Skip navigation

by Ridwan Hutagalung on Tuesday, June 8, 2010 at 1:15am
 
Ngaleut ke Gua Pawon
Ridwan Hutagalung, 6 Juni 2010

Danau Bandung Purba
Wilayah Bandung Purba dulunya berupa sebuah danau besar yang membentang mulai dari kawasan Ranca Ekek di timur hingga Padalarang di barat sepanjang 50 km dan dari kawasan Dago di utara hingga Soreang di selatan sepanjang 30 km. Luas permukaan ini hampir sama dengan 3 kali luas wilayah DKI Jakarta sekarang. Pembentukan Danau Bandung Purba ini diperkirakan mulai sekitar 105.000-125.000 tahun yang lalu. Menurut catatan geologi yang ada, Danau Bandung Purba (kadang disebut juga Situ Hyang) mengalami dua kali proses pengeringan. Yang pertama, dengan menerobos lava lunak di daerah Cimeta, Padalarang dan kedua, menerobos lava lunak di Pasir Sanghyang Tikoro, sekitar Rajamandala. Proses pengeringan Danau terjadi sekitar 16.000 tahun yang lalu.

Setelah terjadinya penyusutan air danau, banyak dijumpai daerah genangan berupa rawa yang cukup luas. Tempat-tempat ini masih dapat dikenali dari nama daerah yang menggunakan nama depan ranca (Sunda = rawa) seperti Ranca Ekek, Ranca Buntu, Ranca Oray dlsb. Sedangkan kawasan timur yang sebelumnya merupakan daerah dangkal meninggalkan wilayah-wilayah daratan yang menjorok ke tengah perairan atau tanjung, yang dalam bahasa Sunda disebut bojong. Ingat nama-nama daerah seperti Bojong Malaka, Bojong Koneng, Bojong Pulus, Bojong Kalong, Bojong Gede dst. Sebagian wilayah lain masih meninggalkan genangan air yang cukup luas (Sunda = situ, telaga atau kolam yang cukup luas). Banyak nama yang menggunakan kata situ, seperti Situ Garunggang (di daerah Plesiran, Cihampelas sekarang), Situ Gunting, Situ Gede, Situ Saeur (di Kopo, yang disaeur pada masa Bupati Bandung R.A.A. Martanagara, 1893-1918)), Situ Aras (di Karasak Utara), Situ Tarate (di Cibaduyut), Situ Aksan (di wilayah milik Haji Aksan, sekitar Jl. Jendral Sudirman sekarang, di masa kolonial disebut juga Westersche Park).

Gua Pawon
Sejak masa penelitian A.C. de Jong (1920an), paleoantropolog Dr. G.R. von Koenigswald (yang menemukan fosil phitecanthropus di Sangiran tahun 1934) hingga W. Rothpletz pada masa pendudukan Jepang, selalu diyakini adanya hunian manusia prasejarah di Dataran Tinggi Bandung. Namun penemuan-penemuan yang dihasilkan hanya artefak yang tersebar di daerah Dago Pakar, sampai Kelompok Riset Cekungan Bandung (K.R.C.B.) berhasil menemukan artefak batu dan sisa berbagai jenis binatang pada sebuah galian uji tahun 2000 di salah satu ruang Gua Pawon. Penemuan ini disusul dengan penemuan fosil kerangka utuh homo sapiens (diduga ras mongoloid) pada kedalaman kurang dari 2 meter di ruang gua yang sama. Ruang gua ini kemudian diberi nama Gua Kopi sesuai dengan sebutan yang diberikan oleh penduduk sekitar. Sebuah bukti keberadaan hunian manusia purba (kemudian disebut Manusia Pawon) di Gua Pawon.

Yang juga menarik, bersama dengan penemuan fosil manusia ini ditemukan pula berbagai peralatan purba yang berasal dari daerah lain. Salah satu bahan pembuatan peralatan tersebut adalah batuan obsidian yang hanya dapat ditemukan di dua tempat di Dataran Tinggi Bandung, yaitu di Kampung Nagrak (sekitar ladang geothermal Darajat, barat daya Kota Garut) dan Kampung Kendan, Nagrek (perbatasan Kab. Bandung dan Kab. Garut). Material lainnya, seperti batuan kalsedon dan jasper, berasal dari daerah Garut Selatan, Gunung Halu dan Sukabumi.

Kawasan Gua Pawon
Gua Pawon baheula berada pada salah satu tepian Danau Bandung Purba. Gua ini sebenarnya lebih merupakan ceruk di dinding bukit yang memiliki banyak ruang (sekitar 10 ruang besar). Sebenarnya ada banyak ornamen gua seperti stalaktit, stalagmit atau flowstone yang pernah menghiasi gua ini, namun sekarang kebanyakan sudah rusak dan hilang diambil oleh kolektor dan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sedikit yang masih tersisa terletak di bagian dinding dalam gua yang tinggi. Bagian dalam gua dihuni oleh ribuan kelelawar sehingga saat memasuki mulut gua akan tercium bau khas kotoran kelelawar atau guano.

Kawasan Gua Pawon terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung, sekitar 25 km dari Kota Bandung. Gua Pawon berada pada salah satu sisi tebing curam bagian dari Pasir Pawon dengan ketinggian 720 m dpl. Di puncak Pasir Pawon terdapat ”taman batu” yang dianggap sebagian kalangan sebagai tempat terindah di kawasan kars Padalarang. Selain tegakan bebatuan yang berserak, juga terdapat sebuah makam yang oleh penduduk setempat dinamakan makam Ibu Dorong Ranggamanik (tidak ada keterangan lain).

Karst
Istilah karst (Indonesia: kars) berasal dari bahasa Slavia krs (baca: kras) yang kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Jerman menjadi karst. Istilah ini dimunculkan pertama kali oleh geolog Cvijic untuk menamai suatu perbukitan di dekat Kota Trieste, Slovenia. Perbukitan ini gersang, kering, panas dan berwarna putih karena batuannya terdiri dari batugamping dan batu kapur yang unsur utamanya adalah senyawa karbonat CaCO3. Senyawa CaCo3 mudah larut jika bereaksi dengan air hujan yang kaya akan CO2. Proses pelarutan batugamping oleh air hujan yan meresap akan mengakibatkan proses abrasi yang menghasilkan bentukan-bentukan alam berupa lubang-lubang dan gua di dalam batuan. Material yang larut juga akan diendapkan di tempat lain serta membentuk endapan-endapan baru yang menjadi penghias lubang dan gua seperti stalaktit, stalagmit, atau flowstone.

Dari perspektif geologis, kawasan Pasir Pawon berada dalam rangkaian formasi batugamping yang disebut Formasi Rajamandala yang membentang dari Tagogapu sebelah utara Padalarang hingga ke Pelabuhanratu. Lebih sempit, wilayah Pasir Pawon berada dalam Kawasan Perbukitan Batugamping Citatah (K.P.B.C. atau biasa diringkas sebagai Kars Citatah) yang membentang dari Tagogapu hingga Padalarang.

Dapat disebut beberapa bukit lain yang ada di sekitar Pasir Pawon, yaitu Gunung Hawu, Pasir Pabeasan dengan Tebing 125-nya, Gunung Manik dengan Tebing 49-nya, Pasir Balukbuk, Pasir Sanghyang Tikoro, dan Pasir Guha yang semuanya berada dalam satu rangkaian atau jalur yang membujur ke arah barat. Ke arah timur terdapat rangkaian Karang Panganten, Pasir Bengkung, hingga Pasir Kamuning, Tagogapu. Kelompok bukit yang “terlepas” dari rangkaian ini dan membentuk kelompok sendiri adalah Pasir Pawon, Gunung Masigit, Pasir Leuit dan Pasir Bancana (untuk mengetahui pemetaan/lokasi persisnya, bisa tanya penduduk sekitar).

– Penelitian Gua Pawon oleh KRCB pada awalnya terfokus pada endapan Danau Bandung Purba di Sungai Cibukur, namun berbagai temuan yang dihasilkan mendorong mereka melanjutkan ke Gua Pawon yang berada di dekatnya. Temuan-temuan berikutnya berhasil mengumpulkan berbagai tinggalan kehidupan purbakala yang meliputi sekitar 20.250 serpihan tulang belulang dan 4.050 serpihan (peralatan) batu.
Di Gua Kopi, pada kedalaman 80 cm berhasil ditemukan fosil tengkorak manusia dan pada kedalaman 120 cm dapat ditemukan fosil tulang kering dan telapak kaki manusia yang selanjutnya disebut Manusia Pawon.

– Kawasan Pawon dahulu juga merupakan salah satu habitat tumbuhan Wijayakusuma (selain di Nusakambangan), sayangnya sekarang tumbuhan itu sudah tidak ditemukan lagi di sini.

– Semua informasi dalam halaman ini disarikan dari buku Amanat Gua Pawon (Budi Brahmantyo & T Bachtiar, ed) terbitan Kelompok Riset Cekungan Bandung, 2004, dengan sedikit tambahan dari sumber lain. Biasanya saya pergunakan sebagai bahan informasi dalam kunjungan-kunjungan ke kawasan Karst Citatah.
Terimakasih Pak Budi & Pak T Bachtiar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: