Skip navigation

Berikut ini ada beberapa tradisi dalam merayakan Imlek yang saya tulis ulang dari artikel yang dimuat dalam HU Pikiran Rakyat, 2 Februari 2011. Pikiran Rakyat mengambil sumbernya dari Reuters.

Sebelum tahun baru Imlek biasanya keluarga membersihkan menghias rumahnya. Memotong rambut dan membeli pakaian baru. Tradisi ini dilakukan sebagai bagian untuk menyambut datangnya tahun baru dengan nasib yang lebih baik. Tradisi yang sama juga terdapat dalam berbagai budaya lain dalam menyambut tahun barunya masing-masing.

Pada malam tahun baru dilakukan tradisi shousui, yaitu kumpul tahunan bersama keluarga besar. Kegiatannya adalah makan malam bersama. Semua anak ikut berkumpul dan mendoakan orangtua mereka agar diberkahi usia yang panjang.

Hari pertama tahun baru (Imlek) diisi dengan saling mengunjungi antarkeluarga. Biasanya keluarga yang lebih muda mengunjungi keluarga yang tua. Pada hari ini terdapat tabu menyapu lantai. Pekerjaan menyapu pada saat Imlek dipercaya akan menghilangkan keberuntungan.

Pada hari ketiga adalah tradisi chi kou. Orang-orang menghindari kunjungan tetamu karena dipercaya pada hari ini roh-roh jahat sedang mendatangi bumi.

Hari kelima adalah hari lahirnya Dewa Kekayaan. Banyak usaha kembali dibuka pada hari ini.

Renri pada hari ketujuh adalah hari lahirnya manusia. Pada hari ini setiap manusia beranjak setahun lebih tua. Kegiatan hari ini adalah menghidangkan sup dengan tujuh bahan sayuran atau makan salad ikan mentah yang disebut yusheng.

Hari kelimabelas adalah saatnya untuk pesta lampion yang biasa disebut yuan xiao. Sebagai penganan istimewa untuk hari ini adalah sejenis kue moci manis dalam sirup. Penganan ini adalah simbol kesatuan dan kebersamaan.

Perayaan Imlek atau biasa juga disebut sin cia dapat saja berbeda-beda di setiap daerah. Simbol-simbol yang dipakai pun mungkin saja memiliki perbedaan tergantung daerahnya, pemaknaan yang terkandung di dalamnya pun bisa berbeda, namun persamaan umumnya adalah menyambut kedatangan tahun baru, hari baru, yang diharapkan akan lebih baik. Misalnya saja Eko, salah seorang narasumber dalam liputan PR tersebut, menganggap tradisi Imlek dapat juga menjadi ajang silaturahmi antarkeluarga dan sanak-saudara serta berbagi rezeki dengan sesama.

Dalam merayakan atau bersembahyang Imlek biasanya disajikan 12 macam jenis masakan dan 12 macam kue sebagai perlambang shio yang jumlahnya 12. Ada berbagai kebiasaan khas yang sangat menarik selain sejumlah larangan yang berkaitan dengan perayaan Imlek.

Misalnya saja kue keranjang atau nian gao (juga disebut tii kwee). Kue yang biasa kita sebut dengan dodol cina ini hanya diproduksi pada sekitar Imlek saja, setelah cap go meh (hari kelimabelas tahun baru) berlalu, maka akan sulit sekali mendapatkan kue ini di mana-mana kecuali bila mau memesannya secara khusus. Kue keranjang adalah simbol untuk kemajuan dan perbaikan sesuai dengan artinya yaitu ‘semakin tinggi setiap tahun’. Karena itulah kue keranjang biasa disusun tinggi, makin ke atas makin kecil dan pada bagian puncaknya ditaruh kue mangkok berwarna merah, maknanya adalah kehidupan yang semakin menanjak, bertambah manis dan mekar seperti kue mangkok. Nama kue keranjang didapatkan dari cetakannya yang menggunakan keranjang.

Cap go meh adalah bagian akhir dari perayaan Imlek yang dilangsungkan pada hari kelimabelas. Banyak daerah yang merayakannya dengan festival lampion seperti di Semarang. Pada hari ini ada hidangan istimewa yaitu lontong capgomeh yang terdiri dari lontong, opor ayam, lodeh, pindang telor, sate kambing dan samabal docang. Ada juga yang isinya berupa lontong, sayur, pindang telor, dan bubuk kedelai.

Dalam merayakan Imlek kita sering juga menyaksikan atraksi barongsai yang sekarang dipertunjukkan di berbagai tempat, termasuk di mal-mal. Barongsai dimainkan oleh beberapa orang dengan iringan musik tambur, gong, dan simbal. Tarian singa yang atraktif ini dianggap memberikan keuntungan bagi pemilik rumah atau penyelenggara pertunjukannya.

Angpao atau amplop merah berisi uang biasa dibagikan oleh keluarga yang sudah menikah kepada anak-anak atau mereka yang belum menikah, dan juga kepada mereka yang tidak atau belum memiliki pekerjaan dan para pelayan. Ini tentu saja sebagai tanda berbagi rezeki pada sesama.

Sedangkan sejumlah larangan pada perayaan Imlek, selain menyapu, adalah menyajikan beberapa macam makanan seperti bubur yang dianggap melambangkan kemiskinan. Makanan dengan rasa pahit seperti pare juga dihindari karena melambangkan pahitnya kehidupan. Ada juga yang menghindari buah-buahan berduri seperti salak dan durian, kecuali nanas. Nanas yang diucapkan wang li bunyinya mirip atau mengandung kata “berjaya”, selain itu juga perlambang untuk mahkota raja.

Ya segitu saja yang bisa saya catatkan untuk ikut bagian dalam perayaan Imlek yang jatuh pada tanggal 3 Februari 2011 lalu. Tentu saja ini sangat terbatas dibanding tradisi dan pernak-perniknya yang luar biasa. Anggap saja catatan ini sekadar ringan untuk 26 orang dari Komunitas Aleut! juga turut berkunjung ke Klenteng Satya Budhi pada malam tanggal 2 Februari hingga menjelang pergantian hari menuju Imlek.

Ridwan Hutagalung

4 Februari 2011

Foto-foto pada malam menjelang Perayaan Imlek di Vihara Satya Budhi Bandung dapat dilihat di sini http://www.facebook.com/album.php?id=519229089&aid=288308

Sumber :
Halaman khusus Bandung Raya dengan tema “Tahun Baru Imlek”, HU Pikiran Rakyat, Rabu, 2 Februari 2011
Tradisi Imlek http://chineseculturezone.blogspot.com/2010/12/tradisi-imlek-makanan-sajian-imlek.html
Imlek Indonesia http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/Budaya_Bangsa/Pecinan/Imlek.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: