Skip navigation

Sejarah populer objek-objek yang disinggahi dalam Trudee Jajal Geotrek II, 28 November 2009

Gn. Wayang-Windu koleksi tropenmuseum

1) Stasiun Radio Malabar/Gunung Puntang
Kawasan wisata Gunung Puntang yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Malabar, terletak di Desa dan Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung. Kawasan ini sempat pusat perhatian dunia pada tahun 1923 karena saat itu pemerintah Hindia Belanda berhasil mendirikan stasiun radio pemancar yang pertama dan terbesar di Asia. Untuk memancarkan gelombang radio digunakan bentangan antena sepanjang 2 km antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun. Ketinggian antena dari dasar lembah rata-rata 350 meter. Kontur lembah di kawasan yang terpencil ini ternyata sangat mendukung efektivitas rambat gelombang yang mengarah langsung ke Nederland. Sebagai pendukung tenaga listriknya, dibangun pula sejumlah pembangkit listrik, di antaranya PLTA Dago dan PLTA Plengan dan Lamadjan (di Pangalengan) serta sebuah PLTU di Dayeuh Kolot.

Pada tahun 1923 dibangun pula sebuah kompleks hunian bagi para karyawan stasiun pemancar ini. Kompleks yang disebut sebagai Radiodorf (Kampung Radio) ini memiliki sejumlah fasilitas seperti rumah karyawan, gedung pemancar, lapangan tenis, kolam renang, dan konon juga sebuah bioskop. Sayang semuanya kini hanya tinggal puing berserakan saja. Di seantero kawasan ini bisa dengan mudah kita temui sisa-sisa bangunan, bekas-bekas fondasi yang sering tertutup semak, serta sisa-sisa antena yang masih tersebar di area pegunungan. Saat ini di reruntuhan bangunan yang tersisa dipasang plakat-plakat nama para pejabat yang pernah tinggal di situ.

Perintisan dan pembangungan Stasiun Radio Malabar dilakukan oleh seorang ahli teknik elektro Dr. Ir. C.J. de Groot sejak 1916. Pembangunan antena di Gunung Puntang sudah dilakukannya sejak 1917. Setelah mengalami kegagalan, de Groot akhirnya bisa menyelesaikan pekerjaannya pada tahun 1923 (antena Telefunken yang diterima di Batavia pada 1919, baru selesai terpasang pada 1922). Stasiun Radio Malabar kemudian diresmikan oleh Gubernur Jenderal de Fock pada tanggal 5 Mei 1923.
Dr. de Groot yang meninggal pada tahun 1927 kemudian hari dikenang melalui sebuah nama jalan di Bandung Utara, Dr. de Grootweg (sekarang menjadi Jalan Siliwangi), sedangkan peristiwa telekomunikasi pertama diperingati melalui pendirian sebuah monumen berbentuk dua orang anak telanjang yang sedang berkomunikasi mengapit sebuah bola dunia di Tjitaroemplein. Sayangnya monumen tersebut sudah tidak ada lagi sekarang. Di bekas lokasinya sekarang didirikan Mesjid Istiqomah.

Stasiun Radio Malabar mengakhiri masa jayanya pada tahun 1946 dengan terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api. Saat itu empat pemuda dari Angkatan Muda PTT yang bertugas menjaga Stasiun Radio Malabar menerima perintah dari Komandan Resimen yang sedang berada di Citere, Pangalengan. Isi perintahnya adalah penghancuran Stasiun Radio Malabar.

Radiodorf & Stasiun Pemancar Malabar
Mesin-mesin di dalam Stasiun Pemancar Malabar
Sisa-sisa Radiodorf
Sisa Kolam Cinta

2) Karl Albert Rudolf Bosscha
Perkebunan Teh Malabar sudah dibuka sejak tahun 1890 oleh Preangerplanter bernama Kerkhoven yang sebelumnya sudah membuka perkebunan teh di daerah Gambung, Ciwidey. Namun popularitas kawasan Kebun Teh Malabar berkembang dan memuncak setelah Kerkhoven mengangkat sepupunya, Bosscha, untuk menjadi administratur perkebunan ini pada tahun 1896.

Selain perkebunan, sejumlah jejak Bosscha lainnya masih tersebar di kawasan ini. Di antaranya sebuah rumah tinggal yang saat ini sedang direnovasi akibat kerusakan yang cukup parah oleh gempa bumi pada bulan September lalu. Sebelum kerusakan ini, berbagai barang pribadi peninggalan Bosscha masih tersimpan dan tertata rapi di rumah ini. Saat ini barang-barang tersebut diungsikan ke sebuah gudang sampai renovasi selesai dilakukan. Salah satu spot favorit Bosscha di perkebunan ini adalah sebuah hutan kecil yang sekarang menjadi lokasi makam dan tugu Bosscha. Beberapa pohon besar (termasuk yang langka) memberikan keteduhan pada kompleks makam ini.

Tak jauh dari makam, terdapat suatu area dengan pohon-pohon teh yang sudah berumur lebih dari 100 tahun. Pohon-pohon teh yang mencapai tinggi hingga 6 meter ini berasal dari biji-biji teh Assam (India) yang ditanam pada tahun 1896. Biji teh dari Assam inilah yang kemudian menjadi bibit bagi perkebunan teh di sekitar Pangalengan. Di belakang pasar Malabar hingga saat ini masih dapat juga ditemui sebuah rumah panggung tempat tinggal para buruh perkebunan di masa Bosscha. Konon rumah panggung yang sekarang dikenal dengan nama Bumi Hideung ini didirikan pada tahun 1896, saat yang sama dengan berdirinya Perkebunan Teh Malabar.

Nama Bosscha sebenarnya tak dapat dipisahkan dari Kota Bandung. Sifatnya yang dermawan telah melibatkannya dalam berbagai perkembangan dan kemajuan Kota Bandung di masa lalu. Beberapa di antaranya : pembangunan Technische Hooge School (THS atau ITB sekarang) beserta fasilitas laboratoriumnya, Sterrenwacht (peneropongan bintang) Bosscha di Lembang, PLTA Cilaki di Gunung Sorong, serta berbagai sumbangan untuk Doofstommen Instituut (Lembaga Bisu Tuli) dan Blinden Instituut (Lembaga Buta) di Jln. Cicendo dan Jln. Pajajaran, Leger des Heils (Bala Keselamatan), dan beberapa rumah sakit di Bandung.

Perkebunan teh tua di Malabar
Perkebunan Teh Malabar

Sumber tulisan :
– Wisata Bumi Cekungan Bandung (Brahmantyo & Bachtiar, Truedee Pustaka Sejati, Bandung, 2009)
– Jendela Bandung (Her Suganda, Penerbit Buku Kompas, Bandung, 2007)
– Radio Malabar – Herinneringen aan een Boiende Tijd 1914-1945 (Klaas Djikstra, pdf version)
– Buklet Radio Station Malabar en Overige Stations op de Bandoengsche Hoogvlakte (Gouvernements Post-Telegraaf en Telefoondienst in Nederlandsch-Indie, 1928)
– catatanide.multiply.com, ketjesuretje.multiply.com
– Artikel-artikel koran PR dan Kompas.
– Sumber foto tropen museum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: