pada 1886 atau tiga tahun setelah letusan.

Suara ledakan Krakatau terdengar di seperdelapan bagian bumi dan dapat didengar hingga Pulau Rodriguez (Mauritius) sejauh 4800 km di sebelah barat. Laporan suara ledakan yang sering kali disangka sebagai suara tembakan kanon ini juga datang dari Saigon, Bangkok, Manila, Aceh, Papua Nugini, sampai Perth, Darwin, atau Andaman di tengah Samudra Hindia. Sebuah kapal militer Belanda yang tengah parkir di Selat Sunda, terhempas oleh gelombang tsunami sejauh 3 km dan terdampar di daratan dengan ketinggian sekitar 20 mdpl.

Kapal Berouw milik angkatan laut Belanda itu memang sudah lenyap, habis dimakan waktu, namun sebagian lain dari jejak kedahsyatan tsunami 1883 masih tercecer di banyak tempat dan dapat disaksikan hingga sekarang.

GEOTREK INDONESIA menyelenggarakan kegiatan kunjungan ke Krakatau pada tanggal 2-3 Juli 2011 ini. Program utamanya adalah melihat dari dekat situasi Krakatau yang fenomenal serta menengok berbagai jejak yang masih dapat disaksikan akibat kedahsyatan tsunami yang ditimbulkannya dulu. Karena tidak mudahnya akses menuju Krakatau maka kami membatasi jumlah peserta yang akan ikut.

Untuk pendaftaran dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi :

Ridwan Hutagalung : 0899 718 3758

Ummy Latifah : 0818 0905 0258

Sumber :

1. Krakatau; Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883, Simon Winchester (Serambi, Jakarta, 2006) terjemahan dari Krakatoa, The Day the World Exploded : August 27, 1883 (HarperCollins Publishers, New York, 2003)

2. Krakatoa, Rupert Furneaux (Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs, N.J., 1964)

3. 123 Tahun Krakatau, Igan S. Sutawidjaja (2011)

4. Krakatau 1883, Lethal Tsunami, Awang H. Satyana (2005)

JADWAL GEOTREK INDONESIA “KRAKATAU”, 2-3 JULI 2011

 

Sabtu, 2 Juli 2011

04.00                     Kumpul di halaman depan kampus ITB, Jl. Ganesha, Bandung. Absensi dan perkenalan.

04.30                     Berangkat menuju Banten.

11.00                     Tiba di Banten Lama : Benteng Speelwijk (1685), Vihara Avalokitesvara (+1682), Istana Kaibon (+1800), Keraton Surosowan (1526), Mesjid Agung Banten (1560-1570), Museum Arkeologi Banten à objek dan lama kunjungan disesuaikan dengan waktu yang tersedia.

Ishoma.

13.30                     Berangkat menuju Carita.

15.00                     Carita : menengok jejak-jejak tsunami Krakatau 1883.

18.80                     Villa Carita.

19.00                     Makan malam di aula villa.

20.00                     Diskusi dan obrolan santai seputar Krakatau bersama Bpk. Igan S. Sutawidjaja & Bpk. Awang H. Satyana.

* Waktu dapat berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Minggu, 3 Juli 2011

05.30                     Sarapan dan persiapan. *

06.30                     Pembagian boat dan keberangkatan menuju Krakatau.

08.00                     Tiba di Krakatau. Pengamatan dan materi lebih lanjut dari Bpk. Igan S. Sutawidjaja & Bpk. Awang H. Satyana.

12.30                     Kembali ke Carita.

14.00                     Perjalanan pulang ke Bandung.

Makan siang di bis, makan malam di jalan.

* Waktu dapat berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

* Keberangkatan terbaik menuju Krakatau adalah jam 6 pagi, bila dapat lebih awal dalam melakukan persiapan akan lebih baik untuk perjalanan dan petualangan di Krakatau.

Seluruh calon peserta agar memerhatikan berbagai hal berikut ini :

–          Bawa barang pribadi seringkas mungkin.

–          Jangan membawa barang berharga yang tidak diperlukan dalam perjalanan, kecuali kamera, perekam video, dan handphone.

–          Membawa barang dan perlengkapan pribadi yang tidak disediakan oleh panitia atau mungkin sulit didapatkan di perjalanan.

–          Peserta dengan keluhan atau mengidap penyakit tertentu harap melaporkan dan berkonsultasi terlebih dahulu kepada panitia.

–          Membawa obat-obatan pribadi.

–          Persiapkan payung, jaket, dan kaca mata gelap.

–          Pakai dan bawa sepatu atau sandal yang nyaman.

–          Membawa drybag atau plastik pelindung barang dari air laut.

–          Membawa perbekalan makanan dan minuman cadangan untuk keperluan pribadi. Perjalanan di laut memakan waktu cukup lama, jangan sampai luput memerhatikan berbagai kebutuhan sesuai kondisi pribadi masing-masing.

–          Membawa pakaian ganti yang ringkas dan mudah dibawa.

–          Perjalanan baik di darat maupun di laut akan cukup panjang, sebaiknya setiap peserta dapat memanfaatkan waktu luang sebaik-baiknya untuk tidur/beristirahat.

Advertisements

Para peminat sejarah kolonialisme di Hindia Belanda dan terutamaBandung, tentunya tak asing dengan nama Wolff Schoemaker. Beliau adalah arsitek yang banyak merancang gedung-gedung monumental di Bandung. Dapat disebutkan beberapa karyanya yang terkemuka seperti Villa Isola, Hotel Preanger, Gedung Merdeka, Peneropongan Bintang Bosscha, Bioskop Majestic, Landmark Building, Gedung Jaarbeurs, Penjara Sukamiskin, Gereja Bethel, Katedral St. Petrus, Mesjid Raya Cipaganti, dan banyak lagi yang lainnya. Demikian banyak karyanya diBandungsehingga seorang pakar arsitektur dari Belanda, H.P. Berlage, pernah mengatakan bahwaBandungadalah “kotanya Schoemaker bersaudara”. Ya, Wolff Schoemaker memang memiliki seorang kakak yang juga terpandang dalam dunia arsitektur masa kolonial, yaitu Richard Schoemaker.

Walaupun demikian populer karya-karyanya diBandung, namun kehidupan pribadinya sama sekali tidak demikian. Tidak banyak informasi mengenai kehidupan Wolff Schoemaker yang bisa didapatkan baik melalui buku-buku lama ataupun melalui internet di masa sekarang ini. Salah satu kemungkinan yang menjadi penyebabnya adalah hilang atau hancurnya semua data-data itu pada masa penjajahan Jepang di Nusantara dan berlanjut pada masa Agresi Militer I dan II. Oleh karena itu dalam tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Wolff Schoemaker umumnya terbatasi hanya dalam bidang arsitektur saja.

Kelangkaan informasi mengenai sosok Wolff Schoemaker tak ayal menimbulkan berbagai dugaan dan keraguan pula. Misalnya saja pertanyaan mengenai apakah sebenarnya agama yang dianut oleh Wolff Schoemaker seperti yang disinggung dalam tulisan mengenai Masjid Cipaganti di buku “200 IkonBandung: Ieu Bandung, Lur” yang baru saja diterbitkan oleh Pikiran Rakyat. Pertanyaan yang sangat wajar karena penulis artikel itu menemui bahwa ada beberapa tulisan yang menyebutkan nama arsitek ini dengan Profesor Kemal C.P. Wolff Schoemaker. Sumber lainnya dengan agak ragu menyebutkan bahwa gelar Kemal didapatkan oleh Wolff Schoemaker setelah ia memeluk agama Islam.

Berikut ini saya sarikan sejumlah informasi tentang Wolff Schoemaker seperti yang terdapat dalam buku “Tropical Modernity; The Life & Work of C.P. Wolff Schoemaker” karya C.J. van Dullemen ditambah dengan beberapa buku lain sebagai bahan pendukung. Penulis buku ini (Dullemen) mengakui kelangkaan informasi tentang sosok arsitek yang karya-karya monumentalnya tersebar diKotaBandung. Oleh karena itu van Dullemen banyak mengandalkan berbagai ingatan dari mantan mahasiswa professor ini saat aktif mengajar di Technische Hoogeschool (sekarang ITB).

Charles Prosper Wolff Schoemaker dilahirkan di Banyubiru, Jawa Tengah, pada tahun 1882. Ia menjalani pendidikan di Akademi Militer di Belanda hingga lulus dengan pangkat letnan zeni militer. Sekembalinya di Hindia Belanda pada tahun 1905, Wolff Schoemaker bekerja sebagai arsitek militer untuk pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1911 Wolff keluar dari dinas militer dan dua tahun kemudian bekerja sebagai insinyur teknik pada Dienst Burgerlijk Openbare Werken atau Dinas Pekerjaan Umum Batavia. Saat menjabat sebagai direktur di GemeentewerkenBatavia, diketahui ia menjadi seorang Muslim. Tidak ada informasi mengenai faktor apa yang menyebabkannya memutuskan berpindah agama saat itu.

Tak lama setelah memeluk agama Islam, Wolff Schoemaker mendapatkan gelar Kemal dari rekan-rekan Muslimnya. Kegiatannya dalam dunia Islam dilakukannya melalui jabatannya sebagai wakil ketua pada kelompok Western Islamic Association di Bandung. Ia juga bergabung dengan organisasi Persatoean Oemmat Islam setelah masa perang kemerdekaan. Melalui sebuah suratpanjang, Ia bahkan menyarankan pada mantan muridnya yang saat itu menjadi PresidenR.I., Ir. Soekarno, agar mengarahkan republik yang baru berdiri ini menjadi Kesultanan Indonesia Islamyah. Menurut pandangannya sistem demokrasi dengan dasar-dasar yang berasal dari barat itu tidak tepat untuk dijalankan di Indonesia. Beberapa pandangannya mengenai Islam dituangkannya pula dalam sebuah tulisan yang diterbitkan dalam koleksi essay yang berjudul Cultuur Islam (1937).

Pada tahun 1938 Wolff Schoemaker mendapatkan tugas untuk menggantikan kakaknya, Richard, sebagai pengajar di Techincal University di Delft. Dalam perjalanan menuju Belanda itu Wolff berkesempatan untuk mampir dan tinggal sebentar di Kairo, Mesir. Setelah berada di Belanda, Wolff memutuskan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah pada akhir tahun 1938. Pada akhir tahun 1939 Wolff kembali keBandungdan melanjutkan tugasnya sebagai professor di Technische Hoogeschool.

Sebagai seorang Muslim yang cukup aktif dalam kegiatan keagamaan, Wolff Schoemaker cukup disegani oleh para mahasiswa Indonesianya. Sementara kalangan mahasiswa Belanda dan orang-orang Eropa lainnya tak dapat memahami pilihan Wolff Schoemaker untuk menjadi Islam. Dalam pengantar untuk Cultuur Islam, Wolff Schoemaker menyatakan bahwa karakter yang humanis dan toleran dalam Islam memberikan peluang bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Mungkin hal itulah yang membuat Wolff Schoemaker merasa cocok dengan pilihannya. Wolff Schoemaker memang merupakan figur yang sangat terbuka bagi ilmu pengetahuan. Ia juga unik sehingga tidak mudah dipahami oleh lingkungannya. Tidak mudah juga untuk dapat berteman dengannya. Kebanyakan rekannya menilainya sebagai seorang yang temperamental, emosional, sekaligus juga flamboyan dan sensual.

Walaupun kegiatannya sebagai Muslim cukup menonjol, dari empat kali pernikahannya Ia tidak pernah menikahi sesama Muslim. Bahkan satu-satunya karya yang berkarakter Islam yang pernah dibuatnya hanyalah Masjid Kaum Cipaganti yang diselesaikannya pada tahun 1934. Masjid ini dibangun di Nijlandweg, di tengah-tengah kompleks permukiman bangsa Eropa di Bandung Utara pada masa pemerintahan Bupati Rd. Tg. Hassan Soemadipradja. Keanehan lainnya adalah fakta bahwa Ia dimakamkan di TPU Kristen Pandu pada tahun 1949.

Ridwan Hutagalung

Penulis buku “Braga; Jantung Parijs van Java”

Sumber-sumber bacaan :

Haryoto Kunto, “Seabad Grand Hotel Preanger; 1897-1997”

C.J. van Dulleman, “Tropical Modernity; The Life & Works of C.P. Wolff Schoemaker”

Huib Akihary, “Architectuur & Steedebouw in Indonesie, 1870/1970”

Her Suganda, “Jendela Bandung”

Sumber foto :

C.J. van Dulleman, “Tropical Modernity; The Life & Works of C.P. Wolff Schoemaker”

1. C.P. Wolff Schoemaker di studionya tahun 1924. Di latar belakang adalah ukiran-ukiran yang dipergunakannya untuk ornamen gedung Societeit Concordia dan Gereja Bethel.

2. C.P. Wolff Schoemaker dengan kostum haji.

3. C.P. Wolff Schoemaker dengan latar belakang piramid saat kunjungannya ke Mesir.

4 & 5. Plakat di Mesjid Cipaganti.

Hari ini 16 orang Aleutians ditambah dengan tuan rumah (atau tuan saung?) berbagi cerita tentang masa kecilnya, terutama yang berhubungan dengan lingkungan tinggalnya. Masing-masing satu cerita dengan latar belakang Purworejo, Yogyakarta, Batu Raja-Palembang, dan pabrik kertas Padalarang, dua cerita dengan latar budaya Tionghoa, dua cerita dengan latar wilayah Sukamiskin, dan dua cerita dengan latar kawasan Derwati, tempat Aleut! berkumpul hari itu. Keluarga tuan rumah, Bpk. Rifki Rosyad, sudah turun temurun meninggali kawasan Derwati. Lainnya adalah cerita dari berbagai lokasi di Bandung.

Ada banyak cerita menarik yang disampaikan oleh Bpk. Rifki, mulai dari masa kecil dengan lingkungan persawahan, rawa-rawa, dan sungai, hingga sensasi-sensasi dalam mengikuti perubahan zaman, seperti masuknya listrik, televisi hitam-putih, televisi berwarna, hingga sensasi kehadiran jalan aspal di Derwati. Oya, cerita ini masih ditambah juga dengan cerita perubahan-perubahan dalam sikap keagamaan.

Tradisi permainan saat bulan purnama dan beragam permainan masa anak-anak yang memanfaatkan bahan-bahan dari tetumbuhan juga menjadi daya tarik dari cerita Bpk. Rifki. Hampir semua pengalaman dan permainan itu dilakukan secara berkelompok, melibatkan banyak teman lain dalam rentang usia yang lebih-kurang sama. Ya, pengalaman lingkungan seperti ini tampaknya sudah semakin kecil kemungkinannya untuk dapat dialami juga oleh generasi masa kini. Pengalaman anak-anak masa kini jarang yang dilakukan secara berkelompok, permainan lebih banyak yang bersifat perorangan atau kelompok kecil dan lebih banyak berhubungan dengan perangkat elektronik. Lingkungan alam sudah sangat banyak berubah.

Dalam “Aleut! Berbagi Cerita” hari ini juga ada beberapa informasi menarik, di antaranya spekulasi makna nama beberapa tempat. Dikatakan bahwa kata derwati dapat dipakai sebagai istilah untuk mengatakan kondisi seperti dalam peribahasa ‘hangat-hangat tai ayam’, namun disarankan juga untuk melacak kemungkinan lainnya dalam dunia perwayangan.

Muncul juga pembicaraan tentang nama wilayah Kordon. Paling tidak ada dua nama tempat Kordon yang cukup populer di Bandung, satu di atas kawasan Dago dan satu lagi di sebelah timur Buahbatu. Dalam kamus Inggris, cordon berarti garis atau lingkaran penjaga. Mungkin kata ini bentukan dari cord yang berarti kawat, kabel atau pita. Kata cordon juga dapat dipakai untuk kata kerja seperti dalam cordoned off yang artinya menutup dengan penjagaan ketat. Sedangkan kamus Belanda menerangkan kordon sebagai garis pelindung atau garis pertahanan.

Masih ingin berspekulasi lebih lanjut, berbatasan dengan wilayah Kordon di Buahbatu terdapat nama daerah Tegal Luar yang dulu berbatasan dengan Ciparay. Kedua tempat dengan nama Kordon ini memiliki dam dengan pintu air dan terletak agak jauh dari pusat kota. Dekat dengan Kordon di Buahbatu terdapat rumah peninggalan Hindia-Belanda yang masih berdiri sampai sekarang. Pada tahun 1970-an rumah itu didatangi orang Belanda yang mengaku kakeknya dulu pernah tinggal di situ. Di lokasi lainnya, ada sebuah mesjid yang melibatkan sebuah perusahaan Hindia-Belanda dalam perancangannya. Nah, lalu apa artinya kordon sebagai nama tempat? Kita simpan saja dulu pertanyaan dan berbagai petunjuknya ini sampai menemukan data-data pendukung lainnya hehe.

Rumah peninggalan masa Hindia-Belanda di Derwati

Kembali ke “Berbagi Cerita” yang dihiasi makan siang yang mantap dan rujak aceh, kami dapatkan bahwa umumnya pengalaman langsung dengan lingkungan alami semakin hari sudah semakin berkurang. Banyak nama pohon atau tanaman atau jenis-jenis ikan dan binatang yang sudah semakin terlupakan karena lingkungan yang ada sekarang sudah tidak menyediakan lagi ruang hidup bagi semua itu.

Bagian lebih rinci dari kegiatan Komunitas Aleut! ini akan saya tuliskan terpisah saja…

Ridwan Hutagalung

7 Februari 2011

Terima kasih untuk Icha, dan Bpk. Rifki Rosyad beserta seluruh keluarga yang sudah memberikan ruang buat kegiatan Komunitas Aleut! dan maaf sudah banyak merepotkan. Untuk Nara pemberi kunci menuju Kordon, Pia Zakiyah yang ngecek kamus online, dan pastinya semua teman lain yang tak bosannya mengikuti kegiatan Aleut! Semoga bermanfaat.

Dipublish juga di http://www.facebook.com/note.php?note_id=492831051486

Foto-foto kegiatan dapat dilihat di sini : http://www.facebook.com/album.php?id=519229089&aid=289560

Mama hari ini ulang tahun yang ke-65.Ini Mama yang gampang sedih, gampang marah, gampang ketawa, tapi juga galak, pengeluh tapi juga sabar. Rajin dan kesukaannya pada kebersihan masih belum saya temukan tandingannya di dunia. Hujan badai pun akan tetap membersihkan rumah dan menyapu halaman. Melakukan banyak hal di luar pemahaman keluarganya, tapi Mama tidak perlu peduli, terus menyapu dan membersihkan apa pun. Ya paling tidak itu kesan kebanyakan orang tentang Mama. Ini Mama yang tidak pernah merasakan sakit gigi sepanjang hidupnya, utuh dan kuat sampai hari ini. Sekarang keturunan Mama kepencar-pencar di beberapa tempat, tidak mudah hadir dan menemui setiap saat termasuk saat ulang tahunnya hari ini.. Saya pun tidak merayakannya dengan pantas, tanpa lilin, tanpa kue-kue, hanya dengan berjalan kaki saja..

Selamat ulang tahun Mama. Tuhan memberkati…

Kunjungan Aleut! pada malam menjelang Imlek di Vihara Satya Budhi di Jl. Klenteng, Bandung.
Bangunan vihara ini awalnya adalah rumah tinggal Kapiten Cina yang juga wijkmeester der Chineesen (Ketua Pengurus Masyarakat Cina), Tan Joen Liong. Arsitek Chui Tzu Tse dan pembangun (aanemer) Kung Chen Tse didatangkan dari Cina Selatan. Setelah berdiri selama 20 tahun (sejak 1865), pada tanggal 15 Juni 1885 tempat ini diresmikan sebagai rumah peribadatan dengan nama Hiap Thian Kiong atau Istana Para Dewa.

Ledeng… Sebagai nama kawasan Ledeng sudah sangat akrab dengan warga Bandung, tapi bagaimana kisahnya sehingga kawasan ini dinamai Ledeng?

Tampaknya sampai tahun 1920-an daerah ini dikenal dengan sebutan Cibadak, sesuai dengan ditemukannya sebuah mata air cukup besar di sana. Badak ( Ci-Badak) sebagai nama daerah mungkin perubahan dari “badag” dalam bahasa Sunda yang artinya besar, sehingga Cibadak (=Cibadag) di sini lazim diartikan sebagai air yang melimpah keluar dari mata airnya.

Air yang melimpah ini kemudian disadap dan dialirkan melalui pipa-pipa besar ke kawasan sekitarnya. Bangunan penyadapan tampak pada gambar kanan bawah. Pipa-pipa besar yang melintang inilah yang yang kemudian menjadi cikal munculnya nama Ledeng bagi kawasan (kampung) tersebut. Sampai sekarang pipa-pipa ini masih tertanam dan dipakai sebagai saluran pembagian air ke pemukiman penduduk.

Gambar kiri atas adalah mata air Cibadak, sedangkan gambar kiri dan kanan bawah adalah rekaman saat peresmian instalasi penyadap air Cibadak yang dilakukan oleh Walikota Bandung B. Coops, tahun 1921.

(Sumber foto KITLV)

by Ridwan Hutagalung on Monday, November 30, 2009 at 1:20pm

Jajal Geotrek II : Pangalengan

Truedee (Truedee Pustaka Sejati) pada hari Sabtu lalu (28 November 2009) menyelenggarakan Jajal Geotrek II ke Pangalengan dengan jumlah peserta sekitar 60 orang (mungkin dikurangi oleh beberapa orang yang batal ikut). Para penjajal ini berangkat dari halaman kampus ITB sekitar jam 7 pagi dengan
menggunakan dua buah bis. Jajal Geotrek II hanya mengambil sebagian kecil saja rute Geotrek 9 yang terdapat dalam buku Wisata Bumi Cekungan Bandung, yaitu beberapa stop (atau spot) di sekitar Pangalengan. Walaupun hanya sebagian kecil, namun waktu yang dibutuhkan untuk menjalani rute ini ternyata mencapai satu hari penuh.

Saya berada di bis pertama dengan interpreter T. Bachtiar (TB), geograf berenergi tinggi yang selalu terlihat antusias dalam membangkitkan kesadaran masyarakat agar lebih mencintai Kota bandung. Sementara di bis kedua ada geolog Budi Brahmantyo (BB) sebagai interpreter. BB yang lebih kalem ini tak kurang energinya bila sudah bercerita tentang lingkungan dan proses-proses geologi yang terjadi di sekitar kita. Sungguh beruntung seluruh peserta Jajal Geotrek II ini karena didampingi langsung oleh dua interpreter yang andal dalam berbicara mengenai lingkungan Bandung.

Stop pertama di Gunung Puntang. BB menjelaskan beberapa tipe gunung api (dan sungai) yang disambung oleh TB dengan topik toponimi (dan etimologi) Malabar. Di sini seluruh peserta dapat menyaksikan peninggalan sejarah berupa puing-puing bangunan bekas kompleks stasiun pemancar pertama di Hindia Belanda. Kegiatan dilanjutkan dengan susur sungai Cigeureuh ke arah hulu. Perjalanan di tengah arus sungai ini adalah yang paling mengesankan. Di ruang yang lebih terbuka, Masih di atas badan sungai, di ruang yang lebih terbuka, BB bercerita tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kompleks Pegungungan Malabar sambil menjawab beberapa pertanyaan dari peserta. Saya yakin kuliah di atas sungai ini akan menjadi kuliah paling menarik bagi kebanyakan peserta.

Rumah peninggalan Bosscha

Stop kedua di Rumah Bosscha. Di stop ini acara utamanya adalah makan siang yang enak. Soto Bandung dengan tempe, perkedel, telor rebus, dan sambal yang aneh karena tidak pedas. Sebelum makan BB sempat bercerita tentang peristiwa gempa bulan September lalu dan berbagai sebab yang menjelaskan kenapa daerah Pangalengan mengalami kerusakan cukup parah. Usai makan para peserta berkesempatan untuk melihat-lihat bagian dalam Rumah Bosscha yang tampak porak-poranda. Jamuan terakhir adalah tee dan kopi yang cawerang banget, hehe..

Stop ketiga di dekat kebun teh tua dari Assam, India, untuk menyaksikan dan bercerita tentang bentang alam Gunung Wayang-Windu serta proses-proses geothermal.

Stop keempat di kebun teh tua ternyata hanya berhasil mengusir pasangan yang sedang mojok di kerimbunan pepohonan teh yang tingginya mencapai 5-6 meter. Hujan yang menderas membatalkan kuliah di stop ini.

Stop kelima di tugu dan makam Bosscha diselingi insiden kecil tertabraknya seorang peserta oleh motoris yang tidak bertanggungjawab. Sungguh luar biasa, di bawah guyuran hujan semua peserta tampak terpesona oleh ceramah umum yang disampaikan bintang tamu of the day, Pak Upir, persis di depan makam Bosscha. Ceramah luar biasa ini berakhir antiklimaks saat Pak Upir bertanya, “sebentar, ini pesertanya ada berapa orang?.”

Situ Cileunca

Stop keenam di sisi Situ Cileunca. Gerimis masih berlangsung intensif sehingga tidak banyak peserta yang turun ke tepi danau. Sebagian besar berdiri saja di sisi jalan mengamati bentangan alam yang tersaji di depan. Situ Cileunca sebetulnya merupakan danau kembar buatan di kawasan hutan belantara yang mulai dibuka pada tahun 1917. Kawasan hutan ini dimiliki secara pribadi oleh seorang Belanda bernama Kuhlan. Pembangunan danau seluas 390 hektare dan berkedalaman 17 meter ini berlangsung dari 1919 hingga 1926.

Stop ketujuh atau terakhir di Cukul Tea Estate berlangsung agak muram. Setelah iming-iming dan bayangan tentang keindahan Rumah Jerman (rumah dengan gaya tradisional Eropa), ternyata para peserta harus terhenyak menyadari bahwa rumah tersebut sudah tidak ada lagi. Yang tersisa di tempatnya hanyalah tumpukan berangkal dan gudang kecil yang sebelumnya merupakan bagian belakang rumah tersebut. Bangunan indah dan langka itu ternyata telah rata tanah akibat gempa. Kesedihan terlebih melanda sebagian peserta yang pernah menikmati keindahan rumah kayu itu dalam perjalanan Tambang Emas Cibaliung bersama Mahanagari pada bulan April lalu. Apa boleh buat …

Stop ketujuh sekaligus juga menutup seluruh rangkaian perjalanan Jajal Geotrek II dari truedee hari ini. Perjalanan dengan rute yang mungkin biasa saja namun saya yakin sudah mampu memberikan efek luar biasa bagi segenap pesertanya, termasuk saya sendiri yang relatif sudah sering aprak-aprakan di wilayah ini. Terimakasih untuk truedee, T. Bachtiar, dan Budi Brahmantyo. Semoga semua upaya ini betul-betul dapat menjadi inspirasi bagi semuanya dalam menumbuhkan kecintaan yang mendalam terhadap Kota Bandung. Kecintaan yang tidak berakhir di mulut, namun dalam perbuatan yang nyata.

Ridwan Hutagalung
30 November 2009

by Ridwan Hutagalung on Friday, February 27, 2009 at 6:29pm
Kamis, 26 Februari 2009

Sejak beberapa hari lalu sudah janjian dengan Demas untuk mengantar Olivier (djawatempodoeloe) berkunjung ke Maribaya dengan berjalan kaki melalui THR Ir. Djuanda.
Pagi-pagi saya & Adi sudah standby duluan di rumah Ayan di Sumur Bandung menunggu Demas, Olivier & Opan yang masih dalam perjalanan. Setting tempat start berubah dari janji awal karena Olivier pindah hotel dulu dari Ardellia ke Bumi Sawunggaling.

Setelah berkenalan dan membuka obrolan kemudian ternyata Olivier seorang yang menyenangkan untuk diajak bicara dan jalan-jalan. Tidak keberatan dengan angkot dan warung-warung kecil.
Setelah semua berkumpul, berjalan kaki ke Bubur Zaenal di dago untuk sarapan.
Dari sini naik angkot menuju gerbang THR yang pagi itu ternyata sangat ramai oleh kunjungan suatu rombongan tamu berseragam kaos merah. Tiket masuk THR baru saja naik menjadi 8.000/orang.
Untuk menghindari antrian, kami memilih jalur jalan berbeda yang langsung menuju gua Belanda.
Dari gua Belanda, kembali kami ambil jalur jalan yang sedikit berbeda, yaitu mengikuti jalur penampungan air sampai ke pintu air di Bantar Awi.

Kemudian melanjutkan berjalan sampai Warung Bandrek di bawah Sekejolang, lalu belok kanan untuk masuk ke kawasan Curug Maribaya. Masuk Maribaya bayar lagi 3.500/orang.
Sebentar berfoto-foto di sekitar Curug Omas, minum kopi di sebuah warung dan menuju kompleks curug dekat pintu masuk. Tujuan utama kunjungan ini memang ke kawasan pintu masuk ini karena Olivier ingin melihat lokasi yang tergambar dalam sebuah kartupos lama milikinya.
Usai membuat beberapa foto, kami tawarkan untuk melanjutkan perjalan menuju Gunung Batu di Desa Pager Wangi. Kami menggunakan angkot untuk menuju ke sana.
Dari kaki bukit kemudian menyusuri lorong-lorong kampung yang mengarah ke Gunung Batu. Melalui jalan setapak yang sudah rimbun tertutupi rumput musim hujan, sampai juga kami ke puncak Gunung Batu.
Cuaca cukup cerah hari itu sehingga pemandangan lepas ke berbagai arah cukup jelas, termasuk pemandangan ke arah perbukitan Batujajar dan waduk Saguling.

Dari Gunung Batu, kembali secara spontan kami pilih Peneropongan Bintang Bosscha sebagai tujuan berikutnya. Jalur jalan yang kami pilih adalah jalan perkampungan yang melewati kompleks Kinderdorf dan Kampung Pencut.
Di jalan setapak kampung sempat menikmati “restoran” portable yang menjajakan cilok dan batagor. Olivier sempat mencoba mengangkat tanggungan “restoran” yang menurutnya cukup berat. Pedagang cilok sempat bercerita bahwa dalam satu hari ia bisa berjalan berkeliling sejauh 40 km dengan keuntungan bersih 20.000 saja!
Tiba di Kampung Pencut sudah saatnya mencari makan siang, sayangnya yang tersedia hanya lotek mentah dengan nasi. Jadi makan siang seadanya saja!
Melalui jalur tangga yang melintasi kampung, kami naik ke arah kompleks Peneropongan Bintang dan muncul di sisi lapangan basket yang berada di sisi timur kompleks.
Di depan pintu bangunan khas peneropongan kami beristirahat sebentar sambil menunggu Demas yang mengurus perijinan untuk masuk.

Setelah mendapatkan ijin, kami segera masuk dan memperhatikan seluruh isi ruangan, termasuk yang berada di lantai 2.
Dalam bangunan melingkar ini, terutama di lantai 2, ternyata ada pengalaman yang cukup unik. Sumber suara yang berada di sisi seberang ternyata menjadi kabur sumbernya karena terdengar sangat dekat, seakan berasal dari belakang kita. Mungkin bentuk ruangan yang melingkar ini yang menjadi sebabnya.
Usai menikmati isi bangunan peneropongan, kami lanjutkan lagi berjalan ke luar kompleks sambil menuju jalan pulang.
Lagi-lagi kami ambil jalan potong spontan karena melihat sebuah bangunan bermenara yang ingin kami lewati. Ternyata bangunan itu adalah bangunan tua yang sudah tidak terpakai yang berada dalam kompleks kebun strawberry. Sebuah plakat nama yang sudah kusam terpampang di bagian atas menara bertuliskan “Deetje”. Namun yang lebih menarik adalah saat mengintip dari bagian kaca bangunan yang sudah pecah, kami menemukan lantai model lama dengan motif yang indah seperti yang dapat ditemukan di sebuah toko di Braga. Sayang sekali bangunan ini sangat tidak terurus dan pada beberapa bagian memiliki tambalan-tambalan menggunakan bahan tripleks.
Seseorang dari kebun strawberry menghampiri kami dan menyampaikan larangan untuk memotret bangunan dan lokasi itu..

Perjalanan kami lanjutkan menuju toko susu yang ada di ujung jalan (km 14,6). Sampai di jalan utama baru kami sadari bahwa jalur jalan ini lebih pendek untuk menuju kompleks Peneropongan Bintang daripada jalur jalan normal dari Ciloto.
Usai menikmati pesanan yoghurt dan jus, kami memutuskan untuk pulang menggunakan taksi karena Olivier sudah memiliki janji lagi dengan seseorang sore itu.
Karena taksi pesanan tidak juga muncul, kami pun menggunakan angkot Lembang-Ciroyom saja sampai pertigaan gandok dan melanjutkan dengan angkot Cicaheum-Ledeng dan turun persis di depan rumah Ayan.
Setelah ngobrol sebentar mengenai buku Braga dan beberapa hal lain, Olivier pun pamit untuk pulang ke hotelnya.
Perjalanan hari ini tamat sudah..

Ridwan Hutagalung.

by Ridwan Hutagalung on Wednesday, March 3, 2010 at 1:15am

Selain Truedee yang baru saja menyelenggarakan program Jajal Geotrek III, Bandung masih mempunyai banyak sekali kelompok-kelompok muda yang punya perhatian sungguh-sungguh terhadap lingkungan dan kehidupan kotanya. Misalnya saja komunitas Aleut!, Sahabat Kota, Mahanagari, Common Room, Bandung Trails, Kelompok Pecinta Bandung, Kuliner Bandung, dst dst. Cara dan fokus perhatian setiap kelompok boleh berbeda-beda tetapi umumnya bertujuan untuk mengapresiasi kehidupan Kota Bandung. Pernyataan yang muncul pun beragam; betapa senangnya tinggal di Bandung; betapa banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan demi kenyamanan tinggal di Kota Bandung; betapa banyaknya persoalan yang harus dihadapi masyarakat akibat pengelolaan resmi yang tidak memuaskan, dst dst.

Pada masa Hindia Belanda juga ada lembaga yang punya perhatian tinggi terhadap pembangunan dan pengembangan Kota Bandung terutama berkaitan dengan aspek pariwisata, nama lembaga ini adalah Bandoeng Vooruit. Cikal bakal lembaga ini mungkin dapat ditelusuri dari sejak berdirinya sebuah perkumpulan yang dirancang oleh Residen Priangan C.W. Kist pada taun 1898, yaitu Het Nut van Bandoeng (Vereeniging tot nut van Bandoeng en Omstreken atau Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan Sekitarnya). Angota perkumpulan ini adalah para tokoh dan orang kaya di Bandung tempo dulu, seperti Pieter Sijthof, Keluarga Soesman, Fam. V.d. Bruinkops, R.A. Kerkhoven, K.A.R. Bosscha, Fam. Ursone, Fam. Bogerijen, C.A. Hellerman, J.W. Ijzerman, R. Teuscher, Moeder Homann, dan banyak lagi.

Perkumpulan ini melakukan berbagai kegiatan sosial dalam memperindah wajah Kota Bandung, di antaranya pengaturan pemakaman umum di kota, mendirikan yayasan yang mengurus masyarakat miskin, mendirikan bank perkreditan, memperbaiki kolam renang Cihampelas, mendirikan sal musik di Pieterspark (babantjong), sampai melakukan perawatan penerangan jalan di Bandung. Het Nut van Bandoeng kemudian diberhentikan pada tahun 1910 ketika pertumbuhan lembaga-lembaga pemerintahan menganggap keberadaannya sudah tidak lagi diperlukan.

Pada tahun 1915, walikota S.A. Reitsma berinisiatif mendirikan lembaga mandiri lainnya, yaitu Comite tot Behartiging van Bandoeng’s Belangen. Komite ini bekerja mengurusi berbagai aspek yang berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat, di antaranya sempat mendirikan Hoogere Burgere School dan pabrik gas di Kiaracondong (beberapa rumah dinas serta kantor utama dari masa Hindia Belanda masih dapat ditemukan di sini). Komite ini tidak bertahan lama karena terjadi perselisihan di dalamnya.

Baru pada tahun 1925, atas prakarsa warga Bandung C.J. Nauta dan dibantu oleh Middenstandsvereniging dibentuklah perkumpulan Bandoeng Vooruit (Bandung Maju). Seperti disiratkan oleh nama yang disandangnya, Bandoeng Vooruit bertujuan untuk memajukan Kota Bandung, terutama dalam hal kepariwisataan. Salah satu program terpentingnya adalah membuka akses jalan mobil menuju kawah Tangkuban Parahu sepanjang 4 kilometer. Sebagai jalan masuk, ditentukan dari titik tertinggi ruas jalan raya yang menghubungan Lembang dengan Subang. Jalan masuk Tangkuban Parahu ini kemudian dinamakan Hooglandweg sebagai penghargaan kepada ketua Bandoeng Vooruit, W.H. Hoogland, yang juga merupakan direktur Bank DENIS. Berkat upayanya juga Bandoeng Vooruit dalam waktu yang singkat berhasil mengumpulkan dana sebanyak 25.000 gulden untuk pembangunan jalan tersebut. Hooglandweg secara resmi dibuka untuk umum pada September 1928 dan diberlakukan sistem tol untuk pembiayaan pemeliharaannya.

Menyusul kemudian, pada tahun 1935, BV membangun akses jalan dari Perkebunan Sedep menuju kawah Gn. Papandayan sepanjang 7 kilometer . Dengan susah payah, jalan mobil berhasil dibangun hingga mencapai titik ketinggian 2.300 mdpl dan akses umumnya mulai dibuka pada Desember 1935. Sebelumnya pada tahun 1933 Bandoeng Vooruit sudah membuka Zoologisch Park atau kebun binatang di Cimindi yang kemudian dipindahkan ke lahan bagian selatan Jubileumspark di sebelah barat THS (ITB) dan menamakannya Bandoengsch Botaniisch Park.

Berbagai pengembangan menarik lainnya dikerjakan juga oleh BV seperti melakukan penanaman pohon di sisi jalan raya dan di taman-taman, penghijauan sepanjang aliran Sungai Cikapundung mulai dari Maribaya hingga ke tengah Kota Bandung, perbaikan dan pelebaran lintasan rel kereta api, pembuatan rambu-rambu jalan, membuat jalur-jalur jalan lintas alam, membuat hertenkamp atau Taman Menjangan di Jl. Seram, memrakarsai pendirian krematorium, museum kota, serta membuat monumen bagi 3 siswa HBS (sekarang SMAN 3) yang meninggal di Tangkuban Parahu tahun 1924. BV juga membenahi akses menuju curug-curug di sekitar Cisarua, melakukan promosi untuk berbagai objek wisata seperti Situ Cangkuang. Di bawah kepemimpinan M.A.J. Kelling, Bandoeng Vooruit melakukan promosi gencar dengan menyatakan Bandung sebagai Europa in de Tropen.

Pada tahun 1933 BV menerbitkan majalah bulanan Mooi Bandoeng sebagai pendukung berbagai kegiatan lapangannya. Mooi Bandoeng memiliki oplah 5.000 dan disebarkan di kota-kota besar di seluruh Hindia Belanda hinga Nederland. Sungguh promosi wisata yang tidak tanggung-tanggung dan pastinya perlu semangat antikorupsi untuk dapat mewujudkannya, hehe.. Pada edisi perdananya majalah ini mencantumkan pernyataan Walikota Bandung, Wolzogen Kuhr, “Nederlanders, waarom terug naar Europa? Blifft in Indie! Zij die reeds zijn vertrokken, kom terug en vestigt U in Bandoeng!” (Nederlander, mengapa pulang ke Eropa? Tetaplah tinggal di Hindia! Yang sudah pulang, kembali dan tinggallah di Bandung!). Pada bulan Oktober 1937, Mooi Bandoeng memuat surat dari pasangan suami istri asal London, W. Finnimore, yang isinya “Bandoeng is specially in favoured in having close at hand and easy of access, many beauty spots of natural marvels rarely to met with anywhere else in the world within so small an area.”

Majalah yang sangat menarik ini bertahan terbit hingga tahun 1941 sebelum kedatangan Jepang. Selama masa itu sungguh banyak liputan, laporan, cerita-cerita, dan foto-foto yang sangat menarik tentang Bandung yang sudah mereka tampilkan. Majalah ini juga sering menyelipkan kartu pos bergambar pemandangan ala Kota Bandung selain menjualnya secara terpisah dalam bentuk paket-paket menarik. Pada tahun 1941 tercatat upaya Bandoeng Vooruit berhasil menarik 2000 wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung yang saat itu berpenduduk 226.877 orang saja.

Suatu organisasi lainnya pernah juga hadir meramaikan geliat Kota Bandung tempo dulu, Bandoengsche Comite tot Natuurbescherming (Komite Perlindungan Alam Bandung). Komite ini didirikan tahun 1917 dengan pimpinan W. Docter van Leeuwen (Direktur Kebun Raya Bogor) dan beranggotakan sejumlah tokoh utama Bandung seperti K.A.R. Bosscha, F.W.R. Diemont, P. Holten, dan W.H. Hoogland. Tujuan utama komite ini adalah mengembangkan dan menjaga keasrian lahan hijau di Kota Bandung. Salah satu program rancangannya yang tidak sempat terwujud adalah Soenda Openlucht Museum di sekitar Curug Dago. Yang masih sempat dibangun oleh komite ini adalah Huize Dago atau biasa dikenal sebagai Dago Thee Huis dan penemuan sejenis anggrek langka di Bandung yang kemudian dinamakan Microstylis Bandongensis.

Selain perkumpulan-perkumpulan yang sudah disebut di atas, tentu saja masih banyak perkumpulan lainnya yang pernah hadir di Bandung pada masa Hindia Belanda dulu. Misalnya saja Vereeniging tot Bescherming van Dieren (Perkumpulan Perlindungan Hewan) yang mendirikan Dieren Asyl (Wisma Hewan) di Pelindung Hewan sekarang, atau yang cukup banyak adalah perkumpulan kesenian seperti de Bond van Nederlandsch-Indische Kunstkringen (yang diprakarsai oleh arsitek-pelukis terkenal P.A.J. Mooijen), Bandoengsche Kunstkring (Lingkar Seni Bandung), de Bandoengsche Orkestvereeniging, dan banyak lagi. Yang pasti semuanya bercita-cita mewujudkan kehidupan yang semarak namun nyaman bagi warga kota penghuninya.

Walaupun kurang nyambung, sebagai penutup saya ingin kutipkan sebuah slogan dari majalah Mooi Bandoeng yang rasanya masih aktual sampai sekarang (haha..): Don’t come to Bandoeng if you left a wife at home!

Tulisan hasil kompilasi dari :
“Bandung, Beeld van Een Stad”, RPGA Voskuil, Asia Maior
“Braga; Jantung Parijs van Java”, Ridwan Hutagalung & Taufanny Nugraha, Ka Bandung, 2008
“Wajah Bandoeng Tempo Doeleoe”, Haryoto Kunto, Granesia, Bandung, 1984
“Mooi Bandoeng”, edisi Juli 1937
“Mooi Bandoeng”, edisi Oktober 1937