Skip navigation

by Ridwan Hutagalung on Monday, March 23, 2009 at 3:47pm
Hari ini, 22 Maret 2009, beberapa Aleutians mengikuti satu program Mahanagari yang diberi nama “Lava Tour – Cibeureum”

Sebenarnya kesertaan kami dari Aleut! agak memaksa karena baru malam sebelumnya kontak Ulu dan sudah dikabari pula bahwa peserta sudah penuh. Tapi saya sedikit merayu agar diperbolehkan ngintil saja dengan janji kami akan menjaga diri masing-masing.. Hehe, Ulu pasti maklumlah, iya kan?

Pagi jam 7 secara berurutan kami sudah hadir di depan gerbang UPI tempat startnya Lava Tour ini. Aleutians ini rupanya menjadi rombongan pertama yang hadir. Akhirnya terkumpul sekitar 30an orang peserta. Acara dibuka di halaman mesjid oleh Pa T. Bachtiar yang menjadi pemandu tour ini, kemudian dilanjutkan oleh Ulu dan perkenalan masing-masing peserta.

Awal dari perjalanan ternyata dengan membelah kampus UPI ke arah barat. Terlewat sebuah spanduk yang bertuliskan “Memperingati Hari Air Sedunia” yang rupanya tepat hari ini. Melewati area kampus, rombongan memasuki kawasan perkampungan dengan jalan-jalan gang yang kemudian berujung di sebuah jalan buntu persis di seberang sebuah curug yang bernama Curug Sigai. Pa Bachtiar bercerita tentang proses-proses letusan gunung api, dan lava di ruas Sungai Cibeureum yang berasal dari gunung purba pra-Sunda. Pa Bachtiar menamai gunung prasunda ini dengan Gunung Jayagiri.

Dari ujung gang buntu, rombongan turun menuruni gawir menuju aliran sungai di bawah dan segera menyeberanginya dengan bantuan tim dari Jantera (kelompok pecinta alam dari jurusan Geografi UPI). Usai menyeberang perjalanan langsung mendaki cukup curam dan menyusuri alur tebing. Tiba di atas, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri jalan setapak melalui ladang-ladang sayuran. Turun lagi hingga mendekati Sungai Cibeureum menuju suatu titian bambu yang harus kami seberangi. Tinggi titian dari permukaan sungai mungkin sekitar 3 meter. Dengan bantuan tim Jantera yang merentangkan tali, satu persatu anggota rombongan menyeberang dengan hati-hati.

Tiba di seberang, mendaki lagi menuju aliran sungai sangat kecil yang mirip selokan. Mungkin ini anak sungai buatan untuk mengalirkan air bagi kebutuhan ladang masyarakat. Di sini rombongan harus menceburkan kaki ke dalam sungai dan berjalan melawan arus di sisi tebing batu. Memang sisi seberang sungai kecil ini berupa tebing batu yang cukup tinggi.

Sempat terjadi sedikit kemacetan karena ada warga yang tidak menghendaki rombongan berjalan di arus sungai itu. Alasannya warga sedang melakukan sedikit perbaikan pengaliran arus sundai di tempat itu. Tetapi tak lama kemudian kelompok warga tersebut pergi dan rombongan tetap melanjutkan menyusuri sungai tersebut. Di sepanjang aliran sungai yang berwarna cokelat kehitaman ini kami selalu saksikan bagaimana sampah-sampah nonorganik sudah memenuhi aliran sungai dan menjadi bagian paling mengganggu dari habitat sungai.

Anak sungai ini kemudian berujung pada sebuah jeram yang cukup lebar. Batu-batu besar tersebar di seluruh badan Sungai Cibeureum ini dan cukup menguntungkan karena bisa dijadikan pijakan utama dalam berjalan menyusuri ruas sungai yang lebih lebar ke arah hulunya. Dari sini memang perjalanan lebih banyak dilakukan di tengah arus air sungai. Sekali-kali rombongan terpaksa menghindari sungai karena kuatir adanya leuwi (lubuk) yang mungkin berbahaya.

Secara umum perjalanan Lava Tour ini berlangsung seperti itu. Di tengah arus sungai, naik-turun tebing dan lembah, melintasi ladang dan meniti titian bambu. Di sepanjang jalan, dengan energi yang seperti tidak berkurang, Pa Bachtiar bercerita tentang alur-alur lava, sejarah gunung Sunda, prasunda, Tangkuban Parahu, Burangrang dll. Tidak hanya tentang lava, namun juga kisah-kisah ringan tetapi mengenai tumbuhan dan pepohonan pun disampaikan dengan lancar olehnya. Sedikit-sedikit kami mendapatkan informasi mengenai keseimbangan ekologis di kawasan sungai, dan memang materi inilah yang menjadi bagian penting dari Lava Tour ini.

Sayangnya karena rombongan berbentuk barisan memanjang, kami tak selalu kebagian cerita yang disampaikan, terutama bila sedang terpencar atau barisan yang terlalu panjang di jalanan setapak membuat hanya mereka yang sedang berdekatan dengan narasumber inilah yang dapat mendengarkan cerita dan keterangan yang disampaikan. Saya termasuk yang harus berlarian kesana kemari untuk mengejar cerita ini, itu pun tak selalu berhasil karena kadang jarak terlalu jauh sehingga saya benar-benar melewatkan sejumlah kisah dari Pa Bachtiar.

Sekian dulu catatan kecil tentang perjalanan Lava Tour dengan Mahanagari dan Pa Bachtiar hari ini. Semoga dapat menjadi manfaat buat kami dan siapa pun yang peduli pada kenyamanan hidup di Kota Bandung..

Ridwan Hutagalung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: