Skip navigation

by Ridwan Hutagalung on Friday, February 12, 2010 at 12:53am

 

Ceritanya, sebelum pelaksanaan program Jajal Geotrek III (Kawah Domas-Ciater) dari Truedee tanggal 27 Februari 2010 nanti, saya ingin berbagi catatan-catatan ringan yang saya temukan dari sejumlah buku.

Konon pendakian pertama Gn. Tangkuban Parahu dilakukan oleh Abraham van Riebeeck pada tahun 1713. Pendakian ini merupakan misi pencarian belerang sebagai bahan campuran pembuatan bubuk mesiu untuk meriam dan bedil. Saat itu tentu saja belum ada jalur jalan seperti sekarang, sehingga pendakian ke puncak gunung dengan ketinggian 2.076 mdpl itu bisa sangat melelahkan. Akibatnya memang fatal bagi van Riebeeck, beliau meninggal dalam perjalanan pulang dari puncak Tangkuban Parahu tanggal 13 November 1713 karena tenaga yang habis terkuras. Sebelumnya van Riebeeck juga sudah mendaki Gn. Papandayan di sebelah selatan. Beruntung van Riebeeck sempat meninggalkan catatan-catatan yang kemudian menyadarkan Kompeni Belanda tentang potensi alam Tatar Ukur (Priangan) waktu itu. {1}

Peta kawah dan trekking dari masa Hindia Belanda.

Abraham van Riebeeck adalah putra Joan van Riebeeck, pendiri Capetown di Afrika Selatan. Pada tahun 1712 ia mendarat di Wijnkoopsbaai (sekarang Pelabuhan Ratu) sebagai salah satu orang pertama yang memperkenalkan tanaman kopi ke Pulau Jawa.{2} Kelak penanaman kopi ini akan menjadi salah satu andalan hasil bumi Priangan hingga dipaksakan penanamannya mulai tahun 1831 melalui kebijakan cultuurstelsel atau sistem tanam paksa sebagai upaya pemulihan kas Hindia Belanda yang tersedot akibat Perang Diponegoro (atau Perang Jawa, 1825-1830).{3} Sayangnya kebijakan ini memakan sangat banyak korban di pihak pribumi yang dipaksa untuk bekerja tanpa henti serta sama sekali tak menerima hasil jerih payahnya. Cultuurstelsel kemudian dihapuskan pada tahun 1870 (di Priangan baru pada 1917) akibat kecaman dari berbagai pihak atas eksploitasi ini. Di antara mereka yang mengecam adalah Multatuli lewat bukunya yang terkenal, “Max Havelaar”. {4}

Di wilayah Bandung penanaman kopi dilakukan di lereng-lereng pegunungan yang mengitari Bandung, termasuk lereng Gn. Tangkuban Parahu {5}, Lembang, hingga ke dataran tinggi di kawasan Ciumbuleuit. Hasil kopi kemudian dibawa melalui jalan tradisional atau setapak ke sebelah selatan di antaranya ke koffiepakhuis (gudang kopi) milik preangerplanter Dr. Andries de Wilde {6} di lokasi Gedung Balaikota sekarang. Setelah diolah kemudian kopi dibawa menggunakan gerobak pedati melewati Bragaweg menuju Grootepostweg dan seterusnya ke pelabuhan laut di Batavia.

Koffiepakhuis di lokasi Balaikota sekarang (KITLV).

Keberadaan tanaman kopi di lereng Gn. Tangkuban Parahu hingga Ciumbuleuit juga disebut dalam catatan perjalanan Charles Walter Kinloch yang dibukukan dengan judul Rambles in Java. Kinloch menulis tentang keasrian kawasan perkebunan di utara Bandung dan mengunjungi pemilik kebun kopi terbesar di Priangan saat itu, Mr. Philippean yang memiliki sejuta pohon kopi di kawasan Lembang.{7}

Pos perkebunan di daerah Ciumbuleuit (KITLV).

Sedikit tambahan mengenai Abraham van Riebeeck, sebelum mengeksplorasi Tatar Ukur pada 1712-1713, ia sudah menjelajahi wilayah di selatan Batavia (yang kelak akan menjadi Bogor) dalam kedudukannya sebagai pegawai tinggi VOC. Pada tahun 1703 dan 1704 (kemudian juga pada 1709) van Riebeeck mengadakan penelitian ke kawasan bekas ibukota Pajajaran (Pakuan) dan membuat laporan mengenai kondisinya saat itu.{8} Riebeeck memang tercatat dua kali menjabat sebagai Inspektur Jenderal dan menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada periode 1709-1713.

Sekarang untuk menuju puncak Tangkuban Parahu sudah sangat mudah. Jalan aspal sepanjang 4 kilometer ke bibir Kawah Ratu sudah dibangun sebagai salah satu program pertama perkumpulan Bandoeng Vooruit pada tahun 1928. Jalan aspal ini dahulu dinamakan Hooglandweg, mengambil nama ketua Bandoeng Vooruit, W.H. Hoogland, yang juga menjabat sebagai direktur Bank DENIS (sekarang Bank Jabar Banten, di Jl. Braga). Hoogland juga pernah menulis buku panduan wisata berjudul “Gids van Bandoeng en Midden-Priangan” (1927) bersama S.A. Reitsma. Bandoeng Vooruit juga membangun sebuah monumen bagi tiga siswa HBS yang pada tahun 1924 meninggal karena keracunan gas saat berjalan-jalan di tepi kawah. Monumen ini masih dapat ditemui salah satu sisi bibir kawah Upas.

 

Poster-poster Bandoeng Vooruit

Letusan Gn. Tangkuban Parahu, 1911.

Gn. Tangkuban Parahu sekarang merupakan Taman Wisata Alam seluas 370 hektar dan secara administratif berada di dua wilayah pemerintahan, yaitu Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang. Selain Kawah Ratu dan Kawah Upas yang merupakan kawah utama, juga terdapat sejumlah kawah lainnya, seperti Kawah Domas, Kawah Jarian, Kawah Badak, Kawah Baru, dan Kawah Siluman. Bila berdiri di bibir Kawah Upas atau Kawah Ratu, menghamparlah pemandangan yang sangat indah dan spektakuler. Sungguh kita manusia menjadi semakin kecil saja bila memandang karya alam yang dahsyat seperti ini. Turun sejauh 1,2 km dari tepi Kawah Ratu akan menemui kompleks Kawah Domas. Permukaan kawah bergolak karena panas yang mencapai titik didih sering dipakai pengunjung untuk merebus telur. Telur yang matang biasa dinamakan “telur dewa” dan dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit.

 

Komunitas Aleut! di Kawah Domas beberapa waktu lalu dalam perjalanan menyenangkan menuju Ciater.
http://www.facebook.com/profile.php?v=photos&ref=profile&id=519229089#!/album.php?aid=125706&id=519229089

Kecintaan terhadap fenomena alam kawah Tangkuban Parahu telah membuat dua orang geolog terkemuka yang juga pengajar di Technische Hoogeschool Bandoeng (sekarang ITB) memilih Kawah Ratu sebagai tempat persemayaman abadi mereka. Prof. H. Th. Klompe yang meninggal di Kuala Lumpur pada tahun 1960-an berpesan agar abu jenazahnya ditaburkan di Kawah Ratu. Kemudian di awal tahun 2000-an, abu jenazah Prof. George Adrian de Neve juga ditaburkan di tempat yang sama.{9}

Kawah Ratu (RH, 2008)

Catatan :
{1} “Wajah Bandoeng Tempo Doeleoe”, Haryoto Kunto, Granesia, Bandung, 1984
{2} Sebelumnya percobaan menanam kopi di daerah Batavia dan Priangan sudah pernah dilakukan oleh Johan van Hoorn dan Hendrik Zwaardecroon pada tahun 1700, namun percobaan ini menemui kegagalan.
{3} Cultuurstelsel berlangsung antara 1831-1870 atas prakarsa Gubenur Jenderal Van den Bosch dan selama masa itu mampu memberikan keuntungan sebanyak 823 juta Gulden bagi pemerintah Hindia Belanda.
{4} “Max Havelaar”, Multatuli, Nederlandsch Bibilotheek, Amsterda, 1927
{5} Raja Kopi di lereng Tangkuban Parahu, termasuk daerah Setiabudhi sekarang, kemudian juga di Gn Patuha, Gn. Mandalawangi, Gn. Galunggung, dan Gn. Malabar adalah Pieter Engelhard. Ia mulai menanam kopi di sekitar Setiabudhi sekarang pada tahun 1789. Produk kopi Pieter Engelhard dikenal dengan nama Javakoffie.
{6} Andries de Wilde adalah ahli bedah yang sempat menjabat sebagai Asisten Residen Bandong pada 1812. Ia pernah menjadi asisten utama Daendels dan bersahabat juga dengan Raffles yang mengangkatnya sebagai Koffie Opziener (Pengawas Penanaman Kopi) yang berkedudukan di Tarogong, Garut. De Wilde pulalah yang pada 1819 mengajukan usulan pemindahan Keresidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung dengan tujuan mempermudah pengembangan wilayah pedalaman Priangan. Namun usulannya baru menjadi kenyataan pada masa Residen Van der Moore tahun 1864 dan itu pun sambil didesak oleh meletusnya Gunung Gede yang menggoncangkan Cianjur waktu itu. De Wilde sempat menulis buku “De Preanger Regencies in Java” pada 1830, sementara kisah hidupnya sendiri dibukukan oleh Cora Westland pada tahun 1944 dengan judul “De Levensroman van Andries de Wilde.”
{7} “Rambles in Java – and the Straits in 1852”, Bengal Civilian (Charles Walter Kinloch), Oxford University Press, 1982
{8} “Sejarah Bogor – Bagian I”, Saleh Danasasmita, . Lihat juga tulisan dengan judul Aleut! Tour de Buitenzorg, 240110.
{9} “Jendela Bandung’, Her Suganda, Penerbit Buku Kompas, 2007.

Bahan Bacaan :
“Aleut! Tour de Buitenzorg, 240110”, Ridwan Hutagalung (blognote di Facebook)
“Bandung, Beeld van Een Stad”, RPGA Voskuil, Asia Maior
“Braga; Jantung Parijs van Java”, Ridwan Hutagalung & Taufanny Nugraha, Ka Bandung, 2008
“Jendela Bandung’, Her Suganda, Penerbit Buku Kompas, 2007
“Journeys to Java”, Marquis Tokugawa, ITB Press, 2004
“Max Havelaar”, Multatuli, Nederlandsch Bibilotheek, Amsterda, 1927
“Rambles in Java – and the Straits in 1852”, Bengal Civilian (Charles Walter Kinloch), Oxford University Press, 1982
“Sejarah Bogor – Bagian I, Saleh Danasasmita,
“Semerbak Bunga di Bandung Raya”, Haryoto Kunto, Granesia, Bandung, 1986
“Wajah Bandoeng Tempo Doeleoe”, Haryoto Kunto, Granesia, Bandung, 1984

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: