Skip navigation

Catatan Kunjungan ke Gunung Lalakon dan Gunung Sadahurip, November 2011

by Ridwan Hutagalung on Monday, November 21, 2011 at 4:35pm

Nama pasangan Hans Berekoven dan Rozeline Berekoven, mulai mencuat saat diselenggarakannya Konferensi Internasional Alam, Falsafah, dan Budaya Sunda Kuno di Hotel Salak, Bogor, pada 25-27 Oktober 2011 lalu. Kehadiran pasangan berkebangsaan Australia ini dalam konferensi tersebut tentu saja mempunyai alasan. Beberapa tahun lalu, Hans & Roz memboyong keluarganya berlayar dari Fremantle ke Bali dengan membawa mimpi besar, menguak sejarah purba peradaban Nusantara melalui sebuah ekspedisi kelautan.

Hans menyimpan sebuah dugaan besar tentang masa lalu, terutama pada Zaman Es. Pada puncak zaman itu sebagian besar Eropa Utara tertutup lapisan es tebal, sebagian di antaranya mencapai ketebalan hingga 2000 meter. Level air di dunia saat itu berada hingga 150 meter lebih rendah daripada keadaan sekarang. Artinya, wilayah Laut Cina Selatan dan Laut Jawa pada masa itu terekspos menjadi lahan kering yang datar dan luas. Pada saat itu terjadi migrasi manusia yang sebelumnya meninggali Benua Asia menuju Zona Tropis di bagian selatan, yaitu di wilayah Indonesia sekarang.

Hans beranggapan, saat itu, wilayah Paparan Sunda merupakan permukiman terbaik yang ada di dunia. Dengan begitu, sekaligus juga merupakan lokasi utama bagi akar peradaban. Walaupun Hans tidak menolak kepercayaan umum bahwa budaya pertanian dan peternakan dimulai sekitar 8000-10,000 tahun yang lalu, namun dia juga mengajukan pertimbangan bahwa bisa saja hal itu sudah terjadi 6000 tahun sebelumnya. Para pengumpul dan pemburu yang bermigrasi ke wilayah selatan memicu tumbuhnya budaya pertanian dan peternakan di sini. Sekarang memang sulit untuk mendapatkan buktinya, tapi hans memiliki alasan, katanya, “Kita tidak menemukan buktinya karena kita hanya mencari buktinya di daratan. Padahal bukti itu kini berada di bawah air.”

Hans yakin bahwa pencarian jejak-jejak peradaban kuno mesti dilakukan di lembah-lembah dan delta-delta sungai kuno yang kini terkubur di bawah lapisan lumpur di kedalaman 40 sampai 60 meter di Laut Jawa. Untuk mencarinya diperlukan pemindai sonar dan kapal selam mini yang dapat dioperasikan dengan remote control, dan tentunya peralatan selam. Hans yakin di bawah sana akan ada gundukan-gundukan yang tidak alamiah sisa peradaban purba tersebut.

 

Hans adalah seorang mantan kapten kapal survey kelautan di Australia. Ia bersama istrinya memiliki sebuah properti seluas 1200 hektare bernama Kangaroo Camp di Bombala. Di sini mereka membangun rumah tinggal dan kompleks perkebunan anggur tertinggi di Australia. Produksi wol halus mereka termasuk yang terbaik di Australia. Hingga 2005 pasangan ini telah mendapatkan 3 buah penghargaan untuk keunggulan di bidang pariwisata.

Namun demi mewujudkan mimpi mereka, semua properti itu mereka sewakan kepada pihak lain, serta menjual 2000 wol halus agar dapat membeli kapal laut kecil berukuran panjang 19 meter yang dinamai Southern Sun. Biaya ini juga mereka perlukan untuk mengawali ekspedisi arkeologi kelautan Paparan Sunda yang sudah memenuhi benak mereka. Maka pada tahun 2005 berangkatlah keluarga ini menuju Bali sebagai basecamp pertama mereka.

Selanjutnya adalah mengurus perizinan penelitian kelautan kepada pemerintah Indonesia. Upaya ini rupanya tidak berjalan mulus. Proses perizinan berlangsung hingga dua tahun dan tampaknya jalan sukar sudah di depan mata, pemerintah Indonesia menerapkan persyaratan yang terlalu besar untuk dapat mereka biayai, sehingga akhirnya ekspedisi ini mereka tangguhkan dulu untuk sementara.

Sementara itu, Hans & Roz sudah membawa Southern Sun untuk bermarkas di Miri, Sarawak. Di sini mereka menggunakan sebagian besar waktu untuk mencari sejumlah sisa kapal perang yang tenggelam saat Perang Dunia II. Di lepas pantai Kalimantan mereka menemukan kembali kapal penghancur Sagiri, milik Jepang, yang tenggelam karena kecelakaan di dekat kota Kuching. Dengan pemindai sonar, mereka mengenali bentuk kapal ini. Hans menyelam dan menemukan bangkai kapal lengkap dengan torpedonya dalam tabung.

Gunung Lalakon

 

Dua hari penuh (13-14 November 2011) bersama pasangan Hans & Roz, saya tidak terlalu banyak mendengarkan perbincangan mereka tentang Atlantis. Hanya sesekali saja Roz terdengar mengucapkan sesuatu tentang Atlantis atau Lemuria. Dua hari ini, melalui permintaan seorang teman, saya bertugas menemani Hans & Roz untuk kunjungan ke Gunung Lalakon di Soreang, dan Gunung Sadahurip di Wanaraja, Garut. Kedua gunung ini, terutama Gunung Lalakon, belakangan ini memang santer diberitakan berkait dengan dugaan sementara orang tentang kemungkinan hubungannya dengan Atlantis.

Awalnya adalah kelompok peminat peradaban kuno, Turangga Seta, yang membuat dugaan ini. Entah bagaimana kelompok ini bisa menemukan kedua gunung tersebut, namun tim dari kelompok ini sempat mengadakan penelitian ilmiah ke Gunung Lalakon dan melakukan uji geolistrik dibantu beberapa ilmuwan dari LIPI dan BPPT. Dari hasil uji itu, mereka lalu mengadakan penggalian dan menemukan struktur bebatuan yang tersusun rapi dengan kemiringan 30 derajat di kedalaman 1-4 meter. Bebatuan membrojong ini dianggap sebagai bagian dari piramida yang sekarang sudah terkubur menjadi gunung.

Penemuan Gunung Lalakon dengan cerita Atlantisnya memang menimbulkan kontroversi cukup hangat di media massa maupun jaringan dunia maya atau internet. Tak kurang dari HU Pikiran Rakyat hingga VIVANews turut memberitakannya. Berdasarkan pengalaman saya mencari tahu fenomena ini melalui internet, ternyata lebih banyak tulisan yang lebih bersifat mendukung daripada membantah fenomena piramida di Gunung Lalakon. Tentu saja fakta ini tidak lantas menjadi ukuran kebenaran bagi salah satu pihak, namun paling tidak, bagi saya, dapat menunjukkan kecenderungan tertentu yang sedang berlangsung di dalam masyarakat.

Hans dan Roz yang awalnya lebih tertarik pada fenomena bawah air, akhirnya merasa tidak ada salahnya juga untuk turut melihat dan memeriksa kontroversi piramida di balik Gunung Lalakon dan Sadahurip secara langsung. Pergeseran minat ini disebabkan juga oleh ketidakpastian kelanjutan ekspedisi kelautannya yang terus tertunda karena ketiadaan biaya. Karena itulah dalam kunjungan singkatnya ke Indonesia kali ini mereka meluangkan waktu untuk mendatangi langsung gunung-gunung tersebut.

Sejak mula berada di lokasi Gunung Lalakon, Hans sudah meragukan kaitan piramida dengan gunung ini. Kesuburan daerah yang mengelilingi gunung ini membuatnya mengambil kesimpulan bahwa Gunung Lalakon adalah gunung alami dan tidak menyimpan karya manusia di dalamnya. Kesuburan tanah di sekeliling gunung sangat berhubungan dengan gunung itu sendiri, sebuah gunungapi yang sudah sangat lama mati. Pengambilan kesimpulan seperti ini akan sangat jelas saat mengunjungi Gunung Sadahurip di Wanaraja keesokan harinya. Wilayah di sekitar Gunung Sadahurip memang sangat subur dan karena itu sepanjang mata memandangi wilayah ini, kita hanya akan lihat ladang-ladang saja.

Gunung Sadahurip

 Kunjungan ke Sadahurip sudah dimulai sejak pagi sekali. Jam 8 pagi kami sudah berada di dekat Limbangan untuk menikmati secangkir kopi. Hans memilih air kelapa muda, langsung dari butirnya. Melalui Pak Oman Abdurahman, kami mendapatkan kontak di Wanaraja, seorang teman yang bernama Euis Keukeu Maryam, yang akan mengantarkan kami ke Sadahurip. Sepanjang perjalanan ini nyata sekali pasangan Hans & Roz menikmati seluruh pemandangan yang hadir di depan mereka, tak terkecuali jajaran delman yang memenuhi jalur jalan Karangpawitan hingga Wanaraja. Roz sedapatnya merekam kereta-kereta kuda itu dengan handycamnya untuk oleh-oleh bagi anaknya.

Tidak sulit menemukan rumah Ibu Keukeu, namun untuk menyingkat waktu, pertemuan kami langsungkan di sebuah rumah makan sekalian menyiapkan energi untuk pendakian. Sayang, karena pekerjaan rumahnya, Ibu Keukeu tidak dapat serta dan sebagai gantinya adalah suaminya yang akan mengantarkan kami ke puncak Sadahurip. Usai makan, kami berlima langsung menuju lokasi gunung melalui jalur-jalur jalan sempit di sepanjang Kecamatan Pangatikan. Sejak meninggalkan jalan raya Pangatikan, sepanjang beberapa kilometer jalur jalan terus menanjak landai.

Banyak pemandangan menarik dalam perjalanan ini. Kelompok gunung-gunung di sekitar kami tidak ada habisnya. Susahnya, tidak ada warga yang dapat mengenal baik nama-nama pegunungan yang kami lewati. Mungkin karena letaknya yang memang cukup jauh juga, sehingga tidak menjadi keseharian mereka. Namun dalam peta, dapat saya lihat kemungkinan nama beberapa gunung ini, di antaranya Gn. Cakrabuana, Gn. Karacak, Gn. Talagabodas, dan Gn. Sadakeling. Gunung-gunung yang lebih dekat kami tanyakan kepada para petani, namun jawabannya tidak terlalu meyakinkan, di antaranya, Gn. Kaboh, Gn. Karaha, Gn. Gerosi, dan Gn. Putri.

Setelah melalui jalan kaki yang panjang di antara ladang yang terus menanjak, kami tiba di lereng Sadahurip dan menemukan sebuah pemandangan spektakuler (bagi saya), yaitu sebuah cekungan mirip bekas kepundan gunungapi seperti yang saya lihat di Sumur Jalatunda, Dieng. Namun saya tidak dapat melihat dasarnya karena jauhnya. Di depan cekungan ini adalah lembah sempit yang memanjang dan terdengar cukup keras suara aliran sungai di bawahnya. Tampak dua tebing tinggi dengan bagian puncak yang mengingatkan saya pada Gunung Batu di Lembang. Dari warga kami dengar bahwa pada tahun 1980-an sebuah pesawat kecil pernah terjatuh di wilayah ini. Hingga beberapa lama bangkai pesawat masih terserak di situ.

Kondisi lingkungan selama perjalanan dan pendakian Gunung Sadahurip ternyata telah membuat Hans meragukan kisah piramida di balik gunung itu. Menurutnya semua yang ada di wilayah ini adalah hasil kerja alam karena keberadaan gunungapi. Kesuburan tanah akibat debu vulkanik, jalur-jalur aliran lava, dan beberapa amatan lain telah membuatnya mengambil kesimpulan bahwa Gunung Sadahurip adalah murni karya alam, sebuah gunungapi yang telah lama mati. Selewatan saya mendengarkan obrolan mereka, Roz yang mengatakan bahwa Hans adalah seorang pesimistis, dan sangkalan Hans yang menyatakan bahwa dirinya adalah seorang skeptis dan bukan pesimis. Sepanjang jalan pasangan ini mendiskusikan amatan mereka masing-masing. Saya tidak terlalu mengikuti obrolan serius ini, mencatat kesimpulan yang akhirnya diambil oleh Hans, baik Lalakon maupun Sadahurip, keduanya adalah murni karya alam dan samasekali tidak menyimpan campur tangan manusia di baliknya.

Walaupun merasa gagal menemukan piramida, namun Hans dan Roz samasekali tidak menyesali perjalanan mereka ke dua lokasi gunung ini. Pertama, karena mereka memang tidak menginginkan apa pun kecuali memuaskan rasa kepenasaran mereka tentang peradaban kuno yang hilang, dan kedua, mereka menemukan gantinya yang tak tertandingi dan di luar bayangan mereka sendiri, yaitu pemandangan luar biasa sepanjang perjalanan antara Bandung – Soreang – Garut. Pengalaman mereka dengan Pulau Jawa selama ini hanyalah Jakarta – Bogor, dan sungguh tidak menyangka bahwa di wilayah yang lebih ke dalam dapat menemukan pemandangan pegunungan hijau yang spektakuler. Sepanjang jalan menemani pasangan ini, itulah yang saya dengar; spectacular, amazing, wonderful, what an adventure, dan seterusnya dan seterusnya.

Bagi saya sendiri yang tidak terlampau terlibat dengan misteri peradaban kuno dengan segala kontroversinya, mendengarkan decak kagum tak henti dari pasangan petualang ini sudahlah cukup membahagiakan, mungkin rasanya seperti menemukan piramida itu sendiri.

Salam.

Ridwan Hutagalung

Bandung, 18 November 2011

Nb. Sumber informasi utama untuk data-data di atas adalah buku “Peradaban Atlantis Nusantara” (Ufuk, 2011) suntingan Ahmad Y. Samantho & Oman Abdurahman.

Situs Kendan

by Ridwan Hutagalung on Monday, October 3, 2011 at 9:38am

Situs kepurbakalaan Kendan

Kendan adalah nama sebuah bukit, yang berlokasi kira-kira 500 meter di sebelah timur-laut stasiun kereta api Nagreg, sebelah tenggara Cicalengka, Kabupaten Bandung. Pada kaki bukit ini terdapat sebuah kampung bernama Kendan, masuk Desa Citaman, Kecamatan Cicalengka.

Kira-kira 200 meter di sebelah utara Stasiun Nagreg, terdapat sebuah situs kepurbakalaan, yang oleh penduduk setempat disebut pamujaan (pemujaan). Mungkin, tempat itu bekas kabuyutan. Karena, menurut Pleyte (1909), di situ pernah ditemukan sebuah patung Durga yang sangat mungil, yang kini tersimpan di Museum Nasional di Jakarta.

Adanya patung Durga di tempat itu merupakan indikasi bahwa di situ pernah berkembang agama Siwa. Mungkin dari aliran Syakta. Sebab Dewi Durga, dipandang sakti, sebagai sumber kekuatan Siwa.

Nama Kendan, sudah lebih dikenal dalam dunia arkeologi. Sebab, tempat itu diketahui, sebagai pusat industri perkakas neolitik. Istilah “batu Kendan”, sudah merupakan semacam tanda paten, di dalam dunia kepurbakalaan di tanah air kita.

Beberapa abad sebelum tarikh Masehi, di daerah Kendan, sudah terindikasi adanya permukiman manusia. Merupakan permukiman yang ramai pada zamannya, dan menjadi pusat pembuatan perkakas, yang diperuntukkan bagi penduduk di daerah sekitarnya.

Hasil penyelusuran Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung (sekitar tahun 1980-an) membuktikan bahwa legenda Kendan masih dikenal. Dalam segala kekaburan kisahnya, legenda itu masih menyebut tokoh Manikmaya, sebagai salah seorang penguasa di tempat itu. Peninggalannya, sampai saat ini, masih dianggap “keramat” oleh penduduk di sekitarnya.

Nama Resiguru Manikmaya masih mengendap dalam cerita rakyat. Tentu, sebab posisi kesejarahannya yang sangat penting. Terbukti, penulis naskah Carita Parahiyangan pun, memulai kisah kerajaan Galuh, dari tokoh Resiguru Kendan ini.

Resiguru Manikmaya, Raja Pertama Kendan

Kisah lengkap tokoh Resiguru Manikmaya dapat kita ikuti dalam naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 4, yang selesai ditulis tahun 1602 Saka (1680 Masehi) di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Sang Resiguru Manikmaya datang dari Jawa Timur. Ia berasal dari keluarga Calankayana, India Selatan. Sebelumnya, ia telah mengembara, mengunjungi beberapa negara, seperti: Gaudi (Benggala), Mahasin (Singapura), Sumatra, Nusa Sapi (Ghohnusa) atau Pulau Bali, Syangka, Yawana, Cina, dan lain-lain.

Resiguru Manikmaya menikah dengan Tirtakancana, putri Maharaja Suryawarman, penguasa ke-7 Tarumanagara (535-561 M). Oleh karena itu, ia dihadiahi daerah Kendan (suatu wilayah perbukitan Nagreg di Kabupaten Bandung), lengkap dengan rakyat dan tentaranya.

Resiguru Manikmaya, dinobatkan menjadi seorang Rajaresi di daerah Kendan. Sang Maharaja Suryawarman, menganugerahkan perlengkapan kerajaan berupa mahkota Raja dan mahkota Permaisuri.

Semua raja daerah Tarumanagara, oleh Sang Maharaja Suryawarman, diberi tahu dengan surat. Isinya, keberadaan Rajaresi Manikmaya di Kendan, harus diterima dengan baik. Sebab, ia menantu Sang Maharaja, dan mesti dijadikan sahabat. Terlebih, Sang Resiguru Kendan itu, seorang Brahmana ulung, yang telah banyak berjasa terhadap agama. Siapa pun yang berani menolak Rajaresiguru Kendan, akan dijatuhi hukuman mati dan kerajaannya akan dihapuskan.

Penerus Tahta Kerajaan Kendan

Dari perkawinannya dengan Tirtakancana, Sang Resiguru Manikmaya Raja Kendan, memperoleh keturunan beberapa orang putra dan putri. Salah seorang di antaranya bernama Rajaputera Suraliman.

Dalam usia 20 tahun, Sang Suraliman semakin tampak ketampanannya dan sudah mahir ilmu perang. Oleh karena itu, ia diangkat menjadi Senapati Kendan, kemudian diangkat pula menjadi Panglima Balatentara (Baladika) Tarumanagara.

Resiguru Manikmaya memerintah di Kerajaan Kendan selama 32 tahun (536-568 Masehi). Setelah wafat, Sang Baladika Suraliman dirajakan di Kendan, sebagai penguasa baru. Penobatan Rajaputra Suraliman, berlangsung pada tanggal 12 bagian gelap bulan Asuji tahun 490 Saka (tanggal 5 Oktober 568 M.). Pada masa pemerintahannya, Sang Suraliman terkenal selalu unggul dalam perang.

Dalam perkawinannya dengan putri Bakulapura (Kutai, Kalimantan), yaitu keturunan Kudungga yang bernama Dewi Mutyasari, Sang Suraliman mempunyai seorang putra dan seorang putri. Anak sulungnya yang laki-laki diberi nama Sang Kandiawan. Adiknya diberi nama Sang Kandiawati.

Sang Kandiawan, disebut juga Rajaresi Dewaraja atau Sang Layuwatang. Sedangkan Sang Kandiawati, bersuamikan seorang saudagar dari Pulau Sumatra, tinggal bersama suaminya.

Sang Suraliman, menjadi raja Kendan selama 29 tahun (tahun 568-597 M). Kemudian ia digantikan oleh Sang Kandiawan yang ketika itu telah menjadi raja daerah di Medang Jati atau Medang Gana. Oleh karena itu, Sang Kandiawan diberi gelar Rahiyangta ri Medang Jati.

Setelah Sang Kandiawan menggantikan ayahnya menjadi penguasa Kendan, ia tidak berkedudukan di Kendan, melainkan di Medang Jati (Kemungkinan di Cangkuang, Garut). Penyebabnya adalah karena Sang Kandiawan pemeluk agama Hindu Wisnu. Sedangkan wilayah Kendan, pemeluk agama Hindu Siwa. Boleh jadi, temuan fondasi candi di Bojong Menje oleh Balai Arkeologi Bandung, terkait dengan keagamaan masa silam Kendan.

Sebagai penguasa Kendan ketiga, Sang Kandiawan bergelar Rajaresi Dewaraja. Ia punya lima putra, masing-masing bernama Mangukuhan, Karungkalah, Katungmaralah, Sandanggreba, dan Wretikandayun. Kelima putranya, masing-masing menjadi raja daerah di Kulikuli, Surawulan, Peles Awi, Rawung Langit, dan Menir. Kemungkinan, lokasi kerajaan bawahan Kendan tersebut berada di sekitar Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.

Pendahulu Kerajaan Galuh

Sang Kandiawan menjadi raja hanya 15 tahun (597-612 M). Tahun 612 Masehi, ia mengundurkan diri dari tahta kerajaan, lalu menjadi pertapa di Layuwatang Kuningan. Sebagai penggantinya, ia menunjuk putra bungsunya, Sang Wretikandayun, yang waktu itu sudah menjadi rajaresi di daerah Menir.

Sang Wretikandayun dinobatkan sebagai penguasa Kerajaan Kendan pada tanggal 23 Maret 612 Masehi, dalam usia 21 tahun. Malam itu, bulan sedang purnama. Esok harinya, matahari terbit, tepat di titik timur garis ekuator.

Sang Wretikandayun tidak berkedudukan di Kendan ataupun di Medang Jati, tidak juga di Menir. Ia mendirikan pusat pemerintahan baru, kemudian diberi nama Galuh (permata). Lahan pusat pemerintahan yang dipilihnya diapit oleh dua batang sungai yang bertemu, yaitu Citanduy dan Cimuntur. Lokasinya yang sekarang, di desa Karang Kamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis.

Sebagai Rajaresi, Sang Wretikandayun memilih istri, seorang putri pendeta bernama Manawati, putri Resi Makandria. Manawati dinobatkan sebagai permaisuri dengan nama Candraresmi. Dari perkawinan ini, Sang Wretikandayun memperoleh tiga orang putra, yaitu Sempakwaja (lahir tahun 620 M), Jantaka, (lahir tahun 622 M), dan Amara (lahir tahun 624 M).

Ketika Sang Wretikandayun dinobatkan sebagai Raja Kendan di Galuh, penguasa di Tarumanagara saat itu, adalah Sri Maharaja Kretawarman (561-628 M). Sebagai Raja di Galuh, status Sang Wretikendayun adalah sebagai raja bawahan Tarumanagara.

Berturut-turut, Sang Wretikandayun menjadi raja daerah, di bawah kekuasaan Sudawarman (628-639 M), Dewamurti (639-640 M), Nagajayawarman (640-666 M), dan Linggawarman (666-669 M).

Ketika Linggawarman digantikan oleh Sang Tarusbawa, umur Sang Wretikandayun sudah mencapai 78 tahun. Ia mengetahui persis tentang Tarumanagara yang sudah pudar pamornya. Apalagi Sang Tarusbawa yang lahir di Sunda Sembawa dan mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Ini merupakan peluang bagi Sang Wretikandayun untuk membebaskan diri (mahardika) dari kekuasaan Sang Tarusbawa.

Sang Wretikendayun segera mengirimkan duta ke Pakuan (Bogor), sebagai ibu kota Kerajaan Sunda (lanjutan Tarumanagara) yang baru, menyampaikan surat kepada Sang Maharaja Tarusbawa. Isi surat tersebut menyatakan bahwa Galuh memisahkan diri dari Kerajaan Sunda, menjadi kerajaan yang mahardika.

Sang Maharaja Tarusbawa adalah raja yang cinta damai dan adil bijaksana. Ia berpikir, lebih baik membina separuh wilayah bekas Tarumanagara daripada menguasai keseluruhan, tetapi dalam keadaan lemah. Tahun 670 Masehi, merupakan tanda berakhirnya Tarumanagara. Kemudian muncul dua kerajaan penerusnya, Kerajaan Sunda di belahan barat dan Kerajaan Galuh di belahan timur, dengan batas wilayah kerajaan Sungai Citarum. Pada tahun 1482, kedua kerajaan ini dipersatukan oleh Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), menjadi Kerajaan Sunda Pajajaran.

Oleh karena itu, betapa pentingnya posisi dan nilai Situs Kendan dan sekitarnya dalam perspektif sejarah dan kepurbakalaan Jawa Barat. Tidak menutup kemungkinan, jika diadakan penggalian dan penelitian arkeologis, pada tebaran radius 5-10 km dari situs Kendan, akan ditemukan bekas candi, arca-arca, artefak, tembikar, keramik, terakota, dan benda-benda peninggalan sejarah lainnya.

Penulis, Alumnus Faculty of Arts and Sciences University of Pittsburgh, Pennsylvania, USA.

 

Cuplikan ini berasal dari artikel berjudul “Situs Kendan di Nagreg Jadi TPS atau Pekuburan” karya Yoseph Iskandar yang dimuat di koran Pikiran Rakyat, Sabtu, 6 Mei 2006. Tulisan ini dibuat sebagai tanggapan atas dua wacana yang berkaitan dengan wilayah Kendan waktu itu,

1)     Menjadikan Kendan sebagai TPS (Tempat Pembuangan Sampah) serta rencana pendirian pabrik pengolahan sampah modern di sana.

2)     Rencana pemindahan kompleks perkuburan Tionghoa dari Cikadut ke Kendan, sehubungan dengan rencana menjadikan Cikadut sebagai pusat industri dan perdagangan.

Geotrek Kamojang, 8 Oktober 2011

Geotrek Krakatau, 2-3 Juli 2011

by Ridwan Hutagalung on Monday, June 27, 2011 at 7:58pm

Gambar dari sampul dalam buku Krakatoa (Rupert Furneaux, Prentice Hall, N.J., 1964). Dalam gambar tampak bagian tengah yang membentuk bidang segitiga adalah kawasan yang tertutupi oleh awan debu tebal akibat letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883. Sedangkan bidang bulatan yang lebih luas mencapai separuh Australia dan India adalah kawasan di mana ledakan Krakatau dapat terdengar.

Dalam Geotrek Cibuni beberapa waktu lalu, secara sepintas narasumber Awang H. Satyana bercerita tentang bagaimana pada tahun 1815 Sir Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Hindia Timur waktu itu, segera mempersiapkan pasukan meriamnya saat mendengarkan suara ledakan yang cukup keras dari arah timur. Ternyata Raffles terkecoh, karena suara ledakan yang dikuatirkannya berasal dari meriam itu adalah suara ledakan dari Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, lebih dari 1000 km di sebelah timur Batavia.

Berpuluh peristiwa yang mirip dengan cerita di atas ternyata terjadi lagi 68 tahun kemudian di seperdelapan bagian dunia. Kali ini, 1883, yang meletus adalah pulau gunungapi Krakatau di Selat Sunda. Berbagai cerita salah dengar suara meriam juga terjadi di banyak tempat dalam radius 4000 km. Karena itulah letusan Krakatau sering disebut sebagai suara terdahsyat yang pernah didengar umat manusia di muka bumi.

Suara letusan bukanlah satu-satunya hal spektakuler dari letusan Krakatau pada tahun 1883. Krakatoa Royal Society yang didirikan di London pada awal tahun 1884 mendapatkan tugas dari dewan penasihat Royal Society untuk mengumpulkan berbagai informasi dan fenomena yang berhubungan dengan letusan Krakatau. Semua informasi yang masuk diperiksa ulang dengan tingkat presisi yang setinggi mungkin. Diperlukan waktu sekitar lima tahun untuk meneliti semua informasi itu hingga laporan akhir diterbitkan pada tahun 1888.

Dari seabreg informasi yang berhasil dikumpulkan oleh Krakatoa Royal Society itulah kini kita dapat mengetahui berbagai kejadian unik dan spektakuler di pelosok dunia sehubungan dengan efek dari letusan Krakatau. Di antaranya cerita tentang sebaran abu vulkanik Krakatau yang mencapai New York pada bulan November 1883 dan telah menyebabkan para petugas pemadam kebakaran di Poughkeepsie dengan semangatnya berlari mendatangi lokasi terlihatnya sebuah cahaya kebakaran.

Sambil terus membunyikan lonceng-lonceng tanda kebakaran, mereka tiba di sisi sungai. Namun pasukan pemadam kebakaran yang terkenal sigap ini harus kecewa karena lokasi datangnya cahaya kebakaran ternyata masih berada jauh di seberang sungai. Kemudian hari diketahui tak ada kebakaran di sekitar Poughkeepsie. Yang terjadi saat itu adalah fenomena afterglow yang luar biasa.

Afterglow adalah rona cemerlang yang tampak membara yang muncul di langit setelah matahari tenggelam beberapa saat. Sebaran abu vulkanik dari letusan Krakatau telah melanglang dunia dan menghalangi sinar matahari sehingga ketika bersinggungan dengan awan debu menimbulkan efek warna merah membara, atau seperti yang dikatakan oleh Kapten Faircloth dari Caribbean Signal Service, “kilauan yang mengerikan.”

Itu di New York dan Karibia. Di Inggris, seorang pelukis bernama William Ashcroft begitu terpesona melihat cahaya senja yang sangat mengesankan di langit Chelsea. Dengan kecepatan fantastis – sejak pertama kali melihatnya di awal bulan September 1883 itu – ia melukiskan seluruh proses tenggelamnya matahari setiap hari selama beberapa bulan. Hasilnya adalah 533 buah lukisan cat air ditambah catatan-catatan cermat dan analisis panjang mengenai apa yang dilihatnya. Belakangan, semua hasil lukisannya ini dipamerkan di sebuah museum di South Kensington.

Masih ada ratusan cerita menarik lainnya tentang Krakatau.

Ikuti saja Geotrek Indonesia – KRAKATAU

2 – 3 Juli 2011 dengan narasumber Bpk. Awang H. Satyana dan Bpk. Igan S. Sutawidjaja.

1. Krakatau; Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883, Simon Winchester (Serambi, Jakarta, 2006) terjemahan dari Krakatoa, The Day the World Exploded : August 27, 1883 (HarperCollins Publishers, New York, 2003)

2. Krakatoa, Rupert Furneaux (Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs, N.J., 1964)

“KRAKATAU 1883”

 

 

Hari Senin, 27 Agustus 1883, saat itu pukul 10.02 pagi di Hindia Belanda, telah terjadi “sebuah ledakan yang mengerikan”. Ungkapan itu terdapat dalam buku log Kapten Sampson dari kapal Norham Castle. Ia menyebutkan suasana yang gelap total dan hujan debu serta batu apung turun tanpa henti. Kapten Sampson yakin kiamat sudah tiba..

Laporan Kapten Sampson bukanlah satu-satunya yang mencatat peristiwa alam luar biasa saat itu. Kapal Marie yang tengah berada di Teluk Lampung melaporkan adanya “tiga gelombang besar datang berturut-turut; ledakan mengerikan terdengar satu kali; langit membara; lembap.”

Itulah peristiwa letusan Krakatau yang fenomenal dan sering disebut sebagai ledakan paling dahsyat yang pernah dicatat dan dialami oleh manusia modern. Memang sejumlah letusan gunung lain diperkirakan jauh lebih besar dibanding dibanding Krakatau, seperti Gunung Toba, Taupo (Selandia Baru) atau Katmai (Alaska). Yang membedakan adalah letusan Krakatau terjadi dekat dengan zaman kita; zaman dengan teknologi informasi yang lebih canggih, dan tentunya dengan akibat yang lebih besar bagi kemanusiaan.

Banyak manusia modern yang secara langsung ataupun tidak menyaksikan dan mengalami akibat peristiwa letusan Krakatau tahun 1883 itu. Banyak laporan dituliskan, dan kemudian, penelitian dilakukan. Di antara mereka itu, adalah Rogier Verbeek, orang pertama yang mengunjungi Krakatau enam minggu setelah letusan. Verbeek kemudian membukukan hasil penelitiannya dalam Krakatau (Government Printing Office, Batavia, 1886), lalu Tom Simkin & Richard S. Fiske yang menulis Krakatau 1883; The Vulcanic Eruption and It’s Effects (Smithsonian Institution Press, Washington D.C., 1983) atau analisa berbagai catatan dan amatan yang menarik dari Rupert Furneaux, Krakatoa (Seeker & Warburg, London, 1965) yang kemudian disempurnakan oleh Simon Winchester dalam Krakatoa, The Day the World Exploded : August 27, 1883 (HarperCollins Publishers, New York, 2003). Buku terakhir ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Krakatau; Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883 (Serambi, Jakarta, 2006).

Seberapa dahsyatkah akibat letusan Krakatau 1883 itu? Tercatat tsunami yang timbul setelah letusan 27 Agustus 1883 itu telah memusnahkan 295 kampung atau 163 desa dan menewaskan 36.417 nyawa manusia. Material vulkanik yang diletuskan sebanyak 18 km kubik dan saat kembali jatuh ke Selat Sunda telah membuat perairan itu menjadi dangkal, bahkan membentuk dua pulau baru dalam semalam, Calmeyer dan Steers. Tinggi gelombang laut yang ditimbulkan mencapai 36 meter di Merak, sedangkan lontaran abu vulkanik mencapai ketinggian antara 50-90 km. Abu vulkanik dalam atmosfir telah mengakibatkan efek warna-warni pada pantulan cahaya matahari sehingga memengaruhi iklim di beberapa bagian bumi. Atmosfir bumi baru akan normal kembali pada 1886 atau tiga tahun setelah letusan.

Suara ledakan Krakatau terdengar di seperdelapan bagian bumi dan dapat didengar hingga Pulau Rodriguez (Mauritius) sejauh 4800 km di sebelah barat. Laporan suara ledakan yang sering kali disangka sebagai suara tembakan kanon ini juga datang dari Saigon, Bangkok, Manila, Aceh, Papua Nugini, sampai Perth, Darwin, atau Andaman di tengah Samudra Hindia. Sebuah kapal militer Belanda yang tengah parkir di Selat Sunda, terhempas oleh gelombang tsunami sejauh 3 km dan terdampar di daratan dengan ketinggian sekitar 20 mdpl.

Kapal Berouw milik angkatan laut Belanda itu memang sudah lenyap, habis dimakan waktu, namun sebagian lain dari jejak kedahsyatan tsunami 1883 masih tercecer di banyak tempat dan dapat disaksikan hingga sekarang.

GEOTREK INDONESIA menyelenggarakan kegiatan kunjungan ke Krakatau pada tanggal 2-3 Juli 2011 ini. Program utamanya adalah melihat dari dekat situasi Krakatau yang fenomenal serta menengok berbagai jejak yang masih dapat disaksikan akibat kedahsyatan tsunami yang ditimbulkannya dulu. Karena tidak mudahnya akses menuju Krakatau maka kami membatasi jumlah peserta yang akan ikut.

Untuk pendaftaran dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi :

Ridwan Hutagalung : 0899 718 3758

Ummy Latifah : 0818 0905 0258

Sumber :

1. Krakatau; Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883, Simon Winchester (Serambi, Jakarta, 2006) terjemahan dari Krakatoa, The Day the World Exploded : August 27, 1883 (HarperCollins Publishers, New York, 2003)

2. Krakatoa, Rupert Furneaux (Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs, N.J., 1964)

3. 123 Tahun Krakatau, Igan S. Sutawidjaja (2011)

4. Krakatau 1883, Lethal Tsunami, Awang H. Satyana (2005)

JADWAL GEOTREK INDONESIA “KRAKATAU”, 2-3 JULI 2011

 

Sabtu, 2 Juli 2011

04.00                     Kumpul di halaman depan kampus ITB, Jl. Ganesha, Bandung. Absensi dan perkenalan.

04.30                     Berangkat menuju Banten.

11.00                     Tiba di Banten Lama : Benteng Speelwijk (1685), Vihara Avalokitesvara (+1682), Istana Kaibon (+1800), Keraton Surosowan (1526), Mesjid Agung Banten (1560-1570), Museum Arkeologi Banten à objek dan lama kunjungan disesuaikan dengan waktu yang tersedia.

Ishoma.

13.30                     Berangkat menuju Carita.

15.00                     Carita : menengok jejak-jejak tsunami Krakatau 1883.

18.80                     Villa Carita.

19.00                     Makan malam di aula villa.

20.00                     Diskusi dan obrolan santai seputar Krakatau bersama Bpk. Igan S. Sutawidjaja & Bpk. Awang H. Satyana.

* Waktu dapat berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Minggu, 3 Juli 2011

05.30                     Sarapan dan persiapan. *

06.30                     Pembagian boat dan keberangkatan menuju Krakatau.

08.00                     Tiba di Krakatau. Pengamatan dan materi lebih lanjut dari Bpk. Igan S. Sutawidjaja & Bpk. Awang H. Satyana.

12.30                     Kembali ke Carita.

14.00                     Perjalanan pulang ke Bandung.

Makan siang di bis, makan malam di jalan.

* Waktu dapat berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

* Keberangkatan terbaik menuju Krakatau adalah jam 6 pagi, bila dapat lebih awal dalam melakukan persiapan akan lebih baik untuk perjalanan dan petualangan di Krakatau.

Seluruh calon peserta agar memerhatikan berbagai hal berikut ini :

–          Bawa barang pribadi seringkas mungkin.

–          Jangan membawa barang berharga yang tidak diperlukan dalam perjalanan, kecuali kamera, perekam video, dan handphone.

–          Membawa barang dan perlengkapan pribadi yang tidak disediakan oleh panitia atau mungkin sulit didapatkan di perjalanan.

–          Peserta dengan keluhan atau mengidap penyakit tertentu harap melaporkan dan berkonsultasi terlebih dahulu kepada panitia.

–          Membawa obat-obatan pribadi.

–          Persiapkan payung, jaket, dan kaca mata gelap.

–          Pakai dan bawa sepatu atau sandal yang nyaman.

–          Membawa drybag atau plastik pelindung barang dari air laut.

–          Membawa perbekalan makanan dan minuman cadangan untuk keperluan pribadi. Perjalanan di laut memakan waktu cukup lama, jangan sampai luput memerhatikan berbagai kebutuhan sesuai kondisi pribadi masing-masing.

–          Membawa pakaian ganti yang ringkas dan mudah dibawa.

–          Perjalanan baik di darat maupun di laut akan cukup panjang, sebaiknya setiap peserta dapat memanfaatkan waktu luang sebaik-baiknya untuk tidur/beristirahat.

Para peminat sejarah kolonialisme di Hindia Belanda dan terutamaBandung, tentunya tak asing dengan nama Wolff Schoemaker. Beliau adalah arsitek yang banyak merancang gedung-gedung monumental di Bandung. Dapat disebutkan beberapa karyanya yang terkemuka seperti Villa Isola, Hotel Preanger, Gedung Merdeka, Peneropongan Bintang Bosscha, Bioskop Majestic, Landmark Building, Gedung Jaarbeurs, Penjara Sukamiskin, Gereja Bethel, Katedral St. Petrus, Mesjid Raya Cipaganti, dan banyak lagi yang lainnya. Demikian banyak karyanya diBandungsehingga seorang pakar arsitektur dari Belanda, H.P. Berlage, pernah mengatakan bahwaBandungadalah “kotanya Schoemaker bersaudara”. Ya, Wolff Schoemaker memang memiliki seorang kakak yang juga terpandang dalam dunia arsitektur masa kolonial, yaitu Richard Schoemaker.

Walaupun demikian populer karya-karyanya diBandung, namun kehidupan pribadinya sama sekali tidak demikian. Tidak banyak informasi mengenai kehidupan Wolff Schoemaker yang bisa didapatkan baik melalui buku-buku lama ataupun melalui internet di masa sekarang ini. Salah satu kemungkinan yang menjadi penyebabnya adalah hilang atau hancurnya semua data-data itu pada masa penjajahan Jepang di Nusantara dan berlanjut pada masa Agresi Militer I dan II. Oleh karena itu dalam tulisan-tulisan yang berkaitan dengan Wolff Schoemaker umumnya terbatasi hanya dalam bidang arsitektur saja.

Kelangkaan informasi mengenai sosok Wolff Schoemaker tak ayal menimbulkan berbagai dugaan dan keraguan pula. Misalnya saja pertanyaan mengenai apakah sebenarnya agama yang dianut oleh Wolff Schoemaker seperti yang disinggung dalam tulisan mengenai Masjid Cipaganti di buku “200 IkonBandung: Ieu Bandung, Lur” yang baru saja diterbitkan oleh Pikiran Rakyat. Pertanyaan yang sangat wajar karena penulis artikel itu menemui bahwa ada beberapa tulisan yang menyebutkan nama arsitek ini dengan Profesor Kemal C.P. Wolff Schoemaker. Sumber lainnya dengan agak ragu menyebutkan bahwa gelar Kemal didapatkan oleh Wolff Schoemaker setelah ia memeluk agama Islam.

Berikut ini saya sarikan sejumlah informasi tentang Wolff Schoemaker seperti yang terdapat dalam buku “Tropical Modernity; The Life & Work of C.P. Wolff Schoemaker” karya C.J. van Dullemen ditambah dengan beberapa buku lain sebagai bahan pendukung. Penulis buku ini (Dullemen) mengakui kelangkaan informasi tentang sosok arsitek yang karya-karya monumentalnya tersebar diKotaBandung. Oleh karena itu van Dullemen banyak mengandalkan berbagai ingatan dari mantan mahasiswa professor ini saat aktif mengajar di Technische Hoogeschool (sekarang ITB).

Charles Prosper Wolff Schoemaker dilahirkan di Banyubiru, Jawa Tengah, pada tahun 1882. Ia menjalani pendidikan di Akademi Militer di Belanda hingga lulus dengan pangkat letnan zeni militer. Sekembalinya di Hindia Belanda pada tahun 1905, Wolff Schoemaker bekerja sebagai arsitek militer untuk pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1911 Wolff keluar dari dinas militer dan dua tahun kemudian bekerja sebagai insinyur teknik pada Dienst Burgerlijk Openbare Werken atau Dinas Pekerjaan Umum Batavia. Saat menjabat sebagai direktur di GemeentewerkenBatavia, diketahui ia menjadi seorang Muslim. Tidak ada informasi mengenai faktor apa yang menyebabkannya memutuskan berpindah agama saat itu.

Tak lama setelah memeluk agama Islam, Wolff Schoemaker mendapatkan gelar Kemal dari rekan-rekan Muslimnya. Kegiatannya dalam dunia Islam dilakukannya melalui jabatannya sebagai wakil ketua pada kelompok Western Islamic Association di Bandung. Ia juga bergabung dengan organisasi Persatoean Oemmat Islam setelah masa perang kemerdekaan. Melalui sebuah suratpanjang, Ia bahkan menyarankan pada mantan muridnya yang saat itu menjadi PresidenR.I., Ir. Soekarno, agar mengarahkan republik yang baru berdiri ini menjadi Kesultanan Indonesia Islamyah. Menurut pandangannya sistem demokrasi dengan dasar-dasar yang berasal dari barat itu tidak tepat untuk dijalankan di Indonesia. Beberapa pandangannya mengenai Islam dituangkannya pula dalam sebuah tulisan yang diterbitkan dalam koleksi essay yang berjudul Cultuur Islam (1937).

Pada tahun 1938 Wolff Schoemaker mendapatkan tugas untuk menggantikan kakaknya, Richard, sebagai pengajar di Techincal University di Delft. Dalam perjalanan menuju Belanda itu Wolff berkesempatan untuk mampir dan tinggal sebentar di Kairo, Mesir. Setelah berada di Belanda, Wolff memutuskan untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah pada akhir tahun 1938. Pada akhir tahun 1939 Wolff kembali keBandungdan melanjutkan tugasnya sebagai professor di Technische Hoogeschool.

Sebagai seorang Muslim yang cukup aktif dalam kegiatan keagamaan, Wolff Schoemaker cukup disegani oleh para mahasiswa Indonesianya. Sementara kalangan mahasiswa Belanda dan orang-orang Eropa lainnya tak dapat memahami pilihan Wolff Schoemaker untuk menjadi Islam. Dalam pengantar untuk Cultuur Islam, Wolff Schoemaker menyatakan bahwa karakter yang humanis dan toleran dalam Islam memberikan peluang bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Mungkin hal itulah yang membuat Wolff Schoemaker merasa cocok dengan pilihannya. Wolff Schoemaker memang merupakan figur yang sangat terbuka bagi ilmu pengetahuan. Ia juga unik sehingga tidak mudah dipahami oleh lingkungannya. Tidak mudah juga untuk dapat berteman dengannya. Kebanyakan rekannya menilainya sebagai seorang yang temperamental, emosional, sekaligus juga flamboyan dan sensual.

Walaupun kegiatannya sebagai Muslim cukup menonjol, dari empat kali pernikahannya Ia tidak pernah menikahi sesama Muslim. Bahkan satu-satunya karya yang berkarakter Islam yang pernah dibuatnya hanyalah Masjid Kaum Cipaganti yang diselesaikannya pada tahun 1934. Masjid ini dibangun di Nijlandweg, di tengah-tengah kompleks permukiman bangsa Eropa di Bandung Utara pada masa pemerintahan Bupati Rd. Tg. Hassan Soemadipradja. Keanehan lainnya adalah fakta bahwa Ia dimakamkan di TPU Kristen Pandu pada tahun 1949.

Ridwan Hutagalung

Penulis buku “Braga; Jantung Parijs van Java”

Sumber-sumber bacaan :

Haryoto Kunto, “Seabad Grand Hotel Preanger; 1897-1997”

C.J. van Dulleman, “Tropical Modernity; The Life & Works of C.P. Wolff Schoemaker”

Huib Akihary, “Architectuur & Steedebouw in Indonesie, 1870/1970”

Her Suganda, “Jendela Bandung”

Sumber foto :

C.J. van Dulleman, “Tropical Modernity; The Life & Works of C.P. Wolff Schoemaker”

1. C.P. Wolff Schoemaker di studionya tahun 1924. Di latar belakang adalah ukiran-ukiran yang dipergunakannya untuk ornamen gedung Societeit Concordia dan Gereja Bethel.

2. C.P. Wolff Schoemaker dengan kostum haji.

3. C.P. Wolff Schoemaker dengan latar belakang piramid saat kunjungannya ke Mesir.

4 & 5. Plakat di Mesjid Cipaganti.

Ruas Jl. Braga di Bandung tentulah sudah dikenal baik oleh masyarakat, baik sebagai objek wisata berwawasan sejarah atau arsitektur. Sejumlah bangunan tua di Jl. Braga belakangan ini menjadi lebih populer sebagai tempat berfoto-ria yang dilakukan baik oleh kalangan wisatawan atau pun para pelajar dan remaja Kota Bandung. Belakangan Jl. Braga agak mengundang kegaduhan dalam masyarakat sehubungan dengan program revitalisasi yang menggantikan bahan jalan dari aspal dengan batu andesit. Jalan berbatu andesit ini ternyata tak pernah mampu bertahan cukup lama dalam kondisi baik.

Tapi dari pada membicarakan masalah revitalisasi yang tidak vital itu, saya langsung saja ke perhatian utama saat ini, yaitu Kampung Apandi. Ruas Jl. Braga sebetulnya diapit oleh dua kawasan di kiri-kanannya, masing-masing Kampung Apandi di sebelah barat dan sebuah Europeschewijk di sisi timurnya. Europeschewijk yang dulu dikepalai oleh Coorde sekarang menjadi kawasan Kejaksaan Atas dan nama Gang Coorde menjadi Jl. Kejaksaan. Istilah Kejaksaan Atas dan Kejaksaan Bawah adalah istilah tidak resmi dari warga untuk membedakan potongan Jl. Kejaksaan antara Tamblong-Braga dengan Tamblong-Saad.

Di sebelah barat ruas Jl. Braga terletak perkampungan berbentuk memanjang utara-selatan dan secara administratif termasuk ke dalam Kelurahan Braga. Kampung yang padat ini hampir selalu luput dari perhatian saat masyarakat membicarakan masalah Jl. Braga. Hanya kadang-kadang saja perhatian masyarakat ditolehkan ke wilayah ini, yaitu saat banjir besar melanda secara rutin setiap tahunnya. Seperti yang terjadi pada 28 April 2007, tak kurang dari walikota Dada Rosada mendatangi kawasan kampung ini untuk melihat keadaan kampung yang porak-poranda akibat terjangan banjir pada malam sebelumnya.

Di masa Hindia-Belanda, wilayah utama Kampung Apandi terletak di lokasi yang sekarang ditempati oleh Hotel Kedaton. Kampung ini memanjang ke arah selatan sampai sekitar di seberang restoran Braga Permai. Secara perlahan wilayah perkampungan ini digerus oleh zaman. Penyusutan wilayah pertama kali terjadi sekitar tahun 1938 saat pembangunan viaduct. Jembatan kereta api yang melintasi sungai Ci Kapundung di sebelah barat kampung ini sekaligus juga membukakan akses jalan baru dari arah Jl. Braga ke Jl. Banceuy. Jalan baru ini menjadi bagian dari Jl. Suniaraja.

Sebelum pembukaan jalan baru, akses jalan dari Braga menuju Jl. Banceuy hanyalah jalan gang di tengah perkampungan saja. Jalan baru dibuat menyambung dengan potongan Jl. Suniaraja yang bersambungan dengan ujung Jl. Banceuy dan berawal dari persimpangan Jl. Kebonjati. Warga tempo dulu menyebutnya Parapatan Kompa. Di wilayah inilah dulu lahir seseorang yang pada masa remajanya sempat menghebohkan warga Bandung karena berjibaku dengan meledakkan gudang mesiu Jepang di Dayeuhkolot, Mohammad Toha. Sayang sekali detail cerita seputar peledakan ini masih kabur hingga sekarang.

Pembukaan jalan baru yang membelah Kampung Apandi itu sebetulnya merupakan bagian dari sebuah rencana lain yaitu pengembangan ruas jalan di sepanjang jalur sungai Ci Kapundung dimulai dari sekitar viaduct hingga kompleks pertokoan elektronik Banceuy (Cikapundung) sekarang. Entah kenapa rencana ini tidak pernah terwujud.

Penyusutan Kampung Apandi berikutnya terjadi saat didirikannya Hotel Kedaton persis di bekas rumah tokoh setempat yang namanya kemudian diabadikan menjadi nama kampung, H.M. Affandi. Masih belum selesai, berikutnya sebagian wilayah Kampung Apandi menghilang lagi dengan pembangunan kompleks hotel dan mall Braga City Walk yang juga mengambil area bekas pabrik perakitan mobil Mercedez Fuchs & Rens (kemudian Permorin). Dari seluruh bagian bengkel Fuchs & Rens yang masih tersisa adalah ruang pamer mobil yang terletak persis di sisi Jl. Braga. Ruang pamer ini sekarang ditempati oleh restoran Wendy’s. Beberapa bagian bangunan, terutama bagian depan, masih menyisakan bagian asli ruang pamer Fuchs & Rens. Plakat pembangunan ruang pamer yang terbuat dari marmer pun masih dapat dilihat terpasang di tembok depan.

Sekarang bekas wilayah Kampung Apandi tinggal sedikit saja tersisa di sekitar seberang restoran Braga Permai. Persis berhadapan dengan restoran bekas Maison Bogerijen yang terkenal itu terdapat sebuah jalan gang mengarah ke timur. Jalan masuk gang ini cukup unik karena berbentuk lorong jalan di bawah bangunan gedung, yaitu Toko Buku Jawa. Di mulut gang terdapat plang nama jalan bertuliskan Gg. Apandi. Dari mulut gang ini tak sampai 20 meteran, suasana perkampungan sudah langsung terasa.Jalan masuk lain menuju kampung ini dapat melalui Gg. Apandi III dan Jl. Afandi Dalam dari arah Jl. Suniaraja (seberang Hotel Kedaton) yang ditandai dengan keberadaan bengkel-bengkel dan pusat penjualan ban mobil.

Penulisan nama Apandi sebagai nama daerah ini memang memiliki sejumlah variasi. Ada yang menuliskan Apandi, Affandi, atau Affandie. Pengucapan nama Affandi dalam logat Sunda menjadi Apandi tentu merupakan hal yang biasa sekali. Pengucapan ini mempengaruhi pula cara menuliskannya sehingga banyak nama yang ditulis secara resmi menjadi Apandi, seperti pada plang nama gang yang terletak di seberang Braga Permai.

Apandi atau Affandi, seperti yang tertulis pada nisan makamnya di Astana Anyar, adalah tokoh setempat yang dikenali sementara orang sebagai seorang yang sangat ramah pada tetangganya. Pada tahun 1903 Affandi mendirikan sebuah percetakan dengan nama Toko Tjitak Affandi. Percetakan ini termasuk percetakan pribumi angkatan pertama yang banyak mencetak buku-buku berbahasa Sunda. Salah satu terbitannya yang terkenal adalah Wawacan Angling Darma (Martanegara) pada tahun 1906. Buku cerita hiburan ini sempat mengalami cetak ulang oleh penerbit lain namun sayangnya dalam edisi yang agak terbatas. Affandi sendiri sempat menulis beberapa buku, di antaranya sebuah novel berjudul ”Pieunteungeun” yang diterbitkan pada tahun 1937.

Menurut salah satu kerabat H. Affandi, lokasi pendirian Toko Tjitak Affandi ini terletak di Gedung Landmark sekarang. Tanah di wilayah ini sampai ke dekat Jl. Suniaraja memang dimiliki oleh keluarga Affandi. Pada tahun 1922 di lokasi yang sama didirikan sebuah toko buku terkenal, van Dorp, dengan arsitektur bangunan hasil rancangan arsitek terkenal Wolff Schoemaker. Sangat mungkin van Dorp membeli dan melanjutkan percetakan yang memang telah ada sebelumnya.

Mengenai tokoh Affandi ini sebetulnya banyak informasi yang masih samar namun sangat menarik untuk ditelusuri lebih lanjut. Di antara kisah-kisah itu adalah cerita lisan bahwa kerabat-kerabat Affandi memiliki rumah-rumah besar di sepanjang Merdikaweg. Salah satu rumah itu terletak di lokasi berdirinya Bandung Indah Plaza (BIP) sekarang. Rumah lainnya berseberangan dengan gedung Balaikota dan memiliki ruang bawah tanah yang luas.

Menurut catatan dalam buku Braga: Revitalisation in an Urban Development (Wieland, 1997), di awal pembangunan Braga, sudah terdapat sebuah kampung di daerah itu yang bernama Babakan Soeniaradja. Konon pada tahun 1826, terdapat beberapa rumah di antara Sungai Ci Kapundung dan Braga (waktu itu Karrenweg). Kemudian baru pada tahun 1925 tercatat lagi mengenai kampung ini, ketika sejumlah penjaga kuda di jalur Jalan Raya Pos menempati tiga perkampungan, Kampung Banceuy (= bahasa Sunda yang berarti ‘istal’, kandang kuda), Kampung H. Affandi dan Kampung Cibantar. Perkampungan ini terdiri dari rumah-rumah panggung tradisional Sunda.

Ada empat orang yang tercatat sebagai pemilik atau tuan tanah di wilayah itu. Mereka adalah Haji Affandi dengan pemilikan tanah di sebelah barat Jl. Braga, dari tengah hingga ke sekitar viaduct; Asep Berlian dengan pemilikan tanah mulai di belakang eks-Fuchs & Rens ke selatan; Juragan Alketeri yang memiliki sebagian besar tanah di selatan Jl. Banceuy, dan Juragan Yiep Ging yang memiliki bidang tanah mulai dari sekitar Gg. Cikapundung hingga ke selatan Jl. Braga. Selain itu ada juga bagian tanah yang dimiliki oleh pemerintah dan tuan tanah bangsa Belanda, yakni di sebelah barat Jl. Braga bagian selatan hingga sekitar penjara Banceuy.

Sejak terjadi peristiwa kebekaran yang melanda Kampung Apandi tahun 1994, keluarga dan kerabat H. Affandi terpencar dan tinggal ke beberapa daerah lain di Kota Bandung. Pemilikan tanah oleh keluarga keturunan dan kerabat H. Affandi masih berlangsung sampai sekarang, namun sedikit demi sedikit terjual kepada para pengembang.

* * *

Affandie, R.M.A.

1969     Bandung Baheula (Djilid  1 & 2). Guna Utama. Bandung.

Anonim.

1933     “Bandoeng’s Geboorte en Groei: van Desa tot Trotsche Bergstad”. Artikel dalam majalah Mooi Bandoeng, Agustus, 1933.

Amin, Sjarif.

1983     Keur Kuring di Bandung. Pelita Masa. Bandung

Kunto, Haryoto.

1984        Wajah Bandung Tempo Doeloe. Granesia. Bandung.

Moriyama, Mikihiro.

2005        Semangat Baru. KPG. Jakarta.

Schomper, Pans.

1996 Selamat Tinggal Hindia: Janjinya Pedagang Telur. Dorned.

Wieland, H.F.

1997 Braga: Revitalisation in an Urban Development. Department of Architecture, Parahyangan Catolic University. Bandung.

Wawancara :

–          Goerjama, H.R.E.  Kelahiran Bandung, 1925. Wawancara di Bandung, tanggal 19 Februari 2007.

–          Roesman, Tien. Kelahiran Bandung, 1919. Wawancara di Bogor, tanggal 3 Maret 2007.

–          Informasi lisan Malia Nur Alifa.

SEKILAS SENI BELUK

Seni beluk adalah seni vokal tanpa iringan instrumen khas masyarakat Sunda yang sekarang ini sudah langka sekali ditemui. Sebarannya adalah wilayah agraris dan terutama di dataran-dataran tinggi, mulai dari Banten hingga Sumedang dan Tasikmalaya. Namun sayangnya sebaran yang luas ini tidak berarti bahwa seni beluk (mungkin juga seni tradisional lainnya) memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman. Salah satu yang masih bertahan adalah beluk dari Batu Karut, Desa Lebakwangi, Banjaran.

Di Lebakwangi seni beluk masih cukup sering ditampilkan dalam upacara-upacara seperti yang berhubungan dengan kelahiran bayi. Penyajiannya biasa dilakukan di ruang tengah rumah dengan alas tikar. Penyaji beluk yang biasanya terdiri dari empat orang duduk bersila diapit keluarga tuan rumah dan membentuk pola lingkaran. Penyajian seperti ini terasa agak aneh buat saya mengingat “nyanyian” beluk yang banyak berbentuk lengkingan vokal. Lengkingan seperti ini memang akan terasa ingar-bingar bila dikumandangkan dalam ruangan tertutup seperti di rumah. Namun tampaknya sekarang hal ini sudah menjadi kelaziman pula.

Seni lengking vokal ini diperkirakan berasal dari tradisi bersawah-ladang sebagai media komunikasi antarpetani. Masyarakat Baduy dulu sering berteriak dengan nada mengesankan bila sedang berada dalam hutan atau ladang sorang diri. Teriakan yang bisa dilakukan sebagai pengusir sepi atau juga memberitahukan keberadaannya di dalam hutan. Konon bentuk nyanyian dengan nada-nada tinggi, mengalun dan meliuk-liuk adalah bagian dari ekspresi masyarakat ladang saat berkomunikasi dengan sesama komunitasnya yang mempunyai pola tinggal menetap namun saling berjauhan.

Seni beluk mirip dengan karinding dalam hal tidak termasuk kategori seni pertunjukan dan lebih bersifat hiburan personal, sarana menghibur diri, dan pengusir rasa sepi. Belakangan, kesenian ini lebih banyak dipakai untuk keperluan ritual seperti dalam syukuran 40 hari kelahiran bayi. Ada empat orang penyaji utama dengan peranan yang berbeda. Disebut penyaji utama karena sebetulnya hadirin juga diperbolehkan untuk turut serta menyajikannya. Empat peranan tersebut adalah 1) tukang ngilo atau juru ilo, 2) tukang ngajual, 3) tukang meuli, dan 4) tukang naekeun.

Tukang ngilo adalah pembaca syair secara naratif. Pembacaan dilakukan dalam tempo sedang dengan artikulasi yang jelas dan dibacakan per padalisan (baris). Syair-syair beluk berasal dari naskah-naskah cerita babad atau wawacan dan disajikan dalam bentuk pupuh yang berjumlah 17, yaitu asmarandana, balakbak, dandanggula, durma, gambuh, gurisa, juru demung, kinanti, ladrang, lambang, magatru, maskumambang, mijil, pangkur, pucung, sinom, dan wirangrong.

Tukang ngajual menyanyikan syair yang dibacakan tukang ngilo sesuai dengan pupuhnya, namun cara menyanyikannya tanpa ornamen. Tukang meuli melanjutkan sajian tukang ngajual dengan tambahan ornamen pelengkap. Sedangkan tukang naekeun melanjutkan sajian tukang meuli dengan nada-nada tinggi dan meliuk-liuk. Di bagian ini ornamentasi vokal sangat dominan sehingga artikulasi tidak diutamakan dan bisa menjadi sangat kabur. Setiap tukang naekeun menyelesaikan satu bait, seluruh hadirin dan para penyaji lainnya memungkas lagu secara secara bersama (koor).

Dalam penyajian beluk dikenal beberapa teknik, seperti nyurup yaitu kesesuaian dengan laras yang dibawakan; jentre artikulasi yang jelas; eureur kesesuaian vibrasi dengan kalimat lagu; senggol ketepatan ornamentasi; leotan ketepatan nada yang digunakan; embat walaupun musik vokal ini bertempo bebas, namun tetap ada acuan metris-melodis kendati sangat samar; pedotan ketepatan waktu untuk mengambil nafas; renggep atau saregep keseriusan dalam penyajian; cacap kata demi kata harus disajikan sampai tuntas; bawarasa ekspresi dalam penyajian; dan bawaraga penegasan suasana dengan gestur yang dianggap menarik.

Sebagai bentuk kesenian yang lahir dari keseharian masyarakat agraris yang sederhana, dalam penyajiannya seni beluk tidak menerapkan aturan berpakaian tertentu. Yang paling umum ditemui menggunakan baju takwa, sarung, kopiah, dan celana panjang saja. Pembagian peranan dalam penyajian beluk juga memberi ciri masyarakat agraris yang senang bergotong-royong, bekerja-sama dan berkomunikasi secara harmonis.

Demikianlah rangkaian catatan yang berhubungan dengan beberapa objek dalam kegiatan Komunitas Aleut! pekan lalu.

Sumber informasi untuk keempat bagian tulisan tentang Ngaleut Dayeuhkolot-Banjaran :

– “Bandung in the Early Revolution 1945-1946”, John R.W. Smail, Cornell Modern Indonesia   Project, New York, 1964

– “Dewi Sartika”, Rochiati Wiriaatmadja, Dep. PDK, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1983/1984

– “Kisah Perjuangan Unsur Ganesa 10 Kurun Waktu 1942-1950”

– “Musical Instruments – A Comprehensive Dictonary”, Sibyl Marcuse, The Norton Library, New York, 1975

– “Saya Pilih Mengungsi”, Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Ristadi Widodo Kinartojo, Ummy Latifah Widodo, Bunaya, Bandung, 2002

–  Keterangan juru kunci Makam Leluhur Bandung, 18 & 20 Maret 2011

–  Keterangan juru kunci Situs Rumah Adat Kabuyutan, Batu Karut, Bapak Enggin, 20 Maret 2011

–  Kliping Bandung Lautan Api di HU Pikiran Rakyat 16-28 Maret 2007

–  Beluk Kehilangan Regenerasi, Pikiran Rakyat, 31 Januari 2011

–  Sampul album CD “Beluk Dzikir – Nyanyian Banten Jawa Barat”, produksi Program Studi Etnomusikologi Jurusan Karawitan, STSI Surakarta, 2003

–  Dokumen KKN Program Seni Budaya, http://www.scribd.com/doc/22769078/KKN-PROGRAMSENI-BUDAYA

–  Mata Kita, Kesenian Beluk, Salah Satu Identitas Masyarakat Agraris Pasundan, http://matakita.net/post/kesenianbeluk-salah-satu-identitas-masyarakat-agrarispasundan.html

BUMI ALIT KABUYUTAN, BATU KARUT

 

Perjalanan ke lokasi ini kami tempuh dengan dua buah angkot borongan. Lama perjalanan sekitar 15-20 menit. Tiba di lokasi, kami masih harus mencari juru kunci dulu karena kompleks situs ternyata terkunci. Dari luar tampak plang  bertuliskan “Situs Rumah Adat Sunda (Bumi Alit Kabuyutan) – Lebakwangi Batu Karut – Kec. Arjasari Kab. Bandung”.

Juru kunci, Bapak Enggin, segera membukakan gerbang dan mengajak semua peserta untuk berkumpul di bale. Pertanyaan utama dari beliau adalah “apa tujuan kunjungan ini?.” Usia sepuh membuatnya berbicara sangat perlahan dengan artikulasi yang kurang tegas, karena itu semua Aleutians merapat sangat dekat agar dapat menyimak dengan baik. Bagi beberapa teman, usaha ini cukup sia-sia, karena Pak Enggin menggunakan bahasa Sunda dengan banyak kata yang tidak terlalu biasa terdengar dalam percakapan sehari-hari di kota.

Inti cerita, Pak Enggin menyampaikan berbagai simbol yang terdapat dalam Bumi Alit Kabuyutan. Semua simbol ini berkaitan dengan filosofi kehidupan dan keagamaan yang menjadi pedoman hidup masyarakat penganutnya. Menurutnya, Batu Karut adalah pusat penyebaran agama Islam dengan menggunakan siloka. Misalnya saja ukuran rumah yang 5×6 meter dikaitkan dengan rukun Islam dan rukun Iman. Perkalian dari ukuran itu adalah jumlah juz dalam Quran. Angka-angka yang sama terulang lagi dalam menceritakan isi Bumi Alit. Di dalamnya terdapat 5 buah pusaka, yaitu lantingan, pedang, keris, badi, dan tumbak. Kelima pusaka ini ditempatkan dalam sumbul yang sekaligus menjadi pusaka keenam. Semua pusaka dibungkus oleh 5 lapis boeh.

Penceritaan filosofi ini berlangsung cukup lama dan intensif. Namun yang seringkali terjadi dalam kunjungan ke situs-situs keramat seperti ini adalah tidak ada keterangan sejarah yang memadai. Kebanyakan pertanyaan akan dijawab dengan agak kabur atau tidak tahu. Misalnya saja pertanyaan asal mula rumah adat ini, siapa pembangunnya,siapa yang menghuni, bagaimana kisahnya hingga menjadi tempat penyimpanan benda pusaka, dst. Bapak Enggin hanya selintas saja bercerita tentang situs Gunung Alit yang berada dekat dengan Bumi Alit. Di Gunung Alit terdapat beberapa makam tokoh dengan fungsi pemerintahan dan sosial di Batu Karut dahulu.

Masing-masing makam tersebut adalah Mbah Lurah yang memegang urusan pemerintahan, Mbah Wirakusumah sebagai panglima, Mbah Patrakusumah urusan seni-budaya, Mbah Ajilayang Suwitadikusumah bagian keagamaan, dan Mbah Manggung Jayadikusumah. Nama terakhir ini tak saya temukan fungsinya dalam catatan yang saya buat, tampaknya terlewatkan.

Selain itu Bapak Enggin juga bercerita tentang upacara adat dan tata cara berziarah. Pada bagian ini saya kesulitan mencatat detail sesajian yang semuanya juga dihubungkan dengan filosofi kehidupan. Secara sepintas saya juga bertanya tentang sertifikat yang sebelumnya saya lihat terpajang di rumah Bapak Enggin. Sertifikat itu dikeluarkan oleh Depdikbud Dirjen Kebudayaan Direktorat Kesenian, Jakarta, tahun 1993 bagi peserta Festival Musik Tradisional Tingkat Nasional 1993 di Jakarta. Obrolan pun berlanjut ke kesenian yang dianggap asli Batu Karut, yaitu goong renteng atau sering juga disebut goong renteng Mbah Bandong dengan istilah bandong yang dikaitkan dengan asal-usul nama kota Bandung. Maksudnya adalah bahwa dalam kesenian gamelan ini terdapat dua buah goong yang ngabandong atau berpasangan, berhadapan.

Laras dalam gamelan goong renteng berbeda dengan yang umumnya dikenal, mereka menyebutnya laras bandong. Instrumen lain yang dipergunakan dalam gamelan ini adalah sejenis bonang yang disebut kongkoang, gangsa (sejenis saron), paneteg (sejenis kendang), dan beri yang mirip gong namun tidak berpenclon. Penggunaan gangsa dapat menunjukkan ketuaan kesenian ini karena biasanya tidak digunakan lagi dalam gamelan umumnya. Demikian juga dengan gong beri yang biasanya digunakan dalam peperangan dengan fungsi sebagai penanda. Gong beri tidak lazim digunakan dalam gamelan namun masih dapat ditemui digunakan dalam iringan seni bela diri tradisional.

Selain goong renteng, di daerah ini juga dapat ditemukan seni terebangan (sejenis rebana), reog, barongan, dan beluk. Beberapa tahun lalu, seorang teman peneliti musik dari Perancis pernah mengajak untuk menyaksikan dia merekam kesenian beluk di beberapa tempat, di antaranya di Banjaran. Saya masih selalu menyesal karena saat itu berhalangan untuk memenuhi undangan-undangannya. Namun akhirnya saya sempat juga beberapa kali menyaksikan kesenian ini diperagakan di Sumedang.

MAKAM LELUHUR BANDUNG

Dari Monumen Moh. Toha, rombongan Aleut! melanjutkan kunjungan ke kompleks makam bupati di Kampung Kaum. Kompleks makam ini terletak agak tersembunyi di tengah kampung. Di ujung gang sudah tampak sebuah gapura putih dengan pintu besi yang masih terkunci. Kompleks makam seluas satu hektare ini dibentengi oleh tembok yang juga berwarna putih. Tanah ini adalah tanah wakaf dari keluarga Dewi Sartika. Pada tembok depan terpasang sebuah prasasti marmer bertuliskan nama-nama tokoh yang dimakamkan di situ :

–          Ratu Wiranatakusumah (Raja Timbanganten ke-7)

–          R. Tmg. Wira Angun-Angun (Bupati Bandung ke-1)

–          R. Tmg. Anggadiredja II (Bupati Bandung ke-4)

–          R. Adipati Wiranatakusumah I (Bupati Bandung ke-5)

–          R. Dmg. Sastranegara (Patih Bandung)

–          R. Rg. Somanegara (Patih Bandung)

–          R. Dmg. Suriadipradja (Hoofd Jaksa Bandung)

Selain nama-nama yang tercantum di atas, masih banyak nama tokoh lain yang dimakamkan di sini yang mungkin menarik untuk ditelusuri karena sedikit-banyak mungkin menyimpan cerita tentang sejarah Bandung.

Di tengah kompleks terdapat empat buah makam bercungkup yang seluruhnya adalah makam pindahan. Masing-masing adalah makam R. Tmg. Wira Angun-Angun, bupati Bandung pertama (1641-1681), yang dipindahkan dari Pasirmalang, Bale Endah, pada tahun 1984; Ratu Wiranatakusumah yang dipindahkan dari tempat asalnya di Cangkuang, Leles, pada tahun 1989; Makam R. Rg. Somanegara yang dipindahkan dari tempat pembuangannya di Ternate; dan R. Dmg. Suriadipradja yang dipindahkan dari tempat pembuangannya di Pontianak. R. Dmg. Suriadipradja adalah ayahanda Dewi Sartika. Dua tokoh terakhir ini dipindahkan pada tahun 1993. Seluruh pemindahan dilakukan oleh Yayasan Komisi Sejarah Timbanganten-Bandung.

Peristiwa apakah yang melatari pembuangan Somanegara dan Suriadipradja? Ternyata pada tanggal 14 dan 17 Juli 1893 telah terjadi suatu keriuhan yang dikenal dengan sebutan “Peritiwa Dinamit Bandung”. Saat itu di Pendopo Bandung tengah berlangsung perayaan pengangkatan R. Aria Martanegara sebagai Bupati Bandung. Beliau yang keturunan Sumedang, sebelumnya menjabat sebagai Patih Onderafdeling Mangunreja (Sukapurakolot) dan diminta oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk menggantikan Bupati Bandung R. Adipati Kusumadilaga yang wafat pada 11 April 1893. Saat itu putera Kusumadilaga, R. Muharam baru berusia empat tahun, sehingga tidak bisa menggantikan ayahnya. Pejabat sementara dipegang oleh Patih Bandung, R. Rg. Somanegara.

Pengangkatan Martanegara sebagai bupati ternyata diterima dengan kekecewaan mendalam oleh Somanegara. Menurut tradisi yang berlaku, pengganti pejabat pribumi yang wafat adalah putra sulungnya. Hak ini tidak dapat diganggu-gugat, namun dengan syarat tambahan yang pelanjut harus cakap untuk jabatan tersebut. Dalam kasus tertentu, dapat juga menantu melanjutkan jabatan mertuanya seperti yang terjadi pada Bupati Bandung pertama, Wira Angun-Angun, yang menyerahkan jabatan kepada menantunya. Kasus lain terjadi juga pada Bupati Tanggerang di tahun 1739. Walaupun bupati tersebut memiliki tiga orang putera, namun pemerintah memilih untuk mengangkat menantunya sebagai pengganti jabatan Bupati Tanggerang.

R. Rg. Somanegara adalah menantu Dalem Bintang atau Adipati Wiranatakusumah IV, Bupati Bandung sebelum R. Kusumadilaga. Kesempatannya untuk menjadi Bupati Bandung telah dua kali diabaikan oleh pemerintah Hindia-Belanda. Pertama, saat mertuanya, R. Adipati Wiranatakusumah IV, wafat pada 1874, ia harus menerima keputusan pemerintah yang memilih untuk mengangkat saudara Wiranatakusumah IV yaitu R. Kusumadilaga. Yang kedua, saat pemerintah memilih mengangkat seorang keturunan Sumedang, R. Aria Martanegara, sebagai pengganti Bupati Bandung, R. Kusumadilaga.

Karena itulah mungkin Somanegara merasa kecewa sehingga merencakan pembunuhan terhadap Residen, Asisten Residen, Bupati Bandung dan Sekretarisnya. Caranya adalah dengan melakukan pendinamitan di beberapa lokasi. Di antaranya di sebuah jembatan di atas CI Kapundung dekat Pendopo dan di panggung direksi pacuan kuda di Tegallega. Hasil pengusutan polisi mendapatkan 8 orang tertuduh yang berada dalam pimpinan R. Rg. Somanegara dan ayahanda Dewi Sartika, R. Dmg. Suriadipradja. Pemerintah memutuskan untuk membuang kedua tokoh ini masing-masing ke Ternate dan Pontianak.

Kembali ke kompleks makam. Dulu, wilayah kompleks makam ini adalah bekas pusat pemerintahan Kabupaten Bandung saat masih berada di Krapyak. Di sinilah terletak pendopo kabupaten. Mengelilingi pendopo ini terdapat bangunan-bangunan seperti tajug (sekarang sudah menjadi mesjid) dan kantor kabupaten yang lahannya sekarang sudah habis menjadi permukiman. Bale pertemuan terletak di wilayah Bale Endah sekarang. Dekat dengan pusat pemerintahan ini terletak titik pertemuan sungai Ci Kapundung dengan Ci Tarum, yaitu di Cieunteung yang sekarang bernama Mekarsari.

Semestinya setelah dari kompleks Makam Leluhur Bandung, perjalanan akan dilanjutkan ke Cieunteung, namun karena juru kunci selintas menyebutkan sebuah kabuyutan di Batu Karut, maka saya secara spontan mengajukan usul untuk sekalian menyambangi tempat itu. Sebelumnya saya sudah pernah dua kali mengunjungi tempat itu, namun kali ini suasana yang saya temui agak berbeda.

Kali ini suasana di Bumi Alit Kabuyutan terlihat lebih resik dan terang benderang, tidak seperti pada kunjungan sebelumnya yang terkesan agak gelap sehingga terasa menyeramkan. Sebuah bale besar yang cukup mewah sudah hadir pula di bagian depan. Rasa mewah tentu saja bila dibandingkan dengan bale panggung yang ada sebelumnya. Bumi Alit tampak sangat bersih dan terawat. Belum lagi kehadiran toilet yang baru di bagian lain. Di lokasi ini dulu kosong melompong langsung berbatasan dengan sungai. Sekarang sudah ada pagar dengan jalur jalan batu di bagian luarnya. Tak ada lagi kesan angker dan mistis seperti yang sudah sempat saya iklankan saat mengajukan usulan untuk berkunjung ke kabuyutan ini.

Kunjungan pada hari ini juga berbeda karena bersama saya ada 24 Aleutians yang turut serta, sungguh ramai..

Sebagai laporan dari ngaleut ke Dayeuhkolot-Banjaran tanggal 20 Maret 2011 kemarin, saya bikin catatan yang ternyata berpanjang-panjang, karena itu saya pecah saja menjadi beberapa bagian. Semoga tidak membosankan membacanya. Ini bagian pertama…

MONUMEN MOHAMMAD TOHA

 

Pada hari Minggu lalu, 20 Maret 2011, Komunitas Aleut! mengadakan kunjungan ke daerah Dayeuhkolot dengan tema utamanya mengenang peristiwa Bandung Lautan Api (BLA – 1946). Sebagian kita mungkin sudah mengetahui kaitan Dayeuhkolot dengan BLA. Di sinilah seorang tokoh kontroversial , Mohammad Toha, meledakkan gudang mesiu Belanda. Bukan hanya ketokohan Moh. Toha yang kontroversial, namun kronologi peristiwanya pun lumyan simpang-siur, maklum tak ada seorang pun yang secara langsung menyaksikan atau mengetahui secara persis peristiwa itu. Koran Pikiran Rakyat pernah mengadakan investigasi intensif pada tahun 2007 dengan mewawancarai sejumlah tokoh yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mungkin berkaitan. Di antara mereka ada yang juga mengenali Moh. Toha secara pribadi.

Hasil investigasi Pikiran Rakyat kemudian dimuat secara berturut selama seminggu penuh. Termasuk di antaranya adalah tulisan dari kalangan akademisi serta laporan masyarakat pembaca. Tidak semua hal menjadi terang-benderang setelah peliputan itu, bahkan sempat pula ada keraguan tentang wajah Moh. Toha yang beberapa fotonya ditampilkan dalam liputan koran itu.

Kunjungan Komunitas Aleut! hari itu tidak hendak ikut nimbrung dalam kontroversi ini melainkan sekadar mengenalkan saja secara selintas peristiwa bersejarah yang hampir terlupakan itu. Di Dayeuhkolot kami dapat kunjungi lokasi peledakan gudang mesiu yang sekarang sudah menjadi kolam. Sebuah laporan berdasarkan ingatan, dari Misbah Sudarman, menyebutkan tentang sebuah lubang yang menganga dan dalam, sementara di sekitarnya tanah menggunung dalam radius 25 meter. Rumah-rumah Belanda dan warga di sekitar lokasi itu hancur berantakan. Saat diwawancarai pada tahun 2007, Misbah Sudarman berusian 72 tahun.

Sekarang lokasi bekas ledakan itu sudah menjadi kolam dengan air berwarna coklat. Di salah satu sisinya terdapat sebuah karamba besar. Beberapa orang tua tampak memancing di pinggiran kolam. Di depan kolam didirikan dua buah monumen, satu monumen berupa patung dada Moh. Toha dan di belakangnya sebuah monumen yang menjulang tinggi berbentuk lidah-lidah api dengan tentara yang terperangkap dalam kobarannya. Di sebelah kiri monumen ini terdapat tembok prasasti berisi 15 kotak marmer. Pada 13 kotak di antaranya terpahatkan daftar nama pejuang yang gugur dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Dua kotak di sudut kanan bawah masih tampak kosong. Di bagian atas tembok prasasti ini terdapat ornamen kobaran api.

Di seberang kolam, agak kurang menonjol, tampak tembok memanjang dengan relief cerita seputar BLA. Agak sulit untuk menangkap isi relief ini karena selain letaknya yang jauh di seberang kolam, tidak terdapat warna-warna yang dapat membantu penglihatan selain sedikit warna emas yang tampaknya sudah luntur dan kusam. Warna yang mendominasi hanyalah warna batu andesit yang menjadi bahan tembok ini. Dengan zoom kamera saya dapat lihat gambaran umum relief yang berisi hal-hal seputar BLA. Ada gambaran umum pertempuran, Soekarno-Hatta, truk-truk militer, tulisan-tulisan “Merdeka”, “Bengkel Sepeda Motor Cikudapateuh”, dan “Dengki Amunition”. Paling kanan adalah relief ledakan gudang mesiu.

Di depan Patung dada Moh. Toha terletak kompleks Batalyon Zeni Tempur 3/YW. Dalam dua kali kunjungan ke monumen ini ternyata selalu ada tentara yang menghampiri menanyakan tujuan kedatangan dan izin kunjungan. Mungkin kedatangan rombongan Aleut! ke tempat ini terlihat tak lazim, apalagi dengan begitu banyak kegiatan pengamatan dan foto-foto. Sementara itu di belakang monumen terletak gedung Komando Daerah Militer 0609 – Komando Rayon Militer 0908 Dayeuhkolot. Kompleks monumen ini memang terletak di tengah-tengah kawasan militer Dayeuhkolot, jadi bila ingin berkunjung sebaiknya persiapkanlah berbagai hal yang diperlukan terutama yang berkaitan dengan perizinan.

Dengan menggunakan angkutan kota baik dari arah Buahbatu/Bale Endah atau dari arah Kebon Kalapa dan Tegalega, jarak tempuh ke lokasi ini tidak akan lebih dari 30 menit saja, kecuali di hari-hari biasa yang umumnya selalu macet. Markas militer dan monumen ini dengan mudah terlihat di sisi jalan. Selain itu jalur angkutan kota dari kedua arah itu juga mewakili peristiwa BLA karena merupakan jalur-jalur utama pengungsian masyarakat Kota Bandung ke daerah selatan setelah Bandung dijadikan lautan api.