Skip navigation

Category Archives: Aleut!

SEKILAS SENI BELUK

Seni beluk adalah seni vokal tanpa iringan instrumen khas masyarakat Sunda yang sekarang ini sudah langka sekali ditemui. Sebarannya adalah wilayah agraris dan terutama di dataran-dataran tinggi, mulai dari Banten hingga Sumedang dan Tasikmalaya. Namun sayangnya sebaran yang luas ini tidak berarti bahwa seni beluk (mungkin juga seni tradisional lainnya) memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman. Salah satu yang masih bertahan adalah beluk dari Batu Karut, Desa Lebakwangi, Banjaran.

Di Lebakwangi seni beluk masih cukup sering ditampilkan dalam upacara-upacara seperti yang berhubungan dengan kelahiran bayi. Penyajiannya biasa dilakukan di ruang tengah rumah dengan alas tikar. Penyaji beluk yang biasanya terdiri dari empat orang duduk bersila diapit keluarga tuan rumah dan membentuk pola lingkaran. Penyajian seperti ini terasa agak aneh buat saya mengingat “nyanyian” beluk yang banyak berbentuk lengkingan vokal. Lengkingan seperti ini memang akan terasa ingar-bingar bila dikumandangkan dalam ruangan tertutup seperti di rumah. Namun tampaknya sekarang hal ini sudah menjadi kelaziman pula.

Seni lengking vokal ini diperkirakan berasal dari tradisi bersawah-ladang sebagai media komunikasi antarpetani. Masyarakat Baduy dulu sering berteriak dengan nada mengesankan bila sedang berada dalam hutan atau ladang sorang diri. Teriakan yang bisa dilakukan sebagai pengusir sepi atau juga memberitahukan keberadaannya di dalam hutan. Konon bentuk nyanyian dengan nada-nada tinggi, mengalun dan meliuk-liuk adalah bagian dari ekspresi masyarakat ladang saat berkomunikasi dengan sesama komunitasnya yang mempunyai pola tinggal menetap namun saling berjauhan.

Seni beluk mirip dengan karinding dalam hal tidak termasuk kategori seni pertunjukan dan lebih bersifat hiburan personal, sarana menghibur diri, dan pengusir rasa sepi. Belakangan, kesenian ini lebih banyak dipakai untuk keperluan ritual seperti dalam syukuran 40 hari kelahiran bayi. Ada empat orang penyaji utama dengan peranan yang berbeda. Disebut penyaji utama karena sebetulnya hadirin juga diperbolehkan untuk turut serta menyajikannya. Empat peranan tersebut adalah 1) tukang ngilo atau juru ilo, 2) tukang ngajual, 3) tukang meuli, dan 4) tukang naekeun.

Tukang ngilo adalah pembaca syair secara naratif. Pembacaan dilakukan dalam tempo sedang dengan artikulasi yang jelas dan dibacakan per padalisan (baris). Syair-syair beluk berasal dari naskah-naskah cerita babad atau wawacan dan disajikan dalam bentuk pupuh yang berjumlah 17, yaitu asmarandana, balakbak, dandanggula, durma, gambuh, gurisa, juru demung, kinanti, ladrang, lambang, magatru, maskumambang, mijil, pangkur, pucung, sinom, dan wirangrong.

Tukang ngajual menyanyikan syair yang dibacakan tukang ngilo sesuai dengan pupuhnya, namun cara menyanyikannya tanpa ornamen. Tukang meuli melanjutkan sajian tukang ngajual dengan tambahan ornamen pelengkap. Sedangkan tukang naekeun melanjutkan sajian tukang meuli dengan nada-nada tinggi dan meliuk-liuk. Di bagian ini ornamentasi vokal sangat dominan sehingga artikulasi tidak diutamakan dan bisa menjadi sangat kabur. Setiap tukang naekeun menyelesaikan satu bait, seluruh hadirin dan para penyaji lainnya memungkas lagu secara secara bersama (koor).

Dalam penyajian beluk dikenal beberapa teknik, seperti nyurup yaitu kesesuaian dengan laras yang dibawakan; jentre artikulasi yang jelas; eureur kesesuaian vibrasi dengan kalimat lagu; senggol ketepatan ornamentasi; leotan ketepatan nada yang digunakan; embat walaupun musik vokal ini bertempo bebas, namun tetap ada acuan metris-melodis kendati sangat samar; pedotan ketepatan waktu untuk mengambil nafas; renggep atau saregep keseriusan dalam penyajian; cacap kata demi kata harus disajikan sampai tuntas; bawarasa ekspresi dalam penyajian; dan bawaraga penegasan suasana dengan gestur yang dianggap menarik.

Sebagai bentuk kesenian yang lahir dari keseharian masyarakat agraris yang sederhana, dalam penyajiannya seni beluk tidak menerapkan aturan berpakaian tertentu. Yang paling umum ditemui menggunakan baju takwa, sarung, kopiah, dan celana panjang saja. Pembagian peranan dalam penyajian beluk juga memberi ciri masyarakat agraris yang senang bergotong-royong, bekerja-sama dan berkomunikasi secara harmonis.

Demikianlah rangkaian catatan yang berhubungan dengan beberapa objek dalam kegiatan Komunitas Aleut! pekan lalu.

Sumber informasi untuk keempat bagian tulisan tentang Ngaleut Dayeuhkolot-Banjaran :

– “Bandung in the Early Revolution 1945-1946”, John R.W. Smail, Cornell Modern Indonesia   Project, New York, 1964

– “Dewi Sartika”, Rochiati Wiriaatmadja, Dep. PDK, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1983/1984

– “Kisah Perjuangan Unsur Ganesa 10 Kurun Waktu 1942-1950”

– “Musical Instruments – A Comprehensive Dictonary”, Sibyl Marcuse, The Norton Library, New York, 1975

– “Saya Pilih Mengungsi”, Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Ristadi Widodo Kinartojo, Ummy Latifah Widodo, Bunaya, Bandung, 2002

–  Keterangan juru kunci Makam Leluhur Bandung, 18 & 20 Maret 2011

–  Keterangan juru kunci Situs Rumah Adat Kabuyutan, Batu Karut, Bapak Enggin, 20 Maret 2011

–  Kliping Bandung Lautan Api di HU Pikiran Rakyat 16-28 Maret 2007

–  Beluk Kehilangan Regenerasi, Pikiran Rakyat, 31 Januari 2011

–  Sampul album CD “Beluk Dzikir – Nyanyian Banten Jawa Barat”, produksi Program Studi Etnomusikologi Jurusan Karawitan, STSI Surakarta, 2003

–  Dokumen KKN Program Seni Budaya, http://www.scribd.com/doc/22769078/KKN-PROGRAMSENI-BUDAYA

–  Mata Kita, Kesenian Beluk, Salah Satu Identitas Masyarakat Agraris Pasundan, http://matakita.net/post/kesenianbeluk-salah-satu-identitas-masyarakat-agrarispasundan.html

BUMI ALIT KABUYUTAN, BATU KARUT

 

Perjalanan ke lokasi ini kami tempuh dengan dua buah angkot borongan. Lama perjalanan sekitar 15-20 menit. Tiba di lokasi, kami masih harus mencari juru kunci dulu karena kompleks situs ternyata terkunci. Dari luar tampak plang  bertuliskan “Situs Rumah Adat Sunda (Bumi Alit Kabuyutan) – Lebakwangi Batu Karut – Kec. Arjasari Kab. Bandung”.

Juru kunci, Bapak Enggin, segera membukakan gerbang dan mengajak semua peserta untuk berkumpul di bale. Pertanyaan utama dari beliau adalah “apa tujuan kunjungan ini?.” Usia sepuh membuatnya berbicara sangat perlahan dengan artikulasi yang kurang tegas, karena itu semua Aleutians merapat sangat dekat agar dapat menyimak dengan baik. Bagi beberapa teman, usaha ini cukup sia-sia, karena Pak Enggin menggunakan bahasa Sunda dengan banyak kata yang tidak terlalu biasa terdengar dalam percakapan sehari-hari di kota.

Inti cerita, Pak Enggin menyampaikan berbagai simbol yang terdapat dalam Bumi Alit Kabuyutan. Semua simbol ini berkaitan dengan filosofi kehidupan dan keagamaan yang menjadi pedoman hidup masyarakat penganutnya. Menurutnya, Batu Karut adalah pusat penyebaran agama Islam dengan menggunakan siloka. Misalnya saja ukuran rumah yang 5×6 meter dikaitkan dengan rukun Islam dan rukun Iman. Perkalian dari ukuran itu adalah jumlah juz dalam Quran. Angka-angka yang sama terulang lagi dalam menceritakan isi Bumi Alit. Di dalamnya terdapat 5 buah pusaka, yaitu lantingan, pedang, keris, badi, dan tumbak. Kelima pusaka ini ditempatkan dalam sumbul yang sekaligus menjadi pusaka keenam. Semua pusaka dibungkus oleh 5 lapis boeh.

Penceritaan filosofi ini berlangsung cukup lama dan intensif. Namun yang seringkali terjadi dalam kunjungan ke situs-situs keramat seperti ini adalah tidak ada keterangan sejarah yang memadai. Kebanyakan pertanyaan akan dijawab dengan agak kabur atau tidak tahu. Misalnya saja pertanyaan asal mula rumah adat ini, siapa pembangunnya,siapa yang menghuni, bagaimana kisahnya hingga menjadi tempat penyimpanan benda pusaka, dst. Bapak Enggin hanya selintas saja bercerita tentang situs Gunung Alit yang berada dekat dengan Bumi Alit. Di Gunung Alit terdapat beberapa makam tokoh dengan fungsi pemerintahan dan sosial di Batu Karut dahulu.

Masing-masing makam tersebut adalah Mbah Lurah yang memegang urusan pemerintahan, Mbah Wirakusumah sebagai panglima, Mbah Patrakusumah urusan seni-budaya, Mbah Ajilayang Suwitadikusumah bagian keagamaan, dan Mbah Manggung Jayadikusumah. Nama terakhir ini tak saya temukan fungsinya dalam catatan yang saya buat, tampaknya terlewatkan.

Selain itu Bapak Enggin juga bercerita tentang upacara adat dan tata cara berziarah. Pada bagian ini saya kesulitan mencatat detail sesajian yang semuanya juga dihubungkan dengan filosofi kehidupan. Secara sepintas saya juga bertanya tentang sertifikat yang sebelumnya saya lihat terpajang di rumah Bapak Enggin. Sertifikat itu dikeluarkan oleh Depdikbud Dirjen Kebudayaan Direktorat Kesenian, Jakarta, tahun 1993 bagi peserta Festival Musik Tradisional Tingkat Nasional 1993 di Jakarta. Obrolan pun berlanjut ke kesenian yang dianggap asli Batu Karut, yaitu goong renteng atau sering juga disebut goong renteng Mbah Bandong dengan istilah bandong yang dikaitkan dengan asal-usul nama kota Bandung. Maksudnya adalah bahwa dalam kesenian gamelan ini terdapat dua buah goong yang ngabandong atau berpasangan, berhadapan.

Laras dalam gamelan goong renteng berbeda dengan yang umumnya dikenal, mereka menyebutnya laras bandong. Instrumen lain yang dipergunakan dalam gamelan ini adalah sejenis bonang yang disebut kongkoang, gangsa (sejenis saron), paneteg (sejenis kendang), dan beri yang mirip gong namun tidak berpenclon. Penggunaan gangsa dapat menunjukkan ketuaan kesenian ini karena biasanya tidak digunakan lagi dalam gamelan umumnya. Demikian juga dengan gong beri yang biasanya digunakan dalam peperangan dengan fungsi sebagai penanda. Gong beri tidak lazim digunakan dalam gamelan namun masih dapat ditemui digunakan dalam iringan seni bela diri tradisional.

Selain goong renteng, di daerah ini juga dapat ditemukan seni terebangan (sejenis rebana), reog, barongan, dan beluk. Beberapa tahun lalu, seorang teman peneliti musik dari Perancis pernah mengajak untuk menyaksikan dia merekam kesenian beluk di beberapa tempat, di antaranya di Banjaran. Saya masih selalu menyesal karena saat itu berhalangan untuk memenuhi undangan-undangannya. Namun akhirnya saya sempat juga beberapa kali menyaksikan kesenian ini diperagakan di Sumedang.

MAKAM LELUHUR BANDUNG

Dari Monumen Moh. Toha, rombongan Aleut! melanjutkan kunjungan ke kompleks makam bupati di Kampung Kaum. Kompleks makam ini terletak agak tersembunyi di tengah kampung. Di ujung gang sudah tampak sebuah gapura putih dengan pintu besi yang masih terkunci. Kompleks makam seluas satu hektare ini dibentengi oleh tembok yang juga berwarna putih. Tanah ini adalah tanah wakaf dari keluarga Dewi Sartika. Pada tembok depan terpasang sebuah prasasti marmer bertuliskan nama-nama tokoh yang dimakamkan di situ :

–          Ratu Wiranatakusumah (Raja Timbanganten ke-7)

–          R. Tmg. Wira Angun-Angun (Bupati Bandung ke-1)

–          R. Tmg. Anggadiredja II (Bupati Bandung ke-4)

–          R. Adipati Wiranatakusumah I (Bupati Bandung ke-5)

–          R. Dmg. Sastranegara (Patih Bandung)

–          R. Rg. Somanegara (Patih Bandung)

–          R. Dmg. Suriadipradja (Hoofd Jaksa Bandung)

Selain nama-nama yang tercantum di atas, masih banyak nama tokoh lain yang dimakamkan di sini yang mungkin menarik untuk ditelusuri karena sedikit-banyak mungkin menyimpan cerita tentang sejarah Bandung.

Di tengah kompleks terdapat empat buah makam bercungkup yang seluruhnya adalah makam pindahan. Masing-masing adalah makam R. Tmg. Wira Angun-Angun, bupati Bandung pertama (1641-1681), yang dipindahkan dari Pasirmalang, Bale Endah, pada tahun 1984; Ratu Wiranatakusumah yang dipindahkan dari tempat asalnya di Cangkuang, Leles, pada tahun 1989; Makam R. Rg. Somanegara yang dipindahkan dari tempat pembuangannya di Ternate; dan R. Dmg. Suriadipradja yang dipindahkan dari tempat pembuangannya di Pontianak. R. Dmg. Suriadipradja adalah ayahanda Dewi Sartika. Dua tokoh terakhir ini dipindahkan pada tahun 1993. Seluruh pemindahan dilakukan oleh Yayasan Komisi Sejarah Timbanganten-Bandung.

Peristiwa apakah yang melatari pembuangan Somanegara dan Suriadipradja? Ternyata pada tanggal 14 dan 17 Juli 1893 telah terjadi suatu keriuhan yang dikenal dengan sebutan “Peritiwa Dinamit Bandung”. Saat itu di Pendopo Bandung tengah berlangsung perayaan pengangkatan R. Aria Martanegara sebagai Bupati Bandung. Beliau yang keturunan Sumedang, sebelumnya menjabat sebagai Patih Onderafdeling Mangunreja (Sukapurakolot) dan diminta oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk menggantikan Bupati Bandung R. Adipati Kusumadilaga yang wafat pada 11 April 1893. Saat itu putera Kusumadilaga, R. Muharam baru berusia empat tahun, sehingga tidak bisa menggantikan ayahnya. Pejabat sementara dipegang oleh Patih Bandung, R. Rg. Somanegara.

Pengangkatan Martanegara sebagai bupati ternyata diterima dengan kekecewaan mendalam oleh Somanegara. Menurut tradisi yang berlaku, pengganti pejabat pribumi yang wafat adalah putra sulungnya. Hak ini tidak dapat diganggu-gugat, namun dengan syarat tambahan yang pelanjut harus cakap untuk jabatan tersebut. Dalam kasus tertentu, dapat juga menantu melanjutkan jabatan mertuanya seperti yang terjadi pada Bupati Bandung pertama, Wira Angun-Angun, yang menyerahkan jabatan kepada menantunya. Kasus lain terjadi juga pada Bupati Tanggerang di tahun 1739. Walaupun bupati tersebut memiliki tiga orang putera, namun pemerintah memilih untuk mengangkat menantunya sebagai pengganti jabatan Bupati Tanggerang.

R. Rg. Somanegara adalah menantu Dalem Bintang atau Adipati Wiranatakusumah IV, Bupati Bandung sebelum R. Kusumadilaga. Kesempatannya untuk menjadi Bupati Bandung telah dua kali diabaikan oleh pemerintah Hindia-Belanda. Pertama, saat mertuanya, R. Adipati Wiranatakusumah IV, wafat pada 1874, ia harus menerima keputusan pemerintah yang memilih untuk mengangkat saudara Wiranatakusumah IV yaitu R. Kusumadilaga. Yang kedua, saat pemerintah memilih mengangkat seorang keturunan Sumedang, R. Aria Martanegara, sebagai pengganti Bupati Bandung, R. Kusumadilaga.

Karena itulah mungkin Somanegara merasa kecewa sehingga merencakan pembunuhan terhadap Residen, Asisten Residen, Bupati Bandung dan Sekretarisnya. Caranya adalah dengan melakukan pendinamitan di beberapa lokasi. Di antaranya di sebuah jembatan di atas CI Kapundung dekat Pendopo dan di panggung direksi pacuan kuda di Tegallega. Hasil pengusutan polisi mendapatkan 8 orang tertuduh yang berada dalam pimpinan R. Rg. Somanegara dan ayahanda Dewi Sartika, R. Dmg. Suriadipradja. Pemerintah memutuskan untuk membuang kedua tokoh ini masing-masing ke Ternate dan Pontianak.

Kembali ke kompleks makam. Dulu, wilayah kompleks makam ini adalah bekas pusat pemerintahan Kabupaten Bandung saat masih berada di Krapyak. Di sinilah terletak pendopo kabupaten. Mengelilingi pendopo ini terdapat bangunan-bangunan seperti tajug (sekarang sudah menjadi mesjid) dan kantor kabupaten yang lahannya sekarang sudah habis menjadi permukiman. Bale pertemuan terletak di wilayah Bale Endah sekarang. Dekat dengan pusat pemerintahan ini terletak titik pertemuan sungai Ci Kapundung dengan Ci Tarum, yaitu di Cieunteung yang sekarang bernama Mekarsari.

Semestinya setelah dari kompleks Makam Leluhur Bandung, perjalanan akan dilanjutkan ke Cieunteung, namun karena juru kunci selintas menyebutkan sebuah kabuyutan di Batu Karut, maka saya secara spontan mengajukan usul untuk sekalian menyambangi tempat itu. Sebelumnya saya sudah pernah dua kali mengunjungi tempat itu, namun kali ini suasana yang saya temui agak berbeda.

Kali ini suasana di Bumi Alit Kabuyutan terlihat lebih resik dan terang benderang, tidak seperti pada kunjungan sebelumnya yang terkesan agak gelap sehingga terasa menyeramkan. Sebuah bale besar yang cukup mewah sudah hadir pula di bagian depan. Rasa mewah tentu saja bila dibandingkan dengan bale panggung yang ada sebelumnya. Bumi Alit tampak sangat bersih dan terawat. Belum lagi kehadiran toilet yang baru di bagian lain. Di lokasi ini dulu kosong melompong langsung berbatasan dengan sungai. Sekarang sudah ada pagar dengan jalur jalan batu di bagian luarnya. Tak ada lagi kesan angker dan mistis seperti yang sudah sempat saya iklankan saat mengajukan usulan untuk berkunjung ke kabuyutan ini.

Kunjungan pada hari ini juga berbeda karena bersama saya ada 24 Aleutians yang turut serta, sungguh ramai..

Sebagai laporan dari ngaleut ke Dayeuhkolot-Banjaran tanggal 20 Maret 2011 kemarin, saya bikin catatan yang ternyata berpanjang-panjang, karena itu saya pecah saja menjadi beberapa bagian. Semoga tidak membosankan membacanya. Ini bagian pertama…

MONUMEN MOHAMMAD TOHA

 

Pada hari Minggu lalu, 20 Maret 2011, Komunitas Aleut! mengadakan kunjungan ke daerah Dayeuhkolot dengan tema utamanya mengenang peristiwa Bandung Lautan Api (BLA – 1946). Sebagian kita mungkin sudah mengetahui kaitan Dayeuhkolot dengan BLA. Di sinilah seorang tokoh kontroversial , Mohammad Toha, meledakkan gudang mesiu Belanda. Bukan hanya ketokohan Moh. Toha yang kontroversial, namun kronologi peristiwanya pun lumyan simpang-siur, maklum tak ada seorang pun yang secara langsung menyaksikan atau mengetahui secara persis peristiwa itu. Koran Pikiran Rakyat pernah mengadakan investigasi intensif pada tahun 2007 dengan mewawancarai sejumlah tokoh yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mungkin berkaitan. Di antara mereka ada yang juga mengenali Moh. Toha secara pribadi.

Hasil investigasi Pikiran Rakyat kemudian dimuat secara berturut selama seminggu penuh. Termasuk di antaranya adalah tulisan dari kalangan akademisi serta laporan masyarakat pembaca. Tidak semua hal menjadi terang-benderang setelah peliputan itu, bahkan sempat pula ada keraguan tentang wajah Moh. Toha yang beberapa fotonya ditampilkan dalam liputan koran itu.

Kunjungan Komunitas Aleut! hari itu tidak hendak ikut nimbrung dalam kontroversi ini melainkan sekadar mengenalkan saja secara selintas peristiwa bersejarah yang hampir terlupakan itu. Di Dayeuhkolot kami dapat kunjungi lokasi peledakan gudang mesiu yang sekarang sudah menjadi kolam. Sebuah laporan berdasarkan ingatan, dari Misbah Sudarman, menyebutkan tentang sebuah lubang yang menganga dan dalam, sementara di sekitarnya tanah menggunung dalam radius 25 meter. Rumah-rumah Belanda dan warga di sekitar lokasi itu hancur berantakan. Saat diwawancarai pada tahun 2007, Misbah Sudarman berusian 72 tahun.

Sekarang lokasi bekas ledakan itu sudah menjadi kolam dengan air berwarna coklat. Di salah satu sisinya terdapat sebuah karamba besar. Beberapa orang tua tampak memancing di pinggiran kolam. Di depan kolam didirikan dua buah monumen, satu monumen berupa patung dada Moh. Toha dan di belakangnya sebuah monumen yang menjulang tinggi berbentuk lidah-lidah api dengan tentara yang terperangkap dalam kobarannya. Di sebelah kiri monumen ini terdapat tembok prasasti berisi 15 kotak marmer. Pada 13 kotak di antaranya terpahatkan daftar nama pejuang yang gugur dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Dua kotak di sudut kanan bawah masih tampak kosong. Di bagian atas tembok prasasti ini terdapat ornamen kobaran api.

Di seberang kolam, agak kurang menonjol, tampak tembok memanjang dengan relief cerita seputar BLA. Agak sulit untuk menangkap isi relief ini karena selain letaknya yang jauh di seberang kolam, tidak terdapat warna-warna yang dapat membantu penglihatan selain sedikit warna emas yang tampaknya sudah luntur dan kusam. Warna yang mendominasi hanyalah warna batu andesit yang menjadi bahan tembok ini. Dengan zoom kamera saya dapat lihat gambaran umum relief yang berisi hal-hal seputar BLA. Ada gambaran umum pertempuran, Soekarno-Hatta, truk-truk militer, tulisan-tulisan “Merdeka”, “Bengkel Sepeda Motor Cikudapateuh”, dan “Dengki Amunition”. Paling kanan adalah relief ledakan gudang mesiu.

Di depan Patung dada Moh. Toha terletak kompleks Batalyon Zeni Tempur 3/YW. Dalam dua kali kunjungan ke monumen ini ternyata selalu ada tentara yang menghampiri menanyakan tujuan kedatangan dan izin kunjungan. Mungkin kedatangan rombongan Aleut! ke tempat ini terlihat tak lazim, apalagi dengan begitu banyak kegiatan pengamatan dan foto-foto. Sementara itu di belakang monumen terletak gedung Komando Daerah Militer 0609 – Komando Rayon Militer 0908 Dayeuhkolot. Kompleks monumen ini memang terletak di tengah-tengah kawasan militer Dayeuhkolot, jadi bila ingin berkunjung sebaiknya persiapkanlah berbagai hal yang diperlukan terutama yang berkaitan dengan perizinan.

Dengan menggunakan angkutan kota baik dari arah Buahbatu/Bale Endah atau dari arah Kebon Kalapa dan Tegalega, jarak tempuh ke lokasi ini tidak akan lebih dari 30 menit saja, kecuali di hari-hari biasa yang umumnya selalu macet. Markas militer dan monumen ini dengan mudah terlihat di sisi jalan. Selain itu jalur angkutan kota dari kedua arah itu juga mewakili peristiwa BLA karena merupakan jalur-jalur utama pengungsian masyarakat Kota Bandung ke daerah selatan setelah Bandung dijadikan lautan api.

Minggu, 9 Januari 2011 adalah kesempatan yang sudah lama saya tunggu-tunggu, karena hari ini bersama Komunitas Aleut! saya akan mengunjungi Arboretum Unpad di Jantinangor. Perjalanan rutin Komunitas Aleut! setiap hari Minggu segera mulai pada jam 8 pagi dari Stasiun KA Bandung di Jl. Kebonkawung.

Agak berbeda dengan kebiasaan menggunakan bis DAMRI bila berkunjung ke daerah Jatinangor, kali ini kami menggunakan kereta api rakyat. Murah meriah dan lebih cepat pula sampainya. Selang beberapa belas menit kami sudah tiba di Rancaekek. Dari sini kami lanjutkan dengan naik angkot ke Cikeruh melalui daerah Sayang.

Singkat cerita, dari Cikeruh perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri sungai Ci Keruh, kanal pengairan, dan pematang-pematang sawah hingga mencapai kawasan kampus Unpad. Di sini kami sempat mampir ke Jembatan Cincin atau Jembatan Cikuda, sebuah jembatan lintasan rel kereta api yang dibangun tahun 1918 namun sudah tidak berfungsi lagi. Usai berbagi informasi ringan mengenai sejarah perkereta-apian di Bandung, rombongan melintasi beberapa kompleks fakultas di kawasan kampus Unpad untuk menuju Arboretum.

Dari lokasi yang lebih tinggi, Arboretum tampak seperti sebuah hutan kecil di kompleks kampus Unpad. Luasnya sekitar 12,5 hektar dan terbagi dalam beberapa ekosistem, kolam, hutan, kebun, ladang, dan sawah. Kami tiba di sisi kolam yang saat itu sedang menjadi ajang permainan beberapa ekor angsa dan bebek. Di dekat kolam ini terdapat beberapa bangunan yang umumnya berbahan bambu atau kayu. Ada juga sebuah replika rumah tradisional Baduy dan musholla. Kami langsung menyebar mengambil posisi yang nyaman untuk beristirahat karena sebentar lagi waktunya makan siang bersama dengan membuka bekal masing-masing.

Arboretum ini sungguh tempat yang nyaman. Ada banyak keteduhan dan kesejukan di sini. Sekeliling kita adalah pohon, pohon, dan pohon. Arboretum berasal dari kata Latin, arbor yang berarti pohon dan retum yang berarti tempat. Tempat menanam pohon. Penanaman pohon di Arboretum bertujuan untuk dijadikan sarana penelitian dan pendidikan. Perintisannya dimulai sejak tahun 1994 menggunakan lahan sekitar 2 hektar bekas Kampung Kiciat, tahap berikutnya area diperluas ke arah Kampung Jawa. Penduduk kedua kampung ini dipindahkan ke Tanjungsari.

Arboretum Unpad sekarang ini sungguh merupakan tempat yang tepat untuk belajar kenal berbagai hal tentang lingkungan hidup. Mulai dari soal konservasi udara, konservasi tanah dan air, konservasi tumbuh-tumbuhan dan hewan. Dalam arboretum juga diternakkan sejumlah hewan ternak dan unggas sebagai model ekologi pedesaan. Selain melindungi mata air yang sudah ada di kawasan kampus Unpad, beberapa mata air baru juga muncul di sini.

Usai makan siang, dua orang penanggung-jawab Arboretum datang menghampiri, masing-masing Bpk. Trihadi S dan Bpk. Joko Kusmoro. Merekalah yang akan banyak berbagi cerita untuk Aleut! hari ini. Usai saling memperkenalkan diri, mengalirlah banyak sekali informasi seputar Arboretum. Mulai dari sejarah perintisannya, tahap perluasan, hingga berbagai kesulitan dalam mendapatkan bibit-bibit pohon yang sudah langka. Diceritakan bahwa penanaman pepohonan dalam Arboretum ini terbagi dalam beberapa pengelompokan atau zona. Ada zona tanaman langka, zona tanaman jati-diri, zona tanaman obat, zona tanaman bahan bangunan, dan zona budidaya. Kami diajak berkeliling untuk diperkenalkan lebih jauh pada koleksi pepohonan yang ada.

Inilah bagian paling menarik dalam perjalanan hari ini, Tour Arboretum! Secara tak terduga kami mendapatkan banyak sekali informasi tentang nama-nama tumbuhan yang dijadikan nama tempat. Banyak di antaranya adalah nama yang sudah sangat akrab di telinga namun tidak pernah kami ketahui artinya. Seperti jamuju, jeunjing, kosambi, lame, renghas, bayur, bintaro, ketapang, limus, waru, dadap, gambir, menteng, kapundung, sentul, dan banyak lagi lainnya yang sekarang ini lebih dikenali sebagai nama tempat.

Yang lebih menarik lagi tentunya karena semua hal yang diceritakan dalam kunjungan ini sekaligus juga dapat kami saksikan pohonnya masing-masing. Dalam catatan saya, hari ini kami menyaksikan dan mendengarkan cerita tentang 53 jenis pohon!

Sumber informasi :
Bpk. Prihadi S dan Bpk. Joko Kusmoro sebagai narasumber di Arboretum Unpad
http://www.biologi.unpad.ac.id/?p=68
http://en.wikipedia.org/wiki/Arboretum

by Ridwan Hutagalung on Friday, January 21, 2011 at 11:40am

Pangeran Angkawijaya bergelar Prabu Geusan Ulun (1558-1601 M) adalah raja Sumedanglarang ke-9 yang bertahta pada 1578-1601 M. Ibunya, Satyasih atau Ratu Inten Dewata (lebih populer dengan gekar Ratu Pucuk Umun) adalah raja Sumedanglarang ke-8. Ratu Pucuk Umun menikah dengan Raden Solih (Ki Gedeng Sumedang atau lebih populer dengan gelar Pangeran Santri), cucu dari Pangeran Panjunan. Pangeran Santri kemudian menggantikan Ratu Pucuk Umun sebagai Raja Sumedanglarang dengan gelar Pangeran Kusumahdinata I dan memerintah pada 1530-1578 M.

Pada masa ini Kerajaan Sunda mengalami kejatuhan ke tangan Kesultanan Surasowan Banten. Namun mahkota kerajaan, Mahkota Binokasih, sempat diserahkan kepada Raja Sumedanglarang sebagai simbol pewarisan bekas wilayah Kerajaan Sunda. Prabu Geusan Ulunlah yang menerima pewarisan ini. Wilayah kekuasaan Sumedanglarang saat itu seluas Jawa Barat sekarang tidak termasuk Banten dan Jakarta yang dibatasi oleh sungai Ci Sadane, dan Cirebon dengan batas sungai Ci Pamali.

Pada masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun, pusat kerajaan sempat dipindahkan dari Kutamaya ke Dayeuhluhur, sebuah kabuyutan di atas bukit. Pemindahan ini berkaitan dengan peperangan antara Sumedanglarang dengan Keraton Panembahan Ratu Cirebon.

Sebelum tahun 1585 Prabu Geusan Ulun pernah berguru agama Islam ke Demak dan Pajang. Di Pajang, Geusan Ulun bertemu dan memadu cinta dengan Harisbaya, seorang putri Pajang berdarah Madura. Sayang hubungan percintaan ini harus putus di tengah jalan karena urusan politik antarkerajaan.

Saat Raja Pajang, Hadiwijaya wafat, keluarga Trenggono di Demak menghendaki agar penggantinya adalah Arya Pangiri, menantu Hadiwijaya dan putra Sunan Prawoto dari Mataram. Namun keluarga Panembahan Ratu Cirebon berkeinginan lain, mereka meminta agar putra bungsu Hadiwijaya, Pangeran Banowo, yang menggantikan Hadiwijaya. Untuk mendiamkan Panembahan Ratu, Arya Pangiri “memberikan” Harisbaya kepada Panembahan Ratu untuk dijadikan istri keduanya. Arya Pangiri pun berhasil meneruskan Hadiwijaya sebagai penguasa Pajang.

Setelah usai belajar agama di Demak, dalam perjalanan pulangnya Geusan Ulun sempat mampir bertamu ke Panembahan Ratu untuk mengucapkan selamat atas pernikahannya dengan Harisbaya. Namun di luar dugaan, pertemuan dengan Harisbaya di Cirebon ternyata mengakibatkan CLBK alias cinta lama bersemi kembali.

Kerinduan dan cinta yang menggebu telah membuat Harisbaya mengendap-endap mendatangi tajug peristirahatan keraton dan membujuk Geusan Ulun agar membawa serta dirinya ke Sumedanglarang. Bila keinginan ini tidak dipenuhi oleh Geusan Ulun, Harisbaya memutuskan akan bunuh diri saja. Setelah berembuk dengan para pengawalnya, maka diputuskanlah malam itu juga mereka pergi secara diam-diam meninggalkan Keraton Panembahan Ratu.

Keesokan harinya keraton gempar karena para tamu dari Sumedanglarang telah tidak ada lagi di tajugnya dan bersama dengan itu Ratu Harisbaya juga ikut menghilang. Sejumlah prajurit dikerahkan untuk mengejar Geusan Ulun dan Harisbaya. Namun ketangguhan Patih Jaya Perkasa yang sungguh perkasa, berhasil memukul mundur seluruh prajurit ini.

Peristiwa ini memicu peperangan antara Sumedanglarang dengan Cirebon. Pasukan Sumedanglarang dipimpin langsung oleh Patih Jaya Perkasa. Sebelum berangkat perang Jaya Perkasa sempat menanam pohon hanjuang di Kutamaya, pusat kerajaan Sumedanglarang. Pohon hanjuang ini adalah tanda mengenai keberadaannya. Pohon hanjuang akan mati bila Jaya Perkasa kalah atau mati dalam perang dan akan tetap hidup bila berhasil memenangkan peperangan.

Namun perang berlangsung terlalu lama. Rupanya jumlah prajurit dari Cirebon terlalu banyak sehingga tidak mudah menaklukkannya. Sementara itu Geusan Ulun gelisah menunggu. Tak sabar menanti, seorang pengawal lain bernama Nangganan berprasangka jangan-jangan Jaya Perkasa sudah gugur di medan perang. Ia menganjurkan agar Geusan Ulun mengungsi saja ke daerah yang lebih aman, ke sebuah kabuyutan di puncak bukit yang bisa dijadikan benteng alami, Dayeuhluhur. Anjuran disetujui, dan pusat kerajaan Sumedanglarang segera dipindahkan ke Dayeuhluhur. Nangganan lupa, ia tidak memeriksa keadaan pohon hanjuang di Kutamaya…

Sementara itu, Jaya Perkasa ternyata berhasil memenangkan perang. Namun saat kembali ke Kutamaya yang ditemuinya hanyalah kesunyian. Pusat kerajaan telah kosong. Pohon hanjuangnya masih tetap hidup. Setelah mengetahui tentang kepindahan pusat kerajaan ke Dayeuhluhur, Jaya Perkasa segera menyusul ke sana dan menemui Geusan Ulun. Dalam kemarahan Jaya Perkasa membunuh Nangganan dan pergi meninggalkan rajanya sambil bersumpah tidak akan mau mengabdi lagi kepada siapa pun.

Di Cirebon, Panembahan Ratu menceraikan Harisbaya dengan ganti talaknya daerah Sindangkasih. Prabu Geusan Ulun menikahi Harisbaya sebagai istri kedua dan mendapatkan dua anak, Raden Suriadiwangsa dan Pangeran Kusumahdinata. Sedangkan dari istri pertamanya, Nyi Gedeng Waru, lahir seorang anak, Rangga Gede. Setelah wafatnya Geusan Ulun pada 1601, maka berakhir pula masa kerajaan Sumedanglarang karena dalam periode waktu berikutnya Sumedang dijadikan wilayah kabupaten yang berada dalam kekuasaan Mataram. Putra Geusan Ulun, Raden Suriadiwangsa menjadi Bupati Sumedang pertama (1620-1625) dan lebih dikenal dengan gelar Pangeran Dipati Ranga Gempol Kusumadinata atau Rangga Gempol.

Boleh percaya atau tidak, kono pohon hanjuang di Kutamaya itu masih tetap hidup sampai sekarang.

Catatan :
– Para pengawal Geusan Ulun yang turut menemani ke Demak adalah prajurit yang sama yang mengantarkan Mahkota Binokasi. Mereka biasa disebut Kandaga Lante. Masing-masing adalah Sanghiang Hawu atau Jaya Perkasa, Batara Dipati Wiradijaya atau Nangganan, Sanghiang Kondang Hapa, dan Batara Pancar Buana Terong Peot.
– Makam Nangganan terletak di lereng Dayeuhluhur.

Catatan ini disarikan dengan susah payah dari :

Sumedanglarang; Insun Medal Insun Madangan, 2008, R. Abdul Latief, R. Supian Apandi, R. Lucky Dj. Sumawilaga (Tanpa nama penerbit)
* Tata bahasa dalam sumber buku yang saya pergunakan ini kurang baik sehingga cukup merepotkan dalam mengartikan kalimat-kalimat dan maknanya. Mesti hati-hati dan ekstra teliti membacanya.

Foto-foto :
http://www.facebook.com/album.php?id=519229089&aid=284054

Untuk yang selama ini banyak bertanya tentang tentang angka IIII pada jam-jam kuno, ini saya ringkaskan beberapa hal tentang tulisan romawi.
Semoga bermanfaat…

Angka Romawi adalah sistem penulisan angka pada kebudayaan Romawi yang menggunakan huruf-huruf Latin sebagai simbolnya. Umumnya sistem pengangkaan ini berdasarkan pada metode additif (penambahan) dan kemudian substraktif (pengurangan). Berbagai variasi dan perubahan dalam sistem pengangkaan Romawi sudah terjadi sejak abad pertengahan hingga akhirnya berujung pada sistem modern yang kita kenal sekarang.

Huruf-huruf yang dipakai dalam sistem ini adalah huruf kapital : I, V, X, L, C, D, dan M. Di masa lalu (dan dalam hal tertentu juga di masa kini) dipergunakan juga huruf-huruf kecil/minuskul seperti dalam halaman pendahuluan sebuah buku (i, ii, v, viij, dst). Namun secara umum pemakaiannya banyak berkurang. Dengan metode additif, biasanya angka yang lebih besar ditempatkan lebih dahulu dan disusul dengan angka kecil sebagai penambah : VIII (5 + 3=8), XIIII (10+4=14), DCLXXXX (=690), dst. Kemudian berkembang pula metode substraktif yang mencapai puncaknya dengan penemuan mesin cetak. Hal ini memang berkaitan karena metode substraktif lebih hemat dibandingkan dengan additif : IX dibanding VIIII (=9), CDLXIII dibanding CCCCLXIII (=443), dst. Namun semua metode ini tidak berlaku absolut sehingga kita akan menemukan angka 49 yang ditulis dengan XLIX dan bukannya IL yang jelas lebih hemat. Semua variasi ini berkembang lebih karena kebiasaan-kebiasaan umum saja.

Untuk angka besar, digunakan simbol yang mewakili kelipatan 1000 atau 10.000. Misalnya saja garis-atas atau parentheses (tanda kurung) untuk kelipatan seribu : V atau (V) untuk 5.000 dan D atau (D) untuk 500.000. Anehnya angka Romawi modern tidak memiliki angka 0 (nol) walaupun sebenarnya pada penulisan kuno sudah dikenal konsep nulla (dari bahasa Latin yang artinya “kosong”) yang kadang ditulis dengan huruf N sebagai inisial nulla. Konsep angka 0 tercatat digunakan oleh Dionysius Exiguus pada tahun 525 M dan Bede pada tahun 725 M.

Penulisan menggunakan angka Romawi masih berlangsung hingga sekarang dan berlaku secara internasional, misalnya dalam penulisan pembabakan sebuah buku (chapter), halaman pendahuluan dalam sebuah buku, notasi musik, angka dalam jam, urutan hirarkis dalam suatu struktur, urutan keturunan dalam keluarga dengan nama sama, urutan event berkala, tahun produksi sebuah film, penomoran-penomoran tertentu seperti dalam copyrights, dst.

Khusus untuk pengangkaan dalam jam agak unik karena masih sering menggunakan angka IIII dan bukan IV untuk 4 walaupun untuk kebutuhan penulisan lainnya secara umum digunakan IV. Perubahan paling umum dari IIII menjadi IV dalam pengangkaan jam belum berlangsung lama, mungkin sekitar tahun 1930-an. Berikut ini beberapa alasan yang menjadi sebab angka IIII masih dipertahankan..
– Huruf IV adalah sudah dikenal sebagai representasi dari Dewa Jupiter yang penulisan inisialnya dalam tulisan Romawi adalah IV (IVPPITER), sehingga untuk jam digunakan IIII.
– Raja Perancis, Louis XIV, yang lebih menyukai IIII pernah memerintahkan agar semua pembuat jam menggunakan angka IIII dan bukan IV.
– Ada pendapat bahwa dengan angka IV maka akan membingungkan orang, terutama anak-anak, karena ada dua angka yang mirip, yaitu IV dan VI apalagi dengan letak yang terbalik pada muka jam, sehingga menggunakan IIII akan jelas membuat perbedaan.
– Angka IIII pada jam akan terlihat lebih simetris dengan VIII di sisi kirinya ketimbang menggunakan IV.
– Aspek simetris juga akan lebih tampak bila memerhatikan bahwa pada urutan empat angka pertama hanya terdapat huruf-huruf “I” saja, kemudian akan muncul empat “V”, dan akhirnya empat “X”.
– Konon juga para pembuat jam hanya meneruskan tradisi saja dengan menggunakan IIII, karena diketahui dari jam- jam kuno yang masih dapat ditemukan (Wells Cathedral, 1386-1392), semuanya menggunakan IIII.


Semestinya pada hari Minggu, 16 Januari 2011 ini saya dan Komunitas Aleut! akan melakukan kegiatan rutin ngaleut (Sunda: berjalan beriringingan) dengan tema “Merawat Pohon”, namun beberapa hal teknis membuat kegiatan ini dibatalkan. Narasumber yang akan berbagi informasi dan pengetahuan seputar pepohonan dan lingkungan tak dapat hadir sementara kami, para peserta, adalah orang-orang yang sangat awam mengenai hal ini. Tapi kami tidak ingin menyerah. Seorang peserta yang cukup memiliki wawasan tentang lingkungan bersedia untuk berbagi sedikit cerita dan pengetahuannya tentang pohon dan lingkungan. Sebagai rute perjalanan kami pilih saja rute “Ngaleut Taman I”. Komunitas Aleut! memang memiliki puluhan rute-rute standar untuk kegiatan ngaleutnya di Kota Bandung dan sekitarnya. Khusus untuk tema taman, Komunitas Aleut! membaginya menjadi dua rute berbeda.

Setelah terkumpul beberapa belas peserta di Taman Ganesha depan kampus ITB. Perjalanan pun dimulai dengan penceritaan mengenai fungsi taman bagi sebuah kota. Sebuah taman mengumpulkan banyak tetumbuhan dan pepohonan di dalamnya. Kumpulan pepohonan ini memroduksi oksigen yang banyak bagi kebutuhan hidup manusia. Apalagi di sebuah kota dengan tingkat polusi yang cukup tinggi seperti Bandung, keberadaan taman-taman sudah merupakan sebuah keharusan. Pepohonan memberikan oksigen yang dibutuhkan oleh manusia dan menyerap racun yang berkeliaran di udara yang kita hirup sehari-hari. Sebuah taman dalam kota dapat membantu memelihara udara, tanah, air, tumbuh-tumbuhan, dan hewan-hewan .

Di Taman Ganesha ini juga diceritakan tentang latar belakang pembuatannya sebagai penghargaan terhadap perintis pendirian Technische Hooge School (THS yang kemudian menjadi ITB), Dr. Ir. J.W. Ijzerman, sehingga pada masa Hindia-Belanda taman ini dinamakan Ijzermanpark. Sejak awal pendiriannya, Ijzermanpark yang dulu indah ini sudah menjadi tujuan rekreasi warga Kota Bandung. Warga dapat datang untuk sekadar duduk santai atau membaca sambil menghirup udara yang segar atau berjalan-jalan mengelilingi taman sambil menikmati gemercik air mancur di kolam di tengah taman. Hijau rerumputan, berbagai pepohonan dan warna-warni bebungaan memang sangat menyegarkan mata siapa pun yang memandangnya.

Sayang sekali kondisi Taman Ganesha sekarang tidak sebaik dulu karena di berbagai tempat tampak tanah yang becek dan biasa tergenang pada saat hujan, air kolam yang kusam pekat dan tidak ada air yang mancur. Walaupun begitu, sejumlah pepohonan memang masih ada di sini memberikan sedikit keteduhan. Setiap hari Minggu masih tampak warga yang datang piknik ke taman ini sambil menunggui anak-cucunya bermain tunggang kuda di sekitar kawasan ini. Agak aneh juga melihat kondisi ini karena di ujung Jl. Gelap Nyawang kami temui sebuah tiang besi dengan plakat bertuliskan “Kawasan Bersejarah – Revitalisasi Kawasan Taman Ganeca/Ijzerman Park 1919.” Mungkin program revitalisasi memang pernah dilaksanakan di sini, namun yang tampaknya tidak dilakukan  adalah perawatan dan pemeliharaannya.

Dari Taman Ganesha, rombongan ngaleut berjalan ke Jl. Ciung Wanara. Ruas jalan ini cukup bersih. Di kanan-kiri jalan pepohonan masih menjulang tinggi. Sayangnya tidak ada keterangan nama pohon, sehingga hanya beberapa pohon saja yang berhasil dikenali. Di antaranya adalah pohon kersen. Pohon yang rindang dengan daun-daun kecil ini masih satu keluarga dengan pohon sakura. Daun dan bunganya yang berwarna putih, berukuran kecil-kecil namun cantik. Saat masih anak-anak di Kampung Pasirmalang, saya senang naik ke atas pohon kersen dan duduk-duduk hingga tertidur di dahannya. Teduhnya pohon dan sejuknya angin semilir masih suka terbayang bila melihat pohon kersen. Pengalaman itu tak pernah terulang lagi hingga kini.

Ruas Jl. Ciung Wanara tampaknya terpelihara cukup baik. Beberapa papan pengumuman berisi pesan agar tidak melukai dan merusak pohon terpasang di beberapa tempat. Mungkin itu sebabnya pepohonan di sini bersih dari kotoran tempelan-tempelan pengumuman atau iklan-iklan yang biasa dipasang pada pohon. Untuk sampah pun warga menyediakan tong-tong khusus dengan keterangan yang jelas fungsinya. Ini pembelajaran yang sangat baik untuk masyarakat awam.

Saya teringat kegiatan Komunitas Aleut! pada 19 Desember 2010, yang untuk kesekian kalinya mengadakan perjalanan menyusuri sungai Ci Kapundung. Di sekitar Kelurahan Taman Sari kami saksikan sendiri bagaimana warga kampung padat itu membuat papan-papan pesan kebersihan lingkungan sepanjang aliran sungai secara swadaya. Saat itu saya berpikir bahwa cara paling baik dalam menyebarkan rasa kepedulian masyarakat terhadap lingkungan adalah dengan cara pelibatan langsung anggota masyarakat dan bukan melalui penyuluhan-penyuluhan formal yang seringkali terasa membosankan dan akhirnya tidak didengarkan. Di Taman Sari kami saksikan sendiri warga yang bangga terhadap Ci Kapundung walaupun mereka tau persis seperti apa kotornya air yang mengalir melalui kampungnya. Dengan bangga dan gembiranya mereka berenang dan bermain di Ci Kapundung. Dengan bangga pula mereka menjaga sendiri kebersihan Ci Kapundung di wilayahnya.

http://www.facebook.com/album.php?aid=272090&id=519229089

Pada tubuh pepohonan di ruas Jl. Ciung Wanara rombongan Aleut! dapat memerhatikan beberapa karakter pohon, seperti lumut kerak yang menempel pada batangnya. Lumut kerak ini dapat dijadikan petunjuk mengenai tingkat polusi lingkungan di sekitarnya. Kualitas udara memengaruhi keberadaan lumut kerak, semakin sedikit lumutnya adalah tanda semakin rusaknya lingkungan sekitar. Tak heran, Jalan Dago memang ruas jalan yang selalu ramai oleh kendaraan sejak dulu, apalagi belakangan ini kepadatan lalu-lintas di Dago dan sekitarnya semakin meningkat saja, hampir setiap akhir pekan selalu saja macet oleh kepadatan kendaraan. Semua kendaraan ini memroduksi racun yang dikeluarkan melalui knalpotnya dan kita hirup sepanjang waktu.

Perjalanan dilanjutkan ke arah bekas Taman Cikapayang yang berada di depan Gereja GII. Yang disebut sebagai Taman Cikapayang saat ini adalah bekas lokasi pom bensin di depan gereja dan sekarang sering dijadikan tempat berkumpulnya anak-anak muda Bandung untuk melakukan berbagai kegiatan. Di bagian depan taman terdapat tulisan warna-warni berukuran besar, D-A-G-O. Walaupun tampak asri oleh bebungaan namun taman ini tidak tampak rindang seperti keadaannya dulu. Sampai akhir tahun 1990-an Taman Cikapayang (paralel dengan Jl. Cikapayang) masih dapat disaksikan bersambung dengan Taman Surapati (paralel dengan Jl. Prabudimuntur) di seberangnya. Namun kedua taman ini ternyata harus berkorban karena dilenyapkan untuk pembangunan jalan layang Pasupati pada awal tahun 2000-an.

Dari Taman Cikapayang rombongan menuju ke Rektorat ITB di simpang Jl. Sulanjana-Jl. Taman Sari. Mulai dari sini banyak sekali kami saksikan penyiksaan pepohonan di sepanjang jalan yang kami lalui. Sejumlah iklan dipaku di batang pohon. Untuk menempelkan selembar kertas berlapis plastik (!) pemasangnya menggunakan paku berukuran sekitar 5cm! Empat paku untuk setiap iklan yang ditanam dalam-dalam pada batang pohon. Iklan yang gambarnya ada di bawah ini tampaknya disebarkan di banyak tempat karena saat pulang nanti saya masih akan melihat iklan-iklan serupa di pasang juga pada batang pepohonan di sekitar Jl. Lengkong Besar. Berapa banyak pohon yang teraniaya untuk sebuah iklan yang jelek seperti ini? Masih ada puluhan atau mungkin ratusan paku lainnya dapat ditemui di pohon-pohon, sebagian besar sudah berkarat karena sudah lama dibiarkan menancap di sana.

Saya ingin tahu juga adakah aturan yang melindungi keberlangsungan kehidupan pepohonan di perkotaan? Adakah aturan yang dapat melarang perusakan pohon seperti ini? Bila tidak ada dan ini dianggap perlu, kenapa tidak dibuatkan segera aturannya? Bila memang aturan tersebut ada, kenapa pihak yang berwenang tidak langsung saja menghubungi nomor-nomor kontak yang tertera pada iklan atau siapa pun yang harus bertanggung-jawab atas pemasangannya agar mempertanggung-jawabkan perbuatannya? Atau dapatkah kita yang peduli lingkungan, komunitas-komunitas, para pegiat lingkungan dan alam, atau LSM-LSM melakukan penyadaran dalam masyarakat yang lebih luas tentang bagaimana seharusnya memperlakukan pepohonan dan tumbuh-tumbuhan di sekitar kita? Penyadaran tentang pentingnya memelihara kesehatan dan kehidupan pepohonan di sekitar kita…

Di persimpangan Jl. Sulanjana-Jl. Taman Sari ini kami saksikan juga hal lain. Sebuah spanduk yang sudah sangat kusam, berlubang-lubang dan terpilin, masih saja berkibar dengan gagahnya entah untuk tujuan apa. Spanduk kumuh ini bergabung dengan seliweran kabel-kabel, tempelan berbagai poster iklan di tiang listrik, plang ini-itu yang semuanya menyatu merusak pemandangan kota, merusak penglihatan warga kota. Ribuan tempelan poster di tembok-tembok dan tiang-tiang di Kota Bandung tidak pernah dibersihkan setelahnya. Tak adakah aturan untuk hal semacam ini?

Menjaga keasrian suasana kota adalah tanggung jawab kita semua, tetapi tanpa ada aturan yang jelas sering membuat kesadaran sebagian warga malah berujung dengan perasaan frustrasi. Bapak Sariban bisa memiliki kesadaran untuk mencabuti paku-paku dari pepohonan sementara pada saat yang sama ratusan paku lainnya sedang ditancapkan di seantero Bandung. Kadang-kadang Komunitas Aleut! juga mengumpulkan sampah-sampah di lokasi tertentu (seperti pernah dilakukan di Pawon, Manglayang, Jl. Braga, Gn. Patuha, dll) namun betapa frustrasinya saat mengetahui bahwa pada saat yang sama dan di lokasi yang sama sampah-sampah terus ditaburkan oleh warga lainnya. Apa hasil dari kesadaran yang baik? Ke mana semua ini akan berujung?

Baiklah, jawabannya mungkin akan klise, seperti yang sering didengungkan di rumah-rumah ibadah tentang berbuat baik, seperti yang dicontohkan oleh Bapak Sariban, bahwa apapun yang terjadi maka nyala kesadaran yang betapa pun kecilnya tak boleh padam. Sekecil apa pun yang dapat kita lakukan dalam menjaga lingkungan ini akan selalu ada gunanya. Nyala yang kecil tetap lebih baik ketimbang mati sama sekali. Nyala yang kecil adalah harapan. Hari ini Komunitas Aleut! berikrar bahwa dengan caranya sendiri akan selalu menyertakan agenda kesadaran lingkungan dalam setiap kegiatannya.

Sekarang satu orang disadarkan, besok satu orang lagi, lusa satu orang lagi, minggu depan satu orang lagi, bulan depan satu orang lagi, dan begitu seterusnya, sampai entah kapan akan dapat kita lihat bersama bahwa ternyata masih lebih banyak orang yang memiliki dan melaksanakan kesadarannya daripada yang tidak. Hingga suatu saat nanti pemandangan seperti ini dapat kita saksikan di setiap penjuru kota, di setiap rumah dan gedung, dan di setiap waktu tanpa harus jauh-jauh pergi ke pinggiran kota seperti sekarang ini….

Ridwan Hutagalung – Komunitas Aleut!

aleut.wordpress.com

Catatan :

–          Komunitas Aleut! adalah sebuah komunitas independen di Kota Bandung, sebagian besar anggotanya terdiri dari mahasiswa yang berasal dari berbagai sekolah tinggi di Bandung. Awalnya perhatian komunitas ini ditujukan hanya untuk pengembangan wawasan sejarah masyarakat umum, namun belakangan berkembang menjadi komunitas belajar dengan minat yang luas, apresiasi sejarah, apresiasi wisata, apresiasi film dan musik, apreasiasi lingkungan, dst. Saat ini anggota resmi yang tercatat sekitar 300 orang (registrasi 2009/2010). Sejak terbentuk pada tahun 2006, hampir setiap minggu mengadakan perjalanan (berjalan kaki) dengan tema dan rute tertentu di Kota Bandung dan sekitarnya. Setiap hasil perjalanan dituliskan dalam catatan di facebook atau blog pribadi yang kemudian dikumpulkan dalam aleut.wordpress.com

–          Kata “ngaleut” atau “aleut” dalam catatan ini sengaja tidak dimiringkan karena sudah kami anggap sebagai kosa kata sehari-hari kami. Kata “aleut” berasal dari bahasa Sunda yang artinya “berjalan beriringan”.

–          Link tentang Bapak Sariban http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=165229

Foto-foto : Ridwan Hutagalung dan Komunitas Aleut!

Sumber :

–          Tim Penulis PR, 2010, 200 Ikon Bandung; Ieu Bandung, Lur!, Pikiran Rakyat, Bandung.

–          Informasi Nara Wisesa dalam “Ngaleut Taman I”, 16 Januari 2011

–          Diskusi FB Bpk. Sobirin http://www.facebook.com/photo.php?fbid=145831052138916&set=at.104755639579791.17673.100001360672886.100001360672886&ref=nf

–          Informasi dari Bpk. Joko Kusmoro dan Bpk. Prihadi S dari Arboretum Unpad saat “Ngaleut Arboretum”, tanggal 9 Januari 2011.

by Ridwan Hutagalung on Monday, January 17, 2011 at 1:17pm

Berikut ini beberapa catatan perihal objek-objek yang berada dalam kawasan Tahura Ir. H. Djuanda yang menjadi tujuan belajar bersama dalam kegiatan Jajal Geotrek 6 yang dilaksanakan oleh Penerbit Truedee.

Pada masa kolonial Kota Bandung dikenal sebagai kota yang asri karena memiliki sangat banyak taman sebagai penghias kotanya. Tak aneh bila saat itu Bandung populer sebagai kota taman. Di tengah kesibukan pembangunan berbagai sarana perkotaan, taman juga menjadi perhatian penting bagi pemerintah saat itu sehingga di sudut- sudut kota dibangun berbagai taman yang dirancang dengan indah. Kondisi seperti ini melahirkan banyak sebutan yang memuji keadaan Kota Bandung waktu itu, de bloem van bergsteden (bunganya kota pegunungan), Europa in de tropen (Eropa di wilayah tropis), sampai the garden of Allah.

Taman-taman yang asri seperti ini sangat menyejukkan dan menyegarkan bagi warga kota sehingga menjadi tujuan rekreasi yang mudah dan sangat murah bagi siapapun. Setiap saat warga kota dapat melakukan rekreasi ke taman-taman ini, sejak pagi hingga malam hari. Sangat menyenangkan…

Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda


Taman terbesar yang pernah dibangun oleh pemerintah Hindia-Belanda berbentuk hutan lindung dengan nama Hutan Lindung Gunung Pulosari. Perintisan taman ini mungkin sudah dilakukan sejak tahun 1912 berbarengan dengan pembangunan terowongan penyadapan aliran sungai Ci Kapundung (kemudian hari disebut sebagai Gua Belanda), namun peresmiannya sebagai hutan lindung baru dilakukan pada tahun 1922.

Sebagai taman hutan raya, maka Hutan Lindung Gunung Pulosari ini merupakan taman hutan raya yang pertama didirikan di Hindia-Belanda. Pada tahun 1965 taman hutan raya ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat waktu itu, Brigjen. H. Mashudi, sebagai Kebun Raya atau Hutan Rekreasi. Baru pada tanggal 14 Januari 1985 taman hutan diresmikan oleh Presiden Soeharto sebagai Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Tanggal peresmian ini memang bertepatan dengan hari kelahiran Pahlawan Kemerdekaan, Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, seorang tokoh nasional yang pernah memangku 18 jabatan menteri dalam rentang waktu antara 1946-1963.

Letak Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda berada di Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, pada ketinggian antara 770 mdpl sampai 1330 mdpl. Di atas tanahnya yang subur terdapat sekitar 2500 jenis tanaman yang terdiri dari 40 familia dan 112 species. Pada tahun 1965 luas taman hutan raya baru sekitar 10 ha saja, namun saat ini sudah mencapai 590 ha membentang dari kawasan Pakar sampai Maribaya. Saat ini pengelolaannya dilakukan oleh Dinas Kehutanan Pemda Provinsi Jawa Barat (sebelumnya berada di bawah naungan Perum Perhutani)

Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda dapat dikunjungi setiap hari. Waktu bukanya antara jam 08.00-18.00. Setiap pengunjung dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 8.000,- (tahun 2010). Kawasan ini biasanya cukup ramai pada akhir pekan, terutama hari Minggu pagi saat banyak orang datang berekreasi sekadar menikmati suasana atau berolah-raga lintas alam dengan rute Tahura-Maribaya sepanjang 6 kilometer. Jarak ini biasa dapat ditempuh berjalan kaki sekitar 2-3 jam (tergantung kondisi). Yang pasti berjalan kaki melintasi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda ini sangat menyenangkan karena selain keasrian lingkungannya, juga memberikan kesegaran karena udara yang relatif bersih.

Sebagian jalan setapak dalam hutan ini sudah dilapisi paving block sehingga memudahkan perjalanan. Di beberapa tempat terdapat warung-warung yang menyediakan penganan ringan dan minuman. Bagi pengunjung tersedia juga berbagai fasilitas seperti pusat informasi, musholla, shelter, taman bermain, dan toilet. Bila berminat untuk menjelajah, dapat mengunjungi berbagai objek seperti Monumen Ir. H. Djuanda, Gua Jepang dan Gua Belanda, Kolam Pakar, serta 3 buah air terjun, Curug Omas, Curug Lalay, dan Curug Dago. Letak Curug Dago agak terpisah sekitar 1 km sebelah selatan, sedangkan Curug Omas (dan beberapa curug lain) dapat ditemui di akhir perjalanan lintas alam Tahura-Maribaya. Jangan lewatkan juga untuk mengunjungi Museum Ir. H. Djuanda yang menyimpan berbagai dokumentasi piagam dan medali penghargaan yang pernah diterima oleh Ir. H. Djuanda. Koleksi lain dalam museum ini adalah artefak kebudayaan purba yang pernah ditemukan di kawasan Dago Pakar.

Gua Jepang & Gua Belanda

Gua Belanda mulai dibangun pada tahun 1912 dengan membobol bukit di sisi aliran sungai Ci Kapundung. Fungsi awalnya adalah sebagai saluran penyadapan aliran sungai untuk keperluan pembangkit tenaga listrik. Tahun 1918 tampaknya ada perubahan atau penambahan fungsi gua karena di dalam gua ditambahkan ruang-ruang dan cabang lorong hingga panjang keseluruhan gua mencapai 547 meter. Tinggi mulut gua 3,2 meter dan jumlah cabang lorong 15 buah. Beberapa ruang tampak seperti ruang tahanan. Setelah terjadinya perubahan fungsi, maka dibuatlah jalur air yang baru menggunakan pipa-pipa besar yang ditanam di bawah tanah kawasan Tahura. Kemungkinan Belanda juga menjadikan gua ini sebagai tempat penyimpanan mesiu. Saat masuknya tentara Jepang, Belanda sempat menggunakan gua ini sebagai Pusat Telekomunikasi Militer Hindia-Belanda bagi tentaranya.

Pada masa penjajahan Jepang, fungsi gua sebagai gudang penyimpanan senjata dan mesiu dilanjutkan sambil menambahkan gua-gua baru lainnya di dekatnya (1943-1944) yang belakangan disebut sebagai Gua Jepang. Untuk membangun gua ini, Jepang menerapkan kerja paksa (romusha) pada penduduk saat itu. Gua-gua ini kemudian juga menjadi tempat pertahanan terakhir Jepang di Bandung. Setelah kemerdekaan RI gua-gua ini tidak terperhatikan dan baru ditemukan kembali pada tahun 1965 dengan kondisi tertutup alang-alang dan tetanaman yang lebat. Saat itu di dalam gua banyak didapati amunisi bekas tentara Jepang pada masa Perang Dunia II. Sejak ditemukannya, Gua Jepang masih berada dalam kondisi aslinya sementara Gua Belanda sudah mengalami 3 kali perbaikan.

P.L.T.A Pakar

PLTA pertama yang dibangun di aliran Sungai Ci Kapundung adalah Waterkracht werk Pakar aan de Tjikapoendoeng nabij Dago (PLTA Pakar, belum jelas di mana lokasinya). Produknya adalah tenaga listrik yang didistribusikan ke rumah-rumah di Bandung dan sekitarnya oleh Bandoengsche Electriciteit Maatscappij. PLTA yang masih ada saat ini adalah PLTA Bengkok yang sudah beroperasi sejak tahun 1922. Gedung yang masih berdiri sekarang dibangun tahun 1923 dan di dalamnya masih dapat ditemukan mesin-mesin buatan tahun 1922, di antaranya mesin pendingin Ceber-Stroco Henegelo dan generator Smit Slikkerveer.

Untuk menggerakkan turbin di PLTA ini, air Sungai Ci Kapundung dialirkan melalui saluran khusus yang kemudian ditampung di kolam pengendapan lumpur dan kolam penenang di kawasan Tahura Ir. H. Djuanda (dibangun tahun 1918). Kolam ini sering disebut dengan Kolam Pakar. Melalui pintu pembuang, air memasuki suatu saluran dan menuju pipa pesat sepanjang ± 500 m (tinggi jatuh air sekitar 104 meter) dan kemudian dijadikan pembangkit generator. Listrik yang dihasilkan lalu disalurkan untuk rumah-rumah orang Belanda yang berada di daerah Bandung Utara.

Sejak tahun 1920, pengelolaan distribusi listrik ditangani oleh Gemeenschappelijk Electrisch Bedrift Bandoeng en Omstreken atau G.E.B.E.O. (kemudian menjadi PLN). Menurut salah seorang mantan pekerja di Radio Malabar di Gunung Puntang, pembangunan pembangkit listrik di utara Bandung ini juga difungsikan untuk menambah pasokan kebutuhan listrik dalam mengoperasikan stasiun pemancar Radio Malabar.

Selain PLTA Bengkok, di tempat terpisah di kawasan ini juga terdapat PLTA Dago yang selain berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik juga untuk memenuhi kebutuhan PDAM.

Curug Dago

Air Terjun atau Curug Dago atau terletak sekitar 1 kilometer di sebelah selatan kawasan Tahura Ir. H. Djuanda. Tinggi air terjun ini hanya 15 meter, namun aliran deras sungai Ci Kapundung serta bentuk curugnya menimbulkan suara yang cukup membahana di sekitarnya. Sebagian kalangan menganggap curug ini memiliki kesan magis dan menganggapnya keramat.

Salah seorang yang tertarik dengan keindahan dan suasana mistik Curug Dago adalah seorang raja dari Thailand yang sedang berkunjung ke Bandung, yaitu Chulalongkorn bergelar Rama V beserta anaknya Pangeran Pravitra Vandhanodom. Mereka mengunjungi Curug Dago pada tahun 1902. Dari hotel Homann tempat menginap, mereka mengunjungi Curug Dago dengan mengendarai kuda. Dalam kunjungannya itu Raja Thailand meninggalkan sebuah prasasti bertuliskan nama sang raja, beserta umur serta tahun kunjungan yang ditulis dalam penanggalan dan bahasa Thailand. Prasasti ini masih dapat dilihat sekarang berdampingan dengan sebuah prasasti lain tinggalan cucu sang raja, yaitu Pangeran Prajatiphok Paramintara (Rama VII) yang menapaktilasi kunjungan kakeknya pada tahun 1929. Kedua prasasti ini lama tak diketahui keberadaannya sampai ditemukan kembali pada tahun 1989.

Menurut Bhiksu Prawithamtur dari Vihara Menteng Jakarta yang juga pernah mengunjungi Curug Dago tahun 1989, “Apabila seorang raja Thailand bersemedi dan menuliskan namanya di suatu tempat, maka selain untuk kenangan, biasanya panorama alam pada lokasi itu indah, juga dianggap suci dan keramat.”

Kawasan Pakar

Kawasan Pakar di Bandung utara sudah sejak lama dikenali sebagai kawasan permukiman manusia purba di sekitar Bandung. Ada dugaan bahwa kata pakar bersesuaian dengan kata pakarang dalam bahasa Sunda yang artinya adalah alat bela diri atau senjata. Memang sejak masa Hindia-Belanda sangat banyak ditemukan berbagai benda kuno di wilayah ini. Benda-benda tersebut umumnya terbuat dari bahan batu obsidian dalam bentuk mata tombak, mata panah, kapak, alat asah dan banyak lagi lainnya. Dr. G.H.R. von Koenigswald melakukan penelitian intensif atas berbagai temuan dari dataran tinggi Bandung ini pada tahun 1935. Menurutnya temuan benda purba di sekitar Bandung mewakili beberapa zaman dan dapat dengan mudahnya ditemukan berserakan di permukaan tanah (1956).

Dr. W. Rothpletz, seorang sarjana geologi, juga banyak melakukan penelitian di daerah Pakar pada masa setelah kemerdekaan. Melihat potensi kawasan ini sebagai objek penelitian, maka Rothpletz pernah berupaya menjaga kelestarian Pakar dengan mendirikan sebuah prasasti ‘historical site’ di daerah Kordon. Namun di kompleks ini sekarang malah sudah berdiri sebuah Sekolah Dasar.

Sebelumnya di wilayah yang sama sudah banyak pula ditemukan berbagai arca dan benda kuno seperti yang telah dikumpulkan oleh R.D.M. Verbeek dan kemudian dicatat secara lengkap oleh Dr. N.J. Krom dalam Rapporten Oudheidkundige Dienst pada tahun 1914. Semua benda ini sekarang telah menjadi koleksi Museum Nasional di Jakarta. Tampaknya karena itulah pada tahun 1917, sebuah kelompok bernama Bandoengsche Committee tot Natuurbescherming (Komite Perlindungan Alam Bandung) yang dipimpin oleh Dr. W. Docters van Leeuwen merencanakan mendirikan sebuah museum alam terbuka dengan nama Soenda Openlucht Museum di daerah Dago Pakar. Sayangnya cita-cita museum alam ini tidak pernah terwujud.

Mungkinkah pemerintah dan masyarakat sekarang mau memulai kembali mewujudkan berbagai perhatian dan rencana yang sudah dirintis sejak awal abad ini?

Ridwan Hutagalung (dan bukan Saragih atau pun Siregar, hehe)

Sumber :

–           , 2007, Taman Huta Raya Ir. H. Djuanda, Pemerintah Propinsi Jawa Barat, Dinas Kehutanan, 2007

Komunitas Aleut!, 2010, Bandung; Where to Go, Intisari, Jakarta

Kunto, Haryoto, 1986, Semerbak Bunga di Bandung Raya, P.T. Granesia, Bandung

Kunto, Haryoto, 1989, Savoy Homann Bidakara Hotel; Persinggahan Orang-Orang Penting, Panghegar Group, Bandung

Sakri, Adjat (ed), 1979, Dari TH ke ITB, Penerbit ITB, Bandung

Suharto, Imtip Pattajoti, 2001, Journeys to Java by a Siamese King, The Ministry of Foreign Affair, Thailand

Wawancara dengan Bpk. Fathul Qodim, Staf Pemanfaatan THR Ir. H. Djuanda, 3 September 2009

Catatan :

Notes in dipublish juga di http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=1036