Skip navigation

by Ridwan Hutagalung on Tuesday, December 8, 2009 at 8:29pm
J.C. Bijkerk dalam bukunya “Vaarwel tot Betere Tijd” menulis bahwa pada tanggal 6 Maret 1942 para pembesar Pemerintah Hindia Belanda (Jend. Ter Poorten, G.G. Tjarda, Maj. Bakkers, dan Gubernur Jabar Hogewind) mengadakan suatu pertemuan di rumah Residen Bandung, Tacoma. Pertemuan tersebut menghasilkan keputusan menjadikan Bandung sebagai kota terbuka dengan maksud agar Jepang dapat masuk Bandung tanpa harus terjadi peperangan.Peristiwa ini tentu dapat dimaklumi mengingat sebelumnya Jepang telah memborbardir pertahanan sekutu Pearl Harbour di Lautan Pasifik (8 Desember 1941) yang dilanjutkan dengan siaran gencar radio propaganda Nippon yang dipancarkan dari Tokyo. Siaran dalam bahasa Indonesia ini berisi : “Sebentar lagi Tentara Dai Nippon akan tiba di Indonesia. Kami akan datang bukan sebagai musuh, tetapi bertujuan untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.” Sebagai pembuai, siaran gombal dari Jepang ini selalu diakhiri dengan pemutaran lagu Indonesia Raya yang ternyata memang mampu membuai kebanyakan rakyat Indonesia.Propaganda balik dari pihak Belanda dilakukan melalui radio-radio Nirom Surabaya dan Nirom Batavia, isinya agar rakyat Indonesia jangan memercayai siaran radio propaganda Jepang tersebut. Namun serangan balik ini sama sekali tidak berhasil karena tak lama kemudian Suarabaya, Malang, dan Madiun telah dibombardir angkatan udara Nippon.

Serangan berikutnya terjadi di Laut Jawa pada 27 Februari 1942. Jepang berhasil menenggelamkan kapal-kapal Exeter, Kortenaer, Java, dan Encouter milik sekutu yang disusul oleh dua kapal terakhir, Houston dan Perth.

Rangkaian peristiwa ini sudah membuat pihak Belanda kehilangan daya untuk melawan sehingga menyerah tanpa banyak perlawanan. Karena itulah pertemuan di Bandung seperti yang dikutipkan di atas dapat terjadi.

Setelah menduduki Bogor, pangkalan udara Kalijati, benteng Ciater, dan kemudian pangkalan udara Andir, maka sebagian besar Jawa Barat sudah ada di tangan Jepang. Penyerbuan ke wilayah pedalaman Jawa Barat pun tidak mendapatkan reaksi berarti.

Kemudian pada 8 Maret 1942, terjadi perundingan Kalijati antara pihak Belanda (Ter Poorten, dkk) dengan pihak Jepang (Jend. Imamura) yang intinya adalah gencatan senjata dan pernyataan penyerahan Belanda kepada Jepang.

Keesokan harinya di Hotel Homann, Jend. Imamura dan tentaranya melakukan upacara doa atas keberhasilannya menguasai Pulau Jawa dan segera dilanjutkan dengan sebuah pesta perayaan. Dengan ini resmilah Jepang menjadi penguasa baru Nusantara. Tanggal 8 Maret kemudian dijadikan Hari Kemenangan Perang Asia Timur Raya yang wajib dirayakan oleh bangsa Indonesia.

Menyusul pengalihan kekuasaan ini, Jepang melakukan penutupan seluruh stasiun penyiaran (juga media cetak). Selama beberapa waktu semua radio tidak menyelenggarakan siaran. Penyiar Bert Gerthoff dari Nirom Bandung pada tanggal 8 Maret 1942, jam 23.00 telah menyampaikan kata-kata perpisahannya yang terkenal : “Wij sluiten nu. Vaarwel tot betere tijden. Leve de Koningin” (Kami akhiri sekarang. Selamat tinggal, sampai waktu yang lebih baik. Hidup Sri Ratu.)
Beberapa bulan kemudian Jepang memasang radio-radio umum di tempat-tempat keramaian. Radio yang masih merupakan barang mewah tentu saja menarik perhatian dan segera disukai masyarakat kebanyakan. Nirom Bandung saat itu telah berubah nama menjadi Hooshoo Kanri kyoku atau Radio Propaganda Nippon yang memutarkan lagu-lagu hiburan (keroncong), musik pengiring senam taiso, siaran keagamaan (Islam), dll. Dan tentu saja siaran-siaran propaganda yang penuh dengan kegombalan itu…

Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya “Pemberontakan di Cileunca, Pangalengan, Bandung Selatan” (1996) menulis betapa Jepang memiliki kepentingan atas Radio Malabar sebagai media propaganda utamanya di P. Jawa. Melalui Radio Malabar pula Jepang melakukan kontak dengan Hooshoo Kyoku di berbagai daerah lainnya termasuk yang berada di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara (halaman 200). Tanpa penguasaan media-media cetak, radio, dan transportasi, akan sangat sulit bagi Jepang untuk melakukan pembinaan teritorial (halaman 73).

