Skip navigation

by Ridwan Hutagalung on Thursday, August 12, 2010 at 2:38pm

Sekarang bila hendak memastikan jadwal berbuka puasa, tak jarang orang menunggui televisi atau radio untuk mendengarkan kumandang suara adzan. Mesjid dengan suara speaker yang cukup keras memang banyak di Bandung, tapi seringkali suaranya kalah oleh kebisingan suasana kota. Namun di Bandung tempo dulu yang sunyi, bunyi bedug, tanpa harus menggunakan peralatan pengeras suara, sudah cukup membahana sampai ke Ancol, Andir, Tegalega, bahkan sampai Kampung Balubur. Menjelang subuh, bebunyian dari kohkol (kentongan) malah bisa terdengar sampai ke Simpang Dago, Torpedo (Wastukancana),dan Cibarengkok (Sukajadi).

Setiap bulan Ramadhan, Mesjid Agung ramai kunjungan masyarakat Bandung, termasuk oleh warga dari wilayah utara. Ya maklum saja, di utara Bandung masih cukup langka keberadaan mesjid selain Mesjid Kaum Cipaganti. Lagi pula mesjid legendaris ini berada di titik pusat keramaian kota. Orang beramai-ramai berbuka puasa di sekitar Pasar Baru dan Alun-alun. Di sana banyak warung, restoran, atau tukang dagang keliling yang bisa didatangi. Setelah shalat Maghrib, orang biasanya bersantai-santai sambil menunggu saatnya shalat Isya dan Taraweh di Mesjid Agung.

Mesjid Agung tahun 1930-an.

Yang paling dikenang orang dari Mesjid Agung Bandung adalah bentuk atapnya yang bersusun tiga dan meruncing di puncaknya seperi tampak dalam foto atas. Karena itulah mesjid ini mendapatkan julukannya yang legendaris, Bale Nyuncung (lancip). Gambar ini adalah hasil perombakan Mesjid Agung yang keempat kalinya sejak didirikan pada tahun 1812 (atau 1810?). Awalnya berupa bangunan bambu sederhana saja dengan atap rumbia. Pada tahun 1825 diperbaiki menjadi bangunan kayu.Tahun 1850 bangunan mesjid sudah menggunakan tembok sebagai fondasinya. Bangunan inilah yang dilihat dan kemudian dibuatkan lithografinya oleh W. Spreat. Gambar karya W. Spreat dipakai sebagai ilustrasi buku catatan perjalanan karya seorangBengal yang pernah menjalani kawasan Malaka dan Pulau Jawa pada tahun 1852. Tahun1930 Mesjid Agung mendapatkan tambahan sebuah serambi depan dengan menara pendek di sisi kanan dan kirinya seperti yang tampak pada gambar di atas.

Gambar Mesjid Agung oleh W. Spreat sebagai ilustrasi buku De Zieke Reiziger.

Pada kondisi hasil perbaruan tahun 1930, tampak sekeliling mesjid diberi benteng tembok berlubang dengan motif sisik ikan. Motif yang sering dianggap gaya khas Bandung (Priangan) ini menurut kuncen Bandung, Haryoto Kunto, merupakan hasil rancangan MacLaine Pont, arsitek terkenal yang juga merancang kompleks utama kampus ITB. Motif sisik ikan juga dapat dilihat pada benteng tembok yang mengelilingi kompleks Pendopo dan rumah dinas Walikota Bandung, serta di kompleks makam bupati Dalem Kaum dan KarangAnyar. Seperti yang dapat dilihat pada bangunan Aula Barat dan Aula Timur ITB, karya-karya MacLaine Pont memang unik, merupakan gabungan teknologi Eropa dengan arsitektur bergaya Nusantara.

Mesjid Agung tahun 1930-an dengan benteng bermotif sisik ikan.

Tahun 1955, menyambut diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika, bentuk bangunan Mesjid Agung berubah drastis. Kedua menara kecil dibongkar untuk memperluas serambi depannya, dan sebagai gantinya dibangun menara tunggal di sisi selatannya. Ruang panjang di sisi kanan-kiri mesjid digabungkan ke bangunan utama. Dan bersama itu hilang pulalah ciri utama yang sudah hadir selama seratus tahun, atap tumpang tiga digantikan oleh kubah model bawang. Ada kemungkinan kubah model bawang dan menara tunggal pada bangunan baru Mesjid Agung merupakan gagasan dari Presiden Soekarno.

Mesjid Agung dengan kubah bawang pada akhir tahun 1970-an.

Konon saat Gubernur Jabar mengadakan rapat Panitia Perbaikan Mesjid Agung (dalam rangka menyambut Konferensi Asia-Afrika) di Gedung Pakuan tahun 1954, Soekarno menunjukkan gambar kasar gagasannya tentang Mesjid Agung. Namun karena desakan waktu, maka hanya kubah bawang dan menara tunggal itulah yang dapat terwujud dari gambar Soekarno tersebut. Sejak sebelum masa kemerdekaan Soekarno memang sudah menyimpan impian untuk membangun sebuah mesjid yang anggun dan megah. Namun keinginan ini harus menunggu sampai tahun 1960-an saat di Jakarta berhasil dibangun sebuah mesjid yang saat itu merupakan yang terbesar di Asia Tenggara, Mesjid Istiqlal. Tak berapa lama kemudian satu gagasan dan gambar sketsa lain dari Ir. Soekarno terwujud lagi dengan dibangunnya Mesjid Salman di ITB. Inilah mesjid pertama yang bentuknya tidak mengikuti gaya tradisional arsitektur mesjid di Bandung.

Tahun 1970 wajah Mesjid Agung dirombak total menjadi bangunan bertingkat dua. Halaman luar lantai dua dihubungkan secara langsung dengan sisi barat Alun-alun oleh sebuah jembatan beton. Kesan umum tentang rupa bangunan baru ini ternyata tidak memuaskan, apalagi kehadiran jembatan beton malah “merusak” tampilan mesjid. Tahun 1980 pada bagian muka mesjid dibangun tembok tinggi yang hampir menutupi keseluruhan tampilan mesjid.

Mesjid Agung, 2007.

Tahun 2000 dimulailah perombakan besar-besaran Mesjid Agung. Kali ini mesjid diperluas dengan mengambil jalan raya di depannya serta sebagian sisi barat Alun-alun. Bangunan utama memiliki dua buah kubah dan di sudut kanan-kirinya didirikan dua menara kembar setinggi 88 meter. Dari atas menara ini pengunjung dapat melihat pemandangan kota Bandung serta kompleks-kompleks pegunungan yang mengelilinginya. Pembangunan ini baru selesai dan diresmikan pada 4 Juni 2003. Nama mesjid pun berganti menjadi Mesjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat.

Tulisan ini saya kompilasikan dari sejumlah sumber terutama “Ramadhan di Priangan” (HaryotoKunto, Granesia, Bandung, 1996). Sumber lainnya adalah :
Rambles in Java & the Straits in 1852, Bengal Civilian (Charles Walter Kinloch),Oxford University Press, Singapore, 1987. Edisi aslinya diterbitkan dengan judul “De Zieke Reiziger” (The Invalid Traveller) pada tahun 1853 oleh Simpkin, Marshall & Co.
Album Bandoeng Tempo Doeloe, Sudarsono Katam & Tulus Abadi, Navpress, Bandung,2005.
Kliping HU Pikiran Rakyat.

Sumberfoto :
Tropen Museum, Bandoeng; Beeld van Een Stad (R.P.G.A. Voskuil), dan mooibandoeng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: