Skip navigation

Category Archives: Ci Kapundung

Ruas Jl. Braga di Bandung tentulah sudah dikenal baik oleh masyarakat, baik sebagai objek wisata berwawasan sejarah atau arsitektur. Sejumlah bangunan tua di Jl. Braga belakangan ini menjadi lebih populer sebagai tempat berfoto-ria yang dilakukan baik oleh kalangan wisatawan atau pun para pelajar dan remaja Kota Bandung. Belakangan Jl. Braga agak mengundang kegaduhan dalam masyarakat sehubungan dengan program revitalisasi yang menggantikan bahan jalan dari aspal dengan batu andesit. Jalan berbatu andesit ini ternyata tak pernah mampu bertahan cukup lama dalam kondisi baik.

Tapi dari pada membicarakan masalah revitalisasi yang tidak vital itu, saya langsung saja ke perhatian utama saat ini, yaitu Kampung Apandi. Ruas Jl. Braga sebetulnya diapit oleh dua kawasan di kiri-kanannya, masing-masing Kampung Apandi di sebelah barat dan sebuah Europeschewijk di sisi timurnya. Europeschewijk yang dulu dikepalai oleh Coorde sekarang menjadi kawasan Kejaksaan Atas dan nama Gang Coorde menjadi Jl. Kejaksaan. Istilah Kejaksaan Atas dan Kejaksaan Bawah adalah istilah tidak resmi dari warga untuk membedakan potongan Jl. Kejaksaan antara Tamblong-Braga dengan Tamblong-Saad.

Di sebelah barat ruas Jl. Braga terletak perkampungan berbentuk memanjang utara-selatan dan secara administratif termasuk ke dalam Kelurahan Braga. Kampung yang padat ini hampir selalu luput dari perhatian saat masyarakat membicarakan masalah Jl. Braga. Hanya kadang-kadang saja perhatian masyarakat ditolehkan ke wilayah ini, yaitu saat banjir besar melanda secara rutin setiap tahunnya. Seperti yang terjadi pada 28 April 2007, tak kurang dari walikota Dada Rosada mendatangi kawasan kampung ini untuk melihat keadaan kampung yang porak-poranda akibat terjangan banjir pada malam sebelumnya.

Di masa Hindia-Belanda, wilayah utama Kampung Apandi terletak di lokasi yang sekarang ditempati oleh Hotel Kedaton. Kampung ini memanjang ke arah selatan sampai sekitar di seberang restoran Braga Permai. Secara perlahan wilayah perkampungan ini digerus oleh zaman. Penyusutan wilayah pertama kali terjadi sekitar tahun 1938 saat pembangunan viaduct. Jembatan kereta api yang melintasi sungai Ci Kapundung di sebelah barat kampung ini sekaligus juga membukakan akses jalan baru dari arah Jl. Braga ke Jl. Banceuy. Jalan baru ini menjadi bagian dari Jl. Suniaraja.

Sebelum pembukaan jalan baru, akses jalan dari Braga menuju Jl. Banceuy hanyalah jalan gang di tengah perkampungan saja. Jalan baru dibuat menyambung dengan potongan Jl. Suniaraja yang bersambungan dengan ujung Jl. Banceuy dan berawal dari persimpangan Jl. Kebonjati. Warga tempo dulu menyebutnya Parapatan Kompa. Di wilayah inilah dulu lahir seseorang yang pada masa remajanya sempat menghebohkan warga Bandung karena berjibaku dengan meledakkan gudang mesiu Jepang di Dayeuhkolot, Mohammad Toha. Sayang sekali detail cerita seputar peledakan ini masih kabur hingga sekarang.

Pembukaan jalan baru yang membelah Kampung Apandi itu sebetulnya merupakan bagian dari sebuah rencana lain yaitu pengembangan ruas jalan di sepanjang jalur sungai Ci Kapundung dimulai dari sekitar viaduct hingga kompleks pertokoan elektronik Banceuy (Cikapundung) sekarang. Entah kenapa rencana ini tidak pernah terwujud.

Penyusutan Kampung Apandi berikutnya terjadi saat didirikannya Hotel Kedaton persis di bekas rumah tokoh setempat yang namanya kemudian diabadikan menjadi nama kampung, H.M. Affandi. Masih belum selesai, berikutnya sebagian wilayah Kampung Apandi menghilang lagi dengan pembangunan kompleks hotel dan mall Braga City Walk yang juga mengambil area bekas pabrik perakitan mobil Mercedez Fuchs & Rens (kemudian Permorin). Dari seluruh bagian bengkel Fuchs & Rens yang masih tersisa adalah ruang pamer mobil yang terletak persis di sisi Jl. Braga. Ruang pamer ini sekarang ditempati oleh restoran Wendy’s. Beberapa bagian bangunan, terutama bagian depan, masih menyisakan bagian asli ruang pamer Fuchs & Rens. Plakat pembangunan ruang pamer yang terbuat dari marmer pun masih dapat dilihat terpasang di tembok depan.

Sekarang bekas wilayah Kampung Apandi tinggal sedikit saja tersisa di sekitar seberang restoran Braga Permai. Persis berhadapan dengan restoran bekas Maison Bogerijen yang terkenal itu terdapat sebuah jalan gang mengarah ke timur. Jalan masuk gang ini cukup unik karena berbentuk lorong jalan di bawah bangunan gedung, yaitu Toko Buku Jawa. Di mulut gang terdapat plang nama jalan bertuliskan Gg. Apandi. Dari mulut gang ini tak sampai 20 meteran, suasana perkampungan sudah langsung terasa.Jalan masuk lain menuju kampung ini dapat melalui Gg. Apandi III dan Jl. Afandi Dalam dari arah Jl. Suniaraja (seberang Hotel Kedaton) yang ditandai dengan keberadaan bengkel-bengkel dan pusat penjualan ban mobil.

Penulisan nama Apandi sebagai nama daerah ini memang memiliki sejumlah variasi. Ada yang menuliskan Apandi, Affandi, atau Affandie. Pengucapan nama Affandi dalam logat Sunda menjadi Apandi tentu merupakan hal yang biasa sekali. Pengucapan ini mempengaruhi pula cara menuliskannya sehingga banyak nama yang ditulis secara resmi menjadi Apandi, seperti pada plang nama gang yang terletak di seberang Braga Permai.

Apandi atau Affandi, seperti yang tertulis pada nisan makamnya di Astana Anyar, adalah tokoh setempat yang dikenali sementara orang sebagai seorang yang sangat ramah pada tetangganya. Pada tahun 1903 Affandi mendirikan sebuah percetakan dengan nama Toko Tjitak Affandi. Percetakan ini termasuk percetakan pribumi angkatan pertama yang banyak mencetak buku-buku berbahasa Sunda. Salah satu terbitannya yang terkenal adalah Wawacan Angling Darma (Martanegara) pada tahun 1906. Buku cerita hiburan ini sempat mengalami cetak ulang oleh penerbit lain namun sayangnya dalam edisi yang agak terbatas. Affandi sendiri sempat menulis beberapa buku, di antaranya sebuah novel berjudul ”Pieunteungeun” yang diterbitkan pada tahun 1937.

Menurut salah satu kerabat H. Affandi, lokasi pendirian Toko Tjitak Affandi ini terletak di Gedung Landmark sekarang. Tanah di wilayah ini sampai ke dekat Jl. Suniaraja memang dimiliki oleh keluarga Affandi. Pada tahun 1922 di lokasi yang sama didirikan sebuah toko buku terkenal, van Dorp, dengan arsitektur bangunan hasil rancangan arsitek terkenal Wolff Schoemaker. Sangat mungkin van Dorp membeli dan melanjutkan percetakan yang memang telah ada sebelumnya.

Mengenai tokoh Affandi ini sebetulnya banyak informasi yang masih samar namun sangat menarik untuk ditelusuri lebih lanjut. Di antara kisah-kisah itu adalah cerita lisan bahwa kerabat-kerabat Affandi memiliki rumah-rumah besar di sepanjang Merdikaweg. Salah satu rumah itu terletak di lokasi berdirinya Bandung Indah Plaza (BIP) sekarang. Rumah lainnya berseberangan dengan gedung Balaikota dan memiliki ruang bawah tanah yang luas.

Menurut catatan dalam buku Braga: Revitalisation in an Urban Development (Wieland, 1997), di awal pembangunan Braga, sudah terdapat sebuah kampung di daerah itu yang bernama Babakan Soeniaradja. Konon pada tahun 1826, terdapat beberapa rumah di antara Sungai Ci Kapundung dan Braga (waktu itu Karrenweg). Kemudian baru pada tahun 1925 tercatat lagi mengenai kampung ini, ketika sejumlah penjaga kuda di jalur Jalan Raya Pos menempati tiga perkampungan, Kampung Banceuy (= bahasa Sunda yang berarti ‘istal’, kandang kuda), Kampung H. Affandi dan Kampung Cibantar. Perkampungan ini terdiri dari rumah-rumah panggung tradisional Sunda.

Ada empat orang yang tercatat sebagai pemilik atau tuan tanah di wilayah itu. Mereka adalah Haji Affandi dengan pemilikan tanah di sebelah barat Jl. Braga, dari tengah hingga ke sekitar viaduct; Asep Berlian dengan pemilikan tanah mulai di belakang eks-Fuchs & Rens ke selatan; Juragan Alketeri yang memiliki sebagian besar tanah di selatan Jl. Banceuy, dan Juragan Yiep Ging yang memiliki bidang tanah mulai dari sekitar Gg. Cikapundung hingga ke selatan Jl. Braga. Selain itu ada juga bagian tanah yang dimiliki oleh pemerintah dan tuan tanah bangsa Belanda, yakni di sebelah barat Jl. Braga bagian selatan hingga sekitar penjara Banceuy.

Sejak terjadi peristiwa kebekaran yang melanda Kampung Apandi tahun 1994, keluarga dan kerabat H. Affandi terpencar dan tinggal ke beberapa daerah lain di Kota Bandung. Pemilikan tanah oleh keluarga keturunan dan kerabat H. Affandi masih berlangsung sampai sekarang, namun sedikit demi sedikit terjual kepada para pengembang.

* * *

Affandie, R.M.A.

1969     Bandung Baheula (Djilid  1 & 2). Guna Utama. Bandung.

Anonim.

1933     “Bandoeng’s Geboorte en Groei: van Desa tot Trotsche Bergstad”. Artikel dalam majalah Mooi Bandoeng, Agustus, 1933.

Amin, Sjarif.

1983     Keur Kuring di Bandung. Pelita Masa. Bandung

Kunto, Haryoto.

1984        Wajah Bandung Tempo Doeloe. Granesia. Bandung.

Moriyama, Mikihiro.

2005        Semangat Baru. KPG. Jakarta.

Schomper, Pans.

1996 Selamat Tinggal Hindia: Janjinya Pedagang Telur. Dorned.

Wieland, H.F.

1997 Braga: Revitalisation in an Urban Development. Department of Architecture, Parahyangan Catolic University. Bandung.

Wawancara :

–          Goerjama, H.R.E.  Kelahiran Bandung, 1925. Wawancara di Bandung, tanggal 19 Februari 2007.

–          Roesman, Tien. Kelahiran Bandung, 1919. Wawancara di Bogor, tanggal 3 Maret 2007.

–          Informasi lisan Malia Nur Alifa.

Advertisements


Semestinya pada hari Minggu, 16 Januari 2011 ini saya dan Komunitas Aleut! akan melakukan kegiatan rutin ngaleut (Sunda: berjalan beriringingan) dengan tema “Merawat Pohon”, namun beberapa hal teknis membuat kegiatan ini dibatalkan. Narasumber yang akan berbagi informasi dan pengetahuan seputar pepohonan dan lingkungan tak dapat hadir sementara kami, para peserta, adalah orang-orang yang sangat awam mengenai hal ini. Tapi kami tidak ingin menyerah. Seorang peserta yang cukup memiliki wawasan tentang lingkungan bersedia untuk berbagi sedikit cerita dan pengetahuannya tentang pohon dan lingkungan. Sebagai rute perjalanan kami pilih saja rute “Ngaleut Taman I”. Komunitas Aleut! memang memiliki puluhan rute-rute standar untuk kegiatan ngaleutnya di Kota Bandung dan sekitarnya. Khusus untuk tema taman, Komunitas Aleut! membaginya menjadi dua rute berbeda.

Setelah terkumpul beberapa belas peserta di Taman Ganesha depan kampus ITB. Perjalanan pun dimulai dengan penceritaan mengenai fungsi taman bagi sebuah kota. Sebuah taman mengumpulkan banyak tetumbuhan dan pepohonan di dalamnya. Kumpulan pepohonan ini memroduksi oksigen yang banyak bagi kebutuhan hidup manusia. Apalagi di sebuah kota dengan tingkat polusi yang cukup tinggi seperti Bandung, keberadaan taman-taman sudah merupakan sebuah keharusan. Pepohonan memberikan oksigen yang dibutuhkan oleh manusia dan menyerap racun yang berkeliaran di udara yang kita hirup sehari-hari. Sebuah taman dalam kota dapat membantu memelihara udara, tanah, air, tumbuh-tumbuhan, dan hewan-hewan .

Di Taman Ganesha ini juga diceritakan tentang latar belakang pembuatannya sebagai penghargaan terhadap perintis pendirian Technische Hooge School (THS yang kemudian menjadi ITB), Dr. Ir. J.W. Ijzerman, sehingga pada masa Hindia-Belanda taman ini dinamakan Ijzermanpark. Sejak awal pendiriannya, Ijzermanpark yang dulu indah ini sudah menjadi tujuan rekreasi warga Kota Bandung. Warga dapat datang untuk sekadar duduk santai atau membaca sambil menghirup udara yang segar atau berjalan-jalan mengelilingi taman sambil menikmati gemercik air mancur di kolam di tengah taman. Hijau rerumputan, berbagai pepohonan dan warna-warni bebungaan memang sangat menyegarkan mata siapa pun yang memandangnya.

Sayang sekali kondisi Taman Ganesha sekarang tidak sebaik dulu karena di berbagai tempat tampak tanah yang becek dan biasa tergenang pada saat hujan, air kolam yang kusam pekat dan tidak ada air yang mancur. Walaupun begitu, sejumlah pepohonan memang masih ada di sini memberikan sedikit keteduhan. Setiap hari Minggu masih tampak warga yang datang piknik ke taman ini sambil menunggui anak-cucunya bermain tunggang kuda di sekitar kawasan ini. Agak aneh juga melihat kondisi ini karena di ujung Jl. Gelap Nyawang kami temui sebuah tiang besi dengan plakat bertuliskan “Kawasan Bersejarah – Revitalisasi Kawasan Taman Ganeca/Ijzerman Park 1919.” Mungkin program revitalisasi memang pernah dilaksanakan di sini, namun yang tampaknya tidak dilakukan  adalah perawatan dan pemeliharaannya.

Dari Taman Ganesha, rombongan ngaleut berjalan ke Jl. Ciung Wanara. Ruas jalan ini cukup bersih. Di kanan-kiri jalan pepohonan masih menjulang tinggi. Sayangnya tidak ada keterangan nama pohon, sehingga hanya beberapa pohon saja yang berhasil dikenali. Di antaranya adalah pohon kersen. Pohon yang rindang dengan daun-daun kecil ini masih satu keluarga dengan pohon sakura. Daun dan bunganya yang berwarna putih, berukuran kecil-kecil namun cantik. Saat masih anak-anak di Kampung Pasirmalang, saya senang naik ke atas pohon kersen dan duduk-duduk hingga tertidur di dahannya. Teduhnya pohon dan sejuknya angin semilir masih suka terbayang bila melihat pohon kersen. Pengalaman itu tak pernah terulang lagi hingga kini.

Ruas Jl. Ciung Wanara tampaknya terpelihara cukup baik. Beberapa papan pengumuman berisi pesan agar tidak melukai dan merusak pohon terpasang di beberapa tempat. Mungkin itu sebabnya pepohonan di sini bersih dari kotoran tempelan-tempelan pengumuman atau iklan-iklan yang biasa dipasang pada pohon. Untuk sampah pun warga menyediakan tong-tong khusus dengan keterangan yang jelas fungsinya. Ini pembelajaran yang sangat baik untuk masyarakat awam.

Saya teringat kegiatan Komunitas Aleut! pada 19 Desember 2010, yang untuk kesekian kalinya mengadakan perjalanan menyusuri sungai Ci Kapundung. Di sekitar Kelurahan Taman Sari kami saksikan sendiri bagaimana warga kampung padat itu membuat papan-papan pesan kebersihan lingkungan sepanjang aliran sungai secara swadaya. Saat itu saya berpikir bahwa cara paling baik dalam menyebarkan rasa kepedulian masyarakat terhadap lingkungan adalah dengan cara pelibatan langsung anggota masyarakat dan bukan melalui penyuluhan-penyuluhan formal yang seringkali terasa membosankan dan akhirnya tidak didengarkan. Di Taman Sari kami saksikan sendiri warga yang bangga terhadap Ci Kapundung walaupun mereka tau persis seperti apa kotornya air yang mengalir melalui kampungnya. Dengan bangga dan gembiranya mereka berenang dan bermain di Ci Kapundung. Dengan bangga pula mereka menjaga sendiri kebersihan Ci Kapundung di wilayahnya.

http://www.facebook.com/album.php?aid=272090&id=519229089

Pada tubuh pepohonan di ruas Jl. Ciung Wanara rombongan Aleut! dapat memerhatikan beberapa karakter pohon, seperti lumut kerak yang menempel pada batangnya. Lumut kerak ini dapat dijadikan petunjuk mengenai tingkat polusi lingkungan di sekitarnya. Kualitas udara memengaruhi keberadaan lumut kerak, semakin sedikit lumutnya adalah tanda semakin rusaknya lingkungan sekitar. Tak heran, Jalan Dago memang ruas jalan yang selalu ramai oleh kendaraan sejak dulu, apalagi belakangan ini kepadatan lalu-lintas di Dago dan sekitarnya semakin meningkat saja, hampir setiap akhir pekan selalu saja macet oleh kepadatan kendaraan. Semua kendaraan ini memroduksi racun yang dikeluarkan melalui knalpotnya dan kita hirup sepanjang waktu.

Perjalanan dilanjutkan ke arah bekas Taman Cikapayang yang berada di depan Gereja GII. Yang disebut sebagai Taman Cikapayang saat ini adalah bekas lokasi pom bensin di depan gereja dan sekarang sering dijadikan tempat berkumpulnya anak-anak muda Bandung untuk melakukan berbagai kegiatan. Di bagian depan taman terdapat tulisan warna-warni berukuran besar, D-A-G-O. Walaupun tampak asri oleh bebungaan namun taman ini tidak tampak rindang seperti keadaannya dulu. Sampai akhir tahun 1990-an Taman Cikapayang (paralel dengan Jl. Cikapayang) masih dapat disaksikan bersambung dengan Taman Surapati (paralel dengan Jl. Prabudimuntur) di seberangnya. Namun kedua taman ini ternyata harus berkorban karena dilenyapkan untuk pembangunan jalan layang Pasupati pada awal tahun 2000-an.

Dari Taman Cikapayang rombongan menuju ke Rektorat ITB di simpang Jl. Sulanjana-Jl. Taman Sari. Mulai dari sini banyak sekali kami saksikan penyiksaan pepohonan di sepanjang jalan yang kami lalui. Sejumlah iklan dipaku di batang pohon. Untuk menempelkan selembar kertas berlapis plastik (!) pemasangnya menggunakan paku berukuran sekitar 5cm! Empat paku untuk setiap iklan yang ditanam dalam-dalam pada batang pohon. Iklan yang gambarnya ada di bawah ini tampaknya disebarkan di banyak tempat karena saat pulang nanti saya masih akan melihat iklan-iklan serupa di pasang juga pada batang pepohonan di sekitar Jl. Lengkong Besar. Berapa banyak pohon yang teraniaya untuk sebuah iklan yang jelek seperti ini? Masih ada puluhan atau mungkin ratusan paku lainnya dapat ditemui di pohon-pohon, sebagian besar sudah berkarat karena sudah lama dibiarkan menancap di sana.

Saya ingin tahu juga adakah aturan yang melindungi keberlangsungan kehidupan pepohonan di perkotaan? Adakah aturan yang dapat melarang perusakan pohon seperti ini? Bila tidak ada dan ini dianggap perlu, kenapa tidak dibuatkan segera aturannya? Bila memang aturan tersebut ada, kenapa pihak yang berwenang tidak langsung saja menghubungi nomor-nomor kontak yang tertera pada iklan atau siapa pun yang harus bertanggung-jawab atas pemasangannya agar mempertanggung-jawabkan perbuatannya? Atau dapatkah kita yang peduli lingkungan, komunitas-komunitas, para pegiat lingkungan dan alam, atau LSM-LSM melakukan penyadaran dalam masyarakat yang lebih luas tentang bagaimana seharusnya memperlakukan pepohonan dan tumbuh-tumbuhan di sekitar kita? Penyadaran tentang pentingnya memelihara kesehatan dan kehidupan pepohonan di sekitar kita…

Di persimpangan Jl. Sulanjana-Jl. Taman Sari ini kami saksikan juga hal lain. Sebuah spanduk yang sudah sangat kusam, berlubang-lubang dan terpilin, masih saja berkibar dengan gagahnya entah untuk tujuan apa. Spanduk kumuh ini bergabung dengan seliweran kabel-kabel, tempelan berbagai poster iklan di tiang listrik, plang ini-itu yang semuanya menyatu merusak pemandangan kota, merusak penglihatan warga kota. Ribuan tempelan poster di tembok-tembok dan tiang-tiang di Kota Bandung tidak pernah dibersihkan setelahnya. Tak adakah aturan untuk hal semacam ini?

Menjaga keasrian suasana kota adalah tanggung jawab kita semua, tetapi tanpa ada aturan yang jelas sering membuat kesadaran sebagian warga malah berujung dengan perasaan frustrasi. Bapak Sariban bisa memiliki kesadaran untuk mencabuti paku-paku dari pepohonan sementara pada saat yang sama ratusan paku lainnya sedang ditancapkan di seantero Bandung. Kadang-kadang Komunitas Aleut! juga mengumpulkan sampah-sampah di lokasi tertentu (seperti pernah dilakukan di Pawon, Manglayang, Jl. Braga, Gn. Patuha, dll) namun betapa frustrasinya saat mengetahui bahwa pada saat yang sama dan di lokasi yang sama sampah-sampah terus ditaburkan oleh warga lainnya. Apa hasil dari kesadaran yang baik? Ke mana semua ini akan berujung?

Baiklah, jawabannya mungkin akan klise, seperti yang sering didengungkan di rumah-rumah ibadah tentang berbuat baik, seperti yang dicontohkan oleh Bapak Sariban, bahwa apapun yang terjadi maka nyala kesadaran yang betapa pun kecilnya tak boleh padam. Sekecil apa pun yang dapat kita lakukan dalam menjaga lingkungan ini akan selalu ada gunanya. Nyala yang kecil tetap lebih baik ketimbang mati sama sekali. Nyala yang kecil adalah harapan. Hari ini Komunitas Aleut! berikrar bahwa dengan caranya sendiri akan selalu menyertakan agenda kesadaran lingkungan dalam setiap kegiatannya.

Sekarang satu orang disadarkan, besok satu orang lagi, lusa satu orang lagi, minggu depan satu orang lagi, bulan depan satu orang lagi, dan begitu seterusnya, sampai entah kapan akan dapat kita lihat bersama bahwa ternyata masih lebih banyak orang yang memiliki dan melaksanakan kesadarannya daripada yang tidak. Hingga suatu saat nanti pemandangan seperti ini dapat kita saksikan di setiap penjuru kota, di setiap rumah dan gedung, dan di setiap waktu tanpa harus jauh-jauh pergi ke pinggiran kota seperti sekarang ini….

Ridwan Hutagalung – Komunitas Aleut!

aleut.wordpress.com

Catatan :

–          Komunitas Aleut! adalah sebuah komunitas independen di Kota Bandung, sebagian besar anggotanya terdiri dari mahasiswa yang berasal dari berbagai sekolah tinggi di Bandung. Awalnya perhatian komunitas ini ditujukan hanya untuk pengembangan wawasan sejarah masyarakat umum, namun belakangan berkembang menjadi komunitas belajar dengan minat yang luas, apresiasi sejarah, apresiasi wisata, apresiasi film dan musik, apreasiasi lingkungan, dst. Saat ini anggota resmi yang tercatat sekitar 300 orang (registrasi 2009/2010). Sejak terbentuk pada tahun 2006, hampir setiap minggu mengadakan perjalanan (berjalan kaki) dengan tema dan rute tertentu di Kota Bandung dan sekitarnya. Setiap hasil perjalanan dituliskan dalam catatan di facebook atau blog pribadi yang kemudian dikumpulkan dalam aleut.wordpress.com

–          Kata “ngaleut” atau “aleut” dalam catatan ini sengaja tidak dimiringkan karena sudah kami anggap sebagai kosa kata sehari-hari kami. Kata “aleut” berasal dari bahasa Sunda yang artinya “berjalan beriringan”.

–          Link tentang Bapak Sariban http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=165229

Foto-foto : Ridwan Hutagalung dan Komunitas Aleut!

Sumber :

–          Tim Penulis PR, 2010, 200 Ikon Bandung; Ieu Bandung, Lur!, Pikiran Rakyat, Bandung.

–          Informasi Nara Wisesa dalam “Ngaleut Taman I”, 16 Januari 2011

–          Diskusi FB Bpk. Sobirin http://www.facebook.com/photo.php?fbid=145831052138916&set=at.104755639579791.17673.100001360672886.100001360672886&ref=nf

–          Informasi dari Bpk. Joko Kusmoro dan Bpk. Prihadi S dari Arboretum Unpad saat “Ngaleut Arboretum”, tanggal 9 Januari 2011.

by Ridwan Hutagalung on Monday, January 17, 2011 at 1:17pm

Berikut ini beberapa catatan perihal objek-objek yang berada dalam kawasan Tahura Ir. H. Djuanda yang menjadi tujuan belajar bersama dalam kegiatan Jajal Geotrek 6 yang dilaksanakan oleh Penerbit Truedee.

Pada masa kolonial Kota Bandung dikenal sebagai kota yang asri karena memiliki sangat banyak taman sebagai penghias kotanya. Tak aneh bila saat itu Bandung populer sebagai kota taman. Di tengah kesibukan pembangunan berbagai sarana perkotaan, taman juga menjadi perhatian penting bagi pemerintah saat itu sehingga di sudut- sudut kota dibangun berbagai taman yang dirancang dengan indah. Kondisi seperti ini melahirkan banyak sebutan yang memuji keadaan Kota Bandung waktu itu, de bloem van bergsteden (bunganya kota pegunungan), Europa in de tropen (Eropa di wilayah tropis), sampai the garden of Allah.

Taman-taman yang asri seperti ini sangat menyejukkan dan menyegarkan bagi warga kota sehingga menjadi tujuan rekreasi yang mudah dan sangat murah bagi siapapun. Setiap saat warga kota dapat melakukan rekreasi ke taman-taman ini, sejak pagi hingga malam hari. Sangat menyenangkan…

Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda


Taman terbesar yang pernah dibangun oleh pemerintah Hindia-Belanda berbentuk hutan lindung dengan nama Hutan Lindung Gunung Pulosari. Perintisan taman ini mungkin sudah dilakukan sejak tahun 1912 berbarengan dengan pembangunan terowongan penyadapan aliran sungai Ci Kapundung (kemudian hari disebut sebagai Gua Belanda), namun peresmiannya sebagai hutan lindung baru dilakukan pada tahun 1922.

Sebagai taman hutan raya, maka Hutan Lindung Gunung Pulosari ini merupakan taman hutan raya yang pertama didirikan di Hindia-Belanda. Pada tahun 1965 taman hutan raya ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat waktu itu, Brigjen. H. Mashudi, sebagai Kebun Raya atau Hutan Rekreasi. Baru pada tanggal 14 Januari 1985 taman hutan diresmikan oleh Presiden Soeharto sebagai Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Tanggal peresmian ini memang bertepatan dengan hari kelahiran Pahlawan Kemerdekaan, Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, seorang tokoh nasional yang pernah memangku 18 jabatan menteri dalam rentang waktu antara 1946-1963.

Letak Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda berada di Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, pada ketinggian antara 770 mdpl sampai 1330 mdpl. Di atas tanahnya yang subur terdapat sekitar 2500 jenis tanaman yang terdiri dari 40 familia dan 112 species. Pada tahun 1965 luas taman hutan raya baru sekitar 10 ha saja, namun saat ini sudah mencapai 590 ha membentang dari kawasan Pakar sampai Maribaya. Saat ini pengelolaannya dilakukan oleh Dinas Kehutanan Pemda Provinsi Jawa Barat (sebelumnya berada di bawah naungan Perum Perhutani)

Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda dapat dikunjungi setiap hari. Waktu bukanya antara jam 08.00-18.00. Setiap pengunjung dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 8.000,- (tahun 2010). Kawasan ini biasanya cukup ramai pada akhir pekan, terutama hari Minggu pagi saat banyak orang datang berekreasi sekadar menikmati suasana atau berolah-raga lintas alam dengan rute Tahura-Maribaya sepanjang 6 kilometer. Jarak ini biasa dapat ditempuh berjalan kaki sekitar 2-3 jam (tergantung kondisi). Yang pasti berjalan kaki melintasi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda ini sangat menyenangkan karena selain keasrian lingkungannya, juga memberikan kesegaran karena udara yang relatif bersih.

Sebagian jalan setapak dalam hutan ini sudah dilapisi paving block sehingga memudahkan perjalanan. Di beberapa tempat terdapat warung-warung yang menyediakan penganan ringan dan minuman. Bagi pengunjung tersedia juga berbagai fasilitas seperti pusat informasi, musholla, shelter, taman bermain, dan toilet. Bila berminat untuk menjelajah, dapat mengunjungi berbagai objek seperti Monumen Ir. H. Djuanda, Gua Jepang dan Gua Belanda, Kolam Pakar, serta 3 buah air terjun, Curug Omas, Curug Lalay, dan Curug Dago. Letak Curug Dago agak terpisah sekitar 1 km sebelah selatan, sedangkan Curug Omas (dan beberapa curug lain) dapat ditemui di akhir perjalanan lintas alam Tahura-Maribaya. Jangan lewatkan juga untuk mengunjungi Museum Ir. H. Djuanda yang menyimpan berbagai dokumentasi piagam dan medali penghargaan yang pernah diterima oleh Ir. H. Djuanda. Koleksi lain dalam museum ini adalah artefak kebudayaan purba yang pernah ditemukan di kawasan Dago Pakar.

Gua Jepang & Gua Belanda

Gua Belanda mulai dibangun pada tahun 1912 dengan membobol bukit di sisi aliran sungai Ci Kapundung. Fungsi awalnya adalah sebagai saluran penyadapan aliran sungai untuk keperluan pembangkit tenaga listrik. Tahun 1918 tampaknya ada perubahan atau penambahan fungsi gua karena di dalam gua ditambahkan ruang-ruang dan cabang lorong hingga panjang keseluruhan gua mencapai 547 meter. Tinggi mulut gua 3,2 meter dan jumlah cabang lorong 15 buah. Beberapa ruang tampak seperti ruang tahanan. Setelah terjadinya perubahan fungsi, maka dibuatlah jalur air yang baru menggunakan pipa-pipa besar yang ditanam di bawah tanah kawasan Tahura. Kemungkinan Belanda juga menjadikan gua ini sebagai tempat penyimpanan mesiu. Saat masuknya tentara Jepang, Belanda sempat menggunakan gua ini sebagai Pusat Telekomunikasi Militer Hindia-Belanda bagi tentaranya.

Pada masa penjajahan Jepang, fungsi gua sebagai gudang penyimpanan senjata dan mesiu dilanjutkan sambil menambahkan gua-gua baru lainnya di dekatnya (1943-1944) yang belakangan disebut sebagai Gua Jepang. Untuk membangun gua ini, Jepang menerapkan kerja paksa (romusha) pada penduduk saat itu. Gua-gua ini kemudian juga menjadi tempat pertahanan terakhir Jepang di Bandung. Setelah kemerdekaan RI gua-gua ini tidak terperhatikan dan baru ditemukan kembali pada tahun 1965 dengan kondisi tertutup alang-alang dan tetanaman yang lebat. Saat itu di dalam gua banyak didapati amunisi bekas tentara Jepang pada masa Perang Dunia II. Sejak ditemukannya, Gua Jepang masih berada dalam kondisi aslinya sementara Gua Belanda sudah mengalami 3 kali perbaikan.

P.L.T.A Pakar

PLTA pertama yang dibangun di aliran Sungai Ci Kapundung adalah Waterkracht werk Pakar aan de Tjikapoendoeng nabij Dago (PLTA Pakar, belum jelas di mana lokasinya). Produknya adalah tenaga listrik yang didistribusikan ke rumah-rumah di Bandung dan sekitarnya oleh Bandoengsche Electriciteit Maatscappij. PLTA yang masih ada saat ini adalah PLTA Bengkok yang sudah beroperasi sejak tahun 1922. Gedung yang masih berdiri sekarang dibangun tahun 1923 dan di dalamnya masih dapat ditemukan mesin-mesin buatan tahun 1922, di antaranya mesin pendingin Ceber-Stroco Henegelo dan generator Smit Slikkerveer.

Untuk menggerakkan turbin di PLTA ini, air Sungai Ci Kapundung dialirkan melalui saluran khusus yang kemudian ditampung di kolam pengendapan lumpur dan kolam penenang di kawasan Tahura Ir. H. Djuanda (dibangun tahun 1918). Kolam ini sering disebut dengan Kolam Pakar. Melalui pintu pembuang, air memasuki suatu saluran dan menuju pipa pesat sepanjang ± 500 m (tinggi jatuh air sekitar 104 meter) dan kemudian dijadikan pembangkit generator. Listrik yang dihasilkan lalu disalurkan untuk rumah-rumah orang Belanda yang berada di daerah Bandung Utara.

Sejak tahun 1920, pengelolaan distribusi listrik ditangani oleh Gemeenschappelijk Electrisch Bedrift Bandoeng en Omstreken atau G.E.B.E.O. (kemudian menjadi PLN). Menurut salah seorang mantan pekerja di Radio Malabar di Gunung Puntang, pembangunan pembangkit listrik di utara Bandung ini juga difungsikan untuk menambah pasokan kebutuhan listrik dalam mengoperasikan stasiun pemancar Radio Malabar.

Selain PLTA Bengkok, di tempat terpisah di kawasan ini juga terdapat PLTA Dago yang selain berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik juga untuk memenuhi kebutuhan PDAM.

Curug Dago

Air Terjun atau Curug Dago atau terletak sekitar 1 kilometer di sebelah selatan kawasan Tahura Ir. H. Djuanda. Tinggi air terjun ini hanya 15 meter, namun aliran deras sungai Ci Kapundung serta bentuk curugnya menimbulkan suara yang cukup membahana di sekitarnya. Sebagian kalangan menganggap curug ini memiliki kesan magis dan menganggapnya keramat.

Salah seorang yang tertarik dengan keindahan dan suasana mistik Curug Dago adalah seorang raja dari Thailand yang sedang berkunjung ke Bandung, yaitu Chulalongkorn bergelar Rama V beserta anaknya Pangeran Pravitra Vandhanodom. Mereka mengunjungi Curug Dago pada tahun 1902. Dari hotel Homann tempat menginap, mereka mengunjungi Curug Dago dengan mengendarai kuda. Dalam kunjungannya itu Raja Thailand meninggalkan sebuah prasasti bertuliskan nama sang raja, beserta umur serta tahun kunjungan yang ditulis dalam penanggalan dan bahasa Thailand. Prasasti ini masih dapat dilihat sekarang berdampingan dengan sebuah prasasti lain tinggalan cucu sang raja, yaitu Pangeran Prajatiphok Paramintara (Rama VII) yang menapaktilasi kunjungan kakeknya pada tahun 1929. Kedua prasasti ini lama tak diketahui keberadaannya sampai ditemukan kembali pada tahun 1989.

Menurut Bhiksu Prawithamtur dari Vihara Menteng Jakarta yang juga pernah mengunjungi Curug Dago tahun 1989, “Apabila seorang raja Thailand bersemedi dan menuliskan namanya di suatu tempat, maka selain untuk kenangan, biasanya panorama alam pada lokasi itu indah, juga dianggap suci dan keramat.”

Kawasan Pakar

Kawasan Pakar di Bandung utara sudah sejak lama dikenali sebagai kawasan permukiman manusia purba di sekitar Bandung. Ada dugaan bahwa kata pakar bersesuaian dengan kata pakarang dalam bahasa Sunda yang artinya adalah alat bela diri atau senjata. Memang sejak masa Hindia-Belanda sangat banyak ditemukan berbagai benda kuno di wilayah ini. Benda-benda tersebut umumnya terbuat dari bahan batu obsidian dalam bentuk mata tombak, mata panah, kapak, alat asah dan banyak lagi lainnya. Dr. G.H.R. von Koenigswald melakukan penelitian intensif atas berbagai temuan dari dataran tinggi Bandung ini pada tahun 1935. Menurutnya temuan benda purba di sekitar Bandung mewakili beberapa zaman dan dapat dengan mudahnya ditemukan berserakan di permukaan tanah (1956).

Dr. W. Rothpletz, seorang sarjana geologi, juga banyak melakukan penelitian di daerah Pakar pada masa setelah kemerdekaan. Melihat potensi kawasan ini sebagai objek penelitian, maka Rothpletz pernah berupaya menjaga kelestarian Pakar dengan mendirikan sebuah prasasti ‘historical site’ di daerah Kordon. Namun di kompleks ini sekarang malah sudah berdiri sebuah Sekolah Dasar.

Sebelumnya di wilayah yang sama sudah banyak pula ditemukan berbagai arca dan benda kuno seperti yang telah dikumpulkan oleh R.D.M. Verbeek dan kemudian dicatat secara lengkap oleh Dr. N.J. Krom dalam Rapporten Oudheidkundige Dienst pada tahun 1914. Semua benda ini sekarang telah menjadi koleksi Museum Nasional di Jakarta. Tampaknya karena itulah pada tahun 1917, sebuah kelompok bernama Bandoengsche Committee tot Natuurbescherming (Komite Perlindungan Alam Bandung) yang dipimpin oleh Dr. W. Docters van Leeuwen merencanakan mendirikan sebuah museum alam terbuka dengan nama Soenda Openlucht Museum di daerah Dago Pakar. Sayangnya cita-cita museum alam ini tidak pernah terwujud.

Mungkinkah pemerintah dan masyarakat sekarang mau memulai kembali mewujudkan berbagai perhatian dan rencana yang sudah dirintis sejak awal abad ini?

Ridwan Hutagalung (dan bukan Saragih atau pun Siregar, hehe)

Sumber :

–           , 2007, Taman Huta Raya Ir. H. Djuanda, Pemerintah Propinsi Jawa Barat, Dinas Kehutanan, 2007

Komunitas Aleut!, 2010, Bandung; Where to Go, Intisari, Jakarta

Kunto, Haryoto, 1986, Semerbak Bunga di Bandung Raya, P.T. Granesia, Bandung

Kunto, Haryoto, 1989, Savoy Homann Bidakara Hotel; Persinggahan Orang-Orang Penting, Panghegar Group, Bandung

Sakri, Adjat (ed), 1979, Dari TH ke ITB, Penerbit ITB, Bandung

Suharto, Imtip Pattajoti, 2001, Journeys to Java by a Siamese King, The Ministry of Foreign Affair, Thailand

Wawancara dengan Bpk. Fathul Qodim, Staf Pemanfaatan THR Ir. H. Djuanda, 3 September 2009

Catatan :

Notes in dipublish juga di http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=1036

by Ridwan Hutagalung on Wednesday, March 3, 2010 at 12:58am

Pada tanggal 27 Februari lalu, Truedee menyelenggarakan sebuah program tour dengan nama Jajal Geotrek III (Tangkuban Parahu-Kebun Teh Hegarmanah/Ciater). Sebelumnya sudah dua program Jajal Geotrek diselenggarakan, masing-masing Jajal Geotrek I (tak ikut dan tak punya datanya euy, tapi jalurnya di sekitar utara Kota Bandung, antara Gunung Batu sampai Batuloceng) dan Jajal Geotrek II : Gn. Puntang-Malabar (28 November 2009). Bisa dipastikan semua program susur alam tersebut berlangsung dengan meriah dan menyenangkan bagi semua pesertanya, apalagi dua interpreter andal selalu menyertai perjalanan ini, Budi Brahmantyo dan T. Bachtiar.

Penamaan program Jajal Geotrek tentu saja berhubungan dengan buku Wisata Bumi Cekungan Bandung yang ditulis oleh Budi Brahmantyo & T. Bachtiar dan diterbitkan oleh Truedee Pustaka Sejati (Bandung, 2009). Buku ini memuat 9 jalur perjalanan dengan muatan geowisata di Kota Bandung dan sekitarnya. Setiap jalur dirangkai dengan menarik agar selalu memiliki benang merah dan mampu menyampaikan serpihan informasi dari berbagai disiplin ilmu terutama geologi, geografi, ilmu sejarah, dan pengetahuan lingkungan hidup. Jalur-jalur geotrek dalam buku inilah yang kemudian dibuatkan paket-paket “praktek”nya oleh Truedee dengan nama Jajal Geotrek.

Lalu apa yang menarik dari program Jajal Geotrek? Yang paling utama tentunya kehadiran kedua interpreter yang memang paham betul tentang objek-objek yang dikunjungi. Sejak rombongan menjejakkan kaki di sisi Kawah Ratu, mengalirlah semua penjelasan tentang fenomena alam yang dikunjungi oleh rombongan. Mulai dari sejarah kelahiran Gunung Tangkuban Parahu, gunung-gunung purba yang mendahuluinya dan kaitannya dengan danau purba di cekungan Bandung. Berbagai tipe gunung api dan letusannya serta fenomena alam di sekitarnya juga disampaikan dengan bahasa ringan disertai contoh-contoh dan gurauan yang memudahkan penyerapan informasi oleh para peserta (semoga bener..).

Dengan interpreter yang sangat egaliter, perjalanan yang ditempuh oleh seluruh rombongan menjadi tidak terasa membebani. Hubungan yang terbentuk tidak lagi seperti antara “ahli” dengan “awam” melainkan lebih sebagai sesama teman. Semua pertanyaan akan mendapatkan jawaban sepanjang penguasaan pengetahuan interpreter (dan akan diakui dengan rendah hati bila ternyata mereka tidak menguasai topik-topik tertentu). Bagi saya pribadi, kerendah-hatian seperti ini telah berhasil memperpendek jarak-jarak pengetahuan, pengalaman, dan senioritas antara interpreter dengan para peserta tour. Saya sendiri selalu percaya egalitarianisme adalah jalan masuk paling efektif untuk masuk ke generasi yang lebih muda. Sayangnya fenomena ini bukanlah fenomena yang cukup umum dalam sebagian besar masyarakat kita.

Demikianlah perjalanan-perjalanan Jajal Geotrek yang diselenggarakan oleh Truedee telah berhasil memberikan banyak bekal bagi para pesertanya, tidak melulu tentang keindahan objek alam yang memang sudah tersedia dengan sendirinya namun juga berbagai fenomena dan cerita lain yang melatarinya.

Jajal Geotrek III mengambil Jalur Geotrek I dari buku Wisata Bumi Cekungan Bandung dengan rute Kawah Ratu-Kawah Upas-Kawah Domas-Hutan Tropis-Kebun Teh Hegarmanah/Ciater. Semua jalur perjalanan ini ditempuh dengan berjalan kaki kecuali perjalanan berangkat dan pulang ke titik awal dan dari titik akhir yang ditempuh dengan menggunakan dua buah bis. Biaya Rp. 120.000/orang ternyata tidak menyurutkan jumlah peserta yang antusias untuk turut dalam perjalanan ini, tercatat ada 56 orang peserta (nyontek catatan Ruri) yang hadir. Biaya tersebut dipergunakan untuk keperluan transportasi, makan siang, tiket masuk kompleks Tangkuban Parahu, dan mencetak leaflet yang sangat bagus dan informatif.

Dengan makna perjalanan yang seperti ini tampaknya saya sudah mencatatkan diri untuk selalu serta dalam program-program Jajal Geotrek berikutnya, bukan demi kesenangan mengikuti tour itu sendiri (yang secara mingguan saya lakukan juga bersama Komunitas Aleut!) melainkan lebih demi kecintaan saya terhadap kota yang menjadi tempat hidup saya sekarang, Bandung.

Terimakasih untuk Truedee (Ummy & Ruri), Budi Brahmantyo, dan T. Bachtiar.