Tentang pemboman beberapa lokasi di Bandung pada tanggal 3-9 Februari 1942, R.P.G.A. Voskuil dalam bukunya “Beeld van Een Stad” (Asia Maior, 1996) hanya mengatakan suatu penyerbuan udara ke beberapa kota di P. Jawa, termasuk di antaranya, Bandung. Serangan di Bandung ditujukan ke pangkalan udara Andir, namun tidak sampai meluluh lantakkan keseluruhan pangkalan. Pada tanggal 11 Februari masih terdapat 8 pesawat Glenn Martin yang secara intensif (antara 11-27 Februari 1942) melakukan penyerbuan ke pangkalan-pangkalan udara yang telah dikuasai Jepang (Palembang, Banjarmasin, dan Teluk Muntok).

Pada tanggal 7 Maret, saat Jepang sudah mendekati Lembang (sebelumnya sudah menduduki Kalijati, Subang) diakui ada sejumlah pesawat terbang Jepang yang berputar-putar di atas Lembang dan Bandung. Pesawat-pesawat ini menjatuhkan sejumlah bom, di antaranya di taman rumah residen, dan di sekitar Alun-alun. Tapi hanya itu saja, karena diakui juga bahwa saat itu memang tidak banyak dilakukan operasi militer di Bandung. Hanya fakta-fakta inilah yang ditulis oleh Voskuil saat mebicarakan secara detil masuknya Jepang ke Bandung melalui Kalijati dan Lembang.

Bukti lain tentang tidak adanya pemboman yang cukup berarti di wilayah Bandung adalah masih berdirinya berbagai bangunan lama bekas instansi-instansi militer Hindia Belanda sampai saat ini. Seluruh pusat perkantoran militer, Istana Komandan Perang, dan gudang-gudang yang berada di pusat kota Bandung sampai saat ini masih berdiri utuh (dari sekitar Taman Lalu-Lintas hingga sekitar Kosambi). Berbagai pemandangan ciri khas kota juga masih berlangsung sama seperti sebelum kedatangan Jepang (Villa Isola, Gedung Sate, Bank Indonesia, dll).

Voskuil juga memuat sebuah foto puing-puing Radio Malabar dengan keterangan yang menyatakan bahwa stasiun radio tersebut dirusak pada Masa Bersiap (1945 –1946).

Dengan ini saya hanya ingin mengatakan bahwa perebutan Bandung dari Hindia Belanda ke tangan Jepang sama sekali tidak memerlukan dilakukannya bombardir (ejaan Hindia Belanda) seperti yang sering dikatakan selama ini. Bahkan dengan pengalamannya melakukan propaganda internasional melalui siaran radio propaganda Nippon dari Tokyo, Jepang justru sangat membutuhkan keberadaan radio untuk melangsungkan janji-janji gombalnya kemudian hari di Nusantara.

Sekian dulu mungkin catatan yang berhasil saya kumpulkan seputar (pemboman) Radio Malabar. Semoga berguna…

Sumber Tulisan :
1.“Bandoeng, Beeld van Een Stad”, (R.P.G.A. Voskuil, 1996)
2.“Pemberontakan di Cileunca, Pangalengan, Bandung Selatan” (Ahmad Mansur Suryanegara, 1996)
3.“Riwayat Radio Tempo Doeloe di Indonesia”, (Haryadi Suadi, 1998)
4.“Riwayat Radio Republik Indonesia”, (Haryadi Suadi, 1998)
5.“Vaarwel tot Betere Tijd” (J.C. Bijkerk ). Edisi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Penerbit Djambatan dengan judul “Selamat Berpisah; Sampai Berjumpa di Saat yang Lebih Baik” (1988). Buku ini banyak menceritakan detail peralihan penguasaan wilayah Indonesia dari Hindia Belanda ke pihak Jepang.

3 & 4 adalah kumpulan tulisan yang total berjumlah 52 artikel dan dimuat secara mingguan dalam H.U. Pikiran Rakyat pada tahun 1998

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: