Skip navigation

Category Archives: Toponimi

Ruas Jl. Braga di Bandung tentulah sudah dikenal baik oleh masyarakat, baik sebagai objek wisata berwawasan sejarah atau arsitektur. Sejumlah bangunan tua di Jl. Braga belakangan ini menjadi lebih populer sebagai tempat berfoto-ria yang dilakukan baik oleh kalangan wisatawan atau pun para pelajar dan remaja Kota Bandung. Belakangan Jl. Braga agak mengundang kegaduhan dalam masyarakat sehubungan dengan program revitalisasi yang menggantikan bahan jalan dari aspal dengan batu andesit. Jalan berbatu andesit ini ternyata tak pernah mampu bertahan cukup lama dalam kondisi baik.

Tapi dari pada membicarakan masalah revitalisasi yang tidak vital itu, saya langsung saja ke perhatian utama saat ini, yaitu Kampung Apandi. Ruas Jl. Braga sebetulnya diapit oleh dua kawasan di kiri-kanannya, masing-masing Kampung Apandi di sebelah barat dan sebuah Europeschewijk di sisi timurnya. Europeschewijk yang dulu dikepalai oleh Coorde sekarang menjadi kawasan Kejaksaan Atas dan nama Gang Coorde menjadi Jl. Kejaksaan. Istilah Kejaksaan Atas dan Kejaksaan Bawah adalah istilah tidak resmi dari warga untuk membedakan potongan Jl. Kejaksaan antara Tamblong-Braga dengan Tamblong-Saad.

Di sebelah barat ruas Jl. Braga terletak perkampungan berbentuk memanjang utara-selatan dan secara administratif termasuk ke dalam Kelurahan Braga. Kampung yang padat ini hampir selalu luput dari perhatian saat masyarakat membicarakan masalah Jl. Braga. Hanya kadang-kadang saja perhatian masyarakat ditolehkan ke wilayah ini, yaitu saat banjir besar melanda secara rutin setiap tahunnya. Seperti yang terjadi pada 28 April 2007, tak kurang dari walikota Dada Rosada mendatangi kawasan kampung ini untuk melihat keadaan kampung yang porak-poranda akibat terjangan banjir pada malam sebelumnya.

Di masa Hindia-Belanda, wilayah utama Kampung Apandi terletak di lokasi yang sekarang ditempati oleh Hotel Kedaton. Kampung ini memanjang ke arah selatan sampai sekitar di seberang restoran Braga Permai. Secara perlahan wilayah perkampungan ini digerus oleh zaman. Penyusutan wilayah pertama kali terjadi sekitar tahun 1938 saat pembangunan viaduct. Jembatan kereta api yang melintasi sungai Ci Kapundung di sebelah barat kampung ini sekaligus juga membukakan akses jalan baru dari arah Jl. Braga ke Jl. Banceuy. Jalan baru ini menjadi bagian dari Jl. Suniaraja.

Sebelum pembukaan jalan baru, akses jalan dari Braga menuju Jl. Banceuy hanyalah jalan gang di tengah perkampungan saja. Jalan baru dibuat menyambung dengan potongan Jl. Suniaraja yang bersambungan dengan ujung Jl. Banceuy dan berawal dari persimpangan Jl. Kebonjati. Warga tempo dulu menyebutnya Parapatan Kompa. Di wilayah inilah dulu lahir seseorang yang pada masa remajanya sempat menghebohkan warga Bandung karena berjibaku dengan meledakkan gudang mesiu Jepang di Dayeuhkolot, Mohammad Toha. Sayang sekali detail cerita seputar peledakan ini masih kabur hingga sekarang.

Pembukaan jalan baru yang membelah Kampung Apandi itu sebetulnya merupakan bagian dari sebuah rencana lain yaitu pengembangan ruas jalan di sepanjang jalur sungai Ci Kapundung dimulai dari sekitar viaduct hingga kompleks pertokoan elektronik Banceuy (Cikapundung) sekarang. Entah kenapa rencana ini tidak pernah terwujud.

Penyusutan Kampung Apandi berikutnya terjadi saat didirikannya Hotel Kedaton persis di bekas rumah tokoh setempat yang namanya kemudian diabadikan menjadi nama kampung, H.M. Affandi. Masih belum selesai, berikutnya sebagian wilayah Kampung Apandi menghilang lagi dengan pembangunan kompleks hotel dan mall Braga City Walk yang juga mengambil area bekas pabrik perakitan mobil Mercedez Fuchs & Rens (kemudian Permorin). Dari seluruh bagian bengkel Fuchs & Rens yang masih tersisa adalah ruang pamer mobil yang terletak persis di sisi Jl. Braga. Ruang pamer ini sekarang ditempati oleh restoran Wendy’s. Beberapa bagian bangunan, terutama bagian depan, masih menyisakan bagian asli ruang pamer Fuchs & Rens. Plakat pembangunan ruang pamer yang terbuat dari marmer pun masih dapat dilihat terpasang di tembok depan.

Sekarang bekas wilayah Kampung Apandi tinggal sedikit saja tersisa di sekitar seberang restoran Braga Permai. Persis berhadapan dengan restoran bekas Maison Bogerijen yang terkenal itu terdapat sebuah jalan gang mengarah ke timur. Jalan masuk gang ini cukup unik karena berbentuk lorong jalan di bawah bangunan gedung, yaitu Toko Buku Jawa. Di mulut gang terdapat plang nama jalan bertuliskan Gg. Apandi. Dari mulut gang ini tak sampai 20 meteran, suasana perkampungan sudah langsung terasa.Jalan masuk lain menuju kampung ini dapat melalui Gg. Apandi III dan Jl. Afandi Dalam dari arah Jl. Suniaraja (seberang Hotel Kedaton) yang ditandai dengan keberadaan bengkel-bengkel dan pusat penjualan ban mobil.

Penulisan nama Apandi sebagai nama daerah ini memang memiliki sejumlah variasi. Ada yang menuliskan Apandi, Affandi, atau Affandie. Pengucapan nama Affandi dalam logat Sunda menjadi Apandi tentu merupakan hal yang biasa sekali. Pengucapan ini mempengaruhi pula cara menuliskannya sehingga banyak nama yang ditulis secara resmi menjadi Apandi, seperti pada plang nama gang yang terletak di seberang Braga Permai.

Apandi atau Affandi, seperti yang tertulis pada nisan makamnya di Astana Anyar, adalah tokoh setempat yang dikenali sementara orang sebagai seorang yang sangat ramah pada tetangganya. Pada tahun 1903 Affandi mendirikan sebuah percetakan dengan nama Toko Tjitak Affandi. Percetakan ini termasuk percetakan pribumi angkatan pertama yang banyak mencetak buku-buku berbahasa Sunda. Salah satu terbitannya yang terkenal adalah Wawacan Angling Darma (Martanegara) pada tahun 1906. Buku cerita hiburan ini sempat mengalami cetak ulang oleh penerbit lain namun sayangnya dalam edisi yang agak terbatas. Affandi sendiri sempat menulis beberapa buku, di antaranya sebuah novel berjudul ”Pieunteungeun” yang diterbitkan pada tahun 1937.

Menurut salah satu kerabat H. Affandi, lokasi pendirian Toko Tjitak Affandi ini terletak di Gedung Landmark sekarang. Tanah di wilayah ini sampai ke dekat Jl. Suniaraja memang dimiliki oleh keluarga Affandi. Pada tahun 1922 di lokasi yang sama didirikan sebuah toko buku terkenal, van Dorp, dengan arsitektur bangunan hasil rancangan arsitek terkenal Wolff Schoemaker. Sangat mungkin van Dorp membeli dan melanjutkan percetakan yang memang telah ada sebelumnya.

Mengenai tokoh Affandi ini sebetulnya banyak informasi yang masih samar namun sangat menarik untuk ditelusuri lebih lanjut. Di antara kisah-kisah itu adalah cerita lisan bahwa kerabat-kerabat Affandi memiliki rumah-rumah besar di sepanjang Merdikaweg. Salah satu rumah itu terletak di lokasi berdirinya Bandung Indah Plaza (BIP) sekarang. Rumah lainnya berseberangan dengan gedung Balaikota dan memiliki ruang bawah tanah yang luas.

Menurut catatan dalam buku Braga: Revitalisation in an Urban Development (Wieland, 1997), di awal pembangunan Braga, sudah terdapat sebuah kampung di daerah itu yang bernama Babakan Soeniaradja. Konon pada tahun 1826, terdapat beberapa rumah di antara Sungai Ci Kapundung dan Braga (waktu itu Karrenweg). Kemudian baru pada tahun 1925 tercatat lagi mengenai kampung ini, ketika sejumlah penjaga kuda di jalur Jalan Raya Pos menempati tiga perkampungan, Kampung Banceuy (= bahasa Sunda yang berarti ‘istal’, kandang kuda), Kampung H. Affandi dan Kampung Cibantar. Perkampungan ini terdiri dari rumah-rumah panggung tradisional Sunda.

Ada empat orang yang tercatat sebagai pemilik atau tuan tanah di wilayah itu. Mereka adalah Haji Affandi dengan pemilikan tanah di sebelah barat Jl. Braga, dari tengah hingga ke sekitar viaduct; Asep Berlian dengan pemilikan tanah mulai di belakang eks-Fuchs & Rens ke selatan; Juragan Alketeri yang memiliki sebagian besar tanah di selatan Jl. Banceuy, dan Juragan Yiep Ging yang memiliki bidang tanah mulai dari sekitar Gg. Cikapundung hingga ke selatan Jl. Braga. Selain itu ada juga bagian tanah yang dimiliki oleh pemerintah dan tuan tanah bangsa Belanda, yakni di sebelah barat Jl. Braga bagian selatan hingga sekitar penjara Banceuy.

Sejak terjadi peristiwa kebekaran yang melanda Kampung Apandi tahun 1994, keluarga dan kerabat H. Affandi terpencar dan tinggal ke beberapa daerah lain di Kota Bandung. Pemilikan tanah oleh keluarga keturunan dan kerabat H. Affandi masih berlangsung sampai sekarang, namun sedikit demi sedikit terjual kepada para pengembang.

* * *

Affandie, R.M.A.

1969     Bandung Baheula (Djilid  1 & 2). Guna Utama. Bandung.

Anonim.

1933     “Bandoeng’s Geboorte en Groei: van Desa tot Trotsche Bergstad”. Artikel dalam majalah Mooi Bandoeng, Agustus, 1933.

Amin, Sjarif.

1983     Keur Kuring di Bandung. Pelita Masa. Bandung

Kunto, Haryoto.

1984        Wajah Bandung Tempo Doeloe. Granesia. Bandung.

Moriyama, Mikihiro.

2005        Semangat Baru. KPG. Jakarta.

Schomper, Pans.

1996 Selamat Tinggal Hindia: Janjinya Pedagang Telur. Dorned.

Wieland, H.F.

1997 Braga: Revitalisation in an Urban Development. Department of Architecture, Parahyangan Catolic University. Bandung.

Wawancara :

–          Goerjama, H.R.E.  Kelahiran Bandung, 1925. Wawancara di Bandung, tanggal 19 Februari 2007.

–          Roesman, Tien. Kelahiran Bandung, 1919. Wawancara di Bogor, tanggal 3 Maret 2007.

–          Informasi lisan Malia Nur Alifa.

Dalam liputan koran Pikiran Rakyat 2 Februari 2011, berjudul “Melebihi Kapasitas, TPSA Ciniru Bisa Meledak”, disebutkan mengenai kekuatiran Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Kuningan bahwa lokasi pembuangan sampah (Tempat Pembuangan Sampah Akhir/TPSA) itu bisa menimbulkan ledakan yang sangat kuat. Kapasitas penampungan tempat itu sudah tidak memadai lagi. Tumpukan sampah di sana sudah mencapai volume 550 meter kubik dengan bobot ribuan ton. Dimulai sejak tahun 2000-an, kini tumpukan itu sudah mencapai ketebalan 7 hingga 10 meter dalam area seluas sekitar 2 hektare.

Liputan koran itu juga menyebutkan bahwa solusi yang diusulkan dalam menghadapi masalah itu adalah dengan mencarikan lokasi lain atau dengan memperluas wilayah buangan di area itu. Untuk itu BPLHD sudah mengajukan anggaran pembelian tanah untuk lokasi baru, itu pun hanya akan efektif untuk dua tahun saja.

Saya teringat salah satu kegiatan Komunitas Aleut! yang saya asuh. Komunitas ini sering mensurvei lokasi-lokasi bersejarah di Kota Bandung untuk kemudian dijadikan bagian dari tour sejarah yang dilakukan setiap hari Minggu. Salah satu lokasi bersejarah yang mungkin berhubungan dengan cerita penampungan sampah di atas adalah Jalan Inhoftank di sekitar Tegalega, Bandung.

Nama jalan ini sering menjadi pertanyaan banyak orang, kira-kira dari mana asal nama Inhoftank? Akhirnya saya dapat menemukan sebuah sumber cukup menarik, yaitu buku “Kisah Perjuangan Unsur Ganesa 10 Kurun Waktu 1942-1950”, diterbitkan oleh Penerbit ITB, Bandung, 1995.

Halaman 39 dalam buku yang berkisah tentang perjuangan mahasiswa ITB ini menyinggung tentang sebuah instalasi yang disebut Imhofftank yang terletak di selatan Kota Bandung. Persisnya di daerah Tegalega. Penduduk wilayah sekitar menyebutnya pabrik mes, yang rupanya mengambil dari bahasa Belanda, mest yang berarti pupuk.

Ternyata pada masa Hindia-Belanda, Imhofftank adalah sebuah pabrik pengelolaan limbah rumah tangga di Bandung. Hasil produksinya? Biogas. Pabrik ini memiliki saluran-saluran seperti selokan yang terhubung dengan beberapa kawasan di Kota Bandung. Sebagian kotoran rumah-tangga di Bandung yang ditumpahkan ke parit-parit dan selokan akan masuk ke saluran ini dan kemudian ditampung di kolam atau tangki-tangki penampungan dan pengendapan Imhofftank. Di tangki ini limbah dibiarkan tergenang dan membusuk sehingga menimbulkan gas metan. Gas metan yang dihasilkan dipompa dengan kompresor dan dimasukkan ke dalam tabung silinder besi berdaya tampung 40 liter dengan tekanan lebih dari 1 atmosfer. Gas metan dalam tabung ini lalu dipergunakan untuk menjalankan bis-bis sekolah.

Selain tangki penampungan yang memroduksi gas metan, juga terdapat tangki pengeringan. Pada tangki pengeringan dibangun juga laboratorium dan gudang. Setelah melalui sejumlah proses, limbah rumah tangga kering tersebut dijadikan pupuk organik yang dikirim ke kawasan pertanian dan kebun bunga di daerah Lembang, Cisarua, Pangalengan, dan Ciwidey. Pengawasan semua proses ini dilakukan oleh Tuan Imhoff. Dari namanyalah kemudian nama kawasan ini dikenal dengan sebutan Imhofftank yang sekarang berubah menjadi Inhoftank. Perubahan dalam bahasa ini wajar dan umum saja terjadi.

Selama pendudukan Jepang, pabrik pupuk Imhofftank tidak dijalankan karena Jepang lebih memerlukan sumber energi gas metan untuk menjalankan truk-truk militernya. Setelah merdeka, pabrik pengolahan limbah Imhofftank terbengkalai, tak terpakai hingga waktu lama. Belakangan, dengan bertambahnya kepadatan penduduk Kota Bandung, wilayah bekas Imhofftank dijadikan permukiman. Namun, sisa-sisa tembok tangki pengolahan ini masih dapat dilihat sampai sekarang, sebagai malah menjadi bagian tembok rumah-rumah di sana.

Kembali ke masalah TPSA Ciniru, dan masih banyak lagi permasalahan serupa yang terjadi di sekitar kita, terasa agak mengherankan, kenapa dalam masa yang lebih modern ini kita tidak bisa mengolah limbah seperti yang sudah dilakukan pada hampir 70 tahun yang lalu? Apakah ini kemajuan atau kemunduran? Bila solusi pembuangan sampah adalah dengan terus menambah wilayah pembuangan, lalu sampai berapa banyakkah wilayah yang akan diperlukan untuk pembuangan sampah yang begitu banyaknya?

Bila di suatu lokasi tertentu yang cukup luas dibangun lagi pabrik serupa Imhofftank yang dapat menampung sampah dari berbagai wilayah, tentunya akan cukup banyak energi gas yang dapat dihasilkan. Rasanya akan cukup banyak pengeluaran dana dalam pengelolaan masalah sampah yang dapat ditekan dalam jangka panjang. Belum lagi banyaknya pupuk yang dapat bermanfaat menghijaukan kembali Kota Bandung..

Ya, bagaimanapun saya sadar pengetahuan saya sangat dangkal dalam hal ini, mungkin pembuatan pabrik dan pengelolaan sampah itu tidak sesederhana yang saya bayangkan. Saya hanya tak habis pikir kenapa ada warga Bandung yang sudah mampu melakukannya pada 70 tahun yang lalu, dan sekarang tidak?

Ridwan Hutagalung

4 Februari 2011

Sumber :

“Melebihi Kapasitas, TPSA Ciniru Bisa Meledak”, HU Pikiran Rakyat, 2 Februari 2011.

Dari TH ke ITB; Kenang-Kenangan Lustrum IV 2 Maret 1979, Adjat Sakri (ed), Penerbit ITB, Bandung, 1979.

Kamus Umum Belanda Indonesia, Prof. drs. S. Wojowasito, PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001.

Kisah Perjuangan Unsur Ganesa 10 Kurun Waktu 1942-1950, Satuan Tugas Penulisan Kisah Kehidupan Kampus Ganesa 10, 1942-1950, Penerbit ITB Bandung, 1995.