Skip navigation

by Ridwan Hutagalung on Thursday, July 22, 2010 at 10:48am

Benteng Cipada

Bila mendengar nama wilayah Cisarua di Bandung Utara mungkin langsung terbayang beberapa lokasi tujuan wisata yang cukup populer bagi banyak kalangan. Mulai dari pusat penjualan bunga di ruas jalan Cihideung, kafe-restoran eksotik yang tersebar di wilayah ini, atau panorama bebas ke arah Kota Bandung yang terhampar di sebelah selatan. Mungkin sebagian orang akan langsung teringat ke beberapa curug (air terjun) yang terdapat di sekitar wilayah ini, seperti Curug Cimahi dan Curug Bubrug atau juga sebuah danau buatan yang terkenal keindahannya, Situ Lembang. Tapi bila disebutkan benteng peninggalan Belanda? Mungkin masih banyak orang yang belum mengetahuinya.

Kawasan di mana benteng ini berada memang tidak persis di wilayah Cisarua, melainkan sedikit lebih ke barat, tepatnya di ruas jalan antara Cisarua – Padalarang atau Tagogapu. Dari Cisarua kita bisa teruskan jalan ke arah kampung Barukai, lalu mengambil jalan yang menuju Perkebunan Teh Pangheotan. Semua ruas jalan ini beraspal dalam kondisi baik sampai Kampung Kalapa. Selebihnya adalah jalan rusak berbatu yang cukup parah serta jalan tanah yang mengikuti kontur perbukitan. Dari pertigaan Kampung Kalapa, Desa Cipada, teruskan dengan mengambil jalan menuju Ciawitali, kemudian melintasi wilayah perkebunan teh. Berikutnya, di sepanjang jalan ini tersaji pemandangan lembah dengan kebun-kebun waluh dan pesawahan dengan teras-teras bertingkat di dasarnya.

Sampai di kampung Pasir Malang yang termasuk Desa Cipada, kita akan melihat sebuah bukit yang sebagian sisinya dalam keadaan tergali untuk pengambilan pasir. Bila kita dekati, akan tampak beberapa bongkahan tembok beton berukuran besar yang terserak di sekitar galian itu. Reruntuhan tembok ini adalah sebagian dari bekas benteng yang berada di puncak bukit tersebut. Dengan menyusuri jalan setapak kita akan mencapai puncak bukit di mana terdapat sisa kompleks benteng.

Di beberapa tempat di sekitar Bandung, Belanda memang pernah membangun sejumlah benteng dalam rangka Perang Dunia I. Di antaranya di Gunung Puteri, Lembang/Maribaya, Jayagiri, di beberapa lokasi di Sumedang, dan di lereng bukit Gunung Burangrang. Sayangnya, selain kompleks benteng di Sumedang, sebagian besar benteng yang terdapat di sekitar Kota Bandung saat ini dibiarkan tidak terawat. Bahkan ada yang sampai hancur karena dibongkar untuk diambil kerangka besinya seperti yang dialami oleh benteng di Gunung Kolotok dan Puncak Jayagiri.

Di kawasan yang tampak terpencil ini, Belanda juga membangun dua kompleks benteng pertahanan. Satu benteng berukuran kecil dibangun di Kampung Cibodas, Desa Sadang Mekar, dan satu benteng lagi berupa kompleks besar yang dibangun di puncak bukit di atas Kampung Pasir Malang. Penduduk menamai lokasi ini dengan Kalang Banteng atau Pasir Benteng. Dari benteng ini kita dapat melayangkan pandangan bebas ke arah Padalarang, Cianjur, dan Purwakarta. Sementara di sebelah timur tampak Gunung Burangrang dan perbukitan di sekitarnya. Bila cuaca cukup cerah, Waduk Cirata dan Jatiluhur terlihat jelas dari sini. Mungkin karena lokasinya yang berbukit-bukit, kawasan benteng ini sering dijadikan lokasi latihan militer.

Yang menarik dari Benteng ini adalah ruang-ruang dalam bangunan utama benteng tersebut dipergunakan sebagai tempat tinggal oleh sepasang suami-istri, Saefullah dan Tati, sejak tahun 1982. Ruang utama dalam sisa benteng ini terdiri dari empat buah ruangan yang berjajar dan saling terhubung di bagian belakangnya. Masing-masing ruangan memiliki lawang pintu sendiri yang menghadap ke arah barat. Namun pintu-pintu ini sudah tidak ada lagi di tempatnya, sehingga untuk ruang utama (ruang tidur dan ruang keluarga), Saefullah membuat pintu sendiri menggunakan bahan kayu, sedangkan lawang-lawang lainnya dibiarkan terbuka atau sesuai keperluan ditutup menggunakan lembaran plastik besar yang tinggal dikaitkan saja. Lantai ruangan yang tampak bersih masih merupakan peninggalan aslinya. Ruangan-ruangan yang bersebelahan dengan ruang utama dipergunakan Saefullah sebagai dapur dan kandang bagi ternak peliharaannya. Tampak beberapa ekor kelinci dan bebek dengan bebasnya hilir-mudik di seluruh ruangan dalam benteng.

Menurut keterangan Saefullah, pada salah satu sisi tembok benteng yang menghadap ke Kampung Pasir Malang, terdapat cetakan tahun 1913 yang menerangkan tahun pendirian benteng tersebut, namun bagian tembok itu sekarang sudah hancur. Memang di sekeliling puncak bukit ini terdapat bangunan-bangunan terpisah tempat melakukan pengintaian ke seluruh kawasan perbukitan di sekelilingnya. Sisa-sisa tembok bangunan ini masih dapat ditemukan berserakan dan sebagian besar tertutupi oleh tanah dan alang-alang yang cukup tinggi. Konon awalnya, keseluruhan benteng ini memang disamarkan dengan menutupi bagian atapnya menggunakan tanah setinggi lima meter. Beberapa cerobong udara masih terlihat walaupun tampak sudah tersumbat oleh tanah. Cerobong ini terhubung dengan ruang-ruang utama di dalam benteng. Agak terpisah dari benteng utama yang sekarang dijadikan tempat tinggal, terdapat satu blok lain yang tidak dipergunakan dan memiliki ruang bawah tanah yang terhubung ke ruang di benteng utama. Jalur bawah tanah ini pun sudah tertutupi oleh tanah walaupun ujung pintu masuknya masih dapat kita lihat dari ruang utama tempat tinggal Saefullah.

Sebenarnya kondisi benteng secara umum dapat dikatakan masih cukup baik, apalagi bila bagian-bagian lain yang tertutupi oleh alang-alang bisa dirapikan dan dibersihkan, mungkin akan lebih menarik lagi. Bila dibandingkan dengan sejumlah benteng Belanda lainnya yang tersebar di sekitar Bandung, maka benteng ini tampak lebih bersih terutama dari coretan-coretan iseng vandalis. Penghuni rumah benteng pun tidak menunjukkan keberatan bila kita masuk melihat-lihat ke ruang-ruang di mana mereka tinggal.

Saat ditemui, Saefullah sempat curhat mengenai kekuatirannya belakangan ini karena ada beberapa pihak yang tidak jelas yang ingin mengambil alih benteng, bahkan ada yang ingin merubuhkannya dan sudah membawa backhoe ke lokasi benteng, hanya untuk mengambil pasir dari bukit tempat benteng tersebut berada. Namun Saefullah dan istrinya yang sudah tinggal dan merawat benteng ini selama 26 tahun bersikeras akan mempertahankannya.

Nah, segeralah berkunjung ke Pasir Benteng sebelum apa yang dikuatirkan oleh Saefullah benar-benar terjadi dan hilang dari sekitar kita. Di negeri ini peninggalan sejarah sudah terbiasa menghilang tanpa beban.

Ridwan Hutagalung

Tulisan di atas ini dimuat di HU Pikiran Rakyat, tanggal 20 November 2008. Ternyata yang pernah saya kuatirkan seperti dalam kalimat terakhir itu terjadi juga. Tanpa beban. Kompleks benteng ini sudah dihancurkan beberapa waktu lalu oleh pemilik tanah wilayah itu. Sekarang yang tersisa hanya aktivitas penggalian pasir saja yang terus menggerus bagian-bagian Pasir Benteng. Sepasang suami istri yang mendiami benteng pun entah di mana sekarang.

Selamat menjelang ulang tahun yang ke-200, Kota Bandung tercinta.. Kami nantikan penghancuran-penghancuran berikutnya yang mungkin lebih spektakuler.

2 Comments

  1. abi apal ieumah bumina mang pulah nya.. sabab abi ge linggihna di sakitar buranrang oge heu heu heu.. salam _/\_


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: