Skip navigation

by Ridwan Hutagalung on Friday, February 27, 2009 at 6:29pm
Kamis, 26 Februari 2009

Sejak beberapa hari lalu sudah janjian dengan Demas untuk mengantar Olivier (djawatempodoeloe) berkunjung ke Maribaya dengan berjalan kaki melalui THR Ir. Djuanda.
Pagi-pagi saya & Adi sudah standby duluan di rumah Ayan di Sumur Bandung menunggu Demas, Olivier & Opan yang masih dalam perjalanan. Setting tempat start berubah dari janji awal karena Olivier pindah hotel dulu dari Ardellia ke Bumi Sawunggaling.

Setelah berkenalan dan membuka obrolan kemudian ternyata Olivier seorang yang menyenangkan untuk diajak bicara dan jalan-jalan. Tidak keberatan dengan angkot dan warung-warung kecil.
Setelah semua berkumpul, berjalan kaki ke Bubur Zaenal di dago untuk sarapan.
Dari sini naik angkot menuju gerbang THR yang pagi itu ternyata sangat ramai oleh kunjungan suatu rombongan tamu berseragam kaos merah. Tiket masuk THR baru saja naik menjadi 8.000/orang.
Untuk menghindari antrian, kami memilih jalur jalan berbeda yang langsung menuju gua Belanda.
Dari gua Belanda, kembali kami ambil jalur jalan yang sedikit berbeda, yaitu mengikuti jalur penampungan air sampai ke pintu air di Bantar Awi.

Kemudian melanjutkan berjalan sampai Warung Bandrek di bawah Sekejolang, lalu belok kanan untuk masuk ke kawasan Curug Maribaya. Masuk Maribaya bayar lagi 3.500/orang.
Sebentar berfoto-foto di sekitar Curug Omas, minum kopi di sebuah warung dan menuju kompleks curug dekat pintu masuk. Tujuan utama kunjungan ini memang ke kawasan pintu masuk ini karena Olivier ingin melihat lokasi yang tergambar dalam sebuah kartupos lama milikinya.
Usai membuat beberapa foto, kami tawarkan untuk melanjutkan perjalan menuju Gunung Batu di Desa Pager Wangi. Kami menggunakan angkot untuk menuju ke sana.
Dari kaki bukit kemudian menyusuri lorong-lorong kampung yang mengarah ke Gunung Batu. Melalui jalan setapak yang sudah rimbun tertutupi rumput musim hujan, sampai juga kami ke puncak Gunung Batu.
Cuaca cukup cerah hari itu sehingga pemandangan lepas ke berbagai arah cukup jelas, termasuk pemandangan ke arah perbukitan Batujajar dan waduk Saguling.

Dari Gunung Batu, kembali secara spontan kami pilih Peneropongan Bintang Bosscha sebagai tujuan berikutnya. Jalur jalan yang kami pilih adalah jalan perkampungan yang melewati kompleks Kinderdorf dan Kampung Pencut.
Di jalan setapak kampung sempat menikmati “restoran” portable yang menjajakan cilok dan batagor. Olivier sempat mencoba mengangkat tanggungan “restoran” yang menurutnya cukup berat. Pedagang cilok sempat bercerita bahwa dalam satu hari ia bisa berjalan berkeliling sejauh 40 km dengan keuntungan bersih 20.000 saja!
Tiba di Kampung Pencut sudah saatnya mencari makan siang, sayangnya yang tersedia hanya lotek mentah dengan nasi. Jadi makan siang seadanya saja!
Melalui jalur tangga yang melintasi kampung, kami naik ke arah kompleks Peneropongan Bintang dan muncul di sisi lapangan basket yang berada di sisi timur kompleks.
Di depan pintu bangunan khas peneropongan kami beristirahat sebentar sambil menunggu Demas yang mengurus perijinan untuk masuk.

Setelah mendapatkan ijin, kami segera masuk dan memperhatikan seluruh isi ruangan, termasuk yang berada di lantai 2.
Dalam bangunan melingkar ini, terutama di lantai 2, ternyata ada pengalaman yang cukup unik. Sumber suara yang berada di sisi seberang ternyata menjadi kabur sumbernya karena terdengar sangat dekat, seakan berasal dari belakang kita. Mungkin bentuk ruangan yang melingkar ini yang menjadi sebabnya.
Usai menikmati isi bangunan peneropongan, kami lanjutkan lagi berjalan ke luar kompleks sambil menuju jalan pulang.
Lagi-lagi kami ambil jalan potong spontan karena melihat sebuah bangunan bermenara yang ingin kami lewati. Ternyata bangunan itu adalah bangunan tua yang sudah tidak terpakai yang berada dalam kompleks kebun strawberry. Sebuah plakat nama yang sudah kusam terpampang di bagian atas menara bertuliskan “Deetje”. Namun yang lebih menarik adalah saat mengintip dari bagian kaca bangunan yang sudah pecah, kami menemukan lantai model lama dengan motif yang indah seperti yang dapat ditemukan di sebuah toko di Braga. Sayang sekali bangunan ini sangat tidak terurus dan pada beberapa bagian memiliki tambalan-tambalan menggunakan bahan tripleks.
Seseorang dari kebun strawberry menghampiri kami dan menyampaikan larangan untuk memotret bangunan dan lokasi itu..

Perjalanan kami lanjutkan menuju toko susu yang ada di ujung jalan (km 14,6). Sampai di jalan utama baru kami sadari bahwa jalur jalan ini lebih pendek untuk menuju kompleks Peneropongan Bintang daripada jalur jalan normal dari Ciloto.
Usai menikmati pesanan yoghurt dan jus, kami memutuskan untuk pulang menggunakan taksi karena Olivier sudah memiliki janji lagi dengan seseorang sore itu.
Karena taksi pesanan tidak juga muncul, kami pun menggunakan angkot Lembang-Ciroyom saja sampai pertigaan gandok dan melanjutkan dengan angkot Cicaheum-Ledeng dan turun persis di depan rumah Ayan.
Setelah ngobrol sebentar mengenai buku Braga dan beberapa hal lain, Olivier pun pamit untuk pulang ke hotelnya.
Perjalanan hari ini tamat sudah..

Ridwan Hutagalung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: