Skip navigation

Category Archives: Komunitas Aleut!

SEKILAS SENI BELUK

Seni beluk adalah seni vokal tanpa iringan instrumen khas masyarakat Sunda yang sekarang ini sudah langka sekali ditemui. Sebarannya adalah wilayah agraris dan terutama di dataran-dataran tinggi, mulai dari Banten hingga Sumedang dan Tasikmalaya. Namun sayangnya sebaran yang luas ini tidak berarti bahwa seni beluk (mungkin juga seni tradisional lainnya) memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman. Salah satu yang masih bertahan adalah beluk dari Batu Karut, Desa Lebakwangi, Banjaran.

Di Lebakwangi seni beluk masih cukup sering ditampilkan dalam upacara-upacara seperti yang berhubungan dengan kelahiran bayi. Penyajiannya biasa dilakukan di ruang tengah rumah dengan alas tikar. Penyaji beluk yang biasanya terdiri dari empat orang duduk bersila diapit keluarga tuan rumah dan membentuk pola lingkaran. Penyajian seperti ini terasa agak aneh buat saya mengingat “nyanyian” beluk yang banyak berbentuk lengkingan vokal. Lengkingan seperti ini memang akan terasa ingar-bingar bila dikumandangkan dalam ruangan tertutup seperti di rumah. Namun tampaknya sekarang hal ini sudah menjadi kelaziman pula.

Seni lengking vokal ini diperkirakan berasal dari tradisi bersawah-ladang sebagai media komunikasi antarpetani. Masyarakat Baduy dulu sering berteriak dengan nada mengesankan bila sedang berada dalam hutan atau ladang sorang diri. Teriakan yang bisa dilakukan sebagai pengusir sepi atau juga memberitahukan keberadaannya di dalam hutan. Konon bentuk nyanyian dengan nada-nada tinggi, mengalun dan meliuk-liuk adalah bagian dari ekspresi masyarakat ladang saat berkomunikasi dengan sesama komunitasnya yang mempunyai pola tinggal menetap namun saling berjauhan.

Seni beluk mirip dengan karinding dalam hal tidak termasuk kategori seni pertunjukan dan lebih bersifat hiburan personal, sarana menghibur diri, dan pengusir rasa sepi. Belakangan, kesenian ini lebih banyak dipakai untuk keperluan ritual seperti dalam syukuran 40 hari kelahiran bayi. Ada empat orang penyaji utama dengan peranan yang berbeda. Disebut penyaji utama karena sebetulnya hadirin juga diperbolehkan untuk turut serta menyajikannya. Empat peranan tersebut adalah 1) tukang ngilo atau juru ilo, 2) tukang ngajual, 3) tukang meuli, dan 4) tukang naekeun.

Tukang ngilo adalah pembaca syair secara naratif. Pembacaan dilakukan dalam tempo sedang dengan artikulasi yang jelas dan dibacakan per padalisan (baris). Syair-syair beluk berasal dari naskah-naskah cerita babad atau wawacan dan disajikan dalam bentuk pupuh yang berjumlah 17, yaitu asmarandana, balakbak, dandanggula, durma, gambuh, gurisa, juru demung, kinanti, ladrang, lambang, magatru, maskumambang, mijil, pangkur, pucung, sinom, dan wirangrong.

Tukang ngajual menyanyikan syair yang dibacakan tukang ngilo sesuai dengan pupuhnya, namun cara menyanyikannya tanpa ornamen. Tukang meuli melanjutkan sajian tukang ngajual dengan tambahan ornamen pelengkap. Sedangkan tukang naekeun melanjutkan sajian tukang meuli dengan nada-nada tinggi dan meliuk-liuk. Di bagian ini ornamentasi vokal sangat dominan sehingga artikulasi tidak diutamakan dan bisa menjadi sangat kabur. Setiap tukang naekeun menyelesaikan satu bait, seluruh hadirin dan para penyaji lainnya memungkas lagu secara secara bersama (koor).

Dalam penyajian beluk dikenal beberapa teknik, seperti nyurup yaitu kesesuaian dengan laras yang dibawakan; jentre artikulasi yang jelas; eureur kesesuaian vibrasi dengan kalimat lagu; senggol ketepatan ornamentasi; leotan ketepatan nada yang digunakan; embat walaupun musik vokal ini bertempo bebas, namun tetap ada acuan metris-melodis kendati sangat samar; pedotan ketepatan waktu untuk mengambil nafas; renggep atau saregep keseriusan dalam penyajian; cacap kata demi kata harus disajikan sampai tuntas; bawarasa ekspresi dalam penyajian; dan bawaraga penegasan suasana dengan gestur yang dianggap menarik.

Sebagai bentuk kesenian yang lahir dari keseharian masyarakat agraris yang sederhana, dalam penyajiannya seni beluk tidak menerapkan aturan berpakaian tertentu. Yang paling umum ditemui menggunakan baju takwa, sarung, kopiah, dan celana panjang saja. Pembagian peranan dalam penyajian beluk juga memberi ciri masyarakat agraris yang senang bergotong-royong, bekerja-sama dan berkomunikasi secara harmonis.

Demikianlah rangkaian catatan yang berhubungan dengan beberapa objek dalam kegiatan Komunitas Aleut! pekan lalu.

Sumber informasi untuk keempat bagian tulisan tentang Ngaleut Dayeuhkolot-Banjaran :

– “Bandung in the Early Revolution 1945-1946”, John R.W. Smail, Cornell Modern Indonesia   Project, New York, 1964

– “Dewi Sartika”, Rochiati Wiriaatmadja, Dep. PDK, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1983/1984

– “Kisah Perjuangan Unsur Ganesa 10 Kurun Waktu 1942-1950”

– “Musical Instruments – A Comprehensive Dictonary”, Sibyl Marcuse, The Norton Library, New York, 1975

– “Saya Pilih Mengungsi”, Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Ristadi Widodo Kinartojo, Ummy Latifah Widodo, Bunaya, Bandung, 2002

–  Keterangan juru kunci Makam Leluhur Bandung, 18 & 20 Maret 2011

–  Keterangan juru kunci Situs Rumah Adat Kabuyutan, Batu Karut, Bapak Enggin, 20 Maret 2011

–  Kliping Bandung Lautan Api di HU Pikiran Rakyat 16-28 Maret 2007

–  Beluk Kehilangan Regenerasi, Pikiran Rakyat, 31 Januari 2011

–  Sampul album CD “Beluk Dzikir – Nyanyian Banten Jawa Barat”, produksi Program Studi Etnomusikologi Jurusan Karawitan, STSI Surakarta, 2003

–  Dokumen KKN Program Seni Budaya, http://www.scribd.com/doc/22769078/KKN-PROGRAMSENI-BUDAYA

–  Mata Kita, Kesenian Beluk, Salah Satu Identitas Masyarakat Agraris Pasundan, http://matakita.net/post/kesenianbeluk-salah-satu-identitas-masyarakat-agrarispasundan.html

Advertisements

BUMI ALIT KABUYUTAN, BATU KARUT

 

Perjalanan ke lokasi ini kami tempuh dengan dua buah angkot borongan. Lama perjalanan sekitar 15-20 menit. Tiba di lokasi, kami masih harus mencari juru kunci dulu karena kompleks situs ternyata terkunci. Dari luar tampak plang  bertuliskan “Situs Rumah Adat Sunda (Bumi Alit Kabuyutan) – Lebakwangi Batu Karut – Kec. Arjasari Kab. Bandung”.

Juru kunci, Bapak Enggin, segera membukakan gerbang dan mengajak semua peserta untuk berkumpul di bale. Pertanyaan utama dari beliau adalah “apa tujuan kunjungan ini?.” Usia sepuh membuatnya berbicara sangat perlahan dengan artikulasi yang kurang tegas, karena itu semua Aleutians merapat sangat dekat agar dapat menyimak dengan baik. Bagi beberapa teman, usaha ini cukup sia-sia, karena Pak Enggin menggunakan bahasa Sunda dengan banyak kata yang tidak terlalu biasa terdengar dalam percakapan sehari-hari di kota.

Inti cerita, Pak Enggin menyampaikan berbagai simbol yang terdapat dalam Bumi Alit Kabuyutan. Semua simbol ini berkaitan dengan filosofi kehidupan dan keagamaan yang menjadi pedoman hidup masyarakat penganutnya. Menurutnya, Batu Karut adalah pusat penyebaran agama Islam dengan menggunakan siloka. Misalnya saja ukuran rumah yang 5×6 meter dikaitkan dengan rukun Islam dan rukun Iman. Perkalian dari ukuran itu adalah jumlah juz dalam Quran. Angka-angka yang sama terulang lagi dalam menceritakan isi Bumi Alit. Di dalamnya terdapat 5 buah pusaka, yaitu lantingan, pedang, keris, badi, dan tumbak. Kelima pusaka ini ditempatkan dalam sumbul yang sekaligus menjadi pusaka keenam. Semua pusaka dibungkus oleh 5 lapis boeh.

Penceritaan filosofi ini berlangsung cukup lama dan intensif. Namun yang seringkali terjadi dalam kunjungan ke situs-situs keramat seperti ini adalah tidak ada keterangan sejarah yang memadai. Kebanyakan pertanyaan akan dijawab dengan agak kabur atau tidak tahu. Misalnya saja pertanyaan asal mula rumah adat ini, siapa pembangunnya,siapa yang menghuni, bagaimana kisahnya hingga menjadi tempat penyimpanan benda pusaka, dst. Bapak Enggin hanya selintas saja bercerita tentang situs Gunung Alit yang berada dekat dengan Bumi Alit. Di Gunung Alit terdapat beberapa makam tokoh dengan fungsi pemerintahan dan sosial di Batu Karut dahulu.

Masing-masing makam tersebut adalah Mbah Lurah yang memegang urusan pemerintahan, Mbah Wirakusumah sebagai panglima, Mbah Patrakusumah urusan seni-budaya, Mbah Ajilayang Suwitadikusumah bagian keagamaan, dan Mbah Manggung Jayadikusumah. Nama terakhir ini tak saya temukan fungsinya dalam catatan yang saya buat, tampaknya terlewatkan.

Selain itu Bapak Enggin juga bercerita tentang upacara adat dan tata cara berziarah. Pada bagian ini saya kesulitan mencatat detail sesajian yang semuanya juga dihubungkan dengan filosofi kehidupan. Secara sepintas saya juga bertanya tentang sertifikat yang sebelumnya saya lihat terpajang di rumah Bapak Enggin. Sertifikat itu dikeluarkan oleh Depdikbud Dirjen Kebudayaan Direktorat Kesenian, Jakarta, tahun 1993 bagi peserta Festival Musik Tradisional Tingkat Nasional 1993 di Jakarta. Obrolan pun berlanjut ke kesenian yang dianggap asli Batu Karut, yaitu goong renteng atau sering juga disebut goong renteng Mbah Bandong dengan istilah bandong yang dikaitkan dengan asal-usul nama kota Bandung. Maksudnya adalah bahwa dalam kesenian gamelan ini terdapat dua buah goong yang ngabandong atau berpasangan, berhadapan.

Laras dalam gamelan goong renteng berbeda dengan yang umumnya dikenal, mereka menyebutnya laras bandong. Instrumen lain yang dipergunakan dalam gamelan ini adalah sejenis bonang yang disebut kongkoang, gangsa (sejenis saron), paneteg (sejenis kendang), dan beri yang mirip gong namun tidak berpenclon. Penggunaan gangsa dapat menunjukkan ketuaan kesenian ini karena biasanya tidak digunakan lagi dalam gamelan umumnya. Demikian juga dengan gong beri yang biasanya digunakan dalam peperangan dengan fungsi sebagai penanda. Gong beri tidak lazim digunakan dalam gamelan namun masih dapat ditemui digunakan dalam iringan seni bela diri tradisional.

Selain goong renteng, di daerah ini juga dapat ditemukan seni terebangan (sejenis rebana), reog, barongan, dan beluk. Beberapa tahun lalu, seorang teman peneliti musik dari Perancis pernah mengajak untuk menyaksikan dia merekam kesenian beluk di beberapa tempat, di antaranya di Banjaran. Saya masih selalu menyesal karena saat itu berhalangan untuk memenuhi undangan-undangannya. Namun akhirnya saya sempat juga beberapa kali menyaksikan kesenian ini diperagakan di Sumedang.

Dalam liputan koran Pikiran Rakyat 2 Februari 2011, berjudul “Melebihi Kapasitas, TPSA Ciniru Bisa Meledak”, disebutkan mengenai kekuatiran Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Kuningan bahwa lokasi pembuangan sampah (Tempat Pembuangan Sampah Akhir/TPSA) itu bisa menimbulkan ledakan yang sangat kuat. Kapasitas penampungan tempat itu sudah tidak memadai lagi. Tumpukan sampah di sana sudah mencapai volume 550 meter kubik dengan bobot ribuan ton. Dimulai sejak tahun 2000-an, kini tumpukan itu sudah mencapai ketebalan 7 hingga 10 meter dalam area seluas sekitar 2 hektare.

Liputan koran itu juga menyebutkan bahwa solusi yang diusulkan dalam menghadapi masalah itu adalah dengan mencarikan lokasi lain atau dengan memperluas wilayah buangan di area itu. Untuk itu BPLHD sudah mengajukan anggaran pembelian tanah untuk lokasi baru, itu pun hanya akan efektif untuk dua tahun saja.

Saya teringat salah satu kegiatan Komunitas Aleut! yang saya asuh. Komunitas ini sering mensurvei lokasi-lokasi bersejarah di Kota Bandung untuk kemudian dijadikan bagian dari tour sejarah yang dilakukan setiap hari Minggu. Salah satu lokasi bersejarah yang mungkin berhubungan dengan cerita penampungan sampah di atas adalah Jalan Inhoftank di sekitar Tegalega, Bandung.

Nama jalan ini sering menjadi pertanyaan banyak orang, kira-kira dari mana asal nama Inhoftank? Akhirnya saya dapat menemukan sebuah sumber cukup menarik, yaitu buku “Kisah Perjuangan Unsur Ganesa 10 Kurun Waktu 1942-1950”, diterbitkan oleh Penerbit ITB, Bandung, 1995.

Halaman 39 dalam buku yang berkisah tentang perjuangan mahasiswa ITB ini menyinggung tentang sebuah instalasi yang disebut Imhofftank yang terletak di selatan Kota Bandung. Persisnya di daerah Tegalega. Penduduk wilayah sekitar menyebutnya pabrik mes, yang rupanya mengambil dari bahasa Belanda, mest yang berarti pupuk.

Ternyata pada masa Hindia-Belanda, Imhofftank adalah sebuah pabrik pengelolaan limbah rumah tangga di Bandung. Hasil produksinya? Biogas. Pabrik ini memiliki saluran-saluran seperti selokan yang terhubung dengan beberapa kawasan di Kota Bandung. Sebagian kotoran rumah-tangga di Bandung yang ditumpahkan ke parit-parit dan selokan akan masuk ke saluran ini dan kemudian ditampung di kolam atau tangki-tangki penampungan dan pengendapan Imhofftank. Di tangki ini limbah dibiarkan tergenang dan membusuk sehingga menimbulkan gas metan. Gas metan yang dihasilkan dipompa dengan kompresor dan dimasukkan ke dalam tabung silinder besi berdaya tampung 40 liter dengan tekanan lebih dari 1 atmosfer. Gas metan dalam tabung ini lalu dipergunakan untuk menjalankan bis-bis sekolah.

Selain tangki penampungan yang memroduksi gas metan, juga terdapat tangki pengeringan. Pada tangki pengeringan dibangun juga laboratorium dan gudang. Setelah melalui sejumlah proses, limbah rumah tangga kering tersebut dijadikan pupuk organik yang dikirim ke kawasan pertanian dan kebun bunga di daerah Lembang, Cisarua, Pangalengan, dan Ciwidey. Pengawasan semua proses ini dilakukan oleh Tuan Imhoff. Dari namanyalah kemudian nama kawasan ini dikenal dengan sebutan Imhofftank yang sekarang berubah menjadi Inhoftank. Perubahan dalam bahasa ini wajar dan umum saja terjadi.

Selama pendudukan Jepang, pabrik pupuk Imhofftank tidak dijalankan karena Jepang lebih memerlukan sumber energi gas metan untuk menjalankan truk-truk militernya. Setelah merdeka, pabrik pengolahan limbah Imhofftank terbengkalai, tak terpakai hingga waktu lama. Belakangan, dengan bertambahnya kepadatan penduduk Kota Bandung, wilayah bekas Imhofftank dijadikan permukiman. Namun, sisa-sisa tembok tangki pengolahan ini masih dapat dilihat sampai sekarang, sebagai malah menjadi bagian tembok rumah-rumah di sana.

Kembali ke masalah TPSA Ciniru, dan masih banyak lagi permasalahan serupa yang terjadi di sekitar kita, terasa agak mengherankan, kenapa dalam masa yang lebih modern ini kita tidak bisa mengolah limbah seperti yang sudah dilakukan pada hampir 70 tahun yang lalu? Apakah ini kemajuan atau kemunduran? Bila solusi pembuangan sampah adalah dengan terus menambah wilayah pembuangan, lalu sampai berapa banyakkah wilayah yang akan diperlukan untuk pembuangan sampah yang begitu banyaknya?

Bila di suatu lokasi tertentu yang cukup luas dibangun lagi pabrik serupa Imhofftank yang dapat menampung sampah dari berbagai wilayah, tentunya akan cukup banyak energi gas yang dapat dihasilkan. Rasanya akan cukup banyak pengeluaran dana dalam pengelolaan masalah sampah yang dapat ditekan dalam jangka panjang. Belum lagi banyaknya pupuk yang dapat bermanfaat menghijaukan kembali Kota Bandung..

Ya, bagaimanapun saya sadar pengetahuan saya sangat dangkal dalam hal ini, mungkin pembuatan pabrik dan pengelolaan sampah itu tidak sesederhana yang saya bayangkan. Saya hanya tak habis pikir kenapa ada warga Bandung yang sudah mampu melakukannya pada 70 tahun yang lalu, dan sekarang tidak?

Ridwan Hutagalung

4 Februari 2011

Sumber :

“Melebihi Kapasitas, TPSA Ciniru Bisa Meledak”, HU Pikiran Rakyat, 2 Februari 2011.

Dari TH ke ITB; Kenang-Kenangan Lustrum IV 2 Maret 1979, Adjat Sakri (ed), Penerbit ITB, Bandung, 1979.

Kamus Umum Belanda Indonesia, Prof. drs. S. Wojowasito, PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, 2001.

Kisah Perjuangan Unsur Ganesa 10 Kurun Waktu 1942-1950, Satuan Tugas Penulisan Kisah Kehidupan Kampus Ganesa 10, 1942-1950, Penerbit ITB Bandung, 1995.

Berikut ini ada beberapa tradisi dalam merayakan Imlek yang saya tulis ulang dari artikel yang dimuat dalam HU Pikiran Rakyat, 2 Februari 2011. Pikiran Rakyat mengambil sumbernya dari Reuters.

Sebelum tahun baru Imlek biasanya keluarga membersihkan menghias rumahnya. Memotong rambut dan membeli pakaian baru. Tradisi ini dilakukan sebagai bagian untuk menyambut datangnya tahun baru dengan nasib yang lebih baik. Tradisi yang sama juga terdapat dalam berbagai budaya lain dalam menyambut tahun barunya masing-masing.

Pada malam tahun baru dilakukan tradisi shousui, yaitu kumpul tahunan bersama keluarga besar. Kegiatannya adalah makan malam bersama. Semua anak ikut berkumpul dan mendoakan orangtua mereka agar diberkahi usia yang panjang.

Hari pertama tahun baru (Imlek) diisi dengan saling mengunjungi antarkeluarga. Biasanya keluarga yang lebih muda mengunjungi keluarga yang tua. Pada hari ini terdapat tabu menyapu lantai. Pekerjaan menyapu pada saat Imlek dipercaya akan menghilangkan keberuntungan.

Pada hari ketiga adalah tradisi chi kou. Orang-orang menghindari kunjungan tetamu karena dipercaya pada hari ini roh-roh jahat sedang mendatangi bumi.

Hari kelima adalah hari lahirnya Dewa Kekayaan. Banyak usaha kembali dibuka pada hari ini.

Renri pada hari ketujuh adalah hari lahirnya manusia. Pada hari ini setiap manusia beranjak setahun lebih tua. Kegiatan hari ini adalah menghidangkan sup dengan tujuh bahan sayuran atau makan salad ikan mentah yang disebut yusheng.

Hari kelimabelas adalah saatnya untuk pesta lampion yang biasa disebut yuan xiao. Sebagai penganan istimewa untuk hari ini adalah sejenis kue moci manis dalam sirup. Penganan ini adalah simbol kesatuan dan kebersamaan.

Perayaan Imlek atau biasa juga disebut sin cia dapat saja berbeda-beda di setiap daerah. Simbol-simbol yang dipakai pun mungkin saja memiliki perbedaan tergantung daerahnya, pemaknaan yang terkandung di dalamnya pun bisa berbeda, namun persamaan umumnya adalah menyambut kedatangan tahun baru, hari baru, yang diharapkan akan lebih baik. Misalnya saja Eko, salah seorang narasumber dalam liputan PR tersebut, menganggap tradisi Imlek dapat juga menjadi ajang silaturahmi antarkeluarga dan sanak-saudara serta berbagi rezeki dengan sesama.

Dalam merayakan atau bersembahyang Imlek biasanya disajikan 12 macam jenis masakan dan 12 macam kue sebagai perlambang shio yang jumlahnya 12. Ada berbagai kebiasaan khas yang sangat menarik selain sejumlah larangan yang berkaitan dengan perayaan Imlek.

Misalnya saja kue keranjang atau nian gao (juga disebut tii kwee). Kue yang biasa kita sebut dengan dodol cina ini hanya diproduksi pada sekitar Imlek saja, setelah cap go meh (hari kelimabelas tahun baru) berlalu, maka akan sulit sekali mendapatkan kue ini di mana-mana kecuali bila mau memesannya secara khusus. Kue keranjang adalah simbol untuk kemajuan dan perbaikan sesuai dengan artinya yaitu ‘semakin tinggi setiap tahun’. Karena itulah kue keranjang biasa disusun tinggi, makin ke atas makin kecil dan pada bagian puncaknya ditaruh kue mangkok berwarna merah, maknanya adalah kehidupan yang semakin menanjak, bertambah manis dan mekar seperti kue mangkok. Nama kue keranjang didapatkan dari cetakannya yang menggunakan keranjang.

Cap go meh adalah bagian akhir dari perayaan Imlek yang dilangsungkan pada hari kelimabelas. Banyak daerah yang merayakannya dengan festival lampion seperti di Semarang. Pada hari ini ada hidangan istimewa yaitu lontong capgomeh yang terdiri dari lontong, opor ayam, lodeh, pindang telor, sate kambing dan samabal docang. Ada juga yang isinya berupa lontong, sayur, pindang telor, dan bubuk kedelai.

Dalam merayakan Imlek kita sering juga menyaksikan atraksi barongsai yang sekarang dipertunjukkan di berbagai tempat, termasuk di mal-mal. Barongsai dimainkan oleh beberapa orang dengan iringan musik tambur, gong, dan simbal. Tarian singa yang atraktif ini dianggap memberikan keuntungan bagi pemilik rumah atau penyelenggara pertunjukannya.

Angpao atau amplop merah berisi uang biasa dibagikan oleh keluarga yang sudah menikah kepada anak-anak atau mereka yang belum menikah, dan juga kepada mereka yang tidak atau belum memiliki pekerjaan dan para pelayan. Ini tentu saja sebagai tanda berbagi rezeki pada sesama.

Sedangkan sejumlah larangan pada perayaan Imlek, selain menyapu, adalah menyajikan beberapa macam makanan seperti bubur yang dianggap melambangkan kemiskinan. Makanan dengan rasa pahit seperti pare juga dihindari karena melambangkan pahitnya kehidupan. Ada juga yang menghindari buah-buahan berduri seperti salak dan durian, kecuali nanas. Nanas yang diucapkan wang li bunyinya mirip atau mengandung kata “berjaya”, selain itu juga perlambang untuk mahkota raja.

Ya segitu saja yang bisa saya catatkan untuk ikut bagian dalam perayaan Imlek yang jatuh pada tanggal 3 Februari 2011 lalu. Tentu saja ini sangat terbatas dibanding tradisi dan pernak-perniknya yang luar biasa. Anggap saja catatan ini sekadar ringan untuk 26 orang dari Komunitas Aleut! juga turut berkunjung ke Klenteng Satya Budhi pada malam tanggal 2 Februari hingga menjelang pergantian hari menuju Imlek.

Ridwan Hutagalung

4 Februari 2011

Foto-foto pada malam menjelang Perayaan Imlek di Vihara Satya Budhi Bandung dapat dilihat di sini http://www.facebook.com/album.php?id=519229089&aid=288308

Sumber :
Halaman khusus Bandung Raya dengan tema “Tahun Baru Imlek”, HU Pikiran Rakyat, Rabu, 2 Februari 2011
Tradisi Imlek http://chineseculturezone.blogspot.com/2010/12/tradisi-imlek-makanan-sajian-imlek.html
Imlek Indonesia http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Budaya_Bangsa/Pecinan/Imlek.htm

Aleut! 30.01.11.

Perjalanan hari ini pendek saja, jaraknya mungkin tidak sampai 2km, mulai dari Gedung MKAA sampai ke rumah Inggit Garnasih di Jl. Inggit Garnasih No. 8. Rumah ini mirip sebuah dapur. Dapur bagi perjuangan politik menuju kemerdekaan RI.

Banyak tokoh perintis kemerdekaan RI yang pernah menumpahkan ide-ide perjuangan mereka di rumah ini, Ki Hajar Dewantoro, Agus Salim, HOS Cokroaminoto, KH Mas Mansur, Hatta, Moh Yamin, Trimurti, Oto Iskandardinata, Dr Soetomo, MH Thamrin, Abdul Muis, Sosrokartono, Asmara Hadi, dan lain-lain. Di rumah ini pula diskusi-diskusi dilansungkan dan kemudian melahirkan berdirinya Partai Nasional Indonesia (PNI, 1927), Sumpah Pemuda (1928), dan Partindo (1931).

Inilah rumah tinggal milik Inggit Garnasih, istri seorang intelektual muda yang kemudian hari menjadi presiden RI pertama, Soekarno. Inggit dilahirkan di Kamasan, Banjaran tanggal 17 Februari 1888. Pada usia 12 tahun Inggit sudah menikah dengan Nata Atmaja seorang patih di Kantor Residen Priangan. Perkawinan ini tidak bertahan lama dan beberapa tahun kemudian Inggit menikah lagi dengan seorang pedagang kaya yang juga tokoh perjuangan dari Sarekat Islam Jawa Barat, H. Sanoesi. Mereka tinggal di Jl. Kebonjati.

Tahun 1921, datanglah ke rumah mereka seorang intelektual muda dari Surabaya yang akan melanjutkan pendidikan ke THS (sekarang ITB). Saat itu Soekarno muda datang bersama istrinya, Siti Oetari, puteri dari Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Hubungan Soekarno dengan Oetari ternyata tidak pernah selayaknya suami-istri, Soekarno lebih menganggap Oetari sebagai adiknya saja. Di sisi lain, Soekarno menaruh cinta pada Inggit Garnasih.

Soekarno akhirnya menceraikan Oetari. Dan ajaib, H. Sanoesi merelakan Inggit untuk dinikahi oleh Soekarno. Mereka menikah pada 24 Maret 1923. Alasan apa yang membuat H. Sanoesi mau melakukan itu tetap menjadi misteri mereka hingga sekarang. Menurut Bpk. Tito Zeni, cucu Inggit, kemungkinan karena H. Sanoesi melihat ada banyak harapan perjuangan pada diri Soekarno. Untuk itu Soekarno memerlukan seorang pendamping yang tepat. Dan Inggit, bagian dari perjuangan Sarekat Islam, adalah perempuan yang paling tepat. Kemudian hari terbukti, Inggit selalu mendampingi Soekarno dalam setiap kegiatan politiknya.

Soekarno-Inggit sempat beberapa kali pindah rumah, ke Jl. Djaksa, Jl. Pungkur, Jl. Dewi Sartika hingga akhirnya ke Jl. Ciateul. Rumah terakhir ini menjadi pangkalan para intelektual muda dalam menggodok pemikiran-pemikiran kebangsaan Indonesia. Rumah ini juga dijadikan tempat penyelenggaraan kursus-kursus politik yang diberikan oleh Soekarno.

Inggit selalu mengambil peran terbaiknya sebagai pendamping dalam setiap kegiatan politik Soekarno, saat keluar masuk penjara akibat kegiatan politiknya, maupun ketika dibuang ke Ende, Flores (1934-1938), dan juga waktu dipindahkan ke Bengkulu (1938-1942), Inggit selalu di samping Soekarno.

Di Bengkulu, Soekarno menampung seorang pelajar, putri dari Hassan Din bernama Fatma. Soekarno dan Inggit tidak memiliki keturunan. Dengan alasan itu Soekarno meminta izin pada Inggit untuk menikahi Fatma. Inggit menolak untuk dimadu, dia memaklumi keinginan Soekarno, namun juga memilih bercerai. Mereka kemudian bercerai di Bandung pada tanggal 29 Feruari 1942 dengan disaksikan oleh KH Mas Mansur. Soekarno menyerahkan surat cerainya kepada H. Sanoesi yang mewakili Inggit.

19 tahun sudah Inggit mendampingi Soekarno sejak masih berupa bibit intelektual muda dalam perjuangan memerdekakan Indonesia, pergelutannya dengan berbagai pemikiran kebangsaan, sampai pematangannya dalam penjara-penjara dan pembuangannya hingga ke Ende dan Bengkulu. Inggit mendampingi seluruh proses pembelajaran Soekarno hingga menjadi dan setelah itu kembali ke rumahnya yang sekarang menjadi sepi di Jl. Ciateul No. 8.

Inggit Garnasih menjalani pilihannya persis seperti yang digambarkan dalam judul buku roman-biografis Soekarno-Inggit karya Ramadhan KH, “Kuantar ke Gerbang” (1981), Inggit hanya mengantarkan Soekarno mencapai gerbang kemerdekaan RI, ke gerbang istana kepresidenan RI. Walaupun begitu, saya merasa lebih suka bila boleh mengatakan Inggit tidak sekadar mengantarkan, namun juga mempersiapkan Soekarno menuju gerbang itu. Soekarno kemudian memroklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dan menjadi presiden pertama untuk periode 1945-1966.

Inggit sempat mengungsi ke Banjaran dan Garut pada masa Agresi Militer I & II (1946-1949) sebelum kembali lagi ke Bandung dan tinggal di rumah keluarga H. Durasid di Gg. Bapa Rapi. Rumah Jl. Ciateul rusak karena peristiwa Agresi Militer dan baru dibangun ulang dengan bangunan permanen pada tahun 1951 atas prakarsa Asmara Hadi dkk. Di sini Inggit Garnasih melanjutkan hari tua hingga akhir hayatnya. Inggit wafat pada 13 April 1984 dalam usia 96 tahun dan dimakamkan di permakaman Caringin (Babakan Ciparay), Bandung.

Soekarno wafat lebih dulu pada 21 Juni 1970 di Jakarta. Inggit yang renta masih sempat melayat ke rumah duka dan mengatakan, “Ngkus, gening Ngkus teh miheulaan, ku Nggit didoakeun…”

Rumah peninggalan Inggit di Jl. Ciateul No. 8 sekarang selalu tampak sepi. Sudah bertahun-tahun sepi. Sempat terbengkalai tak terurus, kemudian dipugar hanya untuk menemui sepi kembali. Beberapa waktu lalu, rumah ini kembali mengalami beberapa perbaikan, temboknya dicat bersih dan di halaman depan dipasang bilah beton bertuliskan “Rumah Bersejarah Inggit Garnasih”. Mungkin sebuah upaya untuk menghargai sejarah yang sayangnya, tetap saja disambut sepi..

Memang begitulah apreasiasi kita terhadap sejarah bangsa sendiri, seringkali masih tampak lemah. Masih banyak di antara kita yang terus saja mengandalkan dan mengharapkan orang lain untuk melakukan sesuatu sementara kita duduk anggun membicarakan berbagai masalah dalam masyarakat tanpa pernah menyadari bahwa kaki kita tidak menjejak bumi, bahwa tangan kita tak berlumpur karena ikut berkubang dalam berbagai persoalan masyarakat.

Akhirulkalam, bagi saya, Inggit adalah seorang pendamping yang luar biasa, dia bukan pendamping yang sekadar melayani, melainkan pendamping yang menjaga, merawat, dan mengarahkan. Seorang pendamping yang berdaulat atas keputusannya sendiri.

Ridwan Hutagalung


• Semasa hidupnya Inggit Garnasih mendapatkan dua tanda kehormatan dari pemerintah RI. “Satyalancana Perintis Kemerdekaan” yang diberikan pada tanggal 17 Agustus 1961 dan “Bintang Mahaputera Utama” yang diserahkan di istana negara pada tanggal 10 November 1977 dan diterima oleh ahliwarisnya, Ratna Djuami.

• Nama Sukarno di sini masih ditulis dengan bentuk populernya, dieja dengan ‘oe’ menjadi Soekarno. Namun sebetulnya, sejak diresmikannya Ejaan Republik (sering disebut juga Ejaan Suwandi) pada 19 Maret 1947 menggantikan Ejaan van Ophuijsen, Sukarno menginginkan agar namanya juga dieja berdasarkan ejaan baru tersebut. Sementara mengenai tandatangannya yang masih menuliskan ‘oe’, Sukarno mohon permakluman karena kesulitan mengubah kebiasaan yang sudah dilakukannya selama puluhan tahun.

Sumber
– Cindy Adams, 1966, Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat, Gunung Agung, Jakarta.
– Obrolan dengan Bpk. Tito Zeni Asmara Hadi, putra Ratna Djuami & Asmara
Hadi, cucu Inggit Garnasih, pada tanggal 13 dan 30 Januari 2011.
– Ramadhan KH, 1981, Kuantar ke Gerbang, Bandung. (Siapa penerbitnya ya?)
– Wiana Sundari (ed), Dra Eha Solihat, Drs. Eddy Sunarto, Dra., “Rumah Bersejarah –
Inggit Garnasih”, Disparbud Pemprov Jabar, Bandung.

Foto :
– Hasil scan dari sumber bacaan di atas

Foto lengkap kegiatan Aleut! Inggit Garnasih bisa dilihat di
http://www.facebook.com/album.php?id=519229089&aid=287636

by Ridwan Hutagalung on Tuesday, June 8, 2010 at 1:15am
 
Ngaleut ke Gua Pawon
Ridwan Hutagalung, 6 Juni 2010

Danau Bandung Purba
Wilayah Bandung Purba dulunya berupa sebuah danau besar yang membentang mulai dari kawasan Ranca Ekek di timur hingga Padalarang di barat sepanjang 50 km dan dari kawasan Dago di utara hingga Soreang di selatan sepanjang 30 km. Luas permukaan ini hampir sama dengan 3 kali luas wilayah DKI Jakarta sekarang. Pembentukan Danau Bandung Purba ini diperkirakan mulai sekitar 105.000-125.000 tahun yang lalu. Menurut catatan geologi yang ada, Danau Bandung Purba (kadang disebut juga Situ Hyang) mengalami dua kali proses pengeringan. Yang pertama, dengan menerobos lava lunak di daerah Cimeta, Padalarang dan kedua, menerobos lava lunak di Pasir Sanghyang Tikoro, sekitar Rajamandala. Proses pengeringan Danau terjadi sekitar 16.000 tahun yang lalu.

Setelah terjadinya penyusutan air danau, banyak dijumpai daerah genangan berupa rawa yang cukup luas. Tempat-tempat ini masih dapat dikenali dari nama daerah yang menggunakan nama depan ranca (Sunda = rawa) seperti Ranca Ekek, Ranca Buntu, Ranca Oray dlsb. Sedangkan kawasan timur yang sebelumnya merupakan daerah dangkal meninggalkan wilayah-wilayah daratan yang menjorok ke tengah perairan atau tanjung, yang dalam bahasa Sunda disebut bojong. Ingat nama-nama daerah seperti Bojong Malaka, Bojong Koneng, Bojong Pulus, Bojong Kalong, Bojong Gede dst. Sebagian wilayah lain masih meninggalkan genangan air yang cukup luas (Sunda = situ, telaga atau kolam yang cukup luas). Banyak nama yang menggunakan kata situ, seperti Situ Garunggang (di daerah Plesiran, Cihampelas sekarang), Situ Gunting, Situ Gede, Situ Saeur (di Kopo, yang disaeur pada masa Bupati Bandung R.A.A. Martanagara, 1893-1918)), Situ Aras (di Karasak Utara), Situ Tarate (di Cibaduyut), Situ Aksan (di wilayah milik Haji Aksan, sekitar Jl. Jendral Sudirman sekarang, di masa kolonial disebut juga Westersche Park).

Gua Pawon
Sejak masa penelitian A.C. de Jong (1920an), paleoantropolog Dr. G.R. von Koenigswald (yang menemukan fosil phitecanthropus di Sangiran tahun 1934) hingga W. Rothpletz pada masa pendudukan Jepang, selalu diyakini adanya hunian manusia prasejarah di Dataran Tinggi Bandung. Namun penemuan-penemuan yang dihasilkan hanya artefak yang tersebar di daerah Dago Pakar, sampai Kelompok Riset Cekungan Bandung (K.R.C.B.) berhasil menemukan artefak batu dan sisa berbagai jenis binatang pada sebuah galian uji tahun 2000 di salah satu ruang Gua Pawon. Penemuan ini disusul dengan penemuan fosil kerangka utuh homo sapiens (diduga ras mongoloid) pada kedalaman kurang dari 2 meter di ruang gua yang sama. Ruang gua ini kemudian diberi nama Gua Kopi sesuai dengan sebutan yang diberikan oleh penduduk sekitar. Sebuah bukti keberadaan hunian manusia purba (kemudian disebut Manusia Pawon) di Gua Pawon.

Yang juga menarik, bersama dengan penemuan fosil manusia ini ditemukan pula berbagai peralatan purba yang berasal dari daerah lain. Salah satu bahan pembuatan peralatan tersebut adalah batuan obsidian yang hanya dapat ditemukan di dua tempat di Dataran Tinggi Bandung, yaitu di Kampung Nagrak (sekitar ladang geothermal Darajat, barat daya Kota Garut) dan Kampung Kendan, Nagrek (perbatasan Kab. Bandung dan Kab. Garut). Material lainnya, seperti batuan kalsedon dan jasper, berasal dari daerah Garut Selatan, Gunung Halu dan Sukabumi.

Kawasan Gua Pawon
Gua Pawon baheula berada pada salah satu tepian Danau Bandung Purba. Gua ini sebenarnya lebih merupakan ceruk di dinding bukit yang memiliki banyak ruang (sekitar 10 ruang besar). Sebenarnya ada banyak ornamen gua seperti stalaktit, stalagmit atau flowstone yang pernah menghiasi gua ini, namun sekarang kebanyakan sudah rusak dan hilang diambil oleh kolektor dan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sedikit yang masih tersisa terletak di bagian dinding dalam gua yang tinggi. Bagian dalam gua dihuni oleh ribuan kelelawar sehingga saat memasuki mulut gua akan tercium bau khas kotoran kelelawar atau guano.

Kawasan Gua Pawon terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung, sekitar 25 km dari Kota Bandung. Gua Pawon berada pada salah satu sisi tebing curam bagian dari Pasir Pawon dengan ketinggian 720 m dpl. Di puncak Pasir Pawon terdapat ”taman batu” yang dianggap sebagian kalangan sebagai tempat terindah di kawasan kars Padalarang. Selain tegakan bebatuan yang berserak, juga terdapat sebuah makam yang oleh penduduk setempat dinamakan makam Ibu Dorong Ranggamanik (tidak ada keterangan lain).

Karst
Istilah karst (Indonesia: kars) berasal dari bahasa Slavia krs (baca: kras) yang kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Jerman menjadi karst. Istilah ini dimunculkan pertama kali oleh geolog Cvijic untuk menamai suatu perbukitan di dekat Kota Trieste, Slovenia. Perbukitan ini gersang, kering, panas dan berwarna putih karena batuannya terdiri dari batugamping dan batu kapur yang unsur utamanya adalah senyawa karbonat CaCO3. Senyawa CaCo3 mudah larut jika bereaksi dengan air hujan yang kaya akan CO2. Proses pelarutan batugamping oleh air hujan yan meresap akan mengakibatkan proses abrasi yang menghasilkan bentukan-bentukan alam berupa lubang-lubang dan gua di dalam batuan. Material yang larut juga akan diendapkan di tempat lain serta membentuk endapan-endapan baru yang menjadi penghias lubang dan gua seperti stalaktit, stalagmit, atau flowstone.

Dari perspektif geologis, kawasan Pasir Pawon berada dalam rangkaian formasi batugamping yang disebut Formasi Rajamandala yang membentang dari Tagogapu sebelah utara Padalarang hingga ke Pelabuhanratu. Lebih sempit, wilayah Pasir Pawon berada dalam Kawasan Perbukitan Batugamping Citatah (K.P.B.C. atau biasa diringkas sebagai Kars Citatah) yang membentang dari Tagogapu hingga Padalarang.

Dapat disebut beberapa bukit lain yang ada di sekitar Pasir Pawon, yaitu Gunung Hawu, Pasir Pabeasan dengan Tebing 125-nya, Gunung Manik dengan Tebing 49-nya, Pasir Balukbuk, Pasir Sanghyang Tikoro, dan Pasir Guha yang semuanya berada dalam satu rangkaian atau jalur yang membujur ke arah barat. Ke arah timur terdapat rangkaian Karang Panganten, Pasir Bengkung, hingga Pasir Kamuning, Tagogapu. Kelompok bukit yang “terlepas” dari rangkaian ini dan membentuk kelompok sendiri adalah Pasir Pawon, Gunung Masigit, Pasir Leuit dan Pasir Bancana (untuk mengetahui pemetaan/lokasi persisnya, bisa tanya penduduk sekitar).

– Penelitian Gua Pawon oleh KRCB pada awalnya terfokus pada endapan Danau Bandung Purba di Sungai Cibukur, namun berbagai temuan yang dihasilkan mendorong mereka melanjutkan ke Gua Pawon yang berada di dekatnya. Temuan-temuan berikutnya berhasil mengumpulkan berbagai tinggalan kehidupan purbakala yang meliputi sekitar 20.250 serpihan tulang belulang dan 4.050 serpihan (peralatan) batu.
Di Gua Kopi, pada kedalaman 80 cm berhasil ditemukan fosil tengkorak manusia dan pada kedalaman 120 cm dapat ditemukan fosil tulang kering dan telapak kaki manusia yang selanjutnya disebut Manusia Pawon.

– Kawasan Pawon dahulu juga merupakan salah satu habitat tumbuhan Wijayakusuma (selain di Nusakambangan), sayangnya sekarang tumbuhan itu sudah tidak ditemukan lagi di sini.

– Semua informasi dalam halaman ini disarikan dari buku Amanat Gua Pawon (Budi Brahmantyo & T Bachtiar, ed) terbitan Kelompok Riset Cekungan Bandung, 2004, dengan sedikit tambahan dari sumber lain. Biasanya saya pergunakan sebagai bahan informasi dalam kunjungan-kunjungan ke kawasan Karst Citatah.
Terimakasih Pak Budi & Pak T Bachtiar.