Skip navigation

by Ridwan Hutagalung on Monday, November 30, 2009 at 1:20pm

Jajal Geotrek II : Pangalengan

Truedee (Truedee Pustaka Sejati) pada hari Sabtu lalu (28 November 2009) menyelenggarakan Jajal Geotrek II ke Pangalengan dengan jumlah peserta sekitar 60 orang (mungkin dikurangi oleh beberapa orang yang batal ikut). Para penjajal ini berangkat dari halaman kampus ITB sekitar jam 7 pagi dengan
menggunakan dua buah bis. Jajal Geotrek II hanya mengambil sebagian kecil saja rute Geotrek 9 yang terdapat dalam buku Wisata Bumi Cekungan Bandung, yaitu beberapa stop (atau spot) di sekitar Pangalengan. Walaupun hanya sebagian kecil, namun waktu yang dibutuhkan untuk menjalani rute ini ternyata mencapai satu hari penuh.

Saya berada di bis pertama dengan interpreter T. Bachtiar (TB), geograf berenergi tinggi yang selalu terlihat antusias dalam membangkitkan kesadaran masyarakat agar lebih mencintai Kota bandung. Sementara di bis kedua ada geolog Budi Brahmantyo (BB) sebagai interpreter. BB yang lebih kalem ini tak kurang energinya bila sudah bercerita tentang lingkungan dan proses-proses geologi yang terjadi di sekitar kita. Sungguh beruntung seluruh peserta Jajal Geotrek II ini karena didampingi langsung oleh dua interpreter yang andal dalam berbicara mengenai lingkungan Bandung.

Stop pertama di Gunung Puntang. BB menjelaskan beberapa tipe gunung api (dan sungai) yang disambung oleh TB dengan topik toponimi (dan etimologi) Malabar. Di sini seluruh peserta dapat menyaksikan peninggalan sejarah berupa puing-puing bangunan bekas kompleks stasiun pemancar pertama di Hindia Belanda. Kegiatan dilanjutkan dengan susur sungai Cigeureuh ke arah hulu. Perjalanan di tengah arus sungai ini adalah yang paling mengesankan. Di ruang yang lebih terbuka, Masih di atas badan sungai, di ruang yang lebih terbuka, BB bercerita tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kompleks Pegungungan Malabar sambil menjawab beberapa pertanyaan dari peserta. Saya yakin kuliah di atas sungai ini akan menjadi kuliah paling menarik bagi kebanyakan peserta.

Rumah peninggalan Bosscha

Stop kedua di Rumah Bosscha. Di stop ini acara utamanya adalah makan siang yang enak. Soto Bandung dengan tempe, perkedel, telor rebus, dan sambal yang aneh karena tidak pedas. Sebelum makan BB sempat bercerita tentang peristiwa gempa bulan September lalu dan berbagai sebab yang menjelaskan kenapa daerah Pangalengan mengalami kerusakan cukup parah. Usai makan para peserta berkesempatan untuk melihat-lihat bagian dalam Rumah Bosscha yang tampak porak-poranda. Jamuan terakhir adalah tee dan kopi yang cawerang banget, hehe..

Stop ketiga di dekat kebun teh tua dari Assam, India, untuk menyaksikan dan bercerita tentang bentang alam Gunung Wayang-Windu serta proses-proses geothermal.

Stop keempat di kebun teh tua ternyata hanya berhasil mengusir pasangan yang sedang mojok di kerimbunan pepohonan teh yang tingginya mencapai 5-6 meter. Hujan yang menderas membatalkan kuliah di stop ini.

Stop kelima di tugu dan makam Bosscha diselingi insiden kecil tertabraknya seorang peserta oleh motoris yang tidak bertanggungjawab. Sungguh luar biasa, di bawah guyuran hujan semua peserta tampak terpesona oleh ceramah umum yang disampaikan bintang tamu of the day, Pak Upir, persis di depan makam Bosscha. Ceramah luar biasa ini berakhir antiklimaks saat Pak Upir bertanya, “sebentar, ini pesertanya ada berapa orang?.”

Situ Cileunca

Stop keenam di sisi Situ Cileunca. Gerimis masih berlangsung intensif sehingga tidak banyak peserta yang turun ke tepi danau. Sebagian besar berdiri saja di sisi jalan mengamati bentangan alam yang tersaji di depan. Situ Cileunca sebetulnya merupakan danau kembar buatan di kawasan hutan belantara yang mulai dibuka pada tahun 1917. Kawasan hutan ini dimiliki secara pribadi oleh seorang Belanda bernama Kuhlan. Pembangunan danau seluas 390 hektare dan berkedalaman 17 meter ini berlangsung dari 1919 hingga 1926.

Stop ketujuh atau terakhir di Cukul Tea Estate berlangsung agak muram. Setelah iming-iming dan bayangan tentang keindahan Rumah Jerman (rumah dengan gaya tradisional Eropa), ternyata para peserta harus terhenyak menyadari bahwa rumah tersebut sudah tidak ada lagi. Yang tersisa di tempatnya hanyalah tumpukan berangkal dan gudang kecil yang sebelumnya merupakan bagian belakang rumah tersebut. Bangunan indah dan langka itu ternyata telah rata tanah akibat gempa. Kesedihan terlebih melanda sebagian peserta yang pernah menikmati keindahan rumah kayu itu dalam perjalanan Tambang Emas Cibaliung bersama Mahanagari pada bulan April lalu. Apa boleh buat …

Stop ketujuh sekaligus juga menutup seluruh rangkaian perjalanan Jajal Geotrek II dari truedee hari ini. Perjalanan dengan rute yang mungkin biasa saja namun saya yakin sudah mampu memberikan efek luar biasa bagi segenap pesertanya, termasuk saya sendiri yang relatif sudah sering aprak-aprakan di wilayah ini. Terimakasih untuk truedee, T. Bachtiar, dan Budi Brahmantyo. Semoga semua upaya ini betul-betul dapat menjadi inspirasi bagi semuanya dalam menumbuhkan kecintaan yang mendalam terhadap Kota Bandung. Kecintaan yang tidak berakhir di mulut, namun dalam perbuatan yang nyata.

Ridwan Hutagalung
30 November 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: