Skip navigation

Tag Archives: Bandung

Kunjungan Aleut! pada malam menjelang Imlek di Vihara Satya Budhi di Jl. Klenteng, Bandung.
Bangunan vihara ini awalnya adalah rumah tinggal Kapiten Cina yang juga wijkmeester der Chineesen (Ketua Pengurus Masyarakat Cina), Tan Joen Liong. Arsitek Chui Tzu Tse dan pembangun (aanemer) Kung Chen Tse didatangkan dari Cina Selatan. Setelah berdiri selama 20 tahun (sejak 1865), pada tanggal 15 Juni 1885 tempat ini diresmikan sebagai rumah peribadatan dengan nama Hiap Thian Kiong atau Istana Para Dewa.

by Ridwan Hutagalung on Wednesday, March 3, 2010 at 12:58am

Pada tanggal 27 Februari lalu, Truedee menyelenggarakan sebuah program tour dengan nama Jajal Geotrek III (Tangkuban Parahu-Kebun Teh Hegarmanah/Ciater). Sebelumnya sudah dua program Jajal Geotrek diselenggarakan, masing-masing Jajal Geotrek I (tak ikut dan tak punya datanya euy, tapi jalurnya di sekitar utara Kota Bandung, antara Gunung Batu sampai Batuloceng) dan Jajal Geotrek II : Gn. Puntang-Malabar (28 November 2009). Bisa dipastikan semua program susur alam tersebut berlangsung dengan meriah dan menyenangkan bagi semua pesertanya, apalagi dua interpreter andal selalu menyertai perjalanan ini, Budi Brahmantyo dan T. Bachtiar.

Penamaan program Jajal Geotrek tentu saja berhubungan dengan buku Wisata Bumi Cekungan Bandung yang ditulis oleh Budi Brahmantyo & T. Bachtiar dan diterbitkan oleh Truedee Pustaka Sejati (Bandung, 2009). Buku ini memuat 9 jalur perjalanan dengan muatan geowisata di Kota Bandung dan sekitarnya. Setiap jalur dirangkai dengan menarik agar selalu memiliki benang merah dan mampu menyampaikan serpihan informasi dari berbagai disiplin ilmu terutama geologi, geografi, ilmu sejarah, dan pengetahuan lingkungan hidup. Jalur-jalur geotrek dalam buku inilah yang kemudian dibuatkan paket-paket “praktek”nya oleh Truedee dengan nama Jajal Geotrek.

Lalu apa yang menarik dari program Jajal Geotrek? Yang paling utama tentunya kehadiran kedua interpreter yang memang paham betul tentang objek-objek yang dikunjungi. Sejak rombongan menjejakkan kaki di sisi Kawah Ratu, mengalirlah semua penjelasan tentang fenomena alam yang dikunjungi oleh rombongan. Mulai dari sejarah kelahiran Gunung Tangkuban Parahu, gunung-gunung purba yang mendahuluinya dan kaitannya dengan danau purba di cekungan Bandung. Berbagai tipe gunung api dan letusannya serta fenomena alam di sekitarnya juga disampaikan dengan bahasa ringan disertai contoh-contoh dan gurauan yang memudahkan penyerapan informasi oleh para peserta (semoga bener..).

Dengan interpreter yang sangat egaliter, perjalanan yang ditempuh oleh seluruh rombongan menjadi tidak terasa membebani. Hubungan yang terbentuk tidak lagi seperti antara “ahli” dengan “awam” melainkan lebih sebagai sesama teman. Semua pertanyaan akan mendapatkan jawaban sepanjang penguasaan pengetahuan interpreter (dan akan diakui dengan rendah hati bila ternyata mereka tidak menguasai topik-topik tertentu). Bagi saya pribadi, kerendah-hatian seperti ini telah berhasil memperpendek jarak-jarak pengetahuan, pengalaman, dan senioritas antara interpreter dengan para peserta tour. Saya sendiri selalu percaya egalitarianisme adalah jalan masuk paling efektif untuk masuk ke generasi yang lebih muda. Sayangnya fenomena ini bukanlah fenomena yang cukup umum dalam sebagian besar masyarakat kita.

Demikianlah perjalanan-perjalanan Jajal Geotrek yang diselenggarakan oleh Truedee telah berhasil memberikan banyak bekal bagi para pesertanya, tidak melulu tentang keindahan objek alam yang memang sudah tersedia dengan sendirinya namun juga berbagai fenomena dan cerita lain yang melatarinya.

Jajal Geotrek III mengambil Jalur Geotrek I dari buku Wisata Bumi Cekungan Bandung dengan rute Kawah Ratu-Kawah Upas-Kawah Domas-Hutan Tropis-Kebun Teh Hegarmanah/Ciater. Semua jalur perjalanan ini ditempuh dengan berjalan kaki kecuali perjalanan berangkat dan pulang ke titik awal dan dari titik akhir yang ditempuh dengan menggunakan dua buah bis. Biaya Rp. 120.000/orang ternyata tidak menyurutkan jumlah peserta yang antusias untuk turut dalam perjalanan ini, tercatat ada 56 orang peserta (nyontek catatan Ruri) yang hadir. Biaya tersebut dipergunakan untuk keperluan transportasi, makan siang, tiket masuk kompleks Tangkuban Parahu, dan mencetak leaflet yang sangat bagus dan informatif.

Dengan makna perjalanan yang seperti ini tampaknya saya sudah mencatatkan diri untuk selalu serta dalam program-program Jajal Geotrek berikutnya, bukan demi kesenangan mengikuti tour itu sendiri (yang secara mingguan saya lakukan juga bersama Komunitas Aleut!) melainkan lebih demi kecintaan saya terhadap kota yang menjadi tempat hidup saya sekarang, Bandung.

Terimakasih untuk Truedee (Ummy & Ruri), Budi Brahmantyo, dan T. Bachtiar.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